sekolahku di masa depan

beberapa hari ini ngobrol ngalor ngidul seputar unas, duh kasihannya pak nuh yang “digoncang” berhubungan dengan unas yang barcode dan terpusat juga distribusi yang “lemot?” (tapi juga namanya orang yang tidak kompeten jadi ya, ngomongnya kurang bermanfaat juga hanya sarana mengisi waktu) . hingga beberapa trik yang dijalankan beberapa untuk bocorin unas ke peserta didik dengan 20 paket dan 10 cadangan.

 

Teringat pengajian yang ketika dulu masih marak-maraknya mengusung isu masyarakat madani (benar-benar isu ya??? dah ganti isu sekarang ini), rame-rame banyak orang ingin menegakkan syariat Islam.

Sang Ulama menjelaskan bahwa di masa nabi dulu hukum-hukum syariat mulai diperkenalkan dan diberlakukan di madinah setelah masyarakat siap untuk melaksanakannya juga diberikan secara bertahap. seperti perintah potong tangan bagi pencuri, hal ini diperintahkan ketika di madinah hampir tidak ada pencurian dan kalupun dulu ada pencuri mereka sudah bertobat. Nabi berusaha mengentaskan semua orang dari penyakit “pencurian” hingga mental dan hati sudah meninggalkannya. baru setelah itu ada perintah potong tangan (sebagai sarana memprotek)

Allohua’lam

tapi sekarang?

orang-orang yang punya otoritas mencoba memperbaiki dengan sangat produktif membikin namanya “PERATURAN” wal hasil apa yang ada? sampai ada guyonan “peraturan ada itu untuk dilanggar”

 

Tergecak kagum kalau mendengar cerita ulama-ulama dahulu, wali songo ? (kok saya belum mendengar atau membaca, ceramah-ceramah beliau-beliau pada masyarakat, atau mengadakan pengajian umum seperti sekarang, atau seperti yang di film2 itu)

ulama-ulama dahulu menngunakaan pendekatan ilahiah (kepada Alloh) juga melalui pendekatan sosial sehingga mental bahkan yang sudah mengakar bertahun-tahun dan turun menurun dapat luluh.

 

saya hanya membayangkan bila mental sudah terbentuk, hati sudah tergetar, semua akan berjalan dengan indah, walau peraturan tidak terucap dan tertulis maka semua telah terlaksana dan berjalan.

Kalau ada istilah “weruh sakdurunge pinarak” maka bisa jadi “terlaksana sebelum dibicarakan”

 

maaf, maaf bila awalnya ngomong apa jebolnya apa, ndak nyambung ya? maklum bukan penulis, btw moga tetap ada manfaat

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *