sanad emas ke 38

38. Syekh Syarafuddin ad-Daghestani QS

tak kuasa kuketuk gerbang-Mu, Pangeran
pun bila berpaling, ke pintu mana tangan ini kuayunkan?
dan dalam kenistaan, kepada-Mu-lah kupasrahkan kepercayaan
aku si peminta-minta, menggapaikan jemari mengharapkan pemberian.


Imam Syafi`i, 
Munajat.

 

 

Beliau adalah seorang yang ilmunya sempurna di Hadapan Allah SWT. Beliau adalah kunci bagi Pengetahuan Ilahi yang paling sulit diperoleh.Beliau adalah seorang Ulama Sejati yang dihiasi Cahaya dari Atribut Ilahi. Beliau didukung dengan Iman yang Sejati. Beliau adalah Pejuang di Jalan Allah SWT, Yang Maha Tinggi. Beliau adalah Suara Ilahi pada masanya. Beliau adalah Syekh dari para Syekh dalam pengetahuan keislaman.Beliau adalah pemegang otoritas terhadap segala persoalan yang khusus, rumit, dan paling sulit di segala bidang pengetahuan.

Beliau adalah Samudra Ilmu Pengetahuan, bagaikan Topan bagi Spiritualitas, Air Terjun bagi Wahyu, Gunung Berapi bagi Cinta Ilahi, Pusaran Air bagi Daya Tarik, dan Pelangi bagi Atribut Ilahi. Beliau dibanjiri dengan pengetahuan bagaikan Sungai Nil yang dilanda banjir. Beliau adalah Pembawa Rahasia dari Sultan adz-Dzikr, yang sebelumnya tidak seorang pun bisa membawanya. Beliau adalah Guru yang menguasai Hikmah sejak awal abad 20 dan Yang Memulihkannya. Beliau adalah seorang yang jenius dalam Ilmu mengenai Hukum Islam, seorang mujtahid(pembaharu) di bidang Jurisprudensi, dan seorang narator hadis, sabda Rasulullah SAW. Ratusan ulama selalu menghadiri ceramahnya. Beliau adalah seorang mufti di masanya. Beliau juga adalah salah seorang kaligrafer yang baik dalam menulis ayat al-Qur’an.

Beliau adalah penasihat bagi Sultan Abdul Hamid. Beliau memegang jabatan Syaykh ul-Islam, pemegang otoritas keagamaan yang tertinggi di Kekaisaran Ottoman. Beliau sangat dihormati bahkan oleh pemerintah rezim baru Turki di masa Ataturk. Hanya Syekh Syarafuddin QS dan deputinya, Syekh `Abdullah QS, yang diizinkan untuk memakai turbannya di seluruh Republik Turki yang sekuler pimpinan Ataturk. Yang lainnya dipenjara karena memakai tutup kepala Rasulullah SAW itu. Praktik Islam dalam bentuk luarnya sama sekali dilarang.

Syekh Syarafuddin QS sering mengalami keadaan dengan Penglihatan Spiritual, di mana beliau akan memperoleh Manifestasi dari Kemegahan Ilahi (Tajalli-l-Jalal); dan pada saat itu, tidak ada orang yang sanggup melihat matanya. Jika seseorang memandangnya, tubuhnya akan terasa lemah dan tertarik dengan kuat kepadanya. Oleh sebab itu, ketika beliau sedang mengalami keadaan seperti itu, beliau selalu menutupi matanya dengan cadar (burqa‘).

Beliau mempunyai warna kulit yang terang. Matanya biru, dan janggutnya hitam. Di masa tuanya, janggutnya sangat putih, seperti kapas.

Beliau dilahirkan dengan mata dan hati yang terbuka. Beliau adalah seorang ulama dengan wajah yang bersinar bak berlian dan hati yang transparan bagaikan kristal. Sufisme merupakan rumah, sarang, dan hati baginya. Islam adalah tubuh, iman, dan keyakinannya. Realitas (haqiqat) adalah jejak, jalan, dan tujuannya. Hadirat Ilahi adalah gua, dan tempat pengasingannya. Spiritualitas adalah kendaraannya. Beliau adalah lidah bagi seluruh masyarakat di Daghestan.

Beliau dilahirkan di Kikunu, Distrik Ganep, Negara Bagian Timurhansuru, Daghestan, pada hari Rabu, 3 Dzul-Qaidah 1292H bertepatan dengan 1 Desember 1875M. Syekh Muhammad al-Madani QS adalah paman sekaligus mertuanya. Beliau memberinya kekuatan dari 6 aliran tarekat jauh sebelum beliau wafat, dan mewariskan semua muridnya kepadanya ketika beliau masih hidup. Dalam segala hal, Syekh Muhammad al-Madani QS sering menerima pendapat dari Syekh Syarafuddin QS.

Beliau lahir di masa yang sangat sulit, ketika praktik agama dilarang dan hal-hal yang berbau spiritual telah hilang. Namun demikian ibunya berkata, “Ketika aku melahirkannya, ia mengucapkan kalimat la ilaha ill-Allah, dan setiap aku merawatnya ia selalu mengucapkan Allah, Allah.”Karena keajaibannya itu, beliau sangat terkenal di masa bayinya. Banyak ibu-ibu di distriknya yang sengaja datang untuk melihat beliau mengucapkan Allah, Allah ketika sedang dirawat. Jari telunjuk kanannya selalu membentang menunjukkan posisi syahadat. Sejak masa kanak-kanak, beliau bisa mendengar zikir yang dilakukan oleh pepohonan, bebatuan, binatang, burung, dan pegunungan. Beliau dibesarkan dengan sangat baik oleh orang tuanya dan diawasi oleh pamannya. Doa beliau selalu dikabulkan. Beliau juga selalu berada dalam kondisi khalwat.

Beliau mulai mendatangi asosiasi yang diadakan oleh Sayyidina Abu Ahmad as-Sughuri QS ketika masih berusia enam atau tujuh tahun. Beliau sangat pandai dan dengan segera dapat memahami ajaran Sufi yang diantarkan oleh Abu Ahmad as-Sughuri QS dari Hadirat Ilahi itu.

Pada usia tujuh tahun beliau berkata kepada ibunya, “Berikanlah aku anak lembu yang akan dilahirkan itu.” Ibunya berkata, “Jika dia betina, aku akan memeliharanya tetapi bila jantan aku akan memberikannya kepadamu.” Beliau berkata lagi, “Jangan menyusahkan dirimu wahai ibuku, karena lembu itu akan melahirkan bayi jantan.” Ibunya berkata,”Bagaimana kamu mengetahuinya?” Beliau berkata, “Aku dapat melihat apa yang ada dalam rahimnya.” Satu jam kemudian, lembu itu melahirkan seekor lembu jantan. Beliau membawa anak lembu itu dan menjualnya, lalu beliau membawakan sepasang domba jantan dan betina kepada Syekh Abu Ahmad as-Sughuri QS sebagai hadiah. Dalam perjalanannya menuju rumah Syekhnya, kedua domba itu melarikan diri darinya. Beliau melanjutkan perjalanannya ke rumah Syekh, lalu duduk di sampingnya, hatinya merasa sedih karena kehilangan kedua domba itu. Syekh bertanya kepadanya, “Ada apa?” Beliau menjawab, “Aku mempunyai dua ekor domba yang akan kuhadiahkan untukmu, tetapi mereka kabur.” Beberapa waktu kemudian seorang pengembala datang dan berkata, “Aku menemukan dua ekor domba ini di antara hewan gembalaanku.” Itu adalah dua ekor domba yang melarikan diri darinya.

Ketika beliau muda, beliau sering berjalan-jalan bersama teman-temannya untuk mengumpulkan kayu. Beliau tidak memotong kayu dari pohon sebagaimana yang dilakukan teman-temannya, tetapi hanya mengumpulkan kayu-kayu kering di tanah. Hal ini membuat ayahnya resah.Ayahnya kemudian pergi menemui Syekh Abu Ahmad as-Sughuri QS dan mengeluh bahwa anaknya hanya mengumpulkan kayu-kayu kering yang tidak berguna. Syekh Abu Ahmad as-Sughuri QS berkata kepadanya, “Mengapa kamu tidak bertanya langsung kepadanya mengapa ia melakukan hal itu?” Syarafuddin muda menjawab, “Bagaimana mungkin aku memotong pohon yang masih hijau ketika ia sedang berzikir, mengucapkan la ilaha ill-Allah? Aku lebih suka mengumpulkan dahan-dahan mati, dan tidak membakar cabang-cabang pohon yang sedang berzikir.”

Beliau meninggalkan Daghestan akibat serangan yang terus dilakukan oleh militer Rusia ke kampung-kampung di distriknya. Beliau pindah bersama keluarganya dan keluarga kakaknya ke Turki. Mereka berjalan mengarungi beberapa daerah selama lima bulan dan melewati musim dingin. Mereka berjalan di malam hari dan bersembunyi di siang hari. Pertama mereka pergi ke Bursa, lalu mereka pergi ke Yalova di perairan Marmara, kira-kira 150 km dari Istanbul. Di sana beliau bersama kelurga dan kerabatnya tinggal di desa Rasyadiya, di mana pamannya telah lebih dulu tinggal di sana beberapa tahun sebelumnya dan membawa Tarekat Naqsybandi dari Daghestan ke Turki.

Di Daghestan beliau dilatih oleh Syekh Abu Ahmad as-Sughuri QS, yang memberinya Tarekat Naqsybandi ketika beliau masih sangat muda. Di Rasyadiya, Turki, beliau selanjutnya dilatih oleh Sayyidina Muhammad al-Madani QS, pamannya yang kelak menjadi mertuanya. Beliau membantunya membangun madrasah dan masjid pertama serta khaniqah bagi kampung tersebut. Paman beliau menyambut semua imigran yang melarikan diri dari tirani imperialis Rusia yang kejam. Selain itu banyak pula pelajar yang mendatangi sekolah pamannya itu dari berbagai daerah di Turki. Dengan cepat mereka membangun rumah-rumah baru di Rasyadiya dan daerah sekitarnya antara Bursa dan Yelova.

Selain Tarekat Naqsybandiya, paman beliau menghubungkannya dengan lima tarekat lain yang dibawanya, yaitu: Qadiri, Rifai’i, Syadzili, Chisyti dan Khalwati. Beliau menjadi Guru Besar bagi keenam aliran tarekat ini pada usia 27 tahun. Beliau sangat dihormati di Rasyadiya, terutama setelah beliau menikahi putri Syekh Muhammad al-Madani QS. Beliau dikenal sebagai orang yang memiliki kekuatan ajaib di antara para pengikutnya, dan cerita mengenai kelebihannya itu segera tersebar ke seluruh penjuru Turki. Selain itu, beliau sangat mengusai pengetahuan di luar agama sehingga para ulama besar datang untuk mendengar ceramahnya.

Beliau telah melaksanakan beberapa khalwat di Daghestan, yang paling lama berlangsung selama 3 tahun. Di pegunungan Rasyadiya beliau berkhalwat selama enam bulan atas perintah Syekh Abu Muhammad al-Madani QS. Beliau selalu berada dalam keadaan menyendiri ketika sedang berada di keramaian.

Suatu hari dalam masa 6 bulan khalwatnya, ketika beliau berdiri dan hendak bersujud beliau menemukan seekor ular yang besar di tempat sujudnya, dengan posisi yang siap mematuknya. Beliau berkata dalam hati, “Aku tidak takut kepada siapa pun kecuali Allah SWT,” lalu beliau menempatkan kepalanya langsung di atas kepala ular itu. Dengan segera ular itu lenyap.

Selama khalwatnya itu banyak keadaan Cinta Ilahi yang diperlihatkan kepadanya. Segera setelah beliau menyelesaikan khalwatnya, Syekh menariknya dan menyerahkan seluruh tanggung jawab untuk mengarahkan dan membimbing orang-orang. Syekh Abu Muhammad QS kemudian selalu duduk dalam asosiasi menantunya sebagai muridnya. Beliau adalah Syekh pertama yang menjadi murid dari seorang muridnya. Di luar kepatuhan terhadap desakan Syekhnya agar beliau duduk di kursi yang lebih tinggi, Syekh Syarafuddin QS kemudian menjadi orang yang memberikan ajaran Mata Rantai Emas walaupun berada dalam kehadiran Syekhnya.

Syekh Syarafuddin QS mendapat dukungan spiritual dari Sayyidina Syekh Jamaluddin al-Ghumuqi al-Husayni QS dan Sayyidina Syekh Abu Ahmad as-Sughuri QS, Syekhnya ketika beliau berada di Daghestan. Beliau mencapai keadaan Cinta yang Murni bagi Allah SWT. Pada keadaan itu beliau merasakan tubuhnya seolah-olah terbakar dengan Cinta kepada Allah SWT, lalu beliau akan berlari dari meditasinya, menanggalkan semua pakaiannya dan menyelam ke dalam air yang dinginnya serasa es di musim dingin. Tiap kali beliau melakukan hal itu, seluruh penduduk desa dapat mendengar suara uap yang keluar dari sungai, seperti suara besi panas yang disiram air. Ada seorang murid Syekh Syarafuddin QS yang masih hidup sampai sekarang (1994), yang ingat bahwa ia pernah mendengar suara desis air dan uap dari jarak ratusan yard.

Syekh Syarafuddin QS merupakan seorang penerus spiritual Rasulullah SAW. Melalui hubungan spiritual itu, beliau bisa mencapai kesempurnaan. Beliau adalah keturunan dari keluarga Miqdad bin al-Aswad RA, salah seorang Sahabat Terbesar dari Rasulullah SAW, yang sering mewakili Rasulullah SAW bila beliau sedang bepergian dari Madinah. Beliau melaporkan 42 sabda Rasulullah SAW, di antaranya adalah:

Rasulullah SAW bersabda, “Di Hari Pembalasan matahari akan mendekati makhluk hingga berjarak kira-kira 1 mil dari mereka, manusia akan mengeluarkan keringat sesuai dengan perbuatan yang mereka lakukan, sebagian keringat mereka mencapai pergelangan kaki, sebagian lagi mencapai lutut, atau pinggang, sementara yang lain mendapati mulutnya penuh dengan keringat,” lalu Rasulullah SAW menunjukkan tangannya ke mulutnya.” (riwayat Muslim)

Syekh Syarafuddin QS mempunyai sebuah tanda berupa tapak Tangan Rasulullah SAW di punggungnya. Tanda lahir ini beliau dapatkan dari nenek moyangnya Miqdad bin al-Aswad RA, di tempat di mana Rasulullah SAW menempatkan tangannya di punggung Miqdad RA dan berdoa baginya dan untuk keturunannya. Tanda di punggung Sayyidina Syekh Syarafuddin QS selalu mengeluarkan cahaya, sama halnya dengan wajahnya yang selalu bercahaya. Beliau menerima rahasia dari Rasulullah SAW, yaitu kemampuan untuk melihat sesuatu yang berada di belakangnya sejelas dengan apa yang ada di depannya.

Paman beliau, Syekh Muhammad al-Madani QS, memberinya Khilafat (suksesi) dari tarekat ini, dan menjadikannya pemimpin di desanya. Beliau mengembangkan desanya untuk menarik lebih banyak emigran, dengan memperluas jalan, dan membuat saluran air ke dalam kota. Beliau selalu menyambut emigran yang datang dari Rusia, menawarkan apa yang mereka butuhkan baik berupa makanan maupun tempat tinggal dan ini dilakukan tanpa mengharap imbalan. Hasilnya, penduduk Daghestan merasa menemukan rumah yang baru menggantikan rumah yang telah mereka tinggalkan untuk Rusia, mereka menemukan kebahagiaan dan kedamaian di tanah yang baru. Para emigran merasa lebih bahagia untuk menemani seorang Syekh yang masih hidup dalam memberikan pelajarannya yang telah dikenal di Daghestan, sebagaimana ajaran itu juga telah terkenal di Asia Tengah ratusan tahun sebelumnya. Dengan keberadaan beliau di desa itu, dan diberkahi dengan kehadirannya yang membawa Rahmat Ilahi, mereka menemukan cinta dan kebahagiaan yang telah hilang di bawah tirani militer Rusia.

 

 

Dari Kata-Kata beliau

Mengenai Sultan adz-Dzikr (zikir dalam hati)

Beliau berkata sehubungan dengan posisi zikir dalam hati (khafi):

“Siapa pun yang memasuki Posisi itu, ia akan mengalami dan mencapai Inti dari Nama Allah SWT. Nama itu adalah Sultan dari seluruh Nama Allah SWT, karena Dia mencakup seluruh makna Nama-Nama tersebut dan kepada-Nyalah seluruh Atribut Ilahi kembali. Dia bagaikan Kata yang berlaku untuk semua Atribut ini dan itulah sebabnya mengapa Dia disebut Ism al-Jalalah, Nama Yang Paling Mulia karena Dia Yang Mahatinggi, Mahasuci, dan Mahabesar.”

“Melalui pemahaman akal saja tidak mungkin bisa memanen buah dari rahasia-rahasia ini. Tubuh manusia tidak dapat mencakup Realitas Makna mengenai Tuhan. Tubuh manusia mustahil mencapai Kerajaan yang Tersembunyi dari Yang Maha Unik. Karena bagi Orang-orang dalam Inti, yang mereka miliki hanya kekaguman dan ketakjuban, sekali mereka memasuki posisi Pengetahuan Yang Tersembunyi, mereka akan tersesat, pergi ke mana-mana. Lalu bagaimana dengan Orang-Orang dalam Atribut-Nya, yaitu mereka yang mempunyai kualitas tinggi dan masing-masing menunjukkan sebuah Atribut Ilahi yang disandangkan dan menghiasi mereka? Tetap saja mereka tidak bisa dihiasi dengan Inti dari Nama yang mencakup seluruh Nama, kecuali dengan memasuki Rahasia Yang Tersembunyi dari 99 Nama tersebut. Pada saat itu mereka baru diizinkan untuk meraih posisi Tanpa Hijab terhadap Cahaya dari Nama yang Mencakup seluruh Nama dan Atribut, nama Allah SWT.”

“Jika para pencari terus melakukan zikir dengan Nama yang Mahasuci Allah SWT, ia akan mulai berjalan di tempat zikir itu, yang jumlahnya ada tujuh. Setiap pencari yang terus melakukan zikir Allah SWT dalam hati, dari 5000 sampai 48.000 kali sehari, akan mencapai tingkat kesempurnaan sehingga ia akan menjadi sempurna dalam zikir itu. Pada saat itu ia akan menemukan bahwa hatinya terus mengucapkan nama Allah, Allah; tanpa perlu menggerakkan lidah. Ia akan membangun kekuatan internal dengan membakar kotoran di dalamnya karena Api Zikir melalap semua pengotor. Tidak ada yang tersisa kecuali permata yang bersinar dengan kekuatan spiritual.

“Begitu zikir memasuki dan menjadi kokoh dalam hatinya, ia akan meningkat lagi mencapai keadaan di mana ia bisa mengetahui zikir yang dilakukan oleh seluruh ciptaan Allah SWT. Ia akan mendengar seluruh makhluk mengucapkan kalimat zikir dengan cara yang telah ditetapkan oleh Allah SWT kepadanya. Ia mendengar setiap makhluk berzikir dengan nada masing-masing dan irama yang berbeda satu sama lain.Pendengarannya terhadap yang satu tidak mempengaruhi pendengarannya terhadap yang lain, ia mampu mendengar semua secara simultan dan ia bisa membedakan masing-masing jenis zikir.”

“Ketika para pencari melewati tingkat itu, ia akan mengalami peningkatan lebih jauh dalam zikirnya, ia akan melihat bahwa setiap orang yang diciptakan oleh Allah SWT melakukan zikir yang sama dengan dirinya. Pada saat itu ia akan menyadari bahwa ia telah mencapai Kesatuan Yang Unik dan Sempurna. Semua melakukan zikir yang sama dan menggunakan kata-kata yang sama. Segala macam perbedaan akan terhapus dari pandangannya, dan ia akan melihat semua orang yang bersamanya mempunyai tingkatan yang sama dengan zikir yang sama pula. Ini adalah Tingkat Penyatuan Setiap Orang dalam Satu Kesatuan. Di sini ia akan menarik semua bentuk Syirik yang tersembunyi sampai ke akar-akarnya dan semua makhluk akan tampak sebagai Satu Kesatuan. Ini adalah langkah pertama dari tujuh langkah dalam perjalanannya.”

“Dari Tingkat Kesatuan ia akan menuju ke Tingkat Inti dari Kesatuan, di mana setiap orang yang Ada menjadi Tidak Ada, dan hanya Kesatuan Allah SWT saja yang tampak.”

“Kemudian ia akan menuju Tingkat Primordial dari Kesederhanaan Yang Sempurna, di mana ia bisa tampil dalam wujud apa saja.”

“Dari sana ia akan menuju Tingkat Kunci dari Rahasia, yang dikenal dengan Tingkat Nama-Nama, di mana tipe asli dari setiap makhluk ditunjukkan kepadanya dari alam ghaib menuju dunia yang nyata. Ini akan membuatnya berenang dalam orbit Nama-Nama dan Segala Atribut dan ia akan mengetahui semua Pengetahuan Yang Tersembunyi.”

“Selanjutnya ia akan menuju Tingkat Yang Tersembunyi dari Yang Tersembunyi, Inti dari semua Yang Tersembunyi. Ia akan mengatahui semua Yang Tersembunyi melalui Kesatuan yang Unik dari Inti. Ia akan melihat semua kekuatan dan bentuknya.”

“Dari sana ia menuju tingkat Realitas Sempurna dari Inti Nama-Nama dan Semua Aksi. Ia akan muncul di dalamnya, dalam atom mereka dan dalam totalitas mereka. Ia akan disandangkan dengan Nama Yang Paling Agung dan ia akan diagungkan dan dimahkotai dengan Tingkat Kebesaran.”

“Kemudian ia akan menuju ke Tingkat Turunnya Allah SWT (munazala) dari Tingkatan-Nya yang Agung ke Tingkat Surga Dunia. Ia sampai pada Tingkat itu, yang terdekat dengan Tingkat Keduniaan, di luar itu para Pembaca Zikir tidak mempunyai Tingkat lain untuk dicapai melalui bacaannya. Fajar datang ke dalam dirinya dan Mentari Kesempurnaan tampak dalam diri dan tubuhnya, karena hal itu telah tampak melalui zikir yang dilakukan dalam hati dan jiwanya. Sebagai hasilnya, ketika Mentari Kesempurnaan tampak pada tubuh dan seluruh anggota tubuhnya, ia akan berada di Tingkat yang telah disebutkan dalam sabda Rasulullah SAW, “Allah SWT akan menjadi Telinga yang dipakainya untuk mendengar, Mata yang dipakainya untuk melihat, Lidah untuk berbicara, Tangan untuk menggenggam, dan Kaki untuk melangkah.” Kemudian ia akan mendapati dirinya dan menyatakan kepada dirinya bahwa, ‘Aku tidak berdaya dan sungguh lemah.’ Karena pada saat itu ia telah memahami makna Kekuatan Ilahi.”

Setiap beliau dimintai nasihat jika beliau berkata, “Lakukan apa yang kamu suka,” orang itu tidak akan pernah berhasil. Tetapi bila beliau berkata, “Lakukan ini dan lakukan itu,” maka orang tersebut akan berhasil.

Konon beliau tidak pernah menyebutkan sesuatu yang telah berlalu. Beliau tidak pernah menerima suatu gunjingan dan akan mengusir para pelaku dari asosiasinya. Dilaporkan pula bahwa setiap kali orang duduk dalam asosiasinya, mereka akan merasakan bahwa kecintaan terhadap dunia akan lenyap dari hati mereka. Beliau sering mengatakan, “Jangan duduk tanpa berzikir, karena kematian selalu mengikutimu.”

Beliau berkata, “Peristiwa yang paling membahagiakan bagi umat manusia adalah ketika ia meninggal, karena pada saat itu dosanya juga ikut mati bersamanya.” Beliau berkata, “Setiap pencari yang tidak membiasakan diri dan melatih dirinya untuk berpuasa di siang hari dan bangun di malam hari untuk beribadah dan melayani saudaranya, tidak akan memperoleh kebaikan dalam tarekat ini.”

 

 

Penyingkapan Syah Naqsyband QS mengenai Syekh Syarafuddin QS

Penerus beliau, Grandsyekh kita, Syekh `Abdullah ad-Daghestani QS, menceritakan hal berikut dalam ceramahnya:

“Suatu ketika, dalam salah satu meditasiku, Syekh Syarafuddin QS mendatangiku dan berkata mengenai kebesaran dan keistimewaan Syah Naqsyband QS. Beliau memujinya dan mengatakan bagaimana Syah Naqsyband QS akan memberikan perantaraan di Hari Pembalasan. Beliau berkata, ‘Jika seseorang melihat mata Syah Naqsyband QS, ia akan melihat mata beliau berputar, bagian yang putih di hitam dan yang hitam di putih. Beliau bermaksud menyimpan kekuatan spiritualnya untuk Hari Pembalasan dan tidak menggunakannya di dunia ini.

“Pada Hari Pembalasan beliau akan mengeluarkan cahaya dari mata kanannya, cahaya itu lalu mengelilingi banyak orang dalam perkumpulannya dan masuk kembali ke mata kirinya. Siapa pun yang berada dalam lingkaran itu akan masuk Surga dan terhindar dari Neraka.Beliau akan mengisi keempat Surga dengan perantaraannya itu.”

“Ketika beliau sedang melukiskan peristiwa besar itu, Aku menyaksikan penglihatan spiritual yang kuat di mana Aku menyaksikan Peristiwa Hari Pembalasan dan melihat Syah Naqsyband QS mengeluarkan cahaya, dan menyelamatkan orang-orang. Ketika Aku sedang mengamati hal itu, Aku merasakan cinta yang sangat dalam kepada Syah Naqsyband QS, lalu Aku berlari menuju beliau dan mencium tangannya. Kemudian penglihatan itu menghilang dan Syekhku pergi. Aku melanjutkan meditasiku pada hari itu dengan berzikir, membaca al-Qur’an dan melakukan salat. Di malam harinya, setelah melaksanakan salat ‘Isya, Aku mengalami keadaan tidak sadarkan diri dan menempatkan Aku ke dalam keadaan kasyaf (memperoleh penglihatan spiritual). Aku melihat Syah Naqsyband QS memasuki ruangan. Beliau berkata kepadaku, ‘Anakku, datanglah kepadaku.’ Kemudian rohku meninggalkan jasad dan Aku melihat tubuhku berada di bawahku dan tidak bergerak. Aku lalu menemani Syah Naqsyband QS.”

“Kami menjelajahi ruang dan waktu, bukan dengan kekuatan melihat lalu mencapai tempat yang dilihat itu, tetapi dengan kekuatan di mana ketika kami baru memikirkan suatu tempat, kami tiba di tempat itu. Selama tiga malam dan empat hari non-stop, kami melakukan perjalanan dengan cara ini.”

“Sudah menjadi kebiasaan dalam meditasiku, ketika Aku menginginkan makanan dan minuman sehari-hari, Aku tinggal mengetuk pintu.Mendengar ketukan dari lantai bawah, istriku akan membawakan makanan dan minuman untukku. Hari pertama ia tidak mendengar ketukan, hari kedua juga begitu. Akhirnya ia merasa sangat khawatir dan membuka pintu dan menemukan Aku terbaring di sana tanpa gerakan. Ia berlari menuju Syekh Syarafuddin QS dan berkata, ‘Mari dan lihatlah anakmu. Ia terlihat seperti orang yang sudah meninggal. Beliau berkata kepadanya, ‘Ia tidak meninggal. Kembalilah, dan jangan berbicara kepada siapa pun. Ia akan kembali.’

“Setelah tiga hari dan empat malam menempuh perjalanan dengan kekuatan yang luar biasa, Syah Naqsyband QS berhenti. Beliau berkata, ‘Tahukah kamu siapa yang tampak di cakrawala itu?’ Tentu saja aku tahu, tetapi untuk menghormati Guru, aku berkata, ‘Wahai Guruku, engkau paling tahu.’ Lalu ketika orang itu mendekat beliau berkata, ‘Sekarang apakah kamu mengenalinya?’ Aku berkata lagi, ‘Engkau lebih tahu, wahai Guruku,’ walaupun Aku melihat itu adalah Syekhku. Beliau berkata, ‘Itu adalah Syekhmu, Syekh Syarafuddin QS.

“Tahukah kamu siapa makhluk yang berada di belakangnya?’ menunjuk kepada suatu makhluk raksasa yang lebih besar daripada gunung yang paling tinggi di bumi ini, yang beliau tarik dengan sebuah tali. Untuk menghormatinya aku berkata lagi, ‘Engkau paling tahu, wahai Syekhku.’Beliau berkata, ‘Itu adalah Setan, dan Syekhmu diberi kekuasaan atasnya, belum ada orang yang diberi otorisasi semacam itu sebelumnya.Sebagaimana setiap wali diberi kekuasaan atas sesuatu yang khusus, begitu pula Syekhmu. Bidang khususnya adalah bahwa setiap hari dan setiap malam, atas nama seluruh orang yang telah melakukan dosa karena pengaruh Setan, Syekhmu diberi otorisasi untuk membersihkan orang-orang itu atas dosa-dosa mereka, mengembalikan dosa itu kepada Setan, dan membawa orang-orang itu dalam keadaan bersih kepada Rasulullah SAW.Kemudian dengan kekuatan spiritualnya, beliau mengangkat hati mereka, mempersiapkan mereka agar bisa masuk ke dalam lingkaran cahaya yang akan Aku sebarkan di Hari Pembalasan nanti. Aku akan mengisi empat surga dengan cara ini. Inilah yang menjadi spesialisasi Syekh Syarafuddin QS. Selain itu, orang-orang yang tidak termasuk dalam keempat Surga tersebut akan memasuki Perantaraan Syekh Syarafuddin QS, dengan seizin Rasulullah SAW yang telah diberi kekuatan ini oleh Allah SWT. Ini adalah kekuasaan yang luar biasa yang telah diberikan kepada Syekh Syarafuddin QS. Ketika beliau merantai leher Setan, beliau membatasi pengaruh dosa di bumi ini.”

“Kemudian beliau berkata, kamu menanam benih cinta yang ada di hatimu. Seperti halnya kincir air yang mengairi sepetak sawah tetapi tidak bisa mengairi dua petak sawah, cinta yang kamu tumbuhkan terhadap Syekhmu seharusnya hanya untuk Syekhmu. Jika kamu membaginya untuk dua orang Syekh, mungkin cinta itu tidak akan mencukupi, seperti halnya kincir air yang tidak bisa mengairi dua petak sawah. Jangan berikan hatimu kebebasan untuk pergi ke sana ke mari. Cintamu akan mencapaiku melalui Mata Rantai Emas dan akan berlanjut kepada Rasulullah SAW. Jangan membagi dua cintamu untuk kami berdua. Sebelumnya tak seorang wali pun yang diberi otorisasi seperti yang diberikan kepada Syekhmu untuk umat Muhammad SAW, untuk seluruh umat manusia.’”

“Kemudian Syah Naqsyband QS membawaku kembali menempuh perjalanan dengan kekuatan yang luar biasa, selama empat hari dan tiga malam. Aku kembali ke tubuhku lagi. Aku merasakan jiwaku memasuki tubuhku dan aku menyaksikan jiwaku masuk ke dalam tubuhku sedikit demi sedikit, sel demi sel, dan melalui penglihatan itu aku bisa mengerti fungsi dari setiap sel. Kemudian penglihatan spiritual itu berhenti dan aku mengetuk pintu agar istriku membawakan makanan dan minuman untuk memberi energi bagi tubuhku. Itulah pengungkapan Syah Naqsyband QS mengenai Syekhku, Syekh Syarafuddin QS.”

Salah satu murid Syekh Syarafuddin QS yang berusia 120 tahun dan tinggal di Bursa, Eskici Ali Usta, melaporkan,

“Syekhku adalah seorang Syekh yang luar biasa. Suatu saat ketika aku masih muda, aku berada di Istanbul, dan baru saja melakukan bay’atdengan Syekh Syarafuddin QS. Kemudian aku bertemu dengan salah seorang teman dari Daghestan yang keras kepala dan tidak percaya dengan Sufisme. Aku bermaksud untuk berbicara dan melunakkan hatinya dengan menceritakan keajaiban yang dimiliki Syekhku. Ternyata ia lebih meyakinkan dan bisa mengubah keyakinanku. Aku lalu menggantung tasbihku di dinding dan berhenti berzikir. Beberapa saat kemudian aku sudah dikuasai hawa nafsu dan melakukan dosa besar dua kali.”

“Seminggu kemudian, aku pergi ke Sirkici dan melihat Syekh dalam perjalanan. Beliau juga sedang berjalan kaki di distrik itu, dalam perjalanannya menuju Rasyadiya. Ketika aku melihatnya datang dari satu sisi, aku berpindah ke sisi yang lain dan berusaha untuk menghindarinya. Ketika aku bersembunyi di ujung jalan, aku merasakan sebuah tangan menempel di bahuku dan Syekh berbicara kepadaku, ‘Mau kemana, wahai Ali?’ Aku kembali bersamanya dan di tengah perjalanan aku berpikir, ‘Aku tidak bisa menyembunyikan diriku lagi terhadap Syekh dan Syekh tidak dapat membawaku kembali lagi.”

“Kami melanjutkan perjalanan sampai bertemu dengan orang yang bernama Huseyyin Effendi. Syekh berkata kepadaku, ‘Ketika kamu pertama kali datang kepadaku, Aku melihatmu dan menemukan karakter buruk dalam dirimu. Setiap orang mempunyai karakter baik yang bercampur dengan karakter buruk. Ketika kamu melakukan bay’at seluruh perbuatan buruk yang telah kamu lakukan sebelumnya, Aku ganti dengan perbuatan baik. Kecuali dua hal, yaitu hasrat seksual dan kemarahan. Minggu lalu kami hilangkan kedua karakter buruk itu dari dirimu.’ Ketika beliau mengucapkan hal itu, Aku sadar bahwa beliau telah duduk bersamaku dan melihat hasrat seksual dan kemarahanku, Aku mulai menangis, menangis, dan menangis. Ketika Aku menangis, Syekh Syarafuddin QS mulai berbicara dengan orang yang bernama dengan Huseyyin dalam bahasa yang tidak pernah aku dengar sebelumnya, padahal aku berasal dari Daghestan dan aku mengetahui semua bahasa di daerahku. Akhirnya aku tahu bahwa Syekh Syarafuddin QS berbicara dalam bahasa Syriac, bahasa yang paling jarang digunakan.

“Setelah dua jam menangis, beliau berkata, ‘Cukup! Allah SWT telah mengampunimu, Rasulullah SAW juga telah mengampunimu.’ Aku berkata, ‘Wahai Syekhku, apakah engkau benar-benar mengampuniku? Apakah Rasulullah SAW telah mengampuniku? Apakah Allah SWT telah mengampuniku? Apakah para Syekh yang matanya terbuka telah mengampuniku? Dulu Aku berpikir bahwa Aku melakukan perbuatan itu sendirian, tetapi sekarang Aku tahu bahwa engkau semua melihatku.’ Beliau berkata, ‘Wahai anakku, kita adalah hamba-hamba yang berada di depan pintu Rasulullah SAW dan di depan pintu Allah SWT. Apapun yang kita minta dari Mereka, Mereka akan menerima permintaan kita karena kita berada dalam hadiratnya dan kita adalah Satu.’ Aku berkata, ‘Sebagai suatu itikad baik, karena Aku telah diampuni, bagaimana Aku bisa bersyukur kepada Allah SWT dan memberi kehormatan kepadamu dan kepada Rasulullah SAW? Apakah dengan jalan merayakan mawlid (Kelahiran Rasulullah SAW), atau berkurban, atau mengeluarkan sedekah lainnya?’ Beliau berkata, ‘Apa yang kami inginkan darimu adalah agar kamu senantiasa melakukan zikir Tarekat Naqsybandi.’

Inilah apa yang terjadi pada diriku bersama Syekh Syarafuddin QS.”

Salah satu teman Eskici Ali Usta yang telah bermigrasi dengannya dari Daghestan menerima sepucuk surat dari Syekh Syarafuddin QS ketika ia masih berada di Daghestan, isinya berbunyi, “Tinggalkan Daghestan. Tidak ada lagi spiritualitas di sana. Daghestan tidak lagi berada di bawah lindungan Ilahi karena di sana terlalu banyak tirani. Datanglah ke sini ke Turki, dan ke Rasyadiya.” Orang itu meletakkan surat dari Syekh, mengabaikannya dan berpikir, “Bagaimana Aku meninggalkan semua kekayaanku dan semua yang kumiliki di sini?” Beberapa saat kemudian Rusia menguasai kota itu dan menyita semua kekayaannya. Lalu ia teringat dengan surat yang dikirim oleh Syekh. Akhirnya ia segera menyusun rencana untuk melarikan diri ke Turki dan ke Rashadiya. Namun ia telah kehilangan keluarga dan semua kekayaannya akibat penundaannya itu.

Suatu kali Syekh Syarafuddin QS datang ke Istanbul dan tinggal di Hotel Massarat. Beliau ditanya oleh seseorang yang bernama Syekh Zia, “Bagaimana engkau akan meninggal?” Beliau menjawab, “Apakah pertanyaan itu penting bagimu, bagaimana Aku akan meninggal?” Ia menjawab, “Pertanyaan itu datang begitu saja ke dalam hatiku.” Beliau berkata, “Aku akan meninggal ketika kita mendapat serangan dari Armenia, dan pada saat itu banyak sekali orang-orang yang zalim.” Malam harinya Syekh Zia berwudu lalu salat 2 rakaat dan berdoa kepada Allah SWT, “Ya Allah, singkirkanlah kesulitan itu (invasi dari Armenia) dari kami, dan panjangkan usia Syekh kami yang tercinta.” Hari berikutnya Syekh Syarafuddin QS berkata kepadanya, “Wahai Syekh Zia, apa yang telah kamu lakukan semalam, berdoa? Doamu telah dikabulkan. Kesulitan itu telah dicabut dari diriku tetapi sebagai gantinya kamu akan menderita dan meninggal sebagai syuhada.” Delapan tahun setelah insiden di hotel itu, bangsaArmenia dan Yunani memasuki Rasyadiya. Zia Effendi tertembak mati, dan apa yang telah diprediksi oleh Syekh Syarafuddin QS semuanya terjadi.

Yusuf Effendi, seorang yang pada tahun 1994 berusia sekitar 100 tahun, menceritakan kisah berikut,

“Suatu ketika Syekh Syarafuddin QS ditahan di Eskisehir, dan Aku adalah penjaganya. Di penjara itu terdapat pula orang yang sangat baik sifatnya, seorang Syekh yang terkenal, Sa’id Nursi QS. Syekh Syarafuddin QS dipenjara bersama khalifahnya, Syekh `Abdullah QS, dan murid-murid yang lain. Ketika Sa’id Nursi QS mengetahui bahwa Syekh Syarafuddin QS ditahan dalam penjara yang sama, beliau mengutus muridnya untuk bertanya apakah beliau membutuhkan sesuatu dan juga menawarkan bantuan. Syekh Syarafuddin QS menjawab, ‘Terima kasih, tetapi kami bukan siapa-siapa dan kami tidak memerlukan apa-apa.’”

“Murid Sa’id Nursi QS terus mendatangi Syekh Syarafuddin QS, bertanya apakah beliau memerlukan sesuatu. Beliau selalu menolaknya. Suatu hari Syekh Syarafuddin QS berkata kepada murid itu untuk menyampaikan pertanyaan kepada Syekhnya, ‘Mengapa kita berada di sini?’ Murid Sa’id Nursi QS itu pergi menemui gurunya. Beliau menjawab, ‘Kita berada di sini untuk mencapai maqam Sayyidina Yusuf AS, Maqam Pilihan Diam.’ Setelah murid itu bertanya dan Syekh Sa’id Nursi QS memberi jawaban, pembicaraannya pun berakhir.”

“Perubahan ini membuatku bingung dan Aku mulai merenungkannya secara mendalam. Kemudian Aku bertanya kepada Syekh, ‘Apa rahasia keberadaanmu di sini?’ Akhirnya, atas desakanku, Syekh Syarafuddin QS menjawab, ‘Aku diutus ke sini untuk membawa rahasia orang banyak, orang-orang yang dipenjarakan tanpa sebab. Aku memberi dukungan kepada orang-orang ini. Allah SWT mengutusku ke sini, karena kamu semua berkumpul di sini, dan sangat sulit mencapai kalian. Saya berada di sini untuk mengucapkan salam perpisahan kepadamu, karena kami segera akan meninggalkan dunia ini. Kami akan mengantarkan kepadamu rahasia-rahasia kamu. Bagi kami tidak ada istilah penjara, kami selalu berada dalam Hadirat-Nya dan kami tidak pernah terpengaruh dengan penjara. Kalian semua akan meninggal beberapa saat lagi tetapi kalian akan bertemu lagi, ketika seorang tokoh penting meninggal dan barulah kalian semua akan bertemu kembali.’ Murid-murid Sa’id Nursi QS mendengar hal ini sebagaimana para tahanan lain yang mendengarkan dengan penuh antusias.”

 


Mengenai Wafatnya
Setelah sekitar tiga bulan, beliau dibebaskan dari penjara. Beliau berkata kepada Syekh ‘Abdullah QS, “Aku akan segera pergi, karena Aku terlalu menguras tenagaku mensarikan rahasia Surat al-An’am.” Beliau meninggalkan wasiat baginya, dan menunjuk Syekh ‘Abdullah QS untuk menjadi penerusnya di Singgasana Pembimbing.

Tiga hari menjelang wafatnya, beliau memanggil Sultan ul-Awliya Mawlana Syekh ‘Abdullah al-Faiz ad-Daghestani QS beserta beberapa pengikutnya, kemudian beliau berkata, “Selama tiga bulan Aku telah menyelami Samudra Surat al-An’am untuk mengeluarkan seluruh nama dari Tarekat Naqsybandi yang berjumlah 7007 dari salah satu ayatnya. Alhamdulillah, Aku berhasil mendapatkan nama-nama mereka beserta seluruh gelarnya dan Aku telah mencatatnya pada catatan harianku yang Aku berikan kepada penerusku, Syekh ‘Abdullah QS. Ia berisikan nama-nama seluruh wali dari beragam kelompok yang akan ada pada masanya Imam Mahdi AS.”

Keesokan harinya beliau memanggil khalifahnya, Syekh ‘Abdullah ad-Daghestani QS dan berkata, “Wahai anakku, inilah wasiatku. Aku akan pergi dalam dua hari ini. Atas perintah Rasulullah SAW, Aku menunjukmu sebagai penerusku dalam Tarekat Naqsybandi, bersamaan dengan limatarekat lain yang telah kuterima dari pamanku. Seluruh rahasia yang pernah diberikan kepadaku dan seluruh kekuatan yang telah disandangkan kepadaku dari para pendahuluku di Tarekat Naqsybandi dan kelima tarekat lainnya, kini kusandangkan kepadamu. Seluruh pengikut yang kaubay’at di Tarekat Naqsybandi, juga dengan sendirinya akan di-bay’at di lima tarekat lainnya dan juga akan mendapatkan rahasia mereka. Segera, akan datang kepadamu perintah untuk meninggalkan Turki dan pergi menuju Damaskus (Syam asy-Syarif) [yang pada saat itu amatlah sulit untuk dicapai karena peperangan yang dahsyat].”

Syekh ‘Abdullah QS berkata, “Beliau memberikan wasiat tersebut dan Aku berusaha menyembunyikannya sebagaimana Aku ingin menyembunyikan diriku sendiri.”

Beliau wafat pada tanggal 27 Jumadil Awwal, Ahad, 1355H/ 1936 di Rasyadiya. Beliau dimakamkan di pemakaman Rasyadiya, di suatu puncak bukit. Hingga kini masjid dan zawiyahnya masih terbuka, dan banyak orang mengunjunginya untuk mendapatkan rahmat dan berkahnya. Awrad yang sama yang dulu dikerjakan Syekh Syarafuddin QS, Khatam Khwajagan (Zikir para Guru) masih ada di sana, tergantung di dinding.

Grandsyekh kita, Syekh ‘Abdullah QS, khalifah dan penerus Sayyidina Syekh Syarafuddin QS berkata, “Ketika berita wafatnya diketahui, semua orang datang ke rumahnya untuk mendapatkan berkahnya. Bahkan Ataturk, Presiden Republik Turki yang baru, mengirimkan delegasi kehormatannya. Kami memandikan jasadnya. Ketika kami membaringkannya untuk dimandikan, beliau memindahkan kedua tangannya ke pahanya untuk menampung air yang tercurah darinya ketika kami memandikannya, sehingga semua pengikutnya dapat minum dari air pemandian tersebut. Ketika semua pengikutnya telah selesai minum, beliau kembali memindahkan tangannya kembali ke tempat semula. Itulah keajaiban dari Samudra Keajaibannya, dan itu terjadi bahkan setelah kematiannya.”

“Ketika kami menguburkan jenazahnya keesokan harinya, lebih dari 300.000 orang datang ke pemakamannya dan kota pun tidak mampu mengakomodasi kerumunan massa tersebut. Mereka datang dari Yalova, Bursa dan Istanbul. Sungguh merupakan kerumunan orang berduka yang dahsyat. Para lelaki menangis, para wanita meraung, anak-anak pun menangis juga. Semoga Allah SWT Yang Maha Kuasa mengangkat para walinya di setiap abad.”

Yusuf Effendi, salah seorang pengikutnya berkata, “Memang benar bahwa kami tidak pernah bersama-sama dengan seluruh pengikutnya di suatu tempat yang sama–kami terlalu banyak–namun pada saat kematiannya, seluruh kota mendengar, Bursa, Adapazar, Yalova, Istanbul, Eskisehir, Orhanghazi, Izmir, dan seluruh penduduknya bergabung untuk menyelenggarakan shalat jenazah.”

Syekh Syarafuddin QS telah menulis banyak buku, namun semuanya hilang selama Perang Balkan. Namun demikian, banyak manuskrip yang masih tertinggal di keluarganya yang berisi rahasia dari Tarekat Naqsybandi. Para pengikutnya mendatangi mereka untuk membaca buku-buku tersebut.

Beliau mewariskan Rahasianya kepada penerusnya, Sultan ul-Awliya, Mawlana wa Sayyidina Syekh ‘Abdullah al-Faiz ad-Daghestani QS.

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *