sanad emas ke 31

alhamdulillah telah menyicil untuk mengefilekan buku silsilah rantai emas yang diminta oleh pak Madyo. Dari sini, saya berpendapat, mengapa kok penjelasan seperti ini terkadang belum dapat diterima banyak orang khususnya orang pesantren? mungkin karena ini adalah terjemahan bebas yang dimana istilah-istilah yang telah lazim digunakan di pesantren juga tetap diterjemahkan, hingga terasa asing, bahkan mungkin terasa seperti berasal dari orang asing. Walaupun begitu akan banyak manfaatnya kok, semoga dengan rahmat Allah, kita terbuka mata hatinya.

Dan penjelasan yang paling baik adalah dari Mursyid sendiri atau dari Khalifah beliau ataupun dari oarang-orang diberi otoritas berbicara mewakili beliau. Semoga Umur panjang dan keberkahan selalu tercurahkan untuk Syekh Nadzim, Syekh Hisaym dan Syekh Musthofa.

Berikut sanad yang ke 31  yang insyaalloh akan dilanjutkan ke sanad ke 30 dan seterusnya dengan urutan ke atas. Moga Allah memberkahi.

 

31 Syekh Khalid Al Baghdadi Qs

 

Dia memujiku dan aku memujinya. Dia melayaniku dan aku melayaninya.

Dengan Kehadiranku, ku yakin akan Dia. Dan dengan keteguhanku, aku menolakNya.

Tetapi Dia yang mengetahuiku, ketika aku menolakNya

Dan kemudian kutemukan Dia. Dan bertafakkur kepadaNya.

(Ibnu Arabi, Fusus Al Hikam)

 

Adalah  Ulama dari para Ulama, dan wali dari para wali, dan orang yang mengetahui dari orang-orang yang mengetahui. Beliau adalah cahaya bulan purnama dari Tarekat Naqsybadi pada masanya. Dia adalah pemegang rahasia realita dan realitas dari rahasia. Rahasianya menggerakkan hati setiap manusia bagaikan ruh yang memasuki bdan. Seandainya nabi Muhammad saw bukan nabi terakhir, maka perkataannya akan menjadi suatu wahyu Allah.

 

Beliau adalah mujtahid dalam syariah dan haqiqat. Beliau merupakan cendikiawan dari para cendikiawan dan wali dari para wali dan orang yang paling banyak pengetahuannya, pada masanya beliau adalah cahaya bulan purnama dalam tarekat Naqsybandi. Beliau adalah pusat dari lingkaran kutub di masanya. Syekh Khalid Al Baghdadi adalah mursyid tarekat Naqsybandi ke-31, penerus rahasia tarekat naqshbandi dari Syekh Adullah Ad Dahlawi Qs. Beliau menyebarkan ilmu-ilmu syariat dan tasawuf.

 

Beliau lahir pada tahun 1193 H/ 1779 M di desa Karada, kota Sulaymaniyyah, Iraq. Beliau mempunyai gelar ustmani karena beliau adalah keturunan Sayyidina Ustman bin Affan, Khalifah ketiga dari Rasulullah saw. Beliau tumbuh dan belajar di sekolah-sekolah dan masjid yang tersebar di koa itu. Pada saat itu kota Sulaymaniyyah dianggap sebagai kota pendidikan utama.

 

Kakek beliau adalah Par Mika’il Chis Anchit, yang berarti Mikail wali dengan enam jari. Beliau mempelajari Al Qur’an dan tafsir imam Rafica menurut madzhab Syafi’i. selain itu, beliau juga terkenal di bidang puisi. Ketika berumur 15 tahunbeliau menetapkan asceticism (doktrin keagamaan yang menyatakan bahwa seseorang bisa mencapai posisi spiritual yang tinggi melalui disiplin diri dan penyangkalan diri yang ketat) sebagai falsafah hidupnya, kelaparan sebagai kudanya, tetap terjaga (tidak tidur) sebagai jalannya, khalwat sebagai sahabatnya, dan energy sebagai cahayanya.

 

Beliau berkelana di dunia Allah dan menguasai segala macam pengetahuan yang tersedia di jamannya. Belajar berguru pada dua cendikiawan besar di masanya, yaitu Syekh Abdul Karam Al Barzinji dan Syekh Abdur Rahim Al Barzinji, beliau juga membaca bersama Mullah Muhammad Ali. Kemudian beliau kembali ke Sulaymaniyyah dan di sana mempelajari ilmu matematika, filosofi, dan logika. Lalu beliau kembali ke Baghdad dan mempelajari Mukhtasar Al Muntaha Fil Usul, sebuah ensklopedia tentang jurisprudensi.

 

Selanjutnya beliau mempelajari karya-karya Ibnu Hajar, Suyuti, dan Haytami. Beliau dapat menghafal Tafsir Al Qur’an dari Baydawi. Beliau juga mampu menemukan pemecahan atas segala pertanyaan pelik mengenai jurisprudensi.

 

Beliau juga adalah Hafidz, beliau hafal Al Qur’an dengan 14 cara membaca yang berbeda, dan menjadi sangat terkenal karena hal ini. Pangeran Ihsan Ibrahim Pasha, gubenur daerah baban, berusaha membujuknya untuk mengasuh sekolah di kerajaannya. Namunbeliau menolak dan malah pergi ke kota Sanandaj, untuk mempelajari ilmu matematika, teknik, astronomi dan kimia. Guru beliau di idang ini adalah Muhammad Al Qosim A Sanandaji. Setelah menyelesaikan pelajaran iolmu-ilmu sekuler, beliau kembali ke kota Sulaymaniyaah.

 

Menyusul wabah penyakit di kota itu pada tahun 1213 H/ 1798 M, beliau mengambil alih sekolah syekhnya Abdul karamBarzinji. Beliau , mengajar ilmu-ilmu modern. Meneliti dan mentelaah persamaan-persmaan yang sulit di bidang astronomi dan kimia.

 

Kemudian beliau berkhalwat, meninggalkan segala yang telah dipelajarinya, dan dating ke pintu Allah dengan segala perbuatan yang sholeh dan memperbanyak dzkir baik keras maupun di dalam hati. Beliau tidak lagi mengunjungi sultan, tetapi tetap menjalin hubungan dengan murid-muridnya hingga tahun 1220 H/ 1806 M. ketika beliau memutuskan untuk naik haji dan menemui makam Rosululloh saw.

 

Berliau meninggal kan segalanya dan pergi ke Hijaz melewati kota-kota Mosul, yarkibir, Ar Raha, Aleppo dan Damaskus, di sana beliau menemui para cendikiawan dan mengikuti syekhnya, yang merupakan ahli ilmu-ilmu kuno dan modern dan juga pengajar hadist., Syekh Muhammad Al Kuzbara.

 

Beliau menerima otorisasiterhadap tarekat Qodiriyah dari Syekh Al Kuzbari dan deputinya, Syekh MustafaAL Kurdi, yang kemudian melanjutkan perjalanan bersamanya sampai tiba di kota Rosululloh saw.

 

Beliau memberi penghormatan kepada Rosululloh dengan puisi Persia yang dibaca dengan cara sedemikian rupa sehingga membuat orang-orang menjadi terpesona akan keelokannya. Beliau menghabiskan cukup banyak waktu di sana. Beliau menceritakan pengalamannya.

 

“aku sedang mencari orang saleh yang sangat langka untuk dimintai nasehat ketika aku melihat Syekh di sebelah kanan makam yang diberkati (Rawdatusy Syarifah). Aku lalu meminta nasehat kepadanya, dan berkonsultasi dengannya. Beliau menasehatiku agar tidak berkeluh kesah terhadap segala masalah yang mungkin bertentangan dengan syeriah ketika memasuki Mekkah. Aku dianjurkan agar tetap tenang dan diam. Akhirnya akupun tiba di Mekkah, dan nasehat tadi benar-benar ku pegang dalam hati. Aku pergi ke masjid Suci pada pagi hari di hari Jum’at. Aku duduk dekat Ka’bah dan membaca Dalail al Khairat, ketika aku melihat seseorang dengan janggut hitam bersandar pada sebuah pilar dan matanya menatapku.

Terlintas dalam hatiku bahwa orang ini tidak memberikan penghormatan yang layak kepada ka’bah, tetapi aku tidak berbicara apapun mengenai hal itu. “dia melihatku dan menegurku dengan berkata, “hei orang bodoh, apakah kamu tidak tahu bahwa kemulyaan hati orang mukmin lebih berarti dari pada kemulyaan ka’bah? Mengapa kamu mengkritik aku dalam hatimu megenai cara berbaringku ini, dengan membelakangi Ka’bah dan mengarahkan wajahku padamu.

 

Apakah kamu tidak mendengar nasehat Syekhku di Madinah yang berkata padamu agar tidak mengkritik sesuatu?” Aku berlari kepadanya dan memohon maaf, mencium tangan dan kakinya dan meminta bimbingannya kepada Allah. Dia lalu berkata, “wahai anakku, harta kekayaanmu dan kunci hatimu tidak berada di sini, melainkan di India. Syekhmu ada di sana. Pergilah ke sana dan beliau akan menunjukkan apa yang harus kamu lakukan.

 

Aku tidak menemukan orang lain yang lebih baik di semua sudut masjidil Kharam. Namun dia juga tidak mengatakan padaku ke mana aku harus pergi di India, jadi aku pulang kembali ke Syam dan berasosiasi dengan cendikiawan di sana.

 

Beliau lalu kembali ke Sulaymaniyyah dan kembali mengajar tentang pengangkalan diri. Beliau lalu mencari orang yang dapat menunjukkan jalan baginya. Akhirnya, seseorang datang ke Sulaymaniyyah, dia adalahSyekh Mawlana Mirza Rahimullah Ad Dawish Al Ma’ruf Qs yang dikenal juga dengan nama Muhammad Ad darwish Abdul Azim Al Abadi Qs, salah seorang khalifah dari kutup spiritual, Qutb Al Azam, Abdullah Ad Dehlawi Qs. Beliau bertemu dengannya. Memberinya hormat dan meminta petunjuk yang benar yang dapat menerangi jalannya.

 

Dia berkata kepadanya, “ada seorang syekh yang sempurna, seorang cendikiawan dan orang yang mengetahui banyak hal, yang menunjukkan para pencari kepada Raja dari raja. Ahli dalam segala hal, mengikuti tarekat Naqsybandi, dan mempunyai karakter Rosululloh saw, seorang pembimbing dalam ilmu tentang spiritualitas. Ikutlah bersamaku ke Jehanabad. Beliau telah berpesan kepadaku sebelum aku pergi, “kamu akan bertemu seseorang, bawa dia bersamamu.”

 

Syekh Khalid pindah ke India pada tahun 1224 H/ 1809 M melalui kota Ray, lalu Teheran, dan beberapa propinsi di Iran di mana beliau bertemu dengan cendikiawan besar Ismail Al Kashi. Kemudian beliau melanjutkan perjalanannya ke Kharqan, Samnan, dan Nisapar. Beliau juga mengunjungi guru dari induk segala tarekat di Bistam, Syekh Bayazid Al Bistami Qs, dan beliau memberikan penghormatan di makamnya dengan puisi Persia yang sangat eolk. Kemudian beliau bergerak ke Tus, mengunjungi As Sayyid AL Jalal Al Ma’nas Al Imam Ali Rida, dan beliau memujinya dengan puisi Persia yang lain membuat semua penyair Tus menerimanya.

 

Kemudian beliau memasuki kota jam dan mengunjungi Ash Syaikh Ahmad An Namiqi Al Jami dan memberikan penghormatan dengan puisi Persia yang lain lagi. Beliau lalu memasuki kota Herat di Afganistan, lalu Kandahar, Kabul, dan Peshawar. Di semua kota ini cendikiawan besar yang ditemuinya selalu menguji pengetahuannya tentang Syariat dan Kesadaran Ilahi (ma’rifat), ilmu-ilmu logika, metematika, dan astronomi. Mereka menyebutnya seperti sungai yang luas, mengalir dengan ilmu, atau seperti samudra tanpa pantai.

 

Kemudian beliau pindah lagi ke Lahore, dimana beliau bertemu dengan Syekh Thana’ullah An Naqsybandi dan meminta doa darinya. Beliau mengatakan, “malam itu aku bermalam di Lahore dan aku bermimpi bahwa Syekh Thana’ullah An Naqsybadi menarikku dengan giginya. Ketika aku terbagun aku ingin mengatakan mimpi itu kepadanya, tetapi dia mengatakan, “jangan menceritakan mimpi itu kepadaku, kami telah mengetahuinya. Itu adalah tanda untuk bergerak dan segera menemui saudara dan syekhku Sayyidina Abdullah Ad dahlawi Qs.”

 

Hatimu akan dibuka olehnya. Kamu akan melakukan baiat dalam tarekat Naqsybandi. Lalu aku mulai merasakan daya tarik spiritual dari Syekh. Aku meninggalkan Lahore, menyebrangi pegunungan dan lembah, hutan dan padang pasir sampai tiba di Kesultanan Delhi yang dikenal dengan Jehanabad. Perjalanan itu memakan waktu satu tahun. 40 hari sebelum aku tba, dia berkata kepada para pengikutnya, “penerusku akan datang.”

 

Malam saat beliau memasuki kota Jahanabad beliau menuliskan puisi dalam bahasa arab, merenungkan kembali perjalanannya dan memuji Syekhnya. Lalu beliau memberi penghormatan kepadanya dengan puisi Persia yang mengejutkan semua orang karena keelokannya. Beliau menyerahkan semua barang yang dibawanya dan segala yang ada di kantongnya kepada fakir miskin. Kemudian beliau melakukan baiat dengan syekhnya, syekh Abdullah Ad Dahlawi. Beliau menjadi pelayan di zawiyah (madrasah dan masjid) syekhnya dan mencapai perkembangan yang pesat dalam berperang melawan egonya.

 

Lima bulan belum lewat ketika beliau menjadi seorang dalam hadirat Ilahi dan mempunyai visi Ilahi. Beliau diizinkan oleh Syekh Abdullah Qs untuk kembali ke Iraq. Syekh memberinya otoritas tertulis dalam lima Tarekat : yang pertama adalah Tarekat Naqsybandi, atau rantai emas, yang ke dua adalah tarekat Qodiri melalui Sayyidina Ahmad Al Faruqi Syekh Shah As Sakandar, dari sana kepada Sayyidina Syeh Abdul Qodir Al Jailani, al Junayd, As Sirra As Saqati, Musa Al Kazim, Ja’far As Sadiq. Imam Baqir, Zain Al Abidin, Al Husayn, Al Hasan, Ali bin Abi Tholib da Sayyidina Muhammad.

 

Tarekat ketika adalah As Suhrawardiyya, yang mempunyai silsilah (rantai) serupa Tarekat Qodiriyah sampai Al Junaid, yang mengembalikan kembali ke HASAN Al Basri dari sana ke Sayyidina Ali dan Rosululloh saw. Syekh Abdullah juga memberinya otoritas untuk tarekat Kubrawiyya, yang mempunyai jalur sama dengan Tarekat Qodiri tetapi melalui Syekh Najmuddin Al Kubro Qs.

 

Akhrnya, beliau diberi otoritas untuk Tarekat Chisshti melalui garis yang dapat ditelusuri kembali dari Abdullah Ad Dahlawi dan Jan Janan kepada Sayydina Ahmad Al Faruqi lalu melalui banyak Syekh kepada Syekh Mawrad Chishti, Nasir Chishti, Muhammad Chishti, dan Ahmad Chishti kepada Ibrahim ibn Adham, Fudayl Ibn Al Iyad, Hasan Al basri, Sayyidina Ali, Rosululloh saw.

 

Syekh juga memberi otoritas untuk mengajarkan semua ilmu-ilmu Hadist, Tafsir, Sufisme, dan amalan Harian (award). Beliau Hafal isi buku Athna’Ashari (dua belas imam), buku pegangan tentang ilmu pengetahuan dari para penerus Sayyidina Ali ra.

 

Beliau pendah ke Baghdad pada tahun 1228 H/ 1813 M untuk kedua kalinya dan tinggal di sana di sekolahAhsa’iyya Isfahaniyyah. Beliau mengisinya dengan pengetahuan tentang Allah dan Jalan untuk mengingatNya. Tetapi sekelompok orang yang iri menulis sebuah surat tentang hal yang bertentangan mengenai beliau dan dikirimkan ke Sultan Sa’ad Pasha, Gubenur Baghdad. Mereka mengkrtiknya, mengecapnya sebagai orang yang sesat dan banyak lagi hal lain yang tidak bisa diulangi. Ketika Gubenur membaca surat itu, dia berkata “jika Syekh Khalid AL Baghdadi bukan seorang mukmin, lalu siapa yang mukmin”, Gubenur lalu mengusir mereka dan memenjarakannya.

 

Syekh meninggalkan Baghdad selama beberapa waktu lalu kembali lagi untuk ketiga kalinya. Beliau kembali ke sekolah yang sama telah dipugar untuk menyambut kedatangannya. Beliau mulai menyebarkan segala macam ilmu spiritual dan ilmu surgawi. Beliau membuka rahasia ke hadirat Ilahi, menerangi hati orang-orang demgan cahaya Allah yang diberikan ke dalam hatinya, hingga gubenur, para cendikiawan, guru-guru, pekerja dan orang-orang segala bidang pekerjaan menjadi pengikutnya.

 

Pada masanya kota Baghdad sangat terkenal dengan pengetahuannya, sehingga kota itu dinamakan, “tempat dari dua ilmu pengetahuan.” Dan “tempat dari dua matahari”. Serupa dengan itu, beliu juga dikenal dengan sebutan, “orang dengn dua sayap (Dhul Janahayn), sebuah perumpamaan karena penguasaannya di bidang ilmu eksternal dan internal. Beliau mengirimkan Khalifahnya ke mana saja, mulai dari Hijaz ke Iraq, dari Syam (Syiria) ke Turki, dari Iran ke India dan transoxania untuk menyebarkan jalan leluhurnya dalam tarekat Naqsybandi.

 

Kemanapun beliau pergi, orang akan mengundang ke rumahnya, dan rumah seperti apapun yang dia kunjungi, akan mendapat berkah dan menjadi makmur. Suatu hari beliau mengunjungi kubah batu di Jerussalem dengan para pengikutnya. Beliau sampai di tempat itu dan khalifahnya, Abdullah Al fardi, dating menemuinya dengan kerumunan orang. Beberapa orang Kristen memintanya untuk masuk ke Gereja Kumama agar mendapat berkah dengan kehadirannya. Lalu beliau melanjutkan perjalanannya ke Khalil (hebron), kota nabi Ibrohim, ayah dari semua nabi dan Rosul, di sana disambut oleh semua orang. Beliau memasuki Masjid Ibrohim Al Khalil dan mengambil Berkah dari temboknya.

 

Beliau pergi lagi ke Hijaz untuk mengunjungi Baitullah (Ka’bah yang Suci) pada tahun 1241 H / 1826 M. Banyak sekali murid dan khalifahnya yang menemani. Warga kota dengan para cendikiawan dan wali juga mendatangi dan semuanya melakukan baiat dengannya. Mereka memberinya kunci untuk memasuk dua Kota suci dan mereka mengangkatnya sebagai Syekh Spiritual untuk kedua kota terseut. Beliau lalu mengitari Ka’bah, tetapi yang sesungguhnya Ka’bah yang mengitari beliau.

 

Setelah haji dan kunjungannya kepada makam Rosululloh saw, beliau kembali ke Syam Ash Sharif. Beliau sangat dihormati oleh Sultan OTTOMAN. Mahmud Khan, ketika beliau memasuki Syam, penyambutan yang meriah diadakan dan sebanyak 250.000 orang menyambutnya di pintu kota. Semua cendikiawan, menteri, Syekh, fakir miskin dan orang-orang kaya datang  untuk mendapatkan berkah dan meminta doa darinya. Benar-benar merupakan suatu perayaan.

 

Para penyair melantunkan syair mereka. Sementara itu orang kaya memberi makan yang miskin. Semua orang adalah sama di hadapan beliau. Beliau membangkitkan pengetahuan spiritual dan pengetahuan eksternal dan menyebarkan cahaya kepada semua orang, baik arab maupun non arab yang datang dan menerima tarekat naqsybandi dari tangannya.

 

Dalam 10 hari terakhir di bulan Ramadhan 1242 H/ 1827 M beliau memutuskan untuk mengunjungi Quds (jerussalem) dari damaskus, para pengikutnya sangat gembira dan berkata, “Alhamdulillah, kami akan melakukannya bila Allah memanjangkan umur kami, setelah Ramadhan, awal bulan Syawal”. Mungkin itu adalah suatu tanda bahwa beliau akan meninggalkan dunia ini.

 

Pada hari pertama di bulan Syawal, wabah penyakit mulai menyebar dengan cepat di kota Syam (damaskus). Salah satu pengikutnya meminta beliau untuk mendoakan dia agar diselamatkan dari wabah tersebut dan menambahkan dan untukmu juga, Syekh. Beliau berkata, “ku merasa malu kepada Allah, akrena niatku memasuki Syam adalah untuk meninggal di Tanah Suci ini.”

 

Orang pertama yang meninggal karena wabah ini dalah putra beliau, Bahauddin. Pada jum’at malam dan beliau berkata “Alhamdulillah, ini adalah jalan kita” lalu beliau menguburkkannya di Gunung Qosiyun. Dia baru berusia lima tahun lewat beberapa hari. Anak itu sangat fasih dalam 3 bahasa, Persia, arab dan kurdi, dan dia juga pandai membaca Al Qur’an.

 

Lalu pada tanggal 9 Dhul Qoidah, anak lainnya, Abdur Rahman  meninggal dunia. Dia lebih tua dari saudaranya satu tahun. Mawlana Khalid Qs memerintahkan murid-muridnya untuk menggali makam kembali untuk menguburkan anak keduanya. Beliau berkata, “Dari pengikutku akan banyak yang meninggal dunia.”

 

Beliau memerintahkan untuk menggali banyakl lubang untuk para pengikutnya yang jumlahnya banyak, termasuk istri dan anak perempuannya, dan beliau memerintahkan untuk menyirami daerah itu dengan air. Lalu beliau berkata, “Aku memberi otoritas kepada Syekh Ismail Ash Shirwani untuk menggantikan aku di Tarekat Naqsybandi” beliau mengucapkan hal ini pada tahun terakhirya 1242 H/ 1827 M.

 

Suatu hari beliau berkata, “aku mendapat sebuah visi yang luar biasa kemarin. Aku melihat Sayyidina Ustman Dhun Nurayn seolah-olah dia telah meninggal dan aku melakukan shalat untuknya. Dia lalu membuka matanya dan berkata, “ini dari anak-anakku”. Dia menarikku dengan tangannya, membawaku kepada rosululloh, dan mengatakan kepadaku untuk membawa seluruh pengikut Naqsybandi di masa sekarang dan yang akan datang sampai imam Mahdi as, lalu dia memberi berkah untuk mereka semua. Setalah keluar dari visi itu, aku melakukan shalat Maghrib dengan para pengikut dan ank-anakku.

 

“apapun rahasia yang kumiliki, telah kuberikan kepada deputiku Ismail Ash Shirwani. Siapa saja yang tidak menerimanya berarti bukan golonganku. Jangan beragumen tetapi satukanlah pikiranmu dan ikuti pendapat Syekh Ismail. Aku menjamin siapapun yang mengikutinya akan bersamaku dan bersama Rosululloh.

 

Beliau memerintahkan meeka untuk tidak menangisinya, dan meminta mereka untuk mengorbankan hewan dan memberi makan orang miskin demi kecintaan Allah dan kemulyaan Syekh. Beliau juga meminta mereka untuk mengirimkan hadiah berupa pembacaan AL Qur’an dan bacaan  dalam shalat. Beliau memerintahkan mereka untuk tidak menulis apapun di makamnya kecuali “ini adalah makam orang asing, Khalid”

 

Setelah Shalat Isya’ Syekh Khalid Qs memasuki rumahnya, memanggil seluruh anggota keluarganya dan berkata kepada mereka, “aku akan meninggal dunia pada hari Jum’at”. Mereka tinggal bersamanya sepanjang malam. Sebelum subuh beliau bangun, berwudlu dan melakukan Shalat. Lalu beliau memasuki kamarnya dan berkata, “tidak ada yang boleh memasuki kamarku kecuali orang yang telah kuperintahkan.” Beliau berbaring di sisi kananya, menghadap kiblat dan berkata, “aku telah terkena wabah penyakit. Aku membawa tangannya dan berdoa, “siapapun yang terkena wabah itu, biarlah wabah itu mengenaiku dan bebaskan orang-orang di Syam.”

 

Kamis tiba dan seluruh kalifahnya memasuki kamarnya. Sayyidina Isma’il Ash Shirwani bertanya kepadanya, “bagaimana keadaanmu?” beliau berkata, “ Allah telah menjawab doaku. Aku akan membawa semua wabah yang melanda orang-orang di Syam dan aku sendiri akan meninggal dunia pada hari jum’at. Mereka menawarkan air, namun beliau menolak dan berkata, “aku meninggalkan dunia ini untuk bertemu Alllah, aku telah bersedia menanggung wabah dan membebaskan orang-orang di Syam yang telah terkena wabah itu. Aku akan meninggal dunia pada hari jum’at.”

 

Beliau membuka matanya dan berkata, “Allahu Haqq, Allahu Haqq, Allahu Haqq,” yang merupakan sumpah dalam baiat tarekat nashbandi, lalu beliau membaca ayat 27-30 dari AL Qur’an surat Al Fajr. “wahai jiwa yang tenag dan tentram. Kembalilah kepada Tuhanmu- merasa senang dan disenangi. Masuklah dalam hamba-hambaKu! Masuklah ke dalam SurgaKu!”

 

Kemudian beliau menyerahkan nyawanya kepada Allah dan meninggal dunia, seperti yang telah diprediksi sebelumnya, pada hari jum’at 13 Dzul Qaidah 1242 H/ 1827 M. mereka membawanya ke sekolah dan membasuhnya dengan air penuh cahaya. Mereka mengkafaninya sementara yang lain berdzikir, khususnya Syekh Isma’il Ash Shirwani, Syekh Muhammad, dan Syekh Aman. Mereka membaca Al Qur’an dan pagi harinya mereka membawa jenazahnya ke Masjid di Yulbagha.

 

Syekh Isma’il Ash Shirwani meminta Syekh Aman ‘Abdin untuk melakukan shalat jenazah baginya. Masjid itu tidak cukup untuk menampung seluruh orang yang hadir. Lebih dari 30.000 orang shalat di belakangnya. Syekh Isma’il berjanji kepada mereka yang tidak dapat melakukan shalat jenazah di masjid itu, bahwa dia akan melakukan shalat jenazah yang kedua kalinya di makam.

 

Mereka yang memandikannya ikut pula mengantarkan ke makamnya. Hari berikutnya, Sabtu, seakan-akan terjadi keajaiban di Syam, wabah penyakit tiba-tiba menghilang dan tidak ada lagi orang yang meninggal dunia. Mawlana Khalid Qs menyerahkan rahasianya kepada penerusnya, Syekh Isma’il Ash Shirwani.

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *