sanad emas ke 15. Syaikh Muhammad Baba as-Samsi

15. Syaikh Muhammad

Baba as-Samsi

Semoga Allah Menyucikan Ruhnya

Kita salami Lautan bersama, dan berdiri pada suatu titik di pantainya

Tepat di atasnya adalah sang mentari

yang terbit menerangi cakrawala

Tenggelamnya ada pada kita

pun dari kitalah merekah fajarnya

Jiwa kita memancar dari kilau permata,

yang tersentuhkan oleh kedua tangan kita

Akhirnya mereka sepakat bahwa orang yang paling terpercayalah

yang harus meletakannya, dan itu adalah Nabi

Saat itu kitapun menjadi permata

Beritahukanlah pada kami,

makna dan rahasia sang mentari

mutiara apakah itu yang keluar dari Lautan ini;

Kita selama semesta yang namanya

dalam buku kita belum pernah ada

Semesta terlalu sempit untuk dapat melingkupi kita

bahkan dapat terlingkupi dalam kita

Kita tinggalkan Lautan penuh gelombang badai

Bagaimanakah orang lain mengerti apa yang telah kita gapai?

(Diambil dari Abu Madian)

Shaikh Muhammad Baba as-Samsi qs adalah seorang pelajar al Azizan yang ternama dan merupakan seorang Cendikia dari para Wali dan seorang Walo dari para Cendikia. Beliau unik dalam dua jenis pengetahuan, yaitu pengetahuan internal dan eksternal. Berkahnya menembus seluruh umat di masanya. Dari keinginan belajarnyab yang tinggi, beliau menyebabkan ilmu-ilmu ghaib da rahasia menjadi tampak.

 

Beliau adalah puncaknya Matahari Pengetahuan Eksternal dan Internal di abad ke-8 H. Salah satu tanda keajaibannya adalah mi’raj beliau dari Kubah Batu, yang merupakan hatinya ke maqam Cendikian dari para Cendikia. Para cendikia yang menguasai hikmah spiritual banyak yang menggali dari lading ilmunya dan ikut berthawaf mengelilingi Ka’aba dibawah bimbingan beliau.

 

Beliau dilahirkan di Sammas, sebuah desa di pinggiran Ramitan, tiga mil dari Bukhara. Beliau mengalami kemajuan dalam perjalananya dengan memahami Ilmu dalam Al-Qur’an, menghafalkan al-Qur’an dan Hadits Rasulullah saw serta menjadi ahli di bidang Jurisprudensi. Kemudian beliau memulai Teologi Spekulatif, Logika, Filosofi (‘ilm al-Kalam) dan Sejarah, sampai beliau dijuluki ensiklopedia berjalan bagi segala bidang ilmu dan seni.

 

Beliau mengikuti Syaikh Ali ar-Ramitani al-‘Azizan qs dan terus menerus berperang melawan dirinya sendiri. Beliau melakukan khalwat setiap hari sampai mencapai maqam kemurnian sehingga Syaikhnya diizinkan untuk mentransfer Pengetahuan Surgawi yang bersifat Ghaib ke dalam hatinya. Beliau menjadi sangat terkenal dengan kekuatan ajaib dan ketinggian maqam kewaliannya. Syaikh ‘Ali Ramitani qs memilih beliau sebagai penerusnya sebelum beliau meninggal dan memerintahkan semua murid untuk mengikutinya.

Beliau pernah berkata ketika melewati sebuah desa di Qasr al-Arifan, “Dari tempat ini Aku mencium wangi seorang Pemegang Ilmu Spiritual yang akan muncul dan dari namanyalah seluruh thariqat ini akan dikenal.” Suatu hari beliau melewati desa itu dan berkata, “Aku mencium aroma yang sangat kuat, sedangkan Pemegang Ilmu itu telah lahir.”

 

Tiga hari berselang, kakek dari seorang anak mengunjungi Shaikh Muhammad Baba as-Samasi qs dan berkata, “Ini adalah cucuku.” Beliau lalu berkata kepada para pengikutnya, “Bayi ini adalah Pemegang Ilmu yang telah kuceritakan kepada kalian. Aku lihat di masa depan dia akan menjadi pemandu bagi seluruh ummat manusia. Rahasianya akan menggapai seluruh orang-orang shaleh.

 

Pengetahuan Surgawi yang telah dicurahkan oleh Allah kepadanya akan memasuki setiap rumah di Asia Tengah. Nama Allah swt akan terukir (Naqsh) dalam hatinya. Dan thariqat ini akan dinamai dengan ukiran tersebut.”

 

Dari Ucapannya

 

“Para pencari harus selalu berusaha untuk mematuhi Perintah dan dia harus selalu berada dalam keadaan suci. Pertama dia harus mempunyai hati yang bersih sehingga tidak akan berpaling kepada apa pun kecuali Allah swt”.

 

Selanjutnya dia harus menjaga agar bagian dalam tubuhnya tetap suci, dan tidak diperlihatkan kepada orang lain. Yaitu melihat dengan pandangan yang benar. Kesucian dada (sadr), terdiri atas harapan dan kepuasan terhadap Kehendak illahi.

 

Kemudian kesucian jiwa, yang terdiri atas kesederhanaan dna penghormatan yang tinggi. Kemudian kesucian perut dengan hanya memakan makanan yang halal dan pantangan. Diikuti dengan kesucian badan yaitu dengan meninggalkan keinginan. Diikuti dengan kesucian tangan dari dosa yaitu dengan menyesali keselahan yang telah dilakukan. Selanjutnya kesucian lidah, yang terdiri atas dzikir dan istighfar. Kemudian dia harus mensucikann dirinya dari kelalaian dan kealfaan, dengan mengembangkan ketakutan terhadap Akhirat.”

 

Kita harus selalu beristighfar, berhati-hati dalam segala urusan, mengikuti langkah orang-orang yang shaleh, mengikuti ajaran internalnya, dan menjaga hati dari segala godaan.”

 

“Jadilah orang yang terbimbing dengan ajaran Syaikhmu, sebab ajaran itu dapat menyembuhkanmu secara langsung dan lebih efektif daripada membaca buku.”

 

Kaliah harus menjaga asosiasi dengan seorang Wali. Dalam asosiasi itu kalian harus menjaga hatimu dari gossip dan tidak boleh berbicara di tengah kehadirannya dengan suara yang keras, kalian juga tidak perlu menyibukkan diri dengan shalat dan ibadah sunnah ketika sedang bersamanya. Jagalah kebersamaannya dalam segala hal. Jangan berbicara ketika mereka sedang berbicara. Dengarkan apa yang mereka katakana. Jangan melihat apa yang mereka miliki di rumah, terutama di kamar dan dapurnya.

 

Jangan berpaling kepada Syaikh yang lain tetapi yakinlah bahwa Syaikhmu akan membuatmu tiba di tujuanmu. Jangan menyambungkan hatimu dengan Syaikh yang lain, bisa saja kalian akan terluka karena melakukan hal itu. Tinggalkan apa pun yang telah kalian kumpulkan semasa kanak-kanakmu.”

 

“Dalam menjaga kehadirat Syaikhmu, kalian tidak boleh menyimpan sesuatu dalam hatimu kecuali Allah swt dan Nama-Nya.”

“Suatu ketika Aku bertemu dengan Syaikhu, Syaikh ‘Ali Ramitani qs. Ketika Aku memasuki kehadiratnya, beliau berkata kepadaku, “Wahai anakku, Aku kirimkan keinginan mi’raj ke dalam hatimu’ Segera setelah beliau mengatakan hal itu beliau menempatkan diriku ke dalam keadaan dengan panorama spiritual, dimana Aku melihat diriku berjalan siang dan malam, dari negeriku menuju Masjid al-Aqsa, Aku memasuki masjid dan Aku melihat seseorang yang berpakaian serba hijau di sana.

 

Beliau berkata kepadaku, ‘Selamat datang, kami telah menantimu sejak lama.’ Aku berkata, ‘Wahai Syaikhku, Aku meninggalkan negeriku pada tanggal sekian. Tanggal berapa sekarang?” Beliau menjawab, ‘Hari ini adalah 27 Rajab.’ Aku sadar bahwa Aku telah melakukan perjalanan selama 3 bulan untuk mencapai masjid itu, dan yang membuatku terkejut adalah bahwa Aku tiba di malam yang sama dengan malam isra mi’raj Rasulullah saw.

 

“Beliau berkata kepadaku, “Syaikhmu, Sayyid ‘Ali Ar-Ramitani qs telah menantimu sejak lama di sini.’ Aku masuk kedalam, dan Syaikhku sudah siap untuk menjadi Imam dalam rangkaian shalat malam. Setelah menyelesaikan shalatnya beliau menoleh kepadaku  dan berkata, ‘Wahai anakku, Aku telah diperintahkan oleh Rasulullah saw untuk menemanimu dari Masjid Kubah ke Sidratul Muntaha, tempat yang sama di mana beliau mengalami mi’raj.’

 

Ketika beliau selesai berbicara orang yang serba hijau itu membawa dua makhluk yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Kami menunggangi kedua makhluk tersebut dan mengangkasa. Setiap kali kami naik, kami mendapatkan pengetahuan yang terdapat di tingkat antara Bumi dan Surga itu.’

 

‘Mustahil melukiskan apa yang kami lihat dan kami pelajari dalam mi’raj itu, karena kata-kata tidak bisa mengekspresikan apa yang berhubungan dengan hati, kata-kata tidak bisa mengungkapkannya kecuali dengan merasakan dan mengalaminya sendiri. Kami melanjutkan mi’raj kami sampai tiba di maqam Realitas Rasulullah saw (al-haqiqat al-Muhammadiyya), yang berada di Kehadirat ilahi. Setelah kami memasuki tingkatan ini, Syaikhku lenyap, Aku pun lenyap. Kami melihat bahwa tidak ada lagi yang eksis di alam semesta ini kecuali Rasulullah sendiri. Kami rasa tidak ada yang berada di maqam selanjutnya kecuali Allah sendiri.”

 

“Kemudian Aku mendengar suara Rasulullah saw berkata kepadaku, ‘Wahai Muhammad Baba as-Samasi qs, Wahai anakku, jalur tempat engkau berada adalah jalur yang paling mulia, dan orang-orang yang telah terpilih untuk menjadi bintang dan penunjuk bagi ummat manusia akan diterima di jalur tersebut. Kembalilah, dan Aku akan mendukungmu dengan segala kekuatanku, dan Allah mendukungku dengan Kekuatan-Nya. Layanilah Syaikhmu.’

 

Ketikab suara Rasulullah saw menghilang. Aku menemukan diriku berdiri di tengah Syaikhku. Itu adalah sebuah karunia yang besar, berada dekat dengan Syaikh yang sangat kuat, yang bisa membawamu ke Kehadirat Ilahi.”

 

Shaikh Muhammad Baba as-Samasi qs meninggal dunia di Samas pada tanggal 10 Jumada al-Akhir, tahun 755 H. Beliau mempunyai tempat khalifah, tetapi Rahasia dari Mata Rantai Emas hanya diteruskan kepada Sayyid Amir Kulal ibn as-Sayyid Hamza qs.

 

 

 

 

 

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *