Perjalanan Syekh Hisyam

Syekh Nadzim bercerita,

Sebelum datangnya Imam Mahdi AS, seluruh hati manusia berada di bawah pengawasan Grandsyekh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani QS, juga termasuk orang-orang yang tidak dikenal.  Grandsyekh tinggal di sebuah daerah yang sangat miskin di Damaskus. Beliau menjalani sunnah Rasulullah SAW.  Hidupnya sangat sederhana. Seluruh kekuatan ada pada dirinya tetapi beliau tetap rendah hati.  Di daerah itu beliau hanya dikenal sebagai Haji ‘Abdullah, tidak ada lagi yang lain.   Padahal seluruh dunia ada dalam genggamannya.  Ada pengikut Grandsyekh yang tergolong sangat istimewa, mereka adalah Syekh Adnan QS dan Syekh Hisyam Effendi QS, setiap minggu mereka datang dari Beirut, datang dan pergi.  Sejak usia muda mereka telah memberikan cintanya kepada Grandsyekh. Jika Saya memberikan 1% saja, maka Saya akan terbang! Tetapi hati mereka dipenuhi cinta dan kemurahan hati terhadap Grandsyekh sehingga berkah mengalir kepada mereka.  Jika Saya bukan orang yang mendahului mereka, tentu merekalah yang akan menjadi khalifah.  Karena Saya yang lebih dulu, maka beban pertama berada di pundak Saya.

Ketika waktu telah berakhir, sementara Turki dan Arab membuat Islam merosot, Allah SWT mengubah minat hamba-hamba-Nya di Barat untuk mengambil alih bendera Islam.  Suatu hari, selama terjadi perang di Lebanon, perang bodoh yang menghancurkan Lebanon, orang-orang melarikan diri. Syekh Adnan QS dan Syekh Hisyam QS merasa khawatir.  Wanita Amerika dan warga negara Amerika diterima di Amerika sebagai pengungsi dan Subhanallah kedua Awliya itu tidak menggunakan kekuatan ajaib mereka tetapi membiarkan segalanya berjalan dengan cara yang normal.

Berapa banyak orang yang ingin pergi ke Amerika? Di antara seratus orang yang melamar kewarganegaraan, hanya dua yang diterima.  Yang pertama adalah Syekh Hisyam QS.  Dan itu bukanlah suatu kebetulan tetapi merupakan Kehendak Allah SWT bahwa dia harus bernasib sebagai pengungsi pertama yang diterima di Amerika. Dia bertanya apa yang harus dia lakukan, dan karena Grandsyekh tidak pernah menempatkan kehendaknya melebihi Kehendak Allah SWT, maka Saya juga tidak berani untuk menempatkan kehendak Saya untuk mencegahnya pergi ke Amerika.

Di Lebanon mereka berasal dari salah satu keluarga yang terkaya dan tidak ada yang bisa dilakukan dengan perang yang bodoh, dia bertanya kepada Saya apa yang harus dilakukan.  Dia tidak mempunyai uang dan Saya berkata, “Allah SWT mengetahui apa yang diperbuat-Nya dan ini adalah jalan pembuka bagimu, oleh sebab itu, ambillah.”  Dia pun pergi dan mengambil sebuah tiket sebagai hutang,

sumber : http://muhibbunnaqsybandi.blogspot.com

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *