sanad emas ke 11. Abdul Khaliq al-Ghujdawani

11. Abdul Khaliq al-Ghujdawani

Semoga Allah Meridhoinya

“Cahaya beberapa orang mendahului zikir mereka,

sementara zikr beberapa orang mendahului cahaya mereka.

Ada yang melakukan zikir bersuara agar hatinya diterangi;

dan ada yang hatinya telah diterangi dan berzikir dalam hati”

Ibn Ata’Allah

 

Dia dikenal sebagai Shaikh dengan berbagai  Keajaiban, Yang Bersinar Bagai Matahari, dan seorang Guru dengan tingkatan spiritualitas tertinggi di jamannya. Ia Pemilik Pengetahuan Yang Sempurna (carif kamil) dalam sufisme dan marifat. Ia dianggap sebagai Sumber Air Terjun Jalan Sufi Terhormat ini dan Sumber Mata Air Khwajagan (Guru Asia Tengah).

 

Ayahnya adalah Shaikh ‘ Abdul Jamil, salah seorang ulama terkenal di jaman Byzantine, baik dalam pengetahuan eksternal dan internal. Ibunya adalah seorang putri, anak dari raja Seljuk Anatolia. Abdul Khaliq dilahirkan di Ghujdawan, sebuah kota dekat Bukhara (sekarang Uzbekistan). Disanalah ia tinggal, hidup dan dimakamkan. Ia adalah keturunan Imam Malik ra.

 

Semasa kecil ia mempelajari Qur’an dan tafsirnya, ‘ilm al-Hadits (studi tentang Sunah Nabi), ilmu bahasa Arab, dan Jurisprudensi dibawah bimbingan Shaikh Sadrudin. Setelah menguasai ilmu Syariah, ia melanjutkan ke bidang jihad an-nafs, sampai ia mencapai tingkatan tinggi kemurnian. Kemudian ia pindah ke Damascus, dimana ia mendirikan sebuah sekolah yang berhasil meluluskan banyak murid. Masing-masing murid tersebut menjadi guru ilmu fiqih, hadits dan juga spiritualitas, baik di wilayah Asia Tengah dan Timur Tengah.

 

Penulis buku al-Hada’iq al-Wardiyya menceritakan bagaimana ia mencapai tingkatan tinggi didalam Rantai Emas: “Ia bertemu Khidr (as) dan menemaninya. Ia menerima pengetahuan surgawi dan menambahkannya pada pengetahuan spiritual yang telah diperolehnya dari shaikhnya, Yusuf al-Hamdani qs.

“Suatu hari ketika ia membaca Qur’an dihadapan Shaikh Sadruddin, ia sampai pada ayat: “Ajaklah dengan kerendahan hati, dan melalui kerahasiaan hatimu. Jelas, ia tidak menyukai siapapun yang melanggar batas kebenaran” [7:55].

 

Ayat ini membuatnya segera bertanya kepada Shaikh Sadruddin tentang kenyataan Zikr tanpa suara dan meotodenya. Abdul Khaliq kembali bertanya: “Pada Ziki bersuara, kau harus menggunakan lidah dan orang bisa mendengar dan melihatmu, sedangkan pada zhikr tanpa suara, Setan bia mendengarmu, dimana Nabi bersabda dalam hadits: “Setan bergerak bebas didalam nadi Anak-anak Adam.’ Terus bagaimana, Oo…Shaikhnya Sadruddin, makna dari kalimat Ajak melalui kerahasiaan hatimu?” Shaikhnya menjawab, ‘O anakku, hal ini adalah pengetahuan surgawi yang tersembunyi, dan aku berdoa semoga Allah mengirim seorang wali bagimu untuk memberi jawaban bagi lidah dan hatimu mengenai realitas zikir rahasia.’

 

“Sejak saat itu Shaikh Abdul Khaliq al-Ghujdawani menunggu doanya dikabulkan.  Suatu hari ia bertemu Khidr yang berkata kepadanya, “Sekarang, anakku, aku telah mendapat ijin Nabi memberikan inspirasi kepada lidah dan hatimu, Zikir yang tersembunyi (dengan angkanya?).’ ia memerintahnya untuk merendam diri dalam air dan untuk memulai melakukan zikir dalam hati (LA ILLAHA ILLALLAH MUHAMMADUN RASUL ALLAH). Ia melakukan zikir ini setiap hari, Sampai Cahaya ilahiah, Hikmah illahiah, Cinta ilahiah dan Ketertarikan Illahiah terbuka dalam hatinya. Karena anugerah itulah, orang mulai tertarik dengan Abdul Khaliq dan mengikuti jalannya, dan ia menerima mereka untuk ikut di jalan Nabi.

 

“Dia adalah orang pertama dan guru di Jalan Sufi yang menjalankan Zikir Hati. Ketika syaikh spiritualnya, al-Ghawth ar-Rabbani, Yusuf al-Hamdani, datang ke Bukhara, dia melayaninya. Dia bercerita, Ketika berusia 22 tahun, Shaikh Yusuf al-Hamadani memerintahkan Khidr agar terus menjagaku sampai wafatku.”

 

Shaikh Muhammad Parsa, seorang teman dan penulis riwayat Shah Naqshband, menulis dalam bukunya Faslul – Kitab, bahwa mtode  Khwaja Abdul Khaliq al-Ghujdawani dalam berzikir dan dalam ajarannya tentang Kedelapan Prinsipnya digunakan oleh seluruh 40 tarekah sebagai jalan kebenaran dan kesetiaan yaitu suatu kesadaran dalam mengikuti Sunah Nabi tanpa inovasi dan tanpa mengikuti keinginan rendah ego. Karena hal itulah dia menjadi Guru pada jamannya dan Yang Pertama dalam jenis spiritual ini.

 

Reputasinya sebagai Guru spiritual menjadi tersohor. Tamu dari berbagai pelosok sering berkunjung. Dia mengumpulkan murid-murid yang tulus dan setia. Mengenai hal ini, dia menulis surat kepada anak laki-lakinya, al-Qalb al-Mubarak Shaykh Awliya al-Kabir, untuk merincikan panduan perilaku bagi para pengikut di Jalan ini.  Berikut ini adalah isi surat tersebut:

 

“O anakku, kusarankan agar kau mencari pengetahuan dan perilaku benar serta rasa takut kepada Allah. Ikuti jejak para Salaf (generasi pendahulu ) yang soleh. Pegang erat Sunah Nabi, dan berteman dengan orang beriman. Bacalah jurisprudensi dan riwayat hidup Nabi dan tafsir Qur’an. Hindari sifat sombong, dan lakukan ibadah shalat. Hati-hati dengan ketenaran dan bahayanya.

 

Bergaulah diantara orang kebanyakan dan jangan mencari kedudukan. Jangan berteman dengan raja dan anak-anaknya maupun para innovator. Tetap diam, jangan makan ataupun tidur berlebihan. Larilah dari manusia seperti kau lari dari singa. Lakukan khalwat. Makan yang halal dan tinggalkan sikap ragu kecuali bila diperlukan. Hindari cinta dunia karena hal itu akan mematikan hati. Jangan mempermalukan siapapun. Jangan mengagumi dirimu. Jangan berdebat dengan orang. Jangan bertanya pada siapapun kecuali Allah.

 

Jangan minta pelayanan orang lain. Layani shaikhmu dengan uang dan kekuatanmu dan jangan mengkritik tindakan mereka. Siapapun yang mengkritik mereka tidak akan aman karena ia tidak mengerti mereka. Lakukan perbuatan yang tulus dengan niat hanya untuk Allah. Berdoalah kepadaNya dengan kerendahan hati. Lakukan urusanmu sesuai aturan, jadikan masjid menjadi rumahmu perlakukan Temanmu Tuhanmu.”

 

Prinsip-prinsio Naqshbandi

 

‘Abdul Khaliq al-Ghujdawani menuliskan paragraf berikut sebagai prinsip-prinsip Jalan Sufi Naqshbandi:

 

  1. 1.      Pernafasan yang Sadar (“Hosh dan Dam”)

 

Hosh berarti “pikiran.” Dar berarti “masuk.” Dam berarti “nafas.” Menurut Abdul Khaliq al-Ghujdawani qs, artinya:

 

“Pencari yang bijak harus melindungi nafasnya dari ketidakpedulian, keluar dan masuk, agar hatinya selalu dalam Kehadirat Ilahiah; dan ia harus membangun nafasnya dengan penghambaan dan pelayanan kepada Tuhannya secara bergairah. Karena setiap nafas keluar dan masuk dengan Kehadirat adalah hidup dan tersambung dengan kehadirat illahiah. Setiap nafas keluar dan masuk tanpa perhatian adalah mati dan tidak bersambung dengan kehadirat illahiah.

 

Ubaidullah al-Ahrar qs berkata, “Misi terpenting seorang pencari di Jalan ini adalah menjaga nafasnya, dan siapapun yang tidak bisa menjaga nafasnya, akan disebut dengan, akan disebut dengan, ‘kehilangan dirinya.’

 

Shah Naqshband qs berkata, “Jalan ini dibangun dari nafas. Maka menjadi suatu kehausan bagi siapapun untuk menjaga nafasnya pada saat menarik dan mengeluarkannya, yaitu pada interval penarikan dan pengeluaran.”

 

Shaikh Abul Janab Najmuddin al-Kubra menulis dalam bukunya, Fawatih al-Jamal, “Zikir adalah pengaliran didalam badan setiap makhluk hidup melalui nafas mereka – meski tanpa keinginan – sebagai tanda kepatuhan, sebagai bagian dari ciptaan mereka. Melalui  nafas mereka, suara lafal “Ha” dari Nama Illahiah Allah terbentuk dari setiap ekshalasi dan inhalasi, sebagai tanda Zat Yang Tak Terlihat untuk menekankan Keunikan Tuhan. Maka dari itu, penting untuk hadir bersama nafas tersebut, untuk menyadari Esensi Sang Pencipta.”

 

Kata ‘Allah’ yang mencakup 99 Nama dan Atribut terdiri dari empat huruf, Alif, Lam, dan Hah (Allah). Kaum Sufisme mengatakan bahwa Esensi tidak terlihat (gaib) mutlak dari Allah YME dinyatakan oleh huruf terakhir Alif, “Ha” Selain itu juga mewakili Gaib Mutlak “Diri-nya” (“He-ness”) dari Tuhan Yang Mulia (Ghayb al-Huwiyya al-Mutlaqa illah ‘azza wa jall). Huruf Lam pertama adalah untuk mengidentifikasi (tacrif) dan huruf Lam kedua adalah untuk penekanan (mubalagha).

 

Menjaga nafas dari ketidakpedulian akan membawa kalian pada Kehadirat yang utuh. Kehadirat yang utuh akan membawa kalian pada Manifestasi Sembilan puluh – Sembilan Nam dan Atribut Allah. Kemudian Allah membawa kalian kepada Manifestasi Sembilan puluh – Sembilan Nama dan Atributnya dan semua AtributNya yang lain, karena dikatakan, “Atribut Allah adalah sebanyak ragam nafas manusia.”

 

Harus diketahui oleh setiap orang bahwa menjaga nafas dari ketidakpedulian adalah sulit bagi para pencari. Untuk itu menjaganya harus dengan permohonan ampun (istighfar) karena hal itu akan membersihkan dan menyucikan nafas serta mempersiapkan para pencari untuk Manifestasi Sesungguhnya dari Allah, dimanapun.

 

 

  1. 2.      Hati-hati dengan Langkah Kalian (“Nazar bar Qadam”)

 

Kalimat diatas berarti para pencari harus memperhatikan kakinya sewaktu berjalan. Dimanapun akan melangkah, matanya harus disitu. Ia tidak boleh melihat kesana sini, kanan kiri atau didepannya, karena pandangan yang tidak perlu akan menyelebungkan hati. Kebanyakan selubung hati dibentuk oleh gambaran yang diambil oleh mata kedalam pikiran sepanjang siang hari. Hal ini bisa menganggu hatimu dengan guncangan yang disebabkan oleh berbagai keinginan yang masuk dalam pikiran.

 

Gambaran ini menjadi selubung bagi hati yang menutupi Cahaya Kehadirat Illahiah. Maka itu para wali Sufi tidak mengijinkan pengikutnya, yang telah membersihkan hatinya dengan zikir terus menerus, untuk melihat selain kakinya. Hati mereka bagaikan kaca, merefleksikan dan menerima setiap kesan dengan mudah. Hal ini bisa mengalihkan perhatian dan mengakibatkan ketidakmurnian bagi hati mereka. Maka itu para pencari diperintahkan untuk merendahkan pandangan agar tidak terkena panah setan.

 

Merendahkan pandangan juga pertanda kerendahan diri; karena orang yang sombong tidak pernah melihat kearah kaki mereka. Hal itu juga suatu pertanda bahwa orang tersebut mengikuti jejak Nabi, yang kalau berjalan tidak pernah melihat kanan atau kiri, melainkan kearah kakinya, serta berjalan pasti kearah tujuan. Selain itu juga pertanda bagi tingkatan tinggi, kalau para pencari tidak memandang arah lain kecuali kearah TuhanNya, Seperti orang yang ingin cepat sampai tujuan, begitu juga para pencari Kehadirat illahi, tidak melihat kanan atau kiri, tidak melihat  hanya Kehadirat illahi.

 

Imam ar-Rabbani Ahmad al-Faruqi (q) menulis didalam surat ke 295 Maktubat:

 

“Pandangan mendahului langkah dan langkah mengikuti pandangan. Kenaikan ke tingkat tinggi didahului oleh penglihatan, diikuti oleh langkah. Ketika Langkah mencapai tingkat Kenaikan Pandangan, maka Pandangan akan naik ke tingkat lainnya, dimana Langkah mengikuti. Kemudian Pandangan akan terangkat lebih tinggi dan Langkah akan ikut naik.

 

Begitu seterusnya sampai Pandangan mencapai tingkat Kesempurnaan yang akan menarik Langkah pula. Kita mengatakan, Ketika Langkah mengikuti Pandangan, maka murid telah mencapai tingkat Kesiapan dalam mendekati Langkah-langkah Nabi, semoga damai bersamanya. Maka Langkah-langkah Nabi dianggap sebagai “Awal dari semua langkah.”

 

Shah Naqshband (q) berkata, “Kalau kita melihat kesalahan teman, maka kita tidak akan punya teman, karena tidak orang yang sempurna.”

 

 

  1. 3.      Perjalanan Pulang (“Safar dan Watan”)

 

Kalimat diatas berarti melakukan perjalanan ke tempat asalnya Artinya para pencari melakukan perjalanan dari dunia ciptaan ke dunia Penciptanya. Nabi berkata, “Aku menuju Tuhanku dari satu tingkat ke tingkat lebih baik.” Dikatakan bahwa para pencari harus melakukan perjalanan dari Keinginan yang dilarang ke Keinginan akan Kehadirat Ilahi.

 

Naqshbandi Sufi membagi perjalanan tersebut kedalam dua kategori, yaitu eksternal dan internal. Perjalanan eksternal adalah perjalanan dari satu daratan ke daratan lainnya mencari panduan yang paling tepat dan mengarahkan ke tujuan kalian. Hal ini akan memungkinkan kalian pindah ke kategori kedua, yaitu perjalanan internal. Para pencari, sekali bertemu panduan yang tepat, mereka dilarang melakukan perjalanan eksternal lainnya. Didalam perjalanan eksternal terdapat banyak kesulitan yang tidak bisa ditahan para pemula tanpa jatuh kedalam tindakan yang dilanggar, karena mereka lemah dalam penghambaan.

Kategori kedua adalah perjalanan internal. Perjalanan internal memerlukan para pencari meninggalkan adab rendahnya dan pindah adab tinggi, untuk membuang dari hati semua keinginan dunianya. Ia akan diangkat dari tingkat kekotoran ke tingkat pembersihan. Pada saat itu ia tidak lagi memerlukan perjalanan internal. Hatinya sudah bersih bagaikan air murni, sebening Kristal, sebening kaca, menunjukkan realita semua urusan yang penting dalam kehidupannya, tanpa perlu tindakan eksternal dari dirinya. Di hatinya akan tampak semua yang diperlukan demi kehidupan diri dan orang-orang sekelilingnya.

 

 

 

  1. 4.      Kesendirian dalam Kerumusan (“Khalwat dar Anjuman”)

 

“Khalwat” berarti menyepi. Artinya diluar bersama orang-orang meski didalam teteap bersama Tuhan. Ada dua kategori khalwat. Pertama ialah khlawat eksternal dan kedua ialah khalwat internal.

 

Khalwat eksternal mermerlukan para pencari agar menyepikan dirinya di suatu tempat tanpa kehadiran manusia. Tinggal seorang diri, konsentrasi dan meditasi untuk Zhikrullah, mengingat Tuhan, demi pencapaian suatu tingkat dimana Kerajaan Surga menjadi wujud. Kalau kalian merantai rasa eksternal, maka rasa internal akan bebas mencapai Kerajaan Surga. Hal ini akan membawa kalian ke kategori kedua : khalwat internal.

 

Khalwat internal artinya menyepi diantara manusia. Sehingga hati para pencari harus hadir bersama Tuhannya dan tidak bersama CiptaanNya, sementara ia hadir secara fisik diantara manusia. Dikatakan bahwa, “Para pencari akan melakukan Zikir hati secara mendalam, bahkan jika ia masuk kedalam kerumunan, maka ia tidak akan mendengar suara mereka. Tingkatkan Zikir begitu menguasinya.

 

Manifestasi Kehadirat Illahiah menarik dan membuatnya tidak sadar akan semua kecuali Tuhannya. Inilah tingkatan tertinggi khalwat, dan dianggap sebagai khalwat sesungguhnya, seperti ditulis dalam Qur’an Suci: “Seseorang yang urusan atau keuntungan tidak menariknya untuk bersama Tuhan” [24:37]. Ini adalah jalan Naqshbandi.

 

Khalwat terpenting dari para shaykh Naqshbandi adalah khalwat internal. Mereka bersama Tuhan tetapi juga terus bersama orang. Sesuai sabdan Nabi, “aku punya dua sisi: satu menghadap Penciptaku dan yang satunya menghadap ciptaan.” Shaikh Naqshband menekankan kebaikan dari perkumpulan ketika ia berkata: Tariqatuna as-suhbat wa-l-khairu fil-jamciyyat, “Jalan Kami adalah Pertemanan, dan Kebaikan ada dalam Perkumpulan.

Dikatakan bahwa orang beriman yang bisa bergaul dan ikut merasakan kesulitan orang lain adalah lebih baik dibandingkan dengan orang beriman yang menjauhi orang. Dalam hal tersebut Imam Rabbani berkata,

“Harus diketahui bahwa pencari, pada awalnya bisa melakukan khalwat eksternal untuk mengasingkan diri dari manusia, menghamba dan berkonsentrasi pada Allah, Yang Maha Kuasa dan Maha Agung, sampai ia mencapai tingkat yang lebih tinggi. Pada saat itu, ia akan dinasehati oleh shaikhnya, seperti kata Sayyid al-Kharraz, ‘Kesempurnaan bukanlah pertunjukkan kekuatan hebat, tetapi kesempurnaan ialah untuk duduk bersama diantara orang lain, menjual dan membeli, menikah dan punya anak; tanpa pernah sedetikpun melupakan kehadirat Allah.”

 

 

 

  1. 5.      Pengingatan yang Penting (“Yad Kard”)

 

Arti dari ‘Yad’ adalah Zhikr dan arti dari ‘kard’ adalah inti dari Dhikr.Pencari harus melakukan Zkir dengan penolakan dan penerimaan di lidahnya sampai ia mencapai tingkat kontemplasi dalam hati (muraqaba). Tingkatan ini akan dicapai dengan membaca penolakan (LA ILAHA) dan penerimaan (ILLALLAH) oleh lidah setiap hari, antara 5,000 dan 10,000 kali, membuang elemen yang menodai dan mengeraskan hati. Zhikr ini memoles hati dan mengangkat pencari ke tingkat Manifestasi. Ia harus menjaga zhikr harian tersebut, baik melalui hati atau lidah, mengulang ALLAH, nama Esensi Tuhan yang mengandung semua Nama dan Atribut lain, atau dengan penolakan dan penerimaan melalui pembacaan LA ILAHA ILLALLAH.

 

Zikir harian ini akan membawa pencari ke hadirat yang sempurna dari yang Esa, yang dipuja. Zhikr dengan penolakan dan penerimaan dalam tatakrama Para Guru Sufi Naqshbandi, mengharuskan pencari untuk menutup mata, mulut, mengatupkan gigi, menempelkan lidah ke langit-langit rongga mulut, dan menahan nafas. Ia harus membaca zhikr dengan hati (penolakan dan penerimaan) dimulai dengan kata LA (“Tidak”).

 

Ia mengangkat “Tidak” ini dari bawah pusar ke pikirannya. Sampai didalam pikiran, kata “Tidak” mengeluarkan ILAHA (“Tuhan”), bergerak dari otak ke bahu kiri, dan mengenai hati dengan ILALLAH (“kecuali Tuhan”). Ketika kata itu mengenai hati, maka energy dan panasnya menyebar ke semua bagian tubuh. Pencari yang telah menolak semua yang ada di dunia dengan kata LA ILAHA, menerima dengan kata ILALLAH bahwa semua yang ada telah ditiadakan di Kehadirat ilahi.

 

Pencari mengulang kata ini dengan setiap nafas, keluar dan masuk, selalu membawanya kedalam hati, sesuai jumlah pengulangan yang dituliskan kepadanya oleh shaikhnya. Lambat laun pencari akan mencapai tingkat dimana dalam satu nafas ia dapat mengulang LA ILAHA ILLALLAH sebanyak 23 kali. Seorang sheikh yang sempurna dapat mengulang LA ILAHA ILLALLAH dengan jumlah tak terbatas disetiap nafas. Arti dari ibadah ini adalah bahwa tujuan tunggalnya ialah ALLAH dan tidak ada tujuan lain bagi kita. Melihat Kehadirat Illahi sebagai Keberadaan Tunggal setelah semua mengenai hati murid dengan cinta Nabi dimana beliau bersabda, MUHAMMADUN RASULULLAH (“Muhammad adalah Nabi Tuhan”) yang merupakan hati dari Kehadirat Ilahi.

 

 

  1. 6.      Kembali (“Baz Gasht”)

 

Ini adalah suatu tingkatan dimana pencari, yang melakukan Zikir dengan penolakan dan penerimaan, memahami kalimat Nabi, ilahi anta maqsudi wa ridaka matlubi (“O Tuhanku, Kau adalah Tujuanku dan KepuasanMu adalah sasaranku.”) Pembacaan kalimat ini akan meningkatkan kesadaran pencari akan Ke-Esaan Tuhan, sampai ia pada tingkatan dimana keberadaan semua ciptaan lenyap dari matanya. Semua yang dilihat, kemampuan ia berpaling, adalah Yang Mutlak.

 

Para murid Naqshbandi membaca zikir jenis ini dengan maksud menarik rahasia Ke-esaan dari hati mereka, dan membuka diri akan Realita Kehadirat Ilahi yang Unik. Pemula tidak berhak meninggalkan zikir ini kalau tidak menemukan kekuatan yang muncul dari hatinya. Ia harus terus membacanya, mengikuti Shaykhnya, karena Nabi bersabda, “Siapapun yang meniru suatu kelompok, maka akan menjadi milik kelompok itu.” Dan siapapun meniru gurunya, suatu hari akan terbuka rahasia didalam hatinya.

 

Arti dari kalimat “baz gasht” ialah kembali ke Allah Yang Agung dan Kuasa dengan mutlak berserah diri kepada keinginanNya, dan kerendahan hati yang mutlak dalam memberikanNya seluruh pujian. Inilah alasan Nabi bersabda, ma dhakarnaka haqqa dhikrika ya Madhukur (“Kami tidak MengingatMu seperti yang Pantas Kau dapatkan, Ya Allah”). Pencari tidak bisa datang kepada Allah dengan zikirnya, kalau tidak bisa mewujudkan Rahasia dan Atribut Allah dalam zikirnya, kalau ia tidak melakukan zikir dengan dukungan dan Ingatan Allah terhadapnya.

 

Seperti kata As Bayazid : “Ketika akau mencapaiNya, aku melihat bahwa IngatanNya akan diriku mendahului ingatanku akan Dirinya”. Pencari tidak bisa melakukan zikir sendiri. Ia harus tahu bahwa Allah yang melakukan Zikir melalui dirinya.

 

  1. 7.      Kepedulian (“Nigah Dazht”)

 

“Nigah” berarti pandangan. Artinya pencari harus memperhatikan dan menjaga hatinya dengan melindunginya dari pikiran buruk yang masuk. Pilihan yang buruk menghambat hati untuk bergabung dengan ilahi. Pengetahuan Naqshbandiyya  menyatakan bahwa seorang pencari yang bisa menjaga hati dari pilihan yang selama limabelas menit adalah suatu kemajuan besar.

 

Untuk itu seseorang bisa dianggap sebagai Sufi yang sesungguhnya. Sufisme adalah kekuatan menjaga hati dari pikiran buruk dan menjaganya dari pilihan yang rendah. Siapapun yang mencapai kedua tujuan ini akan mengetahui isi hatinya, dan siapapun yang mengetahui isi hatinya akan mengetahui Tuhannya. Nabi bersabda, “Siapapun yang mengetahui dirinya maka ia mengetahui Tuhannya.”

 

  1. 8.      Peringatan (“Yada Dasht”)

 

Artinya pembaca Zhikr menjaga hatinya dengan penolakan dan penerimaan disetiap nafas tanpa meninggalkan Kehadirat Allah. Hal ini membutuhkan seorang pencari untuk menjaga hatinya dalam Hadirat Ilahi Allah terus menerus. Hal ini juga membuatnya sadar dan mewujudkan Cahaya Esensi Unik (anwar adh-dhat al-Ahadiyya) Tuhan.

 

Kemudian ia menyampaikan tiga dari keempat bentuk pemikiran yang berbeda: pemikiran egoistic, pemikiran setan, pemikiran setan, dan pemikiran malaikat, sementara menyembunyikan bentuk pemikiran keempat, yaitu haqqani atau pemikiran terbenar. Hal ini akan membawa seorang pencari ke tingkat tertinggi kesempurnaan dengan membuang seluruh imajinasinya dan mengambil hanya Realitanya yaitu Ke-esaan Allah, Yang Kuasa dan Agung.

 

‘Abdul Khaliq al-Ghujdawani mempunyai empat khalifa. Pertama yaitu Shaikh Ahmad as-Siddiq, berasal dari Bukhara. Kedua, Kabir al-Awliya (“Wali Terhebat”). Shaikh Arif Awliya al-Kabir (q). Berasal dai Bukhara, ia merupakan ulama hebat baik dalam Ilmu-Ilmu eksternal dan internal. Khalifa ketiga yaitu Shaikh Sulaiman al-Kirmani (q). Kahlifa keempat yaitu Carif ar-Riwakri (q).

 

Pada khalifa keempat inilah Abdul Khaliq qs menurunkan Rahasia Rantai Emas sebelum ia wafat pada tanggal 12 Rabi’ul – Awal 575 H.

 

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *