tanda berhenti haid&ciri-cirinya

 

  1. Bolehkah Itikaf di…..?

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Semoga kekuatan batin ,keluasan ilmu, kecerdasan berpikir senantiasa Allah limpahkan kepada Habib Munzir,

Habib saya ingin bertanya; (menurut penganut Aswaja As’syafi’iyah):
1) apakah boleh/afdol itikaf di Mushola,?
2) kalau boleh,,berarti apakah itikaf di rumah juga boleh?
3) kalau tidak boleh/menjauhi/menyalahi sunnah rasul yang sesungguhnya, bagaimana menolak orang yg mengajak bersama-sama itikaf di mushola ?(=bukan mesjid jami yg sesungguhnya).

Demikian ‘bib pertanyaan saya, mohon kejelasannya yang sejelas-jelasnya, dan tidak lupa saya ucapkan terima kasih atas perhatian dan jawaban dari Habib Munzir.

Wassalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

HABIB MUNZIR MENJAWAB :

 

Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

Cahaya Keberkahan Syuhada Badr semoga selalu menerangi hari hari anda dengan kebahagiaan,

Saudaraku yg kumuliakan,
I’tikaf di mushollah Jumhur madzhab Syafii mengatakannya tidak sah, namun ada pendapat yg membolehkan, tidak sah i’tikaf dirumah, sebaiknya anda menolak dengan halus ajakan mereka, dan menganjurkannya di masjid, namun jika dilakukan di musholla pun ada pendapat yg membolehkannya

Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu,

Wallahu a’lam

 

 

  1. 2.       tanda berhenti haid&ciri-cirinya

Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,
semoga cahaya rahmat Allah SWT dan rasul-Nya menyertai hari-hari Habib dan keluarga.
bib saya sering mendapat pertanyaan dari teman-teman ahkwat mengenai haid..yang mau saya tanyakan pada habib :
1.Bagaimana perhitungan akan mulai dikatakan darah haid shg dikatakan bukan darah haid..?
2.bilamana haidnya tidak teratur tiap bulannya ?
3.bagaimana ciri-ciri bisa dikatakann kita bersih/suci /udah berhenti dan bagaimana mengetesnya..?
4. Kadang ada yang bertanya : maafbib wanita itu bertanya :…” apakah saya masih haid kok di celana saya masih ada bercak warna coklat keruh…?”apakah masih dikatakan haid”
mohon jawaban yang jelas dan rinci dari habib mundzir.
maaf bilamana pertanyaannya kurang sopan tapi betapa pentingnya hal ini maka saya beranikan bertanya pada habib meskipun tidak dialami oleh saya..
jazakumullah khoiron katsiro. Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh,

 

HABIB MUNZIR MENJAWAB :

 

Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

Curahan Rahmat Nya swt semoga selalu menghujani kemudahan pada hari hari anda,

Saudaraku yg kumuliakan,
haidh dihitung dengan cara maksimal 15 hari, jika lebih dari 15 hari darah /cairan keruh belum berhenti maka itu adalah istihadhah, hukumnya ia sudah suci, shalat, puasa dll sebagaimana orang yg suci, karena hal itu sudah diluar haid,

jika beberapa hari saja lalu berhenti, lalu beberapa hari kemudian keluar lagi, maka kesemuanya terhitung haid, misalnya 3 hari darah mengalir, 2 hari tak ada, lalu kemudian darah mengalir lagi, maka kesemuanya dihitung haidh selama belum mencapai 15 hari.

jika sudah mencapai 15 hari maka ia telah suci, walaupun darah atau cairan keruh masih mengalir, hukumnya Istihadhah, yaitu diluar haidh, dan ia terhitung telah suci.

suci dari haid bisa diketahui dengan sirnanya darah dan cairan keruh, yaitu jika diusap dg tisu atau kapas maka yg terlihat tak ada lagi keruh atau warna coklat atau darah, tapi putih berish.

Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu, semoga sukses dg segala cita cita,

Wallahu a’lam

 

 

 

  1. 3.       Sholat Tarawih dengan cepat-kilat

Assalaamualaikum..
Semoga habib selalu dalam rahmat Alloh SWT,amien
Bagaimana hukum sholat tarawih dengan Imam membaca surat2 dengan cepatnya dan gerakan2 sholat yang kilat? padahal disitu ada jamaah orang2 tua yang kewalahan mengikuti gerakan imam…?
terimakasih….
Wassalaamualaikum..

 

HABIB MUNZIR MENJAWAB :

 

Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

Cahaya keagungan Nama Nya swt semoga selalu menerbitkan kemudahan pada hari hari anda,

Saudaraku yg kumuliakan,
mengenai pelaksanaan Tarawih dg cepat adalah fatwa Madzhab Syafii, karena mesti dibuat lebih ringan dan cepat daripada shalat fardhu, karena tarawih adalah shalat sunnah yg dilakukan secara berjamaah, maka tidak boleh disamakan dengan shalat fardhu, Ihtiraaman wa ta’dhiiman lishalatilfardh (demi memuliakan shalat fardhu) diatas shalat sunnah.

melakukan shalat sunnah dg cepat adalah diperbolehkan bahkan pernah dilakukan oleh Rasul saw, dalilnya adalah bahwa riwayat Aisyah ra bahwa Rasul saw pernah melakukan shalat sunnah sedemikian cepatnya seakan beliau tidak shalat dari cepatnya. (Shahih Bukhari).

riwayat lainnya bahwa Rasul saw melakukan shalat sedemikian cepatnya seakan beliau saw tak membaca fatihah, akan tetapi beliau tetap menyempurnakan rukuk dan sujudnya (Shahih Bukhari)

demikian riwayat riwayat diatas memberikan kefahaman bagi kita bahwa shalat sunnah boleh cepat, dan pada madzhab Syafii bahwa shalat Tarawih berjamaah hendaknya dipercepat agar tak disamakan dengan shalat fardhu, juga sekaligus mengenalkan kembali sunnah Nabi saw, bahwa Nabi saw pun sering melakukan shalat sunnah dg cepat,

pengingkaran dimasa kini adalah karena muslimin sudah tidak lagi mengetahui bahwa shalat sunnah dg cepat itu adalah sunnah Nabi saw, maka perlu dihidupkan dan dimakmurkan agar muslimin tidak alergi dan kontra terhadap sunnah Nabinya saw.

mengenai orang tua yg tak mampu mengikuti cepatnya gerakan Imam sebaiknya duduk, shalatnya tetap sah karena shalat sunnah boleh dilakukan sambil duduk walaupun tidak udzur sekalipun, berbeda dg shalat fardhu yg tak boleh dilakukan sambil duduk kecuali ada udzur,

Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu,

Wallahu a’lam

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *