sanad emas ke 6. Tayfur Abu Yazid al-Bistami

6. Tayfur Abu Yazid al-Bistami

Semoga Allah Mensucikan Ruhnya

 

 

Bismillahir Rohmaanir Rohim

Saya telah menanam cinta kedala hati saya

Dan tidak akan terlihkan hingga hari penghitungan

Kau telah melukai hatiku, ketika Kau mendekatiku

Nafsuku berkembang dan cintaku berhamburan

Dia menaburkan ku seteguk untuk kuminum

Dia telah mempercepat hatiku dengan secangkir cinta

Yang di isinya dari Samudera Persahabatan

Attribute kepada Bayazid.

 

 

Kehidupannya

 

Kakek dari Bayazid adalah penganut Zoroaster dari Persia. Bayazid melakukan study mendalam statute Hukum Islam (shari’a) dan menjalankan disiplin penolakan dari (zuhd). Selama hidup ia rajin dalam kewajiban beragamanya dan dalam penghambaan suka rela.

 

Ia menghimbau para murid agar mengikhlaskan masalah mereka di tangan Allah dan mendorong mereka menerima dengan tulus ajaran tauhid (keesaan Tuhan). Ajaran ini terdiri dari lima hal pokok: menjaga kewajiban menurut Qur’an dan sunnah, selalu berkata benar, menjaga hati dari kebencian, menghindari makanan yang dilarang dan menghindari inovasi (bid’a).

 

 

Perkataannya

 

Salah satu perkataannya ialah, “Saya mengenal Allah melalui Allah dan saya mengenali selain Allah cahaya Allah.” Ia berkata, “Allah telah memberikan hambanya  rahmat dengan maksud mendekatkan mereka kepadaNya. Sebaliknya mereka terpana oleh rahmat tersebut dan menjauh dariNya.“ Dan ia berkata, berdoa kepada Allah,” O Allah, kau telah menciptakan makhluk ini tanpa pengetahuan dan memberikan mereka kepercayaan yang tidak diinginkan. Kalau Kau tidak menolong mereka, maka siapa yang akan menolong mereka?”

 

Bayazid mengatakan bahwa tujuan utama Sufi adalah mendapatkan pengalaman visi Allah di Akhirat. Ia berkata, “Ada hamba khusus Allah yang, jika Allah selubungi Dirinya dari pandangan mereka di Surga, maka akan memohon kepadaNya agar mengeluarkan mereka dari Surga seperti penghuni Api memohon kepadaNya agar melepaskan mereka dari Naraka.”

Ia juga berpendapat tentang cinta Allah kepada hambanya, “Jika Allah mencintai hambanya maka ia akan memberi mereka tiga atribut yang menjadi bukti cintanya: kemurahan seperti kemurahan samudra, dan rahmat bagaikan Matahari dalam memberikan cahayanya, dan kesederhanaan seperti kesederhanaan Bumi. Pecinta sejati tidak pernah terlalu terbebani dan tidak pernah mengurangi penghambaannya karena imannya.”

“Seseorang bertanya kepada Bayazid, “Tunjukkan aku perilaku yang bisa mendekati Tuhanku.” Ia berkata, “ Cintailah teman-teman Allah dengan maksud agar mereka mencintaimu. Cintailah waliNya sampai mereka mencintaimu. Karena Allah melihat ke dalam hati para waliNya  dan Ia akan mengampunimu.” Untuk alasan ini, pengikut Naqshbandi telah di angkat oleh cinta mereka kepada sheikhs mereka. Cinta ini mengangkat mereka ke maqam kenikmatan dan kehadirat terus menerus di hati para yang mencintainya.

 

Banyak ulama Muslim di masanya dan dimasa setelah itu, berkata bahwa Bayazid al-Bistami adalah yang pertama menyebarkan Realitas Kenihilan (fana’). Bahkan ulama yang paling disiplin, Ibn Taymiyya, yang hidup di abad ke 7 (A.H), mengagumi Bayazid karena hal ini dan menganggapnya sebagai salah satu gurunya. Ibn Taymiyya berpendapat tentang dirinya, “ Ada dua katagori kefanaan; satu ditujukan untuk yang sempurna para Nabi dan wali, dan satu ditujukan untuk para pencari diantara para wali dan orang saleh.

 

Bayazid al-Bistami berasal dari katagori pertama yang mengalami fana’, yang artinya penolakan utuh semua hal kecuali Tuhan. Ia menerima hanya Tuhan. Ia menghamba hanya Dirinya, dan ia memohon hanya kepada Dirinya.” Ia melanjutkan, mengutip perkataan Bayazid, “ tidak ada yang kuinginkan selain keinginannya.”

 

Tentang Bayazid ia mengatakan, “Aku menceraikan dunia bahwa tig akali dengan maksud agar aku tidak bisa kembali ke dunia tersebut dan berjalan hanya ke arah Tuhan, tanpa siapapun, dan aku memohon pertolongan hanya kepadaNya dengan perkataan, ‘O Allah, O Allah, tak ada yang lain selain Dirimu.’ Pada saat itu aku menyadari ketulusan permohonanku dalam hati dan realitas ketidakberdayaan egoku. Langsung penerimaan permohonan tersebut diketahui hatiku. Hal ini memberi penyadaran bahwa aku tidak lagi ada dan menghilang total dari diriku kepada dirinya. Dan Ia mendatangkan semua yang telah aku ceraikan kehadapan ku, dan menghiasi aku dengan cahaya dan atributNya.”

 

Bayazid berkata, “Pujalah Aku, untuk kemenangan terbesarKu!” selanjutnya ia mengatakan, “Aku berada di tengah samudra ketika nabi-nabi [terdahulu] masih berada di pantai.” Dan ia berkata, “O TuhanKu, kepatuhanMu kepada kau lebih besar dari kepatuhan ku kepadaMu.” Hal ini berarti, “O Tuhan, Kau mengabulkan permohonanku dan aku harus mematuhi Mu.”

Ia berkata, “Aku membuat empat kesalahan didalam langkah awal ku dijalan ini: Aku kira aku mengingat dan mengenalNya, mencintaiNya dan mencariNya, tapi ketika kau sampai padaNya, aku melihat bahwa ingatanNya tentang aku  mendahului ingatanku tentang Dirinya, dan pengetahuanNya tentang aku mendahului pengetahuanku tentang Dirinya ; dan cintaNya kepadaku jauh lebih dulu ada dibandingkan cintaku kepadaNya, dan Ia memintaku dengan maksud agar aku mulai mencariNya,”

 

Dalam banyak hal besar, Adh-Dhahabi berpendapat, “Pujalah demi Kemenangan Terbesarku!” dan “Tidak ada jubah lain yang ku pakai selain jubah Allah.” Guru Adh-Dhahabi’s, Ibn Taymiyya menjelaskan, “Ia tidak lagi menganggap dirinya ada, tetapi hanya melihat keberadaan Allah, karena penolakan dirinya.”

 

Adh-Dhahabi selanjutnya berkata, “Ia berkata, O Alla, apakah Apimu? Bukan apa-apa. Biarkan lah aku menjadi satu-satunya orang yang menuju Apimu dan semua orang akan terselamatkan. Dan apakah Surgamu? Hanya sebuah mainan anak-anak. Dan siapakah yang tidak beriman yang ingin kau siksa? Mereka adalah hambamu. Ampunilah mereka.”

 

Ibn Hajar berkata, lewat referensi pernyataan Bayazid yang terkenal, “Allah tahu rahasia dan Allah mengetahui hati. Apapun yang dikatakan Aba Yazid tentang pengetahuan Realitas, orang-orang di masanya tidak mengerti. Mereka mengutuk dan mengasingkannya tujuh kali dari kotanya. Setiap kali di asingkan, penderitaan berat akan mengenai kota sampai orang-orang  kota akan memanggilnya kembali, berjanji bergabung bersamanya dan menerimanya sebagai wali yang asli.”

 

Attar dan Arusi mengutip perkataan Bayazid, ketika ia diasingkan dari kotanya, “O Kota Terberkahi, yang menolak Bayazid!”

 

Suatu ketika Bayazid berkata, “Allah yang Maha adil memanggilku kehadiratNya dan berkata, “O Bayazid bagaimana kau hadir dalam Hadirat Ku?” aku menjawab, “melalui zuhd, melalui pengelakan dunia.” Katanya, “Dunia hanya senilai sayap seekor nyamuk.”

 

Penolakan macam apa yang telah kau lakukan?’ aku menjawab, ‘O Allah, ampuni aku.’ Kemudian kataku, ‘O Allah, aku datang kepadaMu melalui tawakal, dengan ketergantungan kepadaMu’ kemudian ia berkata, ‘Pernahkah Aku mengkhianati kepercayaan yang Aku janjikan kepadamu?’ Aku berkata, ‘O Allah ampuni aku.’ Kemudian aku katakan, ‘O Allah, aku datang kepadaMu melalui dirimu.’ Saat itu Allah bersabda, ’Sekarang, Kami menerima mu.’”

 

Katanya, “Aku berdiri dengan orag saleh dan tidak menemui kemajuan apapun degan mereka. Aku berdiri dengan para pejuang untuk alasan tersebut dan saya tidak menemukan satu langkah kemajuan pun dengan mereka. Aku berdiri dengan mereka yang berlebihan salat dan puasa tapi tidak mendapat kemajuan. Kemudian aku berkata, ‘O Allah, manakah jalan menuju Mu?’ dan Allah bersabda, ‘tinggalkan dirimu dan datanglah.’”

 

Ibrahim Khawwas berkata, “Allah memberikan petunjuk kepadanya dengan cara yang paling halus dan penjelasan yang paling sederhana, yaitu ‘meninggalkan kepentingan-diri di dua dunia, dunia dan akherat, tinggalkan semua kecuali Aku.’ Itu adalah jalan terbaik dan termudah untuk hadir dihadapan Allah Yang Maha Kuasa dan Agung, paling sempurna dan tertinggi keesaannya, tidak menerima apapun dan siapapun kecuali Allah Yang Maha Tinggi.”

 

Salah seorang pengikut Dhul Nun al-Misri mengikuti Bayazid. Bayazid bertanya kepadanya, “Apa yang kau inginkan?” Ia menjawab “aku ingin Bayazid.” Katanya, “O anakku, Bayazid menginginkan Bayazid selam empat puluh tahun dan masih belum menemukannya.” Pengikut Dhul Nun kemudian pergi kepadanya dan menceritakan kejadian tersebut. Ketika mendengar Dhul Nun pingsan. Ia menjelaskan kemudian, “Bayazid guru telah kehilangan dirinya dalam cinta Allah. hal itu membuatnya berusaha menemukan dirinya kembali.”

 

Mereka bertanya kepadanya, “Ajari kami bagaimana engkau mencapai Realitas sejati.” Ia berkata, “Dengan melatih diri, dengan khalwat.” Mereka mengatakan, “Bagaimana?” Ia menjawab, “aku memanggil diriku untuk . menerima Allah, dan diriku menolak. Aku bersumpah bahwa aku  tidak akan minum air dan tidur sampai aku bisa mengendalikan diri.”

 

Ia juga berkata, “O Allah! Tidak mengherankan kalau aku mencintaimu karena aku seorang hamba yang lemah, tapi mengherankan kalau Kau mencintai ku karena kau adalah Raja segala Raja.”

 

Ia berkata, “Selama tiga puluh tahun, ketika aku ingin mengingat Allah dan berdzikir, aku sering mencuci lidah dan mulutku demi kejayaannya.”

 

Ia berkata, “Seorang hamba berfikir ada orang diantara Muslim yang lebih rendah darinya, maka hamba itu memiliki harga diri.”

 

Mereka bertanya padanya, “Ceritakan siang dan malammu.” Jawabnya, “Aku tidak memiliki siang dan malam, karena siang dan malam diperuntukkan bagi mereka dengan karakteristik penciptaan. Aku telah menguliti diriku bagaikan pengulitan seekor ular.”

 

Tentang Sufisme Bayazid berkata: “Adalah untuk melepas istirahat dan menjalankan penderitaan.”

 

Tentang kewajiban untuk mengikuti seorang pemandu, ia berkata: “Siapa yang tidak memiliki seorang sheikh, maka sheikhnya adalah setan.”

 

Tentang Tuhan ia berkata, “Lapar adalah awan hujan. Jika seorang hamba lapar, Allah akan menyirami hatinya dengan rakhmatnya.”

 

Tentang mediasinya ia berkata, ”Jika Allah mengijinkan aku untuk bermeditasi untuk semua orang di masa ku, aku tidak akan sombong, karena aku hanya bermeditasi untuk sebuah tanah,” dan “ jika Allah mengijinkan aku bermeditasi, pertama aku akan bermediasi bagi mereka yang menyakiti dan menolakku.”

 

Kepada seseorang yang meminta jubah tuanya untuk barokah), Bayazid berkata: “Haruskah kau mengambil kulit Bayazid dan memakainya, hal itu tidak akan menguntungkan mu kecuali kau mengikuti contohnya.”

 

Mereka berkata padanya, “Kunci Surga adalah ‘La ilaha ill-Allah’ (bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah).” Ia berkata, “benar, tetapi kunci adalah untuk membuka; dan kunci untuk kesaksian seperti itu hanya bisa berjalan di bawah kondisi berikut ini:

 

1)      Lidah yang tidak berbohong atau bicara dibelakang;

2)      Hati yang tanpa pengkhianatan;

3)      Perut yang tidak memakan yang haram atau meragukan;

4)      Perbuatan tanpa nafsu dan inovasi.”

 

Ia berkata, “Ego atau diri selalu melihat dunia dan ruh (spirit) selalu melihat kehidupan berikutnya dan ma’rifat (pengetahuan spiritual) selalu melihat kepada Allah Yang Maha Kuasa dan Agung. Ia yang dirinya telah terkalahkan berasal dari mereka yang hancur, dan ia yang spiritnya telah memenangkan dirinya, ialah yang saleh, dan ia yang pengetahuan spiritualnya menguasai dirinya, ialah yang berkesadaran akan Tuhan.”

 

Ad-Dailami mengatakan, “Suatu ketika aku bertanya ‘Abdur Rahman  bin Yahya tentang tingkat kepercayaan kepada Allah (tawakal). Ia berkata, “Kalau kau meletakkan tangan mu di mulut seekor singa, jangan takut kepada yang lain selain Allah.” Aku melihat hatiku dan bertanya pada Bayazid tentang hal ini. Aku mengetuk dan mendengar dari dalam, “Apakah yang dikatakan ‘Abdur Rahman kepadamu belum cukup? Kau datang hanya untuk menanyakan, dan tidak dengan niat mengunjungiku.” Aku mengerti dan aku akan datang lagi lain waktu setahun kemudian, mengetuk pintunya. Kali ini ia menjawab, “Selamat datang anakku, kali kau datang kepadaku sebagai seorang pengunjung dan bukan sebagai penanya.”

 

Mereka bertanya kepadanya “Kapan seseorang menjadi orang?” Ia berkata, “Ketika ia tahu kesalahannya dan ia menyibukkan diri mengoreksinya.”

 

Ia berkata, “Aku selama dua belas tahun menjadi tukang patri diriku, dan selama lima tahun menjadi pengelap kaca hatiku, dan selama setahun aku melihat ke kaca dan aku melihat di perutku setagen ketidakpercayaan. Aku berusaha keras memotongnya dan terus berusaha demikian selama dua belas tahun. Kemudian aku melihatke cermin dan melihat setagen itu didalam tubuhku. Selama lima tahunaku memotongnya. Kemudian selam setahun aku melihat apa yang telah kulakukan. Kemudian Allah membukakan penglihatan kepada semua ciptaan. Dan aku melihat semuanya mati. Dan berdo’a empat takbir jenazah (salat jenazah) dihadapan mereka.”

 

Sekali waktu ia mengatakan: “kalau Tahta dan sekitarnya dan didalamnya diletakkan di pojok hati seorang yang berpengetahuan, maka mereka akan hilang sepenuhnya didalamnya.”

 

Tentang tingkatan Bayazid, al-Abbas ibn Hamza berkata sebagai berikut: “aku salat dhuhur dibelakang Bayazid, dan ketika ia mengangkat tangnya untk berkata ‘Allahu Akbar’ ia  tidak mampu mengucapkannya, karena ketakutan akan Nama Suci Allah, sehingga seluruh badannya gemetar dan tulangnya bergemertak; aku merasa takut.”

 

Munawi mengatakan bahwa suatu hari, Bayazid hadir dalam kelas fasig (jurisprudensi) yang sedang menjelaskan hukum waris: “Ketika seseorang mati dan meninggalkan ini itu, anaknya akan memperoleh ini itu, dll.” Bayazidmenjelaskan: “O faqih, O faqih! Apa pendapatmu tentang orang yang meninggal tapi tidak meninggalkan apa-apa selain Tuhan?” Orang mulai menangis, dan Bayazid meneruskan: “Budak itu tidak memiliki apa-apa; ketika ia meninggal, ia tidak meninggalkan apa-apa kecuali gurunya sendiri. Ia tinggal sebagai apa yang Allah ciptakan pada awalmya.” Dan ia mengucapkan: “Kau akan kembali kepada kami seorang diri, seperti yang dahulu kami ciptakan” [6:94].

 

Sahl at-Tustaaaari mengirim surat kepada Bayazid sebagai berikut: “Inilah seorang yang minum suatu minuman yang membuat tetap segar.“ Bayazid menjawab: “Inilah seorang yang telah meminum semua kebeadaan, tapi mulutnya keing dan terbakar oleh haus.”

 

Adh-Dhabi mengutip pernyataan beliau dalam banyak hal, salah satunya adalah ”Terpujilah Aku, demi kesabaran Ku” dan tidak ada di dalam jubah yang ku pakai ini kecuali Allah”

 

Guru dari Adh-Dhabi yaitu ibnu Taymiyya, menjelaskan “dia tidak melihat keberadaan dirinya lagi, tetapi hanya melihat keesaan Tuhan, melalui penyangkalan diri”

 

Salah satu pengikut Dhun Nun al Misri adalah juga pengikut Bayazid. Suatu saat Bayazid bertanya “Apakah yang kau inginkan?” dia menjawab “Aku ingin bayazid”. Beliau menjawab “Oh Anakku, Bayazid telah 40 tahun mencari Bayazid dan belum juga berhasil nenemukan dia”. Murid dari Dhun Nun itu kemudian menceritakan peristiwa ini kepada Dhun Nun. Mendengar cerita itu, Dhun Nun pingsan. Beliau menjelaskan kemudian, “Guruku Bayazid telah kehilangan dirinya di dalam Cinta Tuhan, ini menyebabkan dia mencoba mencari dirinya lagi”

 

Mereka bertanya kepada beliau “Ajaran kepada kami bagaimana engkau mencapai Hakikat ini” beliau menjawab “dengan melatih diriku melalui pengasingan diri.” Mereka bertanya “Bagaimana caranya?” beliau menjawab, “aku bersumpah bahwa diriku menerima Tuhan Yang Maha Tinggi tetapi diriku menolak. Kemudian Aku bersumpah bahwa aku tidak akan minum dan tidur sampai aku bisa menguasai diriku,”

 

Beliau juga berkata, “Oh Tuhanku! Tidaklah aneh jika aku begitu mencintai Mu karena aku adalah seorang hamba yang lemah, tetapi yang aneh adalah Engkau mencintai ku sementara Engkau adalah Maha Raja”

 

Beliau berkata “selama tiga tahun setiap aku ingin mengingat Allah dan melakukan zikir, aku membasahi lidah dan mulutku untuk Kebesaran-Nya.”

 

Beliau berkata “Sepanjang seseorang merasa muslim yang lain lebih rendah dari dirinya, itu artinya dia masih memiliki rasa sombong”

 

Mereka bertanya kepada beliau “apa yang engkau lakukan ketika siang dan ketika malam” beliau berkata “aku tidak mempunyai siang dan aku tidak mempunyai malam, karena siang dan malam adalah sifat dari ciptaan. Aku telah meninggalkan diriku seperti ular mengganti kulitnya”

 

Mengenai Sufisme beliau berkata:

 

Untuk meninggalkan istirahat dan menerima kesulitan.

 

Mengenai pentingnya mengikuti seorang pembimbing, beliau berkata: “Barang siapa tidak mempunyai Shaykh, maka shaykhnya adalah setan”.

 

Tentang Pencarian Tuhan

 

Rasa lapar seperti hujan berawan, jika seorang menjadi lapar, Tuhan akan menyiram hatinya dengan Hikmah.

 

Tentang Syafa’at

 

Mengenai syafaat beliau berkata: “Jika Tuhan memberikan izin untuk memberikan syafaat untuk setiap orang di zaman ku, aku tidak akan bangga, karena aku hanya akan menyelamatkan sepotong tanah liar”.

 

Jika tuhan memberikan aku izin untuk memberikan syafaat, maka yang pertama aku selamatkan adalah mereka yang telah menyakitiku dan menolakku.

Kepada seorang anak muda yang menginginkan jubah beliau untuk mendapat berkah, Bayazid berkata: “Kalau engkau mau, engkau bisa mengkuliti seluruh kulit Bayazid dan memakainya pada dirimu, tetapi itu tidak akan memberi nilai sama sekali kecuali engkau mengikuti contoh yang telah diberikan”.

 

Mereka berkata kepada beliau, “Kunci Surga adalah bersaksi tiada Tuhan selain Allah, “beliau berkata :

 

Itu benar, tetapi kunci adalah untuk membuka pasak. Kunci seperti itu hanya akan bekerja dengan syarat seperti berikut: lidah yang tidak berbohong dan melakukan fitnah, perut yang tidak memakan yang Hara, hati yang tidak berkhianat, dan ibadah yang ikhlas dan benar.

 

Ego dan diri kita selalu melihat ke dunia ini, sementara ruh selalu melihat ke kehidupan berikutnya. Pengetahuan spiritual selalu melihat Tuhan Yang Maha Kuasa. Barang siapa yang dikalahkan oleh dirinya sendiri adalah termasuk orang yang merugi. Barang siapa yang rohnya menang atas dirinya adalah golongan yang saleh, dan dia termasuk yang tercerahkan rohnya oleh pengetahuan spiritual dari kesadaran Tuhan.

 

Ad-Daylami berkata:

 

“Suatu saat aku bertanya kepada Abdurrahman bin Yahya tentang tingkat keyakinan kepada Tuhan. Beliau berkata, “Jika engkau meletakkan tanganmu di mulut singa, maka janganlah takut kecuali kepada Allah” terbesit dihatiku untuk pergi dan menanyakan hal yang sama kepada Bayazid. Aku mengetuk pintu dan aku mendengar suara dari dalam “tidak cukupkah apa yang Abdurrahman katakan kepadamu? Engkau datang dengan keinginan untuk bertanya bukan untuk mengunjungi ku.” Aku mengerti dan datang lagi di lain waktu yaitu setahun kemudian dan mengetuk pintu beliau. Beliau menjawab “selamat datang anakku, sekarang engkau datang sebagai tamu bukan sebagai seorang yang bertanya”.

 

Mereka bertanya kepada beliau: “kapankah seseorang menjadi dewasa?” beliau berkata: “Ketika dia mengetahui kesalahan dirinya dan menyibukkan dirinya untuk memperbaikinya”.

 

Selama duabelas tahun aku menempa diriku. Selama lima tahun aku memoles hatiku. Selama satu tahun aku melihat ke cermin dan aku melihat di perutku ada sabuk kekafiran. Aku berusaha dengan keras untuk memotongnya. Aku menghabiskan dua belas tahun untuk itu. Dan kemudian aku melihat lagi ke dalam cermin dan aku melihat penahan di dalam tubuhku. Aku menghabiskan lima tahun untuk memotongnya. Dan aku menghabiskan waktu satu tahun melihat apa yang telah aku lakukan. Tuhan membukakan kepadaku rahasia dari seluruh ciptaan. Aku melihat semuanya mati. Dan aku melakukan shalat jenazah untuk mereka.

 

Jika Singgasana Allah, dengan apa yang ada di sekitarnya dan dengan apa yang ada di dalamnya diletakkan di sudut hati seorang yang Alim, maka semua itu akan hilang di dalamnya.

 

Tentang tingkatan Bayazid, al-Abbas ibnu Hamza menuturkannya sebagai berikut: “Suatu hari aku shalat zuhur di belakang Bayazid. Ketika beliau mengangkat tangannya untuk melakukan takbir Allahu Akbar beliau tidak sanggup untuk mengucapkannya, takut akan Asma Allah. Seluruh tubuhnya gemetar. Dan suara seperti tulang patah terdengar. Aku menjadi takut dan takjub”.

 

Munawi menuturkan: “Suatu hari Bayazid menghindari sebuah kelas syari’ah yang tengah menjelaskan hukum waris, “ketika seorang meninggal dan meninggalkan ini dan ini, maka anak laki-lakinya akan menerima sebesar ini dan ini, dst” Bayazid kemudian berseru” Oh Faqih. Oh faqih! Apa yang akan kamu lakukan jika seseorang meninggalkan dia tidak mempunyai apa-apa kecuali Tuhan?”

 

Orang-orang mulai menangis, Bayazid melanjutkan “seorang hamba tidak mempunyai apa-apa, ketika dia mati, dia tidak membawa apapun kecuali Tuhannya. Ini seperti awal mula dia diciptakan” kemudian beliau membaca, “engkau akan kembali sendiri kepada Kami sebagaimana engkau Kami ciptakan pertama kali” (6:94)

 

Sahl at-Tutsari mengirimkan selembar surat kepada Bayazid yang isinya, “ini adalah orang yang telah meneguk minuman yang telah menghilangkan dahaga untuk selamanya” Bayazid membalas. “Ini adalah mulutnya tetap kering dan terbakar oleh rasa haus”.

 

Wafatnya

 

Ketika Bayazid meninggal, beliau berusia lebih dari tujuh puluh tahun. Sebelum meninggal, seseorang bertanya tentang usia beliau. Beliau menjawab, “usiaku empat tahun. Selama tujuh puluh tahun aku terhijab. Aku baru bisa membukanya empat tahun yang lalu”

 

Shaykh ke-39 dari mata rantai emas, Sultan Awliya Shaykh Abdullah faiz Daghestani, menjelaskan hal ini ketika beliau bersama Khidir AS, yang memberi tahu beliau, pada saat dia menunjuk kuburan di pemakaman para ulama besar, “yang ini berusia tiga tahun, yang ini tujuh tahun, dan yang itu dua belas tahun.”

 

Grandshaykh Bayazid meninggal pada tahun 261H/875M. konon beliau dimakamkan di dua tempat yanitu Damaskus dan Bistam di Iran. Rahasia dari Mata Rantai Emas diserahkan oleh Mawlana Bayazid Al-Biatami kepada Shaykh Abul Hasan al-Kharqani.

 

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *