Strategi Politik Kiai Bisri Syansuri

Para kiai dulu sangat telaten mempersiapkan penerusnya, sebagai contoh bagaimana Ibu Ny. Sholihah dan Kiai Bisri Syansuri memberikan pendidikan politik pada anak dan cucunya  justeru saat beliau menjalankan agenda besar politik nasional dengan segala strategi dan manuvernya yang piawi, dengan melibatkan saya (Hasyim Wahid) yang masih kanak-kanak, justeru ketika tidak bisa menggunakan politisi senior yang hampir semuanya terkontaminasi hubbud dunya.

Saat menjadi Rois Aam Kiai Bisri dalam posisi sulit saat konsolidasi Orde Baru, sehingga harus berhadapan dengan masa restrukturisasi politik, penggabungan partai, penerapan UU perkawinan, pengakuan aliran kebatinan hingga soal asas partai serta normalisasi perguruan tinggi dan termasuk monoliyalitas yang membunuh eksistensi partai, termasuk NU. Sebagai Rois Aam dan sekaligus Dewan Syuro PPP, Kiai ini menjadi garda depan dalam menghadapi Orde Baru. Di situ Kiai Bisri berhadapan langsung dengan Soeharto sebagai penguasa dan PPP sebagai oposisi. Dalam situasi hitam putih itu ketegangan diredakan dengan adanya komunikasi yang mengantarai kedua belah kubu yang berseberangan itu. Komunikator tersebut diperankan oleh Sudjono Humardani salah seorang anggota Opsus yang bisa berkomunikasi 24 jam dengan Soeharto.

Situasi politik serta isu yang dimunculkan tidak hanya kontroversial dan langsung menusuk jantung keimanan Islam, dan di sini harus hitam putih, ya atau tidak, kelihatan tidak ada ruang negosiasi. Apalagi ditunjang oleh dua aktornya yang merupakan pribadi yang sangat kokoh baik Kiai Bisri di pihak NU mauun Soeharto di pihak pemerintah. Maka tidak aneh kalau peristiwa itu menjadi perhatian media, menjadi sorotan politisi dan menjadi perhatian para kiai dan masyarakat Islam, karena menyangkut eksistensi masing-masing pihak bila kebijakan tersebut dijalankan.

Misalnya soal UU Perkawinan, yang menurut NU ini bertentangan dengan ajaran Islam, sementara pemerintah yang didukung DPR mendukung gagasan itu. Bagi NU ini merupakan perjuangan membela agama, bagi pemerintah terutama Soeharto ini merupakan wibawa kekuasaan. Maka di situlah rakyat turun membawa aspirasinya menolak UU tersebut, maka atas desakan rakyat itu RUU tersebut dibatalkan.

Di sini Kiai Bisri selamat dan Soeharto juga diselamatkan. Begitu juga masalah aliran kepercayaan yang saat itu dianggap kelompok NU sebagai upaya pemudaran terhadap kepercayaan Islam, sementara Islam menganggap bahwa aliran kepercayaan itu sebenarnya adalah aliran Islam yang belum sempurna dan sedang menuju kesempurnaan sesuai dengan perjalanan waktu, makanya kalau dilembagakan berarti dianggap menghambat proses penyempurnaan karena itu NU menentang dimasukkannya kepercayaan sebagai agama atau kelompok tersendiri. Sementara pemerintah dengan kekuasaannya berusaha menampung aspirasi para pengamal kebatinan untuk melembagakan sendiri aliran kepercayaan tersebut sejajar dengan agama, karena itu NU menolak rencana terebut. Setelah diadakan pembicaraan tertutup dengan Soedjono Humardani kemudian mengkomunikasikannya dengan Soeharto.

Biasanya Kiai Bisri mengajukan beberapa opsi penyelesaian. Kemudian opsi tersebut disampaikan oleh Sudjono ke Soeharto, setelah itu Soeharto juga mengusulkan opsi ketiga, dari situ kemudian dicapai kompromi, di mana keduanya tetap terjaga eksistensinya. Penghormatan Soeharto terhadap Kiai Bisri bukan hanya karakternya yang kuat dan kewibawaannya yang besar, tetapi juga kepiawiannya dalam mencari solusi setiap ketegangan yang terjadi di antara kedua belah pihak. Karena itu selama masih ada Kiai Bisri, NU dan PPP relatif tidak diganggu. Baru setelah Kiai Bisri meninggal, PPP diintervensi begitu juga NU juga mulai menghadapi banyak hambatan oleh kebijakan Orde Baru Suharto.

Munculnya tokoh kharismatik dan sekaligus pemimpin yang piawi sangat dibutuhkan untuk menjaga kebesaran NU dan kelihaian dalam menghadapi setiap tantangan. NU akan disegani dan akan menjadi rujukan bagi kaum beragama dan kekuatan politik yang lain.

Ketika orang NU membangunkan potensi ini, maka respon di bawah sangat besar dan itu pula yang terdeteksi pihak lain sehingga mereka juga bereaksi, cemas dan waspada sehingga berusaha menghalangi kebangkitan ini dengan menghambat dari dalam melalui oknum NU yang mereka racuni, maupun akan membuat agenda tandingan untuk membelokkan agenda konsolidasi tersebut.

Hubungan Kiai Bisri dengan Soeharto melalui Sudjono Humardani itu sama sekali tidak diketahui oleh umum, bahkan di kalangan partai sendiri, karena komunikasi dilakukan langsung lewat surat pribadi, yang menjadi kurirnya cucunya sendiri yang masih SMA yang mengantar surat dari rumah ke rumah. Ketika menyuruh cucunya mengantar surat dengan alasan disuruh membelikan rokok, atau membelikan PPO, sehingga di antara keluarga sendiri tidak semuanya tahu.

Hanya Ny Sholihah yang tahu taktik Kiai Bisri itu sehingga hanya melihat dengan penuh pengertian. Ketika ada kurir dari luar masuk Kiai Bisri menyuruh cucunya yang mengambil di luar pagar sehingga keluarga yang lain juga tidak tahu. Komunikasi ini terjadi sesama anak-anak, dari pihak Sujono mengutus anak dan keponakannya yang juga masih SMP-SMA, antara lain Fauzi Bowo adalah salah satu kurir Sujono yang kemudian menjadi menantunya.

Dalam situasi politik yang sangat tegang dan sangat sensitif zaman Orde Baru itu, Kiai Bisri sengaja menghindari menggunakan para aktivis politik sebagai mediator dengan Sujono, karena khawatir digoreng atau dibocorkan. Hal itu akan merusak hubungannya dengan Soeharto dan Sudjono, dan itu akan menghambat penyelesaian berbagai masalah politik. Anak-anak yang dilatih menjadi kurir itu kemudian terlatih menjadi politisi yang handal.

Dikisahkan oleh Gus Hasyim Wahid.

sumber : http://muktamar.nu.or.id/strategi-politik-kiai-bisri-syansuri-1/ dan http://muktamar.nu.or.id/strategi-politik-kiai-bisri-syansuri-2/

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *