Penjelasan Kitab Arrisalatul Jami’ah Bagian 4

Ditulis Oleh: Munzir Almusawa
Monday, 14 January 2013, http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_content&task=view&id=412&Itemid=30
Penjelasan Kitab Arrisalatul Jami’ah Bagian 4
Makna Kalimat بسم الله
Senin, 07 Januari 2013
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ، إِذَا أَرَادَ، أَنْ يَأْتِيَ أَهْلَهُ، فَقَالَ : بِاسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ، وَجَنِّبْ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا، فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ، فِي ذَلِكَ، لَمْ يَضُرُّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا.

(صحيح البخاري)

Sabda Rasulullah SAW: “Jika diantara kalian bersetubuh dengan suami/istrinya, maka ucapkanlah: BISMILLAH, ALLAHUMMA JANNIBISSYAYTAN, WA JANNIISSYAYTHAAN MAA RAZAQTANA”. Maka jika ditentukan dalam persetubuhan itu keturunan, Syaitan tidak bisa menjebak anaknya/menggoda anaknya kelak” (Shahih Bukhari)

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

Maha Suci Allah Subhanahu wata’ala Yang telah memohon dan meminta kepadaNya jutaan milyar jiwa dari zaman ke zaman dan generasi ke generasi, dan Dia Allah subhanahu wata’ala melihatnya, dan memberi kepada yang dikehendakiNya untuk diberi hajat-hajatnya, atau bagi mereka yang tidak diberi hajatnya maka diangkat darinya satu musibah, atau tidak dengan memberi apa yang diminta dalam doanya namun menghapuskan dosanya. Sebagaimana kuatnya iman sayyidina Umar bin Khattab radiyallahu ‘anhu yang berkata : “Aku gembira dengan datangnya musibah kepadaku, pertama karena musibah itu bukan menimpa pada imanku, dan yang kedua karena musibah itu akan menjadi penghapus dosaku, dan ketiga bahwa Allah subhanahu wata’ala mengangkat derajatku dengan datangnya musibah tersebut, sehingga aku gembira dengan datangnya musibah kepadaku”, demikianlah keadaan orang-orang yang telah ditinggalkan oleh musibah dan tidak lagi mendekatinya, demikian sayyidina Umar bin Khattab Ra senantiasa berdoa sebagaimana dalam riwayat shahih Al Bukhari :

اَللّهُمَّ ارْزُقْنِيْ شَهَادَةً فِي سَبِيْلِكَ، وَاجْعَلْ مَوْتِي فِيْ بَلَدِ رَسُوْلِكَ

“ Ya Allah anugerahilah kepadaku syahadah (meninggal syahid) di jalanMu, dan jadikanlah wafatku di negeri utusanMu (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”

Maka dikabulkanlah doa beliau oleh Allah subhanahu wata’ala dan beliau meninggal syahid dan tidak hanya wafat di wilayah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam akan tetapi juga dimakamkan disamping sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Allah subhanahu wata’ala telah memberinya lebih dari yang ia minta.

Hadirin yang dimuliakan Allah
Hadits yang kita baca di malam hari ini, merupakan hadits yang sangat ringkas, yaitu bacaan atau doa untuk pasangan suami istri ketika melakukan jima’, namun kalimat ini membuka rahasia keluhuran untuk generasi-generasi di masa mendatang. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada ummatnya ketika akan bersetubuh dengan istrinya maka hendaklah ia membaca doa :

بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبْ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتنَا

“ Dengan nama Allah, wahai Allah jauhkanlah kami dari syaitan dan jauhkan syaitan dari (keturunan) yang Engkau anugerahkan kepada kami”

Sehingga jika dari persetubuhan itu Allah subhanahu wata’ala menjadikan darinya keturunan, maka syaitan tidak akan bisa mengecohnya atau menyesatkannya selama-lamanya, hal ini menunjukkan bahwa Allah subhanahu wata’ala akan memberi penjagaan yang sempurna kepada keturunan itu hingga ia besar tidak akan dikecoh oleh syaitan di dalam hari-harinya di siang dan malamnya, sebagaimana yang banyak terjadi saat ini sebab jebakan syaitan seperti mereka yang terjebak dalam minum-minuman keras, perzinaan, perjudian, kerusakan aqidah dan lain sebagainya dari hal-hal munkar dan kemaksiatan. Kesemua ini disebabkan oleh godaan syaitan yang menghantam orang-orang yang melakukan perbuatan tersebut. Dan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah membentengi ummatnya dari hal-hal tersebut bahkan sebelum mereka lahir, yaitu dengan sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, yang dengan mengamalkannya maka seseorang sebelum ia lahir bahkan ketika masih berupa sel-sel mani ia telah terjaga dari jebakan-jebakan tersebut dengan doa yang diajarkan oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian setelah bayi lahir, maka dikumandangkan adzan di telinganya, sehingga suara atau kalimat yang pertama kali didengar adalah kalimat “Allahu Akbar”, lalu bayi itu kembali ke pelukan ibunya dan disusui oleh ibunya, dan terlebih lagi jika sang ibu adalah seseorang yang sangat gemar membaca Al qur’an, sehingga ketika menyusuinya ia sambil melantunkan ayat-ayat Al quran, bukan seperti yang kebanyakan terjadi pada ibu-ibu zaman sekarang, dimana sambil menyusui bayinya ia sibukkan dengan ngerumpi dan membicarakan aib-aib orang lain, maka tidak selayaknyalah hal ini terjadi pada kita ummat sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka hadits ini akan menjaga generasi yang akan datang, dan jika semua ummat Islam mengamalkannya, atau 10% saja dari kaum muslimin mengamalkannya maka 10% dari generasi ummat muslim tidak akan dapat digoda oleh syaitan, sungguh hal ini merupakan keberuntungan dan kemajuan besar bagi umat sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, semoga generasi-generasi seperti ini akan muncul, dan semoga sunnah ini kita semua mengamalkannya dan menjadi perintisnya, sehingga kelak ketika kita berjumpa dengan nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam gembira karena kita telah menyebarkan hadits ini kepada kalangan yang sudah menikah, agar mengamalkannya.

Syarh Kitab Risaalah Al Jaami’ah

Pembahasan di malam ini masih dalam pembahasan “Basmalah”. Dijelaskan oleh Al Imam At Thabari bahwa Allah subhanahu wata’ala menjadikan Basmalah sebagai “Al Barakah wa al- aml”. Barakah maksudnya adalah melipatgandakan pahala dan kemuliaan lebih dari yang semestinya. Maka dengan mengucapkan “Basmalah”, terbukalah seluruh pintu-pintu kemuliaan yang pernah dibuka oleh Allah subhanahu wata’ala dan pintu-pintu yang belum terbuka oleh Allah subhanahu wata’ala untuk hamba tersebut, karena dengan kalimat “Bismillah” yaitu dengan nama Allah sungguh sesuatu itu bisa terjadi atau tidak bisa terjadi. Kalimat tersebut (Bismillah) terikat dengan kalimat “Kun Fayakun”, dan jika Allah subhanahu wata’ala tidak menciptakan “Ar Rahmaan dan Ar Rahiim” setelah kalimat itu (Bismillah) maka sungguh di alam semesta ini tidak akan ada satu pun yang bisa bermaksiat kepada Allah subhanahu wata’ala, akan tetapi kesemuanya akan tunduk dan sujud kepada Allah subhanahu wata’ala, namun setelah kalimat itu Allah subhanahu wata’ala melanjutkannya dengan kalimat “Ar Rahmaan dan Ar Rahiim”. Kalimat “ ???? “ telah kita bahas minggu yang lalu, bahwa makna dari huruf “? “ adalah “ ???? ???? “ yaitu kewibawaan Allah, dan “ ? “ adalah “ ???? ???? “ yaitu cahaya Allah subhanahu wata’ala, dan “ ? “ adalah “ ????? ???? “ yaitu kerajaan Allah. Makna kalimat “Allah” sebagaimana yang terdapat dalam tafsir Al Imam At Thabari adalah tempat mengadu atau tempat mencari perlindungan bagi manusia, dan makna ringkasnya kalimat “ Allah” adalah gerbang harapan yang abadi, bagi semua hamba yang shalih atau yang pendosa, bagi semua penduduk surga atau penduduk neraka. Jika semua manusia mengetahui bahwa Allah subhanahu wata’ala adalah gerbang harapan bagi seluruh makhluk, maka apalah gunanya berharap kepada selain Allah subhanahu wata’ala. Namun karena lemahnya iman, terkadang kita menjadikan “Allah” yang terakhir untuk diharapkan, ketika seseorang telah berusaha kesana kemari dan tidak ada hasil dan tidak ada yang dapat membantunya, barulah ia berlari kepada Allah subhanahu wata’ala. Padahal jika sang pencipta seluruh hajat tidak memberinya maka tidak satu makhluk pun yang akan mampu memberi atau menolongnya. Juga telah kita sebutkan dalam penjelasan yang lalu bahwa alam semesta ini tertahan dari kehancuran selama ada yang menyebut nama Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana yang terdapat dalam riwayat Shahih Muslim. Maka peganglah azimat terkuat dan teragung yang ada di alam semesta ini, yang mana jika seseorang memegang erat dengan hatinya maka alam semesta ini akan tunduk, karena ia tidak akan hancur selama masih ada yang menyebutnya, dan lebih mendalamnya lagi bahwa Allah subhanahu wata’ala menjadikan orang yang berdzikir dengan menyebut nama “Allah Allah” sebagai penahan bala’ atau musibah, maka beruntunglah bagi mereka yang terus mendalami dan merenungi agungnya makna nama Allah subhanahu wata’ala, yang artinya adalah gerbang harapan. Dijelaskan pula oleh Al Imam At Thabari bahwa makna kalimat “ Allah “ adalah :“ Dzat Yang (layak) disembah dan tidak layak menyembah”.

Allah subhanahu wata’ala adalah satu-satunya dzat yang layak disembah dan Allah subhanahu wata’ala tidak layak menyembah siapa pun. Demikian kemahatunggalan Allah subhanahu wata’ala yang semakin mendalam dengan semakin kita mempelajari rahasia kemuliaan tauhid ini. Kemudian ungkapan “Basmalah” mempunyai hukum, sebagaimana para ahli fiqh menyebutnya sebagai “Ahkaam Al Basmalah (Hukum-hukum Basmalah)”, yang mana terdapat 4 hukum dari pengucapan “Basmalah” yaitu wajib, sunnah, makruh, dan haram. Yang pertama hukumnya adalah wajib, sebagaimana dalam madzhab Syafi’i bahwa “Basmalah” adalah merupakan ayat dari surat Al Fatihah, sehingga wajib hukumnya dibaca dalam surat Al Fatihah ketika shalat, sedangkan terdapat madzhab lain yang berpendapat bahwa “Basmalah” bukanlah termasuk ayat dari surat Al Fatihah namun sebagai tambahan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saja, akan tetapi hal ini dipertentangkan oleh para ulama’ madzhab Syafii, sebagaimana yang dijelaskan oleh Al Imam An Nawawi bahwa jika “Basmalah” itu bukanlah merupakan ayat dari Al qur’an, mengapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan “Basmalah” diseluruh surat-surat dalam Al qur’an kecuali dalam surat At Tawbah?!, maka hal ini menunjukkan bahwa “Basmalah” merupakan awal dari semua ayat Al qur’an, jika bukan merupakan awal dari semua surat Al qur’an maka seharusnya surat At Tawbah pun diawali dengan “Basmalah”. Sedangkan penetapan surat-surat dan ayat-ayat dalam Al qur’an adalah atas perintah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu mengapa kita harus memotong kalimat “Basamalh” dari surat Al Fatihah. Dan sebagaimana bahwa surat Al fatihah juga disebut sebagai “Sab’u Al Matsaani” yaitu 7 ayat mulia yang dilang-ulang. Namun pendapat yang mengatakan bahwa “Basmalah” bukan merupakan ayat dari surat Al Fatihah yaitu dikarenakan ada beberapa riwayat shahih bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan surat Al Fatihah tanpa “Basmalah”. Hukum kedua pengucapan “Basmalah” adalah sunnah yaitu diucapkan ketika mengerjakan hal-hal yang sunnah seperti berwudhu dan lainnya, begitu juga ketika ketika mengerjakan perbuatan-perbuatan mubah (bukan ibadah) namun diawali dengan mengucapkan “Basmalah” ,maka hal tersebut akan mendapatkan pahala ibadah, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam setiap perbuatannya selalu diawali dengan ucapan “Basmalah”. Ketiga hukumnya makruh ketika mengucapkan “Basmalah” dalam melakukan perbuatan yang makruh. Keempat hukumnya haram ketika “Basmalah” diucapkan untuk melakukan perbuatan yang haram. Pembahasan selanjutnya insyaallah kita lanjutkan malam Selasa yang akan datang.

Kita berdoa semoga acara maulid akbar 12 Rabi’ul Awal 1434 H ynag bertepatan pada tanggal 24 Januari 2013 berlangsung sukses dan membawa keberkahan bagi kita semua zhahir dan bathin, kita terjauhkan dari segala musibah zhahir dan bathin, amin allahumma amin. Dan para jamaah yang dapat berperan serta dalam acara ini maka lakukanlah, karena ini adalah sebagai hadiah ulang tahun untuk sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Selanjutnya kita berdzikir bersama semoga Allah subhanahu wata’ala membuka kesulitan dari kita dan mengubahnya menjadi kemudahan zhahir dan bathin , dan semoga Allah subhanahu wata’ala mencukupkan cobaan-cobaan yang datang kepada kita dan menggantikannya dengan keberkahan dan anugerah, amin.

فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا

Ucapkanlah bersama-sama

يَا الله…يَا الله… ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم …لاَإلهَ إلَّاالله…لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ…لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ…لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ…مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ.

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *