semua kok jadi syirik? bukankah Islam berarti mengikuti nabi dan para penerusnya?

III.11. Pernyataan bahwa bertanya sesuatu hal kepada shalihin adalah syirik 

Memakai sihir, mendatangi tukang sihir, tukang tenung (dukun), paranormal (ahli nujum) dan yang sama dengan mereka. Tukang-tukang sihir adalah (dihukum) kafir. Oleh sebab itu tidak dibenarkan mendatangi, bertanya (sesuatu) dan membenarkan mereka, sekalipun mereka dijuluki wali atau bergelar Kiyai dan seumpamanya.

 

Jawaban Habib Munzir Al Musawa

Tentunya berbeda antara tukang sihir dengan para shalihin, dan menyamakan mereka adalah dangkalnya pemahaman yang nyata, dan penjelasan saya telah jelas pada bab keramat para wali.

 

 

III.12. Pernyataan bahwa mencintai dan takut kepada Allah melalui perantara kekasih- Nya adalah bertentangan dengan akidah 

Dan diantara yang bertentangan dengan akidah tauhid, memberikan sesuatu dari bentuk ibadah yang berhubungan dengan hati kepada selain Allah. Misalnya, memberikan rasa cinta atau takut yang mutlak kepada makhluk.

 

Jawaban Habib Munzir Al Musawa

Sabda Rasul saw : Belum sempurna Imam seseorang sebelum aku lebih dicintainya dari keluarganya dan hartanya” (Shahih Bukhari)

Sabda Rasul saw : Seseorang bersama dengan orang yang ia cintai, maka berkata anas ra : aku sangat gembira mendengar hadits ini karena aku mencintai Rasul saw, Abubakar dan Umar (Shahih Bukhari), jelas sudah bahwa iman kita belum sempurna sebelum mencintai makhluk, yaitu Nabi Muhammad saw.

 

 

III.13. Pernyataan bahwa bergantung kepada Nabi Saw adalah syirik

Perkataan : “ karena kehendak Allah dan kehendakmu “, atau : “ kalau bukan karena Allah dan karena si anu “, atau : “ Saya bergantung kepada Allah dan kepadamu “. Padahal ia mesti menggunakan kata “ kemudian “ (sebagai ganti kata “dan”) dalam ungkapan-ungkapan diatas. Hal ini berdasarkan perintah Rasulullah saw, bahwa apabila seseorang bersumpah hendaklah ia mengatakan (ungkapan seperti ini) : “ Demi Tuhan (Yang memiliki) Ka’bah “ atau : “ karena kehendak Allah, kemudian kehendakmu “. HR. An Nasa-i.

 

Jawaban Habib Munzir Al Musawa

Sabda Rasul saw : Abu Thalib kini berada di pantai neraka, Kalau bukan karena aku, maka niscaya abu tholib di Jurang neraka (Shahih Bukhari)

 

 

III.14. Pernyataan bahwa memberi nama haruslah disandarkan kepada Nama Allah Memberikan nama seseorang dengan “Abdun Nabi (Hamba Nabi)”, “Abdul Ka’bah (Hamba Ka’bah)”, atau “Abdul Husain (Hamba Al Husain)”. Nama-nama seperti ini tidak boleh digunakan dalam agama. Akan tetapi, nama-nama yang mengandung ‘ubudiyah (makna penghambaan) mesti disandarkan kepada nama Allah semata, seperti “Abdullah” dan “Abdul Rahman”.

Jawaban Habib Munzir Al Musawa

Juga sabda Nabi saw yang tak pernah disebut oleh orang – orang wahabi, : bahwa Rasul saw bersabda : “Berilah nama dengan namaku (Muhammad). (Shahih Bukhari)

 

 

III.15. Pernyataan bahwa melukis / mengagungkan / menggantung gambar makhluk bernyawa adalah dosa besar

Melukis gambar – gambar makhluk bernyawa, mengagungkan atau menggantungkannya di dinding atau ditempat-tempat pertemuan dan sebagainya.

 

Jawaban Habib Munzir Al Musawa

Berkata Hujjatul Islam Al Imam Ibn Hajar menjelaskan larangan itu, bahwa sebagian ulama berpendapat bahwa hal itu adalah pada masa awal islam karena kuatnya ajaran jahiliyah dan kemusyrikan, namun jika sekarang maka tidak demikian.

Sabda Rasul saw : Maukah kalian kuberitahu orang orang mulia diantara kalian..?, mereka yang ketika dilihat wajahnya maka membuat mereka ingat pada Allah (Adabul Mufrad oleh Imam Bukhari), maka jelas sudah bahwa larangan adalah penyembahan, bukan memuliakan hamba yang dimuliakan Allah swt, sebagaimana Allah swt memerintahkan Iblis untuk memuliakan Adam as, hamba Nya yang shalih, namun Iblis menolak, inilah satu satunya kesalahan Iblis, ia hanya mau memuliakan Allah, tanpa mau memuliakan makhluk yang dimuliakan Allah

 

III.16. Pernyataan bahwa memuliakan orang shalih adalah syirik

Memberikan loyalitas (wala’) kepada orang-orang kafir dan munafik dengan cara menghormati, memuliakan, mencintai dan bangga dengan mereka, bahkan memanggil mereka dengan panggilan “Sayyid” (tuan yang mulia)

Jawaban Habib Munzir Al Musawa

Tentunya memanggil sayyid antara muslimin adalah diperbolehkan oleh Rasul saw, sebagaimana Umar bin Khattab ra berkata pada Abubakar shiddiq ra : Anta sayyiduna wa khairuna wa ahabbuna ila rasulillah saw (engkau adalah junjungan kami, dan yang terbaik diantara kami, dan yang kami cintai terhadap Rasul saw) (Shahih Bukhari).

Berkata Umar ra : Abubakar Sayyiduna, dan telah membebaskan Bilal Sayyiduna. (Shahih Bukhari).

Karena Rasul saw mengajari mereka berucap demikian, seraya bersabda : Janganlah diantara kalian (untuk para budak) berkata : aku akan membawakan makanan untuk Rabbku, (rabb juga bermakna pemilik), namun katakanlah (pada pemilik/tuan kalian) Sayyidy wa maulay (tuanku dan junjunganku) (Shahih Bukhari).

 

 

III.17. Pernyataan bahwa menghukum dengan hukum selain hukum Allah adalah tidak sesuai dengan Syari’at Islam

Menghukum dengan selain hukum Allah dan menempatkan undang-undang (buatan manusia) pada posisi hukum syari’at Nya dengan keyakinan bahwa undang-undang tersebut lebih relevan (sesuai) untuk dijadikan huukum positive dari hukum syariat Allah atau berkeyakinan bahwa undang-undang tersebut sama saja atau bahkan lebih tinggi dudukannya dan lebih besar sesuai dengan perkembangan zaman sekarang. Sikap manusia yang menerima saja pandangan seperti ini, termasuk yang dapat menafikan tauhid.

 

Jawaban Habib Munzir Al Musawa

Kembali pada perbuatan Khulafa urrasyidin dan para sahabat, bagaimana Umar bin Khattab ra mengadakan shalat tarawih ramadhan YANG SUDAH DILARANG DAN DIBUBARKAN oleh Rasul saw, namun Khalifah Umar ra menganggapnya kebaikan dan perlu dimasanya. Dan hal itu teriwayatkan pada shahih Bukhari, Jika hal itu sunnah, niscaya Khalifah Abubakar ra sudah melakukannya sebelum Umar ra, namun hal itu tak dilakukan, karena sunnah yang sudah mansukh. Namun dihidupkan kembali dimasa Umar ra dan disepakati oleh seluruh sahabat radhiyallahu’anhum dan dijalankan oleh seluruh madzhab hingga kini

Sebagaimana perbuatan Khalifah Utsman bin Affan ra yang menjadikan adzan menjadi dua adzan saat jum’at, yang tidak pernah dilakukan oleh Rasul saw, tidak pula oleh Khalifah Abubakar shiddiq ra, tidak pula Khalifah Umar ra, namun dimasanya ia merasa hal itu perlu dan baik, mengingat ummat Jum’at semakin banyak (Shahih Bukhari).

Demikian pula perbuatan Anas bin Malik ra yang berwasiat agar ditaruh beberapa helai rambut Rasul saw pada kain kafannya saat dimakamkan. (Shahih Bukhari) hal ini tak pernah dilakukan oleh Rasul saw, tidak pula oleh Khulafaurrasyidin.

Maka tentunya kembali pada ucapan Imam Ibn Rajab :

Sebagaimana firman Nya swt : “Sungguh Allah telah memerintahkan kalian berbuat adil dan kebaikan, dan menyambung hubungan dengan kaum kerabat, dan melarang kepada keburukan dan kemungkaran dan kejahatan” berkata Alhasan bahwa ayat ini tidak menyisakan satu kebaikanpun kecuali sudah diperintahkan melakukannya, dan tiada suatu keburukan pun kecuali sudah dilarang melakukannya. (jamiul ulum walhikam Juz

2 hal 4)

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *