sanad emas ke 30

30 Syekh Abdullah Ad dahlawi Qs (Shah Ghulam Ali Qs)

 

“tidaklah menyedihkan bahwa aku memohon kepadaMu tanpa akhir,

Sebagaimana jika aku jauh dariMu, seakan-akan Engkau tidak ada?

 

Aku memohon kebaikanMu tanpa ketamakan, dan aku tidak melihat siapspun yang semiskin aku,

Dan tidak yang memiliki hasrat kepadaMu, seperti aku berhasratkepadaMu.”

(Abul Hasan Nuri)

 

Beliau adalah puncak pengetahuan dan raja dari para pembimbing kesempurnaan, pembuka ilmu keagammaan dan pembuka rahasia keyakinan, pemeriksa posisi kesempurnaan, Syekh dari semua syaikh dan kewilayahan India, pewaris pengetahuan dan rahasia-rahasia dari Tariqat naqsybandi.

 

Beliau dikenal sebagai seorangpenyelam dan penenang yang unik dalam samudera Kesatuan, seorang petualang di gurun dalam keadaan Asketis, Qutb bagi semua tarekat dan “red sulful, belerang merah” (seorang yang sangat langkah diantara yang langka) dari semua kebenaran.

 

Beliau menyempurnakan dan menghiassi diri dengan etika-etika dan adab-adab yang terbaik. Beliau menaikkan dirinya sendiri hingga mencapai pengetahuan spiritual dari langit tertinggi dan menghiasi diri dengan bintang-bintang dari langit tertinggi tersebut. Beliau menjadi sebuah bulan purnama dan melihat cahayanya berasal dari matahari guru beliau, hingga sang guru menerima untuk mengajari secara formal dan mengasuh beliau.

 

Sang Syekh mendukung beliau dalam kekuatan spiritual dan mengangkatnya mencapai berkah yang tertinggi sampai beliau memperoleh posisi keyakinan akan kebenaran dan mencapai posisi pohon lotus terjatuh. kemudian beliau dikirim kembali ke dunia ini sampai beliau menjadi seperti yang telah disebutkan diatas, pembimbing bagi setiap manusia. Beliau diberikan izin untuk melakukan inisiasi (bay’at) dalam Tariqah naqshbandi.

 

Beliau mendukung syariat dengan tetap mempertahankan sunnah dan memulihkan kembali kebenaran dari kelima Thariqah, yaitu : qodiri, Suhrawardi, kubrawi, Chishti dan naqsybandi. Beliau meneruskan rahasia-rahasia  dari kelima tarekat kepada para pewarisnya dan melalui beliau semua rahasia dilanjutkan oleh semua Syekh dalam rantai emas. Beliau meninggikan posisi semua muridnya hingga mencapai maqam abdal (wali pengganti) dan awtad (pilar awliya).

 

Beliau dilahirkan pada tahun 1158 H (1745 M) di sebuah kota bernama Bitala di daerah Punjab. Beliau merupakan salah satu keturunan nabi Muhammad saw. Ayahnya merupakan seorang awliya besar dan terlatih melakukan khalwat dalam thariqah Qodiri dibawah bimbingan Syekh Nasir Ad Din Al Qadiri, seseorang yang telah mendapat pengajaran oleh nabi Khidir as.

 

Sebelum kelahirannya, sang ayah bermimpi bertemu dengan Sayyidina Ali ra, Khalifah keempat, yang berkata, “berikan nama anakmu dengan namaku”. Ibu beliau bermimpi melihat seorang laki-laki shaleh berkata, ‘engkau akan melahirkan seorang putra. Berilah ia nama “Abdul Qodir”. Kemudian ayah dan ibunya bermimpi yang sama yaitu melihat nabi Muhammad saw seraya berkata, “panggillah anakmu dengan “Abdullah”. Memetuhi perintah nabi Muhammad saw yang mengambil alih semua saran nama yang diajukan, beliau kemudian dinamakan “Abdullah Shah Ghulam Ali”.

Beliau dapat menghafal dan menginat Al Qur’an (menjadi hafidz) dalam waktu satu bulan karena kejeniusannya. Beliau belajar sendiri untuk memperolah pengetahuan eksternal dan spiritual sampai beliau menjadi awliya tertinggi. Sebagai pemuda. Diapun berkali-kali dating ke gurun, melakukan dzikir selama berbulan-bulan, bertahan hidup dengan memakan makanan apapun yang bisa dimakan.

 

Suatu kali beliau bertahan selama 40 hari tanpa tidur dan makan, walau hanya sesuap makanan. Dzikir yang beliau lafalkan tidak pernah berhenti. Syekh sang ayah memerintahkan sang ayah membawa putranya menghadap beliau untuk membaiat dalam tarekat Qadiri. Pada malam yang sama ketika beliau tiba dikediaman sang Syekh, sang Syekh meninggal dunia. Ayahnya berkata, “kami dengan senang hati memberikan thariqah Qodiri kepadamu, tapi kini engkau telah bebas untuk mencari jalan/ thariqah yang seusai denganmu.”

 

Beliau terus menjada hubungan dengan para Syekh dari tarekat Chishti di Delhi, diantara mereka terdapatlah syekh Dia’ullah, Syekh Abdul Addad, khalifah Syekh Muhammad Zubair, Syekh Mirdad, Mawlana Fakhruddin, dan banyak lagi lainnya. Ketika beliau mencapai usia 22 tahun, beliau menghadap kepada khaniqah dari syekh jan I Janan Habibullah Qs meminta ijin untuk masuk Tarekat Naqsybandi Mujaddi.

 

Syekh Habibullah berkata kepadanya, “lebih baik bagimu berada dalam tarekat yang memiliki rasa dan belas kasihan, karena dalam tarekat kami tidak ada apa-apa untuk diharapkan kecuali menjilati batu tanpa garam.” Beliau menjawab, “itulah tujuan terbesarku.” Syekh Habibullah akhirnya menerima beliau dan berkata, “semoga Allah memberkahimu. Tinggallah di sini.”

 

Beliau berkata, “setelah aku menrima pengetahuan dari hadist, mengingat Al Qur’an serta mempelajari tafsirnya, aku berdiam di hadapan syekhku. Dia memberikan Baiat Thariqah Qodiri dari tangannya yang suci. Dia juga memberiku bay’at theriqah Naqsybandi Mujaddi. Aku berada dalam lingkaran dzkir dan berada dalam pengawasannya selama 15 tahun.

 

Kemudian Syekh memberiku otoritas untuk membimbing dan melatih para murid. “aku tertegun mendengar perintah ini, karena aku takut bahwa Sayyidina Abdul Qodir Al JailaniQs tidak memberikan ijin memperi pengajaran dalam Thariqah Naqsybandi. Suatu ketika berada dalam kebimbangan, aku mendapat penglihatan. Aku melihat Sayyidina Abdul Qodir Al Jailani Qs sedang duduk di singgasana. Shah Nasyband Qs masuk.

 

Buru-buru Sayyidina Abdul Qodir Al Jailani Qs berdiri dan mempersilahkan Shah Nasyband Qs duduk siatas Singgasana. Sedang Sayyidina Abdul Qodir Al Jailani tetap berdiri. Kesemuanya datang ke dalam hatiku dan metrupakan pertanda hormat atas Shah Naqshband. Sayyidina Syekh Abdul Qodir Jilani Qs berkata “ pergilah ke Shah Naqshband Qs. Tujuan utama adalah Allah. Jalan apapun yang kau pilih, kau dapat mencapaiNya.”

 

Beliau berujar, “aku bertahan hidp dengan pendapatan dari sepetak rumah yang aku punya. Aku telah memberikannya demi kepentingan Allah. Setelahnya aku menghadapi banyak kesulitan karena tidak memiliki pendapatan. Yang tertinggal hanyalah selembar kasur tua sebagai alas tidur menghadapi cuaca dingin dan sebuah bantal tua kecil tempat aku mengistirahatkan kepalaku. Aku menjadi amat lemah. Aku mengunci diri dalam kamar dan berkata seorang diri, “wahai egoku, inilah kuburmu. Aku tidak akan membukakan pintu bagimu. Apapun yang Allah berikan padamu, kau harus menerima. Eangkau akan hidup di sini tanpa makanan dan apapun juga kecuali kasur dan bantal itu.

 

Makananmu adalah air. Wahai jiwaku, makananmu adalah dzikrullah.” Aku berdiam selama 40 hari, bertambah lemah setiap hari, ketika Allah mengirimkan seseorang mengetuk pintu. Dia melayaniku dengan makanan dan memberikan pakaian-pakaian untuk 50 tahun.”

 

Syekh Abdullah Qs berkata, “ketika aku mengunci pintu kamarku dan berkata, perlindungan Allah telah menyentuhku. Suatu hari seorang laki-laki akan dating dan berkata, “buka pintu”, aku berkata “aku tidak mau membukanya” dia membalas “tidakkah engkau membutuhkanku?” aku menjawab”tidak, aku membutuhkan Allah yang Maha Kuasa dan Maha Tinggi.”

 

Pada kesempatan tersebut, aku mengalami penglihatan dimana aku naik ke Hadirat Allah dan sepertinya aku menghabiskan waktu selama 1000 tahun berada dalam hadiratNya. Lalu aku kembali dan dia berkata “buka pintu” setelah kejadian tersebut aku tidak pernah mengalami lagi kesulitan apapun.

 

Banyak orang dari mana-mana datang kepadanya. Kemasyhurannya mencapai Byzantium yang jauh, Iraq, Khorasan, Transoxiana, dan Suriah. Hingga pula mencapai Afrika Utara. Beliau mengirimkan para khalifahnya dan deputi  yang tujuannya sesuai dengan perintah dari Sayyidina Muhammad saw. Diantara mereka tersebutlah Sayyidina Khalid Baghdadi Qs.

 

Syekh Abdullah dapat mencapai orang melalui mimpi dan membimbing orang-orang yang berada di negeri-negeri yang jauh. Mereka melakukan perjalanan yang amat jauh untuk menemui beliau dan berkata, “engkau memanggilku untuk datang melalui mimpi.”

 

Khaniqah beliau dapat memberi makan 2000 orang setiap hari dan selalu penuh. Beliau tidak pernah menyimbpan makanan untuk esok hari. Merupakan kesederhanaan beliau dengan tidak menjulurkankaki ketika tidur, karena dia takut menjadi terbiasa untuk menjulurkan kakinya ketika berada di hadapan nabi Muhammad saw atau para awliya lain atau di hadirat Ilahi.

 

Beliau tidak pernah melihat cermin. Jika seekor anjing memasuki rumah untuk makan, dia akan berkata, “wahai Allah, siapakah aku sehingga menjadi perantara kau dengan pecintaMu? Dan siapakah aku yang memberi makan padahal engkaulah yang memberikan aku dan mereka makanan?”

 

Wahai Allah, aku memohon demi makhluk ciptaanMu dan demi setiap orang yang dating kepadaku ememinta kasih saying, kirimkan kasih sayang kepadamu demi kepentingan mereka dan bawalah aku mendekatiMu dan bantulah aku memegang teguh sunnah nabi Muhammad saw. Dan menerima apa yang telah Kau tetapkan dan meninggalkan yang kau larang.”

 

Beliau pernah berkata, “suatu kali Isma’il Al Madani datang berkunjung karena perintah nabi Muhammad saw. Dia melakukan perjalanan sepanjang ribuan mil dari negaranya, Hijaz untuk sampai ke tempatku. Dia membawa sesuatu peninggalan nabi Muhammad saw dan memberikannya kepadaku sebagai hadiah. Aku meletakkan hadiah tersebut di masjid terbesar di Delhi.”

 

Beliau berkata, “suatu hari datanglah Raja Nabdilkahand. Dan dia mengenakan pakaian kaum kafir.ketika aku melihatnya, aku marah dan menegurnya, “engkau tidak dapat duduk di sini dengan pakaian seperti itu”, sang raja menanggapi “jika engkau menghukumku, maka aku tidak akan dating ke pertemuan/ asosiasimu lagi.” Sang syekh berkata, “itu lebih baik” rajapun berdiri dan pergi denganrasa marah.

 

Namun ketika raja mencapai pinu, sesuatu terjadi padanya dan tidak ada yang mengetahui. Dia melempar pakaian kaum kafir, berlari dan mencium tangan sang Syekh. Kemudian diapun mengambil bay’at dan menjadi salah seorang pengikut setia. Selang beberapa lama, mereka bertanya kepada raja apa yang terjadi. Raja berkata, “ketika aku keluar, aku melihat syekh datang melalui pintu bersama nabi Muhammad saw sementara beliau sedang berada di dalam! Hal itulah yang membuatku lari kembali menghampiri beliau.”

 

Beliau sangat sedikit tidur. Ketika bangun untuk melaksanakan shalat Tahajjud beliau membangun kan semua orang dan duduk bersamanya untuk merenungkan dan membaca Al Qur’an. Setiap hari dia mebaca sepertiga Al Qur’an dan melaksanakan shalat fajr secara berjama’ah. Lalu dia akan duduk dalam lingkaran dzikir dan berfakkur hingga matahari terbit.

 

Beliau mengerjakan shlat Isyraq dan setelahnya baru memberikan ceramah. Membaca Hadist dan membaca pendapat-pendapat dalam Al Qur’an. Dilanjutkan dengan Sholat Dhuha. Setelahnya makan bersama semua para pengikutnya. Makanan yang masuk ke perutnya amat sedikit dan melanjutkan membaca buku-buku agama dan spiritual, lalu menulis beberapa surat.

 

Setelah melaksanakan shlat dzuhur, beliau akan membaca tafsir dan hadist sampai menjelang waktu shalat Asahr. Setelah selesai, beliau akan berbicara mengenai sufisme dan tokoh tokohnya, seperti Al Qusyairi, Ibnu Arabia tau Shah Naqshband Qs.

 

Lalu beliau akan duduk di lingkaran dzikir hingga maghrib. Setelah selesai melaksanakan shalat maghrib, beliau akan dudukdalam lingkaran khusus para pengikutnya. Kemudian makan malam dilanjutkan dngn Shalat Isya’. Setelah Isya’ beliau menghabiskan malam dengan berdzikir dan merenung. Beliau tidur hanya sebanyak 1-2 jam setiap harinya sebelum akhirnya bangun untuk melaksanakan tahajjud.

 

Masjidnya terlampau kecil bagi para pengikutnya yang hanya dapat menampung 2000 orang. Jadi biasanya beliau melakukan dzkir secara bergantian, setiap kali masjid penuh, maka dilakukan dzikir dan yang tidak bisa masuk ke dalam masjid mengikuti dzikir setelahnya giliran yang lebih dahulu selesai.

 

Siapapaun yang memberikan donasi, maka saat pertama-tama akan beliau sisihkan untuk zakat berdasarkan pengajaran dari Imam Abu Hanifah tanpa menunggu bergantinya tahun karena segera memberikan zakat adalah lebih baik daripada memberikan amal secara sukarela. Beliau akan menggunakan donasi untuk makanan dan penganan bagi kaum miskin, keperluan bagi zawiyah dan kebutuhan beliau sendiri.

 

Beberapa orang kadang suka mencuri uang tersebut tetapi beliau tidak memberikan teguran keras kepada pelaku tapi menyerahkan masalah itu kepada Allah. Suatu hari seorang pria mencuri sebuah buku tapi lalau kembali untuk menjualnya. Beliau mendoakn lelaki ini dan memberikan uang. Salah seorang pemngikutnya berkata “wahai tuanku, buku ini berasal dari perpustakaan anda sendiri da nada tanda tanganmu tertera di buku ini”. Beliau menjawab “jangan menghujat, perbuatan dia adalahurusan dengan Allah”,

 

Beliau selalu duduk melipat kakinya, tidak pernah menyilang kaki ataupun menjulurkannya, tetapi selalu menjaga respek bagi nabi Muhammad saw dan beliaupun wafat dengan posisi melipat kaki.

 

Beliau merahasiakan apa yang diberikan untuk amal, tidak pernah memperlihatkan seberapa banyak beliau memberi dan kepada siapa beliau memberi. Beliau mengenakan pakaian lama. Apabila diberikan pakaian baru, dia akan menjual dan membeli banyak pakaian lama. Beliau pernah berkata “lebih baik memakai beberapa pakaian daripada satu pakaian terbaik.”

 

Asosiasi beliau seperti asosiasi Sufyan Ath Thawri ra salah seorang sahabat Nabi Muhammad saw, yaitu tidak pernah bersuara keras lagi lantang, tidak juga membicarakan orang lain dan menghujat, dan tidak membahas isu keduniawian yang beredar, yang terdengar dalam asosiasi ini hanyalah tentang spiritualitas dan keagamaan.

 

Suatu hari, sang Syekh sedang berpuasa dan salah seorang pengikutnya berkata kasar tentang raja India. Syekh memberitahukan si pengikut, “ saying sekali, aku kehilangan amal puasaku.” Mereka berkata “wahai Tuanku, api engkau tidak melakukan apapun, yang berkatalah yang bertanggung jawab bukan dirimu.” Beliau menjawab, “tidak, yang berbicara dan mendengarnya mendapat bagian dosa yang sama.”

 

Beliau sangat mencintai nabi Muhammad saw sehingga dimanapun beliau mendengar nama suci nabi saw beliau akan gemetaran dan melemah. Beliau sangat teliti dalam mengikuti sunnah Nabi saw yang diaplikasikan dalam perilaku-prilakunya sendiri dan menjaga sunnah nabi Muhammad saw.

 

Kata-kata dari kesempurnaan beliau dan kesempurnaan dalam kata-kata beliau

 

Beliau berkata “thariqah Naqsybandi adalah dibangun dari 4 prinsip, yaitu menjaga kehadiran Allah, menjaga inspirasi-inspirasi Ilahiah, menjaga ketertarikan kepada Allah, dan mengabaikan bisikan-bisikan.”

 

“barang siapa yang meminta rasa dan kerinduan maka sebenarnya tidak memohon realitas dari kehadiran Ilahi.”

 

“para pencari harus selalu waspada penuh tentang bagaimana dia menjalani setiap kesempatan. Para pencari harus menyadari bagaimana ibadahnya, harus menyadari bagaimana caranya membaca hadist, harus menyadari bagaimana cara dia membaca dzikir, harus menyadari seberapa banyak kegelapan yang diterima karena makanan yang diragukan.”

 

“makan terbagi menjadi 2 macam, yaitu untuk memuaskan diri sendiri dan memelihara diri. Jenis yang pertama tidak dapat diterima, tapi jenis yang keduua dapat diterima karena menghasilkan kekuatan yang dibutuhkan untuk melaksanakan kewajiban-kewajibanmu dan menjaga sunnah nabi saw.”

 

“memohon yang halal (hal-hal yang diijinkan) adalah sebuah kewajiban bagi setiap orang yang beriman, jadi menolak yang halal juga merupakan kewajiban bagi yang mengetahui, yang mengetahui adalah kaum sufi, yang menolak bunia dan akhirat, walaupun keduannya bersifat Halal. Karena hanya menerima Allah, dan tiada yang lain selain Allah yang Maha Kuasa dan Maha Mulia.

 

“harus dimegerti oleh setiap[ orang bahwa nabi Muhammad saw merupakan gabungan dari seluruh kesempurnaan. Kehadiran dari kesempurnaan beliau dalam setiap abad dan waktu berbeda yang didasari dengan persiapan yang matang dan keadaan abad pada masa tersebut. Itulah mengapa kehadiran dari kesempurnaan beliau dalam masa hidup dan masa para sahabatnya dalam berjihad, mempertahankan hidup dan da’wah (menyebarkan agama). Dan kehadiran beliau kepada para awliya di abad-abad terakhir melalui kehadiran suci beliau yang didapat dalam menghilangkan diri, meniadakan keberadaan, rasa, belas kasihan, emosi, rahasia-rahasia kesatuan dan kondisi-kondisi spiritual lainnya. Itulah hadir ke hati dan lidah para awliya.”

 

“bagi kami malam kelaparan adalah malam kenaikan. Malam kelaparan adalah malam hasrat akan Allah.”

 

“dalam bay’at (inisiasi) ada 3 kategori : pertama melalui perantara para syekh, kedua bertaubat akan segala dosa, dan yang ketiga adalah setia. Berhubungan dan menerima pengetahuan dari para penerus.”

 

“semua kesempurnaan  manusia 4 buah kategori, yaitu pertama adalah menusia yang telanjang karena mereka minta hanya dunia, kedua mereka memohon kehidupan akhirat, ketiga manusia dewasa uyang memohon kehidupan akhirat dan Allah, dan yang terakhir manusia yang hanya memohon untuk Allah.”

 

“jiwa-jiwa manusia akan diambil oleh malaikat maut namun jiwa-jiwa yang terpilih tidak dapat didekati oleh malaikat meupun, Allah-lah yang mengambil mereka dengan tangan Dia yang Suci.”

 

“pikiran Ilahiah adalah pikiran yang mengetahui jalan untuk memperolah tujuan tanpa satupun mediator/ perantara, dan pikiran keduniawian adalah pikiran yang membutuhkan untuk menemukan jalan melalui seseorang pembimbing dan seorang wali.”

 

“siapapun yang ingin dilayani, maka dia harus melayani syekhnya sendiri.”

 

Dari penglihatan-penglihatan Abdullah Ad Dahlawi Qs

 

Penuturan beliau berdasarkan penglihatan-penglihatan yang diperoleh :

 

“suatu kali aku mendapat penglihatan dengan melihat Al Mir Ruhullah “salah seorang pengikut Jan Janan Habibullah Qs, berkata kepadaku “Nabi saw sedang menunggumu” dalam penglihatan itu aku bergerak ke tempat dimana Nabi saw sedang menunggu. Beliau saw memelukku dan dengan pelukan tersebut aku berubah menjadi seperti beliau. Kemudian aku berubah menjadi seperti syekhku, Jan Janan Habibullah Qs. Lalu berubah menjadi seperti Amar Kulal Qs, lalu aku berubah sepert Shah Naqsband Qs dan berubah menjadi seperti Abdul Kholiq Al Gujdawani Qs. Kemudian aku berubah lagi menjadi seperti sayyidina Abu bakar As Siddiq ra, Sahabat Nabi Muhammad saw.”

 

“suatu kali aku mendapat penglihatan mendekati waktu shalat Isya’, aku melihat nabi Muhammad saw datang kepadaku dan berkata “aku mempunyai saran bagimu dan pengikutmu, jangan tidur sebelum melakukan shalat ISya’”.

 

“suatu hari aku mendapat penglihatan bahwa aku bertanya kepada nabi Muhammad saw, “kau katakana, “siapapun melihat aku berarti melihat kebenaran” beliau menjawab “benar dan dia akan melihat Allah Yang Maha Kuasa dan maha Agung.”

 

“suatu kali aku memperoleh penglihatan dimana Nabi Muhammad saw datang dan berkata “jangan pernah meninggalkan membaca AL QUr’an dan dzikir bagimu dan para pengikutmu. Dan selalulah mengirimkan shalawat kepadaku sebagai hadiah, dengan ini kamu akan memperolah pahala yang amat besar.”

 

“suatu kali aku mendapat seuah penglihatan dan aku berkata kepada Nabi Muhammad saw, “aku sangat takut akan api neraka” beliau berkata kepadaku “siapapun yang mencintai kami tidak pernah masuk ke dalam api neraka.”

 

“suatu hari aku mendapat penglihatan dan aku melihat Allah yang Maha Kuasa dan maha Mulia, berbicara kepadaku. Dia berkata “wajahmu adalah wajah dari Sultan Awliya dan itulah dirimu.”

 

“ aku melihat Shah Naqsyband Qs datang menghampiri, memeluk dan memasuki pakaianku. Kami adalah satu. Aku bertanya kepada beliau “siapakah engkau?” dia menjawab “Shah Baha’uddin Maqsyband. Danengkau adalah aku dan aku adalah engkau.”

 

Suatu kali dia berjalan menyusuri pantai ketika ombak sedang bergolak dan sebuah kapal yang berlayar diatasnya dalam bahaya. Saat dia menatapnya, kapal tersebut berhenti trombang-ambing dan laut mendadak tenang. Suatu ketika, salah seorang pengikutnya, Syekh Ahmad Yar, sedang melakukan perjalanan bisnis dengan sebuah caravan. Caravan tersebut berhenti untuk beristirahat. Dia pergitidur dan dalam mimpi melihat Syekhnya berkata, “cepat pergi dari sini, aka nada perampok yang dating.” Dia terbangun dan memberitahu orang-orang tapi mereka menolak untuk percaya. Dia pergi seorang diri dan perampok datang dan membunuh semua orang.

 

Suatu hari Syekh Zul Shah pergi untuk berkunjung ke Syekh Abdullah dari tempat yang sangat jauh. Diperjalanan di ersesat. Seorang lelaki mendatanginya dan menunjukkan arah yang benar, dia bertanya siapa yang dating. Lelaki itu menjawab “aku orang yang akan kau kunjungi.”

 

Syekh Ahmad Yaraghi berkata, “pernah sekali, Syekh Abdullah pergi untuk menyatakan duka cita kepada seorang wanita shaleh yang putrinya meninggal dunia. Si ibu beserta suaminya melayani beliau. Syekh Abdullah Qs berkata kepadanya, “Allah akan memberikan kalian seorang anak laki-laki untuk menggantikan anak perempuan kalian yang meninggal.” Si wanita berkata “aku berumur 60 tahun, telah melewati masa subur untuk mengandung anak dan suamiku pun telah berusia 80 tahun.

 

Bagaimana mungkin kami dapat memiliki seorang anak?” Syekh Abdullah menjawab, “Jangan bertanya bagaimana Allah dapat melakukannya! Inilah RahmatNya atas kalian dan rahmatku atas kalian berdua.” Kemudian beliau keluar, mengambil wudlu dan dating ke masjid melakukan shalat 2 roka’at. Lalu beliau mengangkat tangan, memanjatkan doa, “ya Allah, karuniakan mereka berdua seorang anak sebagaimana telah engkau janjikan kepadaku”. Lalu Syekh Abdullah berbalik menghadapku dan berkata, “doa tadi telah diterima” Tidak lama, si wanita melahirkan seorang bayi laki-laki.”

 

Suatu hari seorang wanita yang masih punya hubungan saudara dengan Mir Akbar Ali dan salah seorang pengikut Syekh menderita sakit. Mir Akbar Ali mendatangi Syekh dan meminta beliau berdoa kepada Allah agar mencabut kesakitan yang dideritanya tapi Syekh menolak. Mir Malik Ali tetap memaksa, sehingga akhirnya Syekh berkata, “ini tidak mungkin karena wanita si wanita akan meninggal dalam 15 hari. Mir Malik Ali kembali pulang dan 2 minggu kemudian si Wanita meninggal dunia.

 

Suatu kali wilayah sekitar Delhi mengalami banjir dan tidak ada tanaman budidaya yang dapat tumbuh. Orang-orang putus asa. Pada suatu hari yang panas Suekh Abdullah keluar menuju halaman masjid dan di bawah matahari bersinar terik dia berkata “ya Allah, aku tidak akan bergerak dari sisni sampai engkau menyiramiku dengan hujan.” Belum selesai beliau memohon pertolongan kepada Allah. Ketika langit dipenuhi oleh awan dan mulai turun hujan. Hujan turun terus selama 40 hari.

 

Beliau berkata, “aku ingin meninggal seperti meninggalnya Syekhku Mirza Jan Janan Habibullah Qs, sebagai seorang martir. Tetapi aku ingat bahwa setelah dia meninggal banyak orang merana akibat banjir selama 3 tahun, banyak pembunuhan dan kesulitan melanda karena Allah marah dengan mereka yang membunuh Mirza jan Janan Habibullah. Wahai Allah, aku tidak memohon untuk meninggal dengan cara seperti itu walaupun aku ingin, tapi aku mohon agar engkau membawaku kepadaMu.”

 

Beliau meninggal dunia pada tanggal 12 Safar 1241 H/ 1825 M. beliau meninggal dengan memegang sebuah buku sunnah dan Hadist nabi Muhammad saw. Jami’ At Tirmidhi. Beliau dimakamkan disamping Syekh beliau di Khaniqah Jan Janan habibullah Qs.

 

Beliau menghasilkan banyak buku, termasuk Maqamat An NAqsybandi, Risalat Al Ishtighal bi Ismil Jalal, Manahij At Tahqiq dan Minatur rahman. Beliau melanjutkan rahasia kepada Mawlana Syekh Khalid Al Baghdadi Al Ustmani As Sulaymani Qs.

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *