Sholat

A’uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiimBismillaahir rahmaanir rahiimAllaahumma shalli ‘alaa Sayyidinaa Muhammadiw wa ‘alaa aalihi wa Shahbihi ajma’iinAssalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuhAllah Allah Aziz AllahAllah Allah Subhan AllahAllah Allah Sulthon Allah
Saudara-saudaraku,Nanti di akherat akan digelar satu fase atau masa pertanggungjawaban diri, untuk menilai apakah kenormalan yang sejak semula itu terpelihara atau tidak. Sholat adalah bengkel yang stationer. Inna sholaata kaanat ‘alal mu’minina kitaaban mauquta. Sholat itu adalah keniscayaan yang mesti diselenggarakan untuk orang mukmin setiap waktu secara teratur. Untuk apa? Untuk normalisasi dan memelihara kenormalan itu. Dengan kata lain dapat dikatakan, sholat adalah latihan untuk mati. Itu seyogyanya merupakan bagian akhir dari kehidupan kita di alam fana ini untuk jasmani kita, kalau ruh kita abadi sejak dicipta di jaman azali sampai alam baqa, abadi dengan Allah. Barang siapa menjalani kehidupan ini dengan penuh kelalaian, maka akan penuh penyesalan. Husnul Khotimah adalah kita dijemput oleh malaikat, ruh kita untuk melewati alam barzah ke alam baqa dalam keadaan kita ‘normal’ seperti kita di alam azali, kalau dalam keadaan lalai itu yang menjadi masalah. Maka sholat yang kita lakukan seyogyanya kita kemas sebagai langkah sadar untuk menormalisir kembali pertalian kita dengan akherat, dengan Allah, dan dengan rosulullah. Sholat adalah saat mana dalam sekejap rangsangan badaniah, rangsangan dari luar badan kita, kita putus tali hubungannya. Pikiran tidak kita pekerjakan lagi. Hal-hal sebagai akibat dari rangsangan badaniah kita tidak difungsikan lagi. Sholat bukanlah rutinitas dan bukan mewujudkan ‘apalan donga’ (hapalan doa) dan bukan kearagaan kita, tapi sholat adalah untuk kembali ke normalitas. Terus kita fungsikan diri kita untuk sengaja melakukan sholat bahwa yang sedang sholat aadalah hamba allah yang sedang mencari ridho Allah, hamba Allah yang mencari husnul khotimah ,hamba allah yang mencari keselamatan diakherat nanti supaya bisa dipetik keberuntungan.
Saudara-saudaraku,Adalah langkah mengetuk dua pintu sekaligus, yaitu pintu wushul atau sampai dan nyambung kepada Allah dan mengetuk sendiri-sendiri katub yang ada pada diri kita. Habis setiap orang itu mengalami bentukan yang sifatnya menutup yang timbul sebagai karat dari kelalaian, keaniayaan diri dan kesembronoan. Semua orang dalam kehidupan ini automatically menginjakan kaki di potensi kebiasaan menunda. Hati ini menyimpan potensi Ruh dan Fitrah tetapi ketutup ‘ambek’ (baca dengan) jumlahnya sembrono, aniaya dan kelalaian. Sholat sekaligus mengetuk 2 pintu yaitu pintu Allah agar wushul dan sekaligus mengetuk pintu katub hati untuk membuang karat dari kelalaian, aniaya diri dan kesembronoan. Sedangkan alat untu untuk ‘wushul’ adalah kedekatan dan kebersamaan diri kita kepada Rosulullah Muhammad SAW. Sholat bukan rangkaian kegiatan yang given. Sholat itu perbuatan yang tergantung pada azam atau kesengajaan dan niat. Sholat adalah langkah kesengajaan yang dilakukan dengan mengatakan “Usholli” (dengan sengaja saya sholat).
Thoriqoh Naqshbandi adalah suatu asosiasi diantara sesama kita bersama guru supaya kita semakin terbimbing kearah kejelasan yaitu kejelasan yang merupakan adonan yang sejak jaman Rosululluh dibangun bersama para sahabat Beliau yang kita tarik sampai masa sekarang melalui mata rantai guru yang mengantarkan kita kepada perspektif seperti itu.
Insya Allah perjumpaan kita disini mencerminkan langkah kita untuk maju, bukan maju sedikit mundur banyak, maju sedikit mundur banyak, akhirnya menuju langkah kemunduran. Tolong itu dielakkan. Segala perbuatan yang kita lakukan harus mulai punya ancang-ancang. Ancang-ancang kesengajaan untuk selalu bersama Rosulullah. Mohon ini dicamkan untuk menjadi sesuatu yang disengaja benar untuk diorientasikan dan ‘disok’ (dituangkan) susunan kesadaran ke dalam diri kita, Semoga taufik dan inayah terlimpah kepada kita semua.
Dengan berkah Rosulullah dan berkah Syaikh Nazim… insya Allah… Bihurmati suratul fatehah…
Allah Allah Aziz AllahAllah Allah Sulthon AllahSejarah Dalail Khoirot Ada seorang alim (adalah orang yang memiliki pengetahuan tentang kehidupan dan kematian yang dipetik dari sunah nabi) bernama Abu Abdillah Muhammad Bin Sulaiman Al Jazuli. Dalam perjalanannya, ketika waktu ashar, beliau tiba di suatu gurun yang sangat panas, suhunya kira-kira pada posisi 45°. Beliau melihat dikejauhan ada Oase yang dapat ditempuh setengah jam. “Bila sholat disini, maka harus tayamum dan tempatnya sangat panas” maka akhirnya memutuskan untuk sholat di oase. Beliau sadar betul, beliau itu siapa, Allah itu siapa, hidup untuk apa, tujuan kemana, jadi sebetulnya pengalamannya is Ok. Di Oase hampir 1 jam. Dilihatnya ditepi oase ada sumur. Beliau kemudian menuju ke sumur. Beliau mencari timba untuk wudhu. Tiba-tiba beliau dikejutkan dengan seorang ‘genduk’ (anak perempuan) berumur 5 tahun. Si Genduk bertanya ‘Lagi ngapain pak ?’. ‘Ini waktu ashar sudah masuk, dan aku mau wudhu, tapi timbanya tidak ada.’ ‘Ooo mau wudhu, kata si Genduk.’ Sesaat kemudian dengan ‘umak-umik’ disedotnya banyu (air) dalam sumur tadi dan langsung mancur tibo ing ngarsane (keluar airnya dan diberikan kepada) Imanm Jazuli. Beliau sangat heran dan takjub. “Ya Bintah”, Nduk genduk,…rene’o (baca: Nak kesinilah). Apa lagi yang ingin kubantu ?’ kata si Genduk (perempuan kecil)’. Kepriye kok bisa nyedot banyu kuwi (mengambil air) kata Imam Jazuli? “Si Genduk bilang “Aku diajari abahku dari kecil untuk menyapa Rosulullah dengan sholawat.” Kalau ada apa-apa tinggal menyapa Rosulullah. Wajah Imam Jazuli seperti dipukul ambek Mike Tyson, mendengar jawaban Si Genduk. Imam Jazuli malu. ‘Aku kok kalah karo arek cilik si genduk iki (Aku merasa malu dengan si perempuan kecil ini). Dengan kata lain sholawatnya ‘si alim’ ora doyo yen ora menyatu karo rosulullah. Begitu terpukul…Imam Jazuli mengucapkan : Astagfirullah ya robb…astagfirullah ya habiballah. Kemudian beliau Imam Al Jazuli pulang ke rumah dan tidak keluar dari kamar selama 13 tahun untuk mengakses ke Rosulullah, dan tidak sedetikpun ingin lepas dari kebersamaan dengan Rosulullah, dan telurnya adalah Dalail Khoirot. Untuk melakukan Dalail Khoirot ini harus tergantung dengan azam (kesengajaan) dan niat. Kesengajaan dan niat untuk selalu bersama dan menyatu kepada Rosulullah, sehingga membaca Dalail Khoirot mesti dengan hati, dengan sense, karena rahmat allah terbesar adalah diturunkannya Rosulullah Muhammad kepada kita.
Saudara-saudarku,Perjalanan aku dan kamu ora bakal ‘jetis’ (tidak ada daya) bila tanpa kebersamaan dengan rosulullah. Maka setiap kita membaca sholawat seharusnya dengan hati dengan sense, bukan membaca with no heart, no sense. Suatu ilmu yang tidak disertai dengan kedekatan dengan nabi… almost nothing.Allah Allah Azis AllahAllah Allah Subhan AllahAllah Allah Sulthon AllahWa min Allah At Taufiq Al Fatehah.
Shohbet ini ditulis dengan bahasa asli yang keluar dari bahasa hati Syaikh Mustafa Haqqani melalui rekaman audio yang kami putar ulang. Semoga shohbet ini mengetuk pintu Allah agar wushul dan pintu karat hati akibat dari kelalaian, aniaya diri dan kesembronoan kita. Amiin.

Bersumber dari Syaikh Mustafa Haqqani
Friday, 18 February 2005

Kediaman Jokotry Abdul Haqq, Jalan Sawi 16A Semarang 50273Disarikan oleh Jokotry Abdul Haqq

http://condrobawono.blogspot.co.id/2008/11/merokok-memutuskan-dari-segala-kebaikan.html

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *