Ramadan diturunkan dari kata ramdhaa’

Menyambut Datangnya Bulan Ramadan

Oleh Dr. Gibril Haddad

Ramadan diturunkan dari kata ramdhaa‘ artinya “terpanggang oleh panasnya matahari,” barangkali merujuk pada kepedihan dari puasa (akibat haus dan lapar).

Anas (r) berkata bahwa ketika bulan Ramadan tiba, Rasulullah (s) bersabda, “Subhanallah! Apa yang kalian hadapi sekarang! Apa yang akan datang sebentar lagi?” `Umar ibn al-Khattab (r) berkata, “Nyawa ayah dan ibuku kuserahkan padamu wahai Rasulullah (s), apakah itu? Apakah engkau menerima wahyu, atau apakah ada musuh yang akan datang?” Beliau (s) menjawab, “Tidak, tetapi bulan Ramadan telah datang, bulan di mana Allah mengampuni semua orang dari umat ini.” Beliau (s) mengatakan, “Jika hamba-hamba Allah mengetahui tentang Ramadan, mereka akan berharap bahwa bulan itu akan terus berlangsung sepanjang tahun.”

Bulan Ramadan di mana kitab suci al-Qur’an diturunkan merupakan bulan yang penuh dengan keberkahan dan merupakan pintu gerbang tobat dan kembali kepada Allah.

Nabi (s) juga bersabda, “Bulan Ramadan telah datang pada kalian, bulan yang penuh berkah di mana Allah telah menetapkan waktu berpuasa untuk kalian. Di dalamnya pintu-pintu Surga dibuka dan pintu Jahanam ditutup.” Versi lainnya mengatakan, “Dan Setan-Setan dibelenggu.”

Nabi (s) menamakan puasa sebagai zakat bagi tubuh, zakaat al-jasad, dan beliau (s) juga menamakannya sebagai “perisai” (ash-shiyaamu junnah) dan juga “separuh dari pengekangan diri” (as-sabru nisfu al-shawm), dan beliau menamakan pengekangan sebagai “cahaya yang murni” (as-sabru diya’). Ketika ditanya siapakah yang dimaksud dengan pengembara (al-Saa’ihuun) di dalam ayat:

التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدونَ الآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنكَرِ وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللّهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

Mereka yang berpaling kepada Allah untuk bertobat,

yang beribadah kepada-Nya,

yang memuji-Nya,

yang mengembara di Jalan-Nya (al-Saa’ihuun),

yang ruku dan bersujud di dalam salat,

yang menyuruh untuk amar ma’ruf nahi munkar,

yang memelihara hukum-hukum Allah.

Berikan kabar gembira kepada orang-orang mukmin itu! (9:112)

Nabi (s) bersabda, “Sang pengembara di Jalan Allah (al-Saa’ihuun) adalah orang-orang yang berpuasa (hum al-sha’imun).” Jadi seorang darwis sejati akan berpuasa dan banyak syekh agung yang mengatakan bahwa jalan mereka terdiri dari “kondisi lapar.” Nabi (s) juga bersabda, “Tidak ada kebanggaan diri di dalam puasa.”

Bulan Ramadan memberikan pahala yang sangat besar, sebagaimana Nabi (s) bersabda, “Mereka yang berpuasa di bulan Ramadan dan percaya (kepada Allah dan Rasul-Nya) dan mengharapkan pahala, semua dosa mereka yang telah lewat akan diampuni.” Versi lain mengatakan, “Dan melakukan salat (salat sunah di malam hari) di bulan itu.” Dan pada akhirnya, “Ia keluar dari dosa-dosanya seperti saat dilahirkan oleh ibunya.”

Menurut Sahabat `Ubadah ibn al-Samit (r), memasuki bulan Ramadan, Nabi (s) biasa berdoa dengan doa ini:

اللهم سلمني إلى رمضان وسلم لي رمضان وتسلمه مني متقبلاً

Allahumma sallimnii ilaa Ramadhana wa sallim lii Ramadhana

wa tusallimhu minnii mutaqabbalan.

“Ya Allah, selamatkanlah aku hingga bulan Ramadan, dan selamatkanlah bulan Ramadan bagiku dan selamatkan ia bagiku sebagai amalan yang diterima.”

 

Sumber:

http://www.sunnah.org/ibadaat/fasting/ramadan_welcome.htm

https://docs.google.com/document/d/13t-6fN0P6120G_3sJQvlbH0x0P9FGVSoR5wg0LV8qhY

 

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *