sensasi energi, pengalaman spiritual

wejangan kemaren jum’at mengingatkan lagi bagaimana “sensasi spiritual” atau lebih enak dibilang “sensasi energi”

di awali oleh curhat seseorang, bagaimana tentang apa yang dirasakan ketika ikut berdzikir atau keadaan-keadaan tertentu di hati.

saya sih gak ngerti “spritualisme” benar-benar buta akannya …. dihubungkan dengan energi saja biar enak dipahami, karena memang kemaren dianalogkan dengan energi, teima kasihku nara sumber ….

yang selanjutnya diolah sendiri agar lebih enak dipahami.

mungkin sebelumnya bisa search di blog ini mengenai aura, energi, sensitifitas, cos klo gak salah ingat, dah pernah share (copas lebih tepatnya …. hahahaha …… masih plagiat super copas, maklumnya miskin ilmu)

sekilas saja, energi? setiap orang memliki energi untuk beraktifitas, diantaranya adalah gelombang elektromagnetik (aura) (gelombang adalah getaran yang merambat kata fisika, setiap partikel yang ada selalu bergerak hingga terpancar suatu energi darinya, bahkan aktifitas hidup adalah proses peralihan energi, menyerap dan memancarkan)

kalau dihubungkan dengan spiritual, maka dzikir kita, suara kita adalah gelombang dari lidah dan pita suara kita yang bergetar, sehingga suara kita adalah energi (kasar karena dapat kita dengar), tubuh kita juga bergerak mengikuti dzikir kita, ini pun menimbulkan gelombang energi, jatung/hati kitapun bergetar berdzikir, ini juga menimbulkan energi gelombang (halus, karena tidak terdengar/terlihat dll)

gelombang sendiri dapat juga bersifat sebagai partikel (dualisme gelombang), sehingga sangat dimungkinkan gelombang yang terpancar akan menubruk partikel yang lain, mempengaruhi gelombang atau partikel yang berhubungan dengannya.

merasakan aura? coba saling hadapkan telapak tangan, konsentrasi (fokus) untuk meningkakan sensitifitas kita, dengan merasakan “sensasi” apapun yang terasa di telapak tangan, panas, dingin, kesemutan, semilir angin, adanya tekanan tertentu, tak terlihat atau yang lain …… coba gerakkan sangat perlahan mendekat dan menjauh sekitar 10-30 cm (sangat perlahan), insyalloh mudah merasakannya.

sensasi tersebut? adanya gelombang/partikel/energi yang “menyentuh” sistem sensorik kita, sistem saraf akan bereaksi mengirimkan bio-bio listrik ke otak untuk mengolah data yang diterima, kemudian ditafsirkan agar lebih dimengerti. hasil tafsirannya dapat jadi seperti tafsiran pada kulit, sentuhan-sentuhan, pada lidah rasa-rasa, pada mata penglihatan-penglihatan, pada telinga suara-suara dll.

“gila” mungkin dikarenakan adanya konsleting, salah jalan atau overlap pada saraf pengolah, dapat jadi saraf ketawa yang bekerja hingga ia selalu ketawa, rangsangan apapun direspon dengan ketawa dll.

mengapa jin bentuk pocong hanya lazim di indonesia? zombie, vampir dll di luar negeri? mengapa hantunya kok beda-beda tiap negara? kemungkinan besar karena tafsiran rangsangan dari otak, ketika ada “energi tak dikenal” maka ia akan mengadakan pendekatan-pendekatan sesuai ingatan orang tersebut. Jin ->ada hubungan dengan alam ghoib-> alam ghoib dekat dengan kematian-> kematian dekat dengan perawatan mayat -> diindonesia mayat biasa dipocong (maka terlihat mirip pocong), ada yang alam bawah sadar takut monyet berbulu (hingga terlihat sosok berbulu), ada yang pernah melihat kecelakaan dengan mayat sangat berantakan (maka terlihat wajah buruk berantakan), dll atau campuran ingatan-ingatan tersebut, sesuai dengan ingatan “terpendam” kita untuk lebih dapat mengerti energi tersebut.

an sangat mungkin saja, energi yang sama, akan dideteksi (ditafsirkan) berbeda oleh orang yang berbeda, karena sistem saraf berbeda yang mengsekusi dan juga ingatan berbeda yang telah tertanam didalamnya.

mengapa ada yang dapat melihat/merasakan hal-hal tsb dan sebagian tidak? sangat terkait dengan sensitifitas orang, ingatkah kita merasakan masakan pedas, untuk kita biasa saja, tapi menurut orang lain terasa sangat pedas, mengapa? panas-dingin juga begitu, bagaimana dengan energi/pertikel/gelombang yang halus? Sensitifitas orang berbeda dan sangat dipengaruhi oleh kondisi fisik maupun kejiwaaannya.

apakah sensasi yang dirasakan mempengaruhi jenis dan besar energi? telah disebutkan diatas bahwa sensifitas tip orang berbeda, contoh ada sambal dengan 5 cabe rawit, si A merasakan sangat pedas, si B merasakan nikmat dan si C tidak merasakan apa-apa, apakah rasa yang berbeda dari si A, B atau C mempengaruhi jumlah cabe? jumlahnya tetap 5, hanya saja sensasi mereka berbeda-beda. jadi jenis dan besar energi yang sama akan dirasakan berbeda oleh tiap orang.

Tapi sebaliknya, jenis dan besar energi yang berbeda akan menimbulkan sensasi yang berbeda, bahkan dapat memaksa orang yang tidak sensitifpun akan merasakannya. ontoh si A, B dan C tersebut memakan 5 cabe seperti diatas, bagaimana jika dipaksa makan 30 cabe? dapat saja si C  yang awalnya tidak merasakn apa-apa, dengan cabe sigitu juga akan merasa kepedasan juga. untuk si A? bisa jadi pingsan atau malah jadi mati rasa…. Hal ini mungkin juga analog untuk orang yang merasakan energi, dengan energi sgini ada yang sensitif dan ada yang tidak, tetapi ketika energinya diperbesar, maka semua akan dapat merasakan hal tersebut.

apakah energi yang tidak terasa itu tidak kuat? ini juga tidak dapat dibuat patokan, tetapi secara wajarnya memang iya, tapi ….. contoh tersebut diatas bahwa si A dengan cabe 30 dapat saja pingsan atau lidahnya mati rasa hingga tidak terasa apa-apa, pernah minum air yang sangat panas? suara yang dapat kita dengar antara 20-20.000 Hz, sehingga suara dibawah atau diatas frekuensi tersebut tidak dapat kita dengar, cahaya (penglihatan) juga hanya gelombang rana cahaya tampak saja yang dapat kita lihat dengan mata kita. sangat bergantung dari toleransi dari sensitifitas kita, bila energi tersebut lebih kecil atau jauh lebih besar dari toleransi sensitifitas kita, maka kita juga tidak akan dapat merasakan atau menafsirkan juga.

bagaimana menyikapi dengan sensasi energi ini? sensasi-sensasi “metafisik” merupakan persepsi dari otak kita, jadi sangat penting membersihkan persepsipersepsi (ingatan-ingatan terpendam/taksadar) agar memberikan tafsiran yang lebih objektif. Penting juga untuk mengasah kepekaan ini agar lebih banyak memahami hikmah-hikmah yang telah diberikan kepada kita. TAPI HAL YANG PENTING seperti yang disampaikan oleh beliau narasumber “tidak perlu diperhatikan apakah sensasi tersebut bercampur dengan persepsi kotor kita atau objektif seperti apa adanya, yang lebih penting adalah mengembalikan hal tersebut kepada Allah, dipasrahkan ke Allah, di ikhlaskan ke Allah untuk mencari ridlo Allah saja, ridlo ALlah yang terpenting dan yang lain kurang penting”

Ini semua hanya ruang lingkup energi, dalam istilah narasumber sih “jiwa” bagaimana dengan ruhaniyah? “spiritual sejati” Allah yang lebih mengetahui dan orang-orang pilihanNya yang diperitahukanNya.

wal hasil ….

kita harus berusaha menggetarkan pitasuara/lidah untuk berdzikir dengan lisan, menggetarkan tubuh untuk berdizir dengan perbuatan, menggetarkan jantung/hati untuk berdzikir dengan qolb, menggetarkan setiap sel/partikel tubuh dengan kullujasad.

akhir ……

Allah A’lam

 

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *