Tarekat : Prinsip-Prinsip Adab antara Murid dan Syekhnya

Seri Ramadan 2014, Vol 22

Mawlana Syekh Hisyam Kabbani

20 Juli 2014   Zawiya Fenton, Michigan

 

 

A`uudzu billahi min asy-Syaythani ‘r-rajiim. Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Rahiim.

Nawaytu ‘l-arba`iin, nawaytu ‘l-`itikaaf, nawaytu ‘l-khalwah, nawaytu ‘l-`uzlah,

nawaytu ‘r-riyaadha, nawaytu ‘s-saluuk, lillahi ta’ala al-`Azhiim fii hadza ‘l-masjid.

 

أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ

Athii`uullaha wa athii`uu ‘r-Rasuula wa uuli ‘l-amri minkum.

Patuhi Allah, patuhi Rasul, dan patuhi orang-orang yang mempunyai otoritas di antara kalian. (Surat an-Nisa, 4:59)

 

As-salaam `alaykum wa rahmatullaahi ta`ala wa barakaatuh. Yawmun jadiid tajalli jadiid, “Hari baru, tajali baru,” dan semoga Allah (swt) memberkati ruh guru-guru kita! Sebelumnya kita membahas tiga adab murid kepada Syekh dan adab apa yang harus ia jaga di hadapan Syekhnya, yaitu:

  • Patuh pada perintahnya.
  • Tidak mengeluh atas keputusannya.
  • Tidak menganggapnya maksum, tetapi percaya bahwa beliau telah mencapai level Irsyad, Bimbingan, membimbing murid menuju Allah (swt) dan Nabi-Nya (s).

 

Percaya bahwa Syekh telah Mencapai Level Sempurna

Prinsip keempat adalah:

  • Murid harus percaya bahwa Syekhnya telah mencapai Level Kamil (Sempurna) dan kini mampu membimbing orang-orang menuju tujuannya, karena beliau berusaha melakukan yang terbaik untuk mencapai level tersebut, sebagaimana Allah berfirman di dalam kitab suci al-Qur’an:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

Dan orang-orang yang berjihad untuk (meraih keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.  Dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang berbuat baik. (Surat al-Ankabut, 29:69)

Banyak orang yang berpikir bahwa jihad adalah perang suci, tetapi pada hakikatnya, jihad mempunyai empat belas kategori khusus, dan hanya satu yang berupa perang suci, ketika musah menyerang negeri kalian dan kalian mempunyai izin untuk mempertahankan diri kalian.  Perang suci adalah salah satu konsep jihad dan ada tiga belas konsep lainnya.

 

Tingkatan Jihad

Allah (swt) berfirman, “Orang-orang yang berjihad di Jalan Kami, demi Kami, la-nahdiyannahum subulanaa, Kami akan membimbing mereka menuju Jalan-Jalan Kami.” Jika seseorang berjuang di Jalan Allah, berusaha membuat dirinya lebih baik, dengan meninggalkan akhlak buruk dan membangun akhlak baik, itu adalah jihad. Allah (swt) berfirman, “Aku akan membimbing orang ini menuju Jalan-Jalan-Ku, subulanaa, jamak, bermakna “semua Jalan Kami,” sehingga mereka akan meraih keselamatan.  Jadi guru-guru semacam ini akan berusaha melakukan yang terbaik untuk berjihad melawan ego (nafs) mereka, melawan dirinya sendiri, dan itulah sebabnya mengapa Allah membukakan bagi mereka berbagai jalan untuk membimbing manusia.  Kalian tidak bisa membimbing orang dengan jalan yang sama, karena kita semua mempunyai penyakit yang berbeda-beda, mempunyai karakter yang berbeda, dan mentalitas yang berbeda.  Kalian tidak bisa membimbing seseorang yang mempunyai IQ 160/170 sebagaimana dengan orang yang IQ-nya 90.  Jadi setiap orang mempunyai jalan yang berbeda yang dapat mereka ikuti, sebagaimana firman Allah:

لاَ يُكَلِّفُ اللّهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.  Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Surat al-Baqarah, 2:286)

 

Allah (swt) tidak membebani orang melebihi kapasitasnya dan Allah mengetahui kapasitas kalian karena Dia memberi ilmu itu kepada Nabi (s) untuk umatnya dan Nabi (s) memberikan ilmu itu kepada para pewarisnya untuk dapat mengetahui kapasitas setiap orang, seberapa besar yang dapat mereka terima.  Seperti sekarang ini, mereka mempunyai sekolah untuk orang-orang yang menyandang disabilitas mental.  Dapatkah kalian berkata, “Mengapa mereka mempunyai sekolah yang berbeda?  Aku harus bersama mereka!”  Tidak, setiap orang sesuai dengan kemampuannya.  Jadi syekh harus mengetahui semua jalan dan tipu daya yang digunakan Setan dan pasukannya untuk menipu kita, untuk menjauhkan kita dari Jalan Allah (swt) dan Nabi-Nya (s).  Jadi tugas syekh adalah membawa kalian kembali dengan mengatakan kepada kalian apa yang harus diikuti dari Islam, “Hari ini, ikuti ini” dan “besok lakukan ini,” dan beliau terus mengangkat kalian dari satu tingkat ke tingkat berikutnya.

 

Percaya kepada Syekh Kalian

Jika kalian mempunyai keraguan terhadap syekh kalian, kalian tidak akan meraih kemajuan, meskipun kita mengatakan bahwa syekh mungkin dapat membuat kesalahan, tetapi itu masih sesuai dengan niat terbaiknya terhadap kalian, jadi kalian harus bersikap ikhlas terhadap guru kalian, bukan seperti sekarang di mana anak-anak di sekolah selalu senang untuk mengkritik guru mereka, karena mereka tidak membuka kalbu mereka untuk percaya bahwa gurunya akan memberi mereka ilmu lebih banyak.

  • Murid harus menunjukkan keikhlasan dan kesalehan dalam mengikuti syekh dan percaya apa yang syekh katakan kepada mereka.

Selain itu di dalam Islam, dan juga agama lain, dan di dalam Maqamul Ihsan, Allah (swt) berfirman kepada Nabi (s) ketika Dia mengutus Sayyidina Jibriil (a) untuk bertanya kepadanya mengenai Maqamul Ihsan, Nabi (s) bersabda, “Ihsan adalah menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya.”  Jadi bagaimana ibadah kalian bila kalian berpikir bahwa kalian melihat Allah dan Dia melihat kalian?  Tentu saja kalian tidak dapat melihat-Nya, tetapi kalian melihat Tanda-Tanda-Nya.

Dia (Jibril) berkata, “Katakan padaku mengenai Ihsan.” Nabi (s) bersabda, “Ihsan adalah menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, tetapi bila engkau tidak melihat-Nya, ketahuilah bahwa sesungguhnya Dia melihatmu.” (Diriwayatkan oleh Sayyidina `Umar, Muslim dan Bukhari)

 

Syekh Mencitai Kalian dan juga Menguji Kalian untuk Membangun Diri Kalian

Hal yang penting adalah bahwa Dia melihat kalian, jadi bagaimana cara menyempurnakan salat kalian dan akhlak kalian, apa yang harus kalian lakukan untuk membuat Allah (swt) rida dengan kalian?  Syekh tahu tipu daya Setan dan cara menyingkirkannya; Syekh adalah tempat kita melihat segala akhlak dan perilaku yang baik.  Mengapa guru mereka mengirimnya untuk melakukan khalwat?  Untuk memberi mereka pengalaman yang belum mereka ketahui sebelumnya.

Pada khalwat terakhir yang saya dapat dari Mawlana Syekh Nazim Adil, semoga Allah memberkati jiwanya, satu hari sebelum khalwat 40 hari berakhir, sejenis ketakutan memasuki kalbu saya dan saya mulai mendengar suara ular derik datang dari arah sudut, kemudian dari sudut lainnya, dan sudut lainnya, dan bunyinya begitu keras sehingga itu bisa membuat kalian khawatir.  Mereka ingin tahu bagaimana kalian akan bereaksi, jadi barangkali itu adalah ular sungguhan, siapa yang tahu?  Barangkali mereka membuat kalian berpikir bahwa itu adalah suara ular sungguhan.  Sebagian orang akan melarikan diri, tetapi bila kalian menghadapi rintangan kalian, jangan lari darinya karena ia akan menggigit kalian, apalagi di dalam khalwat.  Sebelum kalian memasuki khalwat syekh akan berkata kepada kalian, “Apapun yang kau lihat atau kau dengar atau kau rasakan atau kau hadapi, jangan mengalah dengan ketakutanmu terhadapnya.”

Betapa besar Allah (swt) mencintai hamba-Nya dengan cinta tertinggi dan pada saat yang sama begitu banyak masalah menimpa Nabi (s) dari sukunya sendiri.  Di satu sisi cinta Allah (swt) terhadap Nabi-Nya (s) begitu besarnya, Dia menciptakannya sebelum Dia menciptakan segala sesuatu yang lain!  Di sisi lain, sebagaimana Nabi (s) bersabda, “Aku adalah Nabi yang paling banyak mendapat cacian di antara nabi-nabi lainnya, yang paling banyak disiksa,” dan beliau menghadapi begitu banyak masalah dari sukunya.  Jadi bahkan para nabi pun menghadapi masalah, tetapi kita berharap bahwa bila kita melakukan salat lima waktu kita, kita akan selamat!  Bagaimana kalian melakukan salat itu?  Bagaikan ayam jago mematuk tanah, mencari makanan, selalu mengangkat dan menggerakkan kepalanya, sambil berpikir bahwa salat kita diterima.

 

Syekh Mengajari Kalian Bagaimana Menahan Gangguan dalam Ibadah Kalian

Semua gosip ini masuk ke dalam salat dan pikiran kalian, mengganggu kalian.  Pagi ini, ketika kita melakukan Shalaat at-Tasabiih, kita membaca lima belas tasabiih dan Surat al-Fatihah dan kemudian saya akan melakukan ruku` tetapi seseorang berteriak, “SubhaanAllah,” dan dengan segera saya tahu.  Apa yang datang pada saat itu?  Bahkan sesuatu yang baik pun dapat mengalihkan kalian dari salat kalian.  Saya berkata pada diri saya sendiri, “Aku harus membaca dua ‘Qul huwa Allahu Ahad’ pada rakaat pertama dan pada rakaat kedua aku akan membaca satu ‘Qul huwa Allahu Ahad’, jadi tiga Qul huwa Allahu Ahad dan akan diberi ganjaran seolah-olah kita telah membaca seluruh Qur’an.”  Itulah yang datang, jadi saya tidak memberi perhatian,  saya langsung melakukan ruku`.  Jadi bahkan pikiran baik pun akan mengganggu kalian dari salat kalian, seperti yang saya pikirkan, “Membaca tiga ‘Qul huwa Allahu Ahad’ setara degan seluruh kitab suci al-Qur’an, jadi kita menyelesaikan kitab suci al-Qur’an, itu bagus!”  Tetapi Allah (swt) tidak menyukai hal itu, karena itu adalah kesombongan, kibr, meskipun Nabi (s) bersabda,

قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم لأَصْحَابِهِ ‏”‏ أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَقْرَأَ ثُلُثَ الْقُرْآنِ فِي لَيْلَةٍ ‏”‏‏.‏ فَشَقَّ ذَلِكَ عَلَيْهِمْ وَقَالُوا أَيُّنَا يُطِيقُ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ ‏”‏ اللَّهُ الْوَاحِدُ الصَّمَدُ ثُلُثُ الْقُرْآنِ ‏”‏‏

Nabi (s) bersabda kepada para Sahabatnya, “Apakah sulit bagi kalian membaca sepertiga al-Qur’an dalam satu malam?”  Saran ini ternyata sulit bagi mereka, sehingga mereka berkata, “Siapa di antara kami yang mempunyai kekuatan untuk melakukannya, wahai Rasulullah (s)?”  Rasulullah (s) menjawab, “Membaca sekali Qul Huwa Allahu Ahad (Surat al-Ikhlash) seteara dengan membaca sepertiga al-Qur’an.”  

(Diriwayatkan oleh Abu Sa`iid Al-Khudrii, Bukhari)

Jadi kalian harus melihat pada kesempurnaan yang telah dicapai oleh Syekh di Jalan ini untuk meraih Maqamul Ihsan, yaitu menyembah Allah seolah-olah kalian melihat-Nya, tetapi bila tidak, ketahuilah bahwa Dia melihat kalian.  Para Awliyaullah menyembah Allah sebanyak yang mereka bisa dengan sesedikit gangguan yang mungkin, karena mereka tahu bahwa Allah (swt) melihat mereka.

 

Suatu saat Grandshaykh (q), semoga Allah memberkati jiwanya menceritakan sebuah kisah di mana Nabi (s) ingin menunjukkan pada para Sahabat (r) bahwa mereka tidak dapat mengontrol pikiran yang datang dalam ibadah mereka, sehingga beliau memanggil mereka dan berkata, “Siapa di antara kalian yang dapat salat tanpa perasaan khawatir, aku akan memberi jubahku.” Dan setiap sahabat ingin memiliki jubah Nabi (s), sehingga mereka mulai salat dan setelah mengucapkan, “As-salaam `alaykum wa rahmatullaah, as-salaam `alaykum wa rahmatullaah [mengakhiri salatnya],” mereka berkata, “Yaa Rasuulallah! Kami tidak bisa, kami mempunyai pikiran macam-macam di dalam salat kami.”  Kemudian Sayyidina `Ali (r) datang, salat dua rakaat dan sejak beliau bertakbir, “Allahu Akbar [memulai salatnya],” tidak ada pikiran yang mengganggunya, kemudian ketika beliau mengucapkan, “As-salaam `alaykum wa rahmatullaah,” kemudian ketika beliau mengucapkan salam kedua, “As-salaam `alaykum wa rahmatullaah,” sebuah pikiran datang, “Jubah yang mana yang Nabi (s) berikan kepadaku?” Jadi Nabi (s) bersabda, “Selesai!”  Bahkan pikiran baik pun dapat mengganggu ibadah kalian kepada Allah (swt), jadi jangan memuji diri kalian sendiri, lebih baik katakan pada diri kalian, “Wahai egoku!  Kau selalu memberiku kesulitan!”

 

 

Syekh Terus-Menerus Berjuang di Jalan Allah untuk Mengetahui Cara Terbaik untuk Membimbing Murid-Muridnya

Para syuyukh terus berjuang di Jalan Allah agar Allah dapat membimbing mereka melalui Jalan-Nya, dengan demikian mereka akan mengetahui bagaimana cara membimbing murid-murid mereka.  Jadi, kalian harus melihat pada syekh kalian, mengetahui dengan pasti bahwa beliau telah menyelesaikan perjalanannya dan mencapai level kesempurnaan itu.

Murid harus yakin bahwa syekhnya telah menyelesaikan tarbiyahnya dan sekarang beliau telah siap untuk memberi irsyaad, bimbingan dari syekhnya.

Itulah sebabnya beliau mampu membimbing murid-murid.

Dan murid harus selalu berjuang untuk meraih apa yang ia inginkan, bukannya menggunakan tarekat untuk kepentingannya sendiri, ia harus benar-benar tidak menggunakan nama syekhnya untuk kepentingannya sendiri.

Tidak seorang pun yang diperbolehkan untuk menggunakan nama syekhnya untuk kepentingannya sendiri.  Sekrang di banyak cabang tarekat, murid-murid mengatakan bahwa mereka telah mencapai level kemursyidan tertinggi, padahal mereka belum mencapainya.  Mereka menggunakan nama tarekat untuk memperoleh keuntungan di dunia daripada kebaikan di akhirat. Jadi mereka selalu melihat dari perspektif duniawi.  “Apakah ini akan menguntungkan aku di dunia?  Ya, tentu, karena syekh itu memberi banyak keuntungan di dunia,” dengan demikian mereka datang.

 

Bagaimana Sayyidina Khalid al-Baghdadi Mengembangkan para Pengikutnya

Disebutkan di dalam biografi Sayyidina Khalid al-Baghdadi (q), salah satu syekh agung yang pergi ke India kemudian mengambil Tarekat Naqsybandi dari seorang syekh asal India, `AbdAllah al-Dahlawi (q), kemudian kembali ke Syam dan pergi ke pegunungan yang terkenal, Jabal Qasyoun, dan beliau tinggal di sana, menanti orang-orang untuk datang, tetapi tidak ada orang yang datang, tidak ada orang yang tertarik untuk datang.  Beliau menunggu di puncak pegunungan itu, maqaam-nya masih berada di sana, di sebelah  Maqaam alArba`iin, empat puluh wali, Abdaal asy-Syam, Para Pengganti dari Syam, yang disebutkan oleh Nabi (s) dalam banyak ahadiits, mereka adalah awliyaullah yang memberi dukungan kepada siapapun yang memanggil mereka.  Sayyidina Khalid (q) menunggu, duduk di sana, tetapi tidak ada yang datang, kemudian pada suatu hari beliau bertemu syekhnya, `Abdullah ad-Dahlawi (q) di dalam mimpi.  Lihat, betapa sempurnanya mereka!  Beliau berkata, “Wahai anakku!  Kau buang-buang waktu duduk di sana.  Pergilah ke tengah kota, ke masjid Sayyidina Muhiyyidin ibn `Arabi (q) [1].”

Sayyidina Khalid (q) adalah seorang yang kaya raya, dan syekhnya berkata, “Duduklah di sana dan tunjukkan bahwa engkau punya uang, koin dan tanyakan apakah ada orang yang ingin bekerja.”

Sayyidina Khalid (q) memberi mereka masing-masing satu dinar atau dirham dan setelah terkumpul 40-50 orang, mereka pergi ke atas gunung dan beliau memberi shuhba, membimbing mereka kepada Islam, meskipun mereka sudah menjadi Muslim, tetapi beliau membimbing mereka untuk menyempurnakan akhlak dan perilaku mereka, dan beliau memperkenalkan mereka kepada Tasawwuf, yakni bagaimana hidup dengan damai dan harmonis.  Jadi mereka semua senang dan pada penghujung hari mereka diberi upah, dan dengan cara ini beliau mampu mendatangkan banyak orang dan jumlahnya semakin banyak.  Selama tujuh tahun beliau melakukan hal itu, tanpa mengenal lelah.  Allah (swt) berfirman di dalam kitab suci al-Qur’an, Dan orang-orang yang berjihad untuk (meraih keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami” dan kalian berjuang di Jalan-Nya.  Tidak mudah untuk naik turun gunung itu, beliau pasti sangat kuat.

Tujuh tahun adalah hadd, batas untuk segala sesuatu; untuk kezaliman, batasnya tujuh tahun.  Beliau menyeru mereka selama tujuah tahun, kemudian beliau melihat syekhnya di dalam mimpi, meskipun beliau sering melihat syekhnya di dalam mimpi untuk hal-hal lainnya, tetapi untuk hal ini, beliau melihat syekhnya yang berkata, “Hari ini jangan pergi ke bawah, jangan lagi memberi uang,” akhirnya beliau berhenti melakukannya.  Orang-orang kehilangannya, karena beliau telah membangun cinta dan kasih sayang di antara mereka sehingga mereka tidak dapat meninggalkannya, dan mereka merasa kehilangan dan akhirnya atas kemauan mereka sendiri, mereka datang menemui syekh dan tanpa menerima uang.  Setelah itu Sayyidina Khalid (q) menjadi sangat terkenal di seluruh Syam dan setiap orang datang untuk mendengarnya di puncak gunung.

Ini adalah jalan awliyaullah, jadi kalian harus melihat mereka dengan kesalehan dan keikhlasan, bukan hanya dari sudut pandang bagaimana bisa mendapat keuntungan dunia dari mereka.  Tentu saja untuk Maqaam al-Ihsaan, ambillah manfaat sebanyak-banyaknya yang bisa kalian ambil, buka kalbu kalian untuk itu, tetapi jangan coba-coba untuk menggunakan namanya atau reputasi awliyaullah dalam dokumen resmi kalian atau untuk memberi kalian tanah.  Kalian harus menghormati hubungan kalian dengan syekh kalian, bukannya menggunakan namanya untuk keuntungan kalian!  Sekarang dalam banyak tarekat, meskipun tidak semua, kalian dapat menemukan beberapa pengikut yang menggunakan nama syekhnya atau bahkan memanipulasi mereka yang datang kepada syekh untuk mendapat manfaat darinya.  Hal itu tidak dapat diterima.

 

Murid harus Melihat Kebesaran Syekhnya

Bahkan jika kalian tidak sering berada dalam hadirat Syekh kalian,:

  1.   Murid harus selalu memandang syekhnya sebagai syekh besar dan t`azhiimuhu, mengangkatnya, menghormatinya dan menyadari bahwa syekhnya senantiasa mengamatinya.

Dengan demikian kalian akan mendapat pemahaman yang lebih baik mengenai apa yang dikatakan oleh Nabi (s) dalam hadits Jibril (a):

Dia (Jibril) berkata, “Katakan padaku mengenai Ihsan.” Nabi (s) bersabda, “Ihsan adalah menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, tetapi bila engkau tidak melihat-Nya, ketahuilah bahwa sesungguhnya Dia melihatmu.” (Diriwayatkan oleh Sayyidina `Umar, Muslim dan Bukhari)

“Menyembah Allah seolah-olah kalian melihat-Nya.”  Jadi ketika kalian mulai merasa bahwa kalian berada dalam pengamatan dan kalian mulai memperbaiki diri kalian.  Bagaimana menurut kalian bila kalian yakin bahwa syekh kalian mengamati kalian?  Kalian akan memperbaiki diri kalian lebih baik.  Dan bagaimana menurut kalian jika kalian berpikir bahwa Nabi (s) mengamati kalian?  Kalian merasa bahagia di satu sisi, tetapi di sisi lain kalian akan lebih keras memperbaiki diri.  Dan bagaimana menurut kalian jika kalian merasa bahwa Allah (swt) senantiasa melihat kalian?  Maka sudah tentu kalian akan merasa takut, dan karena kita belum merasakan ketakutan itu di dalam kalbu kita, ketika kalian mengatakan kepada diri kalian bahwa Allah melihat kalian, sudah tentu kalian akan merasa sangat ketakutan dan kalian akan memperbaiki diri kalian lebih baik lagi dan perilaku kalian akan semakin baik.

Berikut ini adalah sebuah kutipan yang bagus dari Imam Tirmidzi (q):

“Jika engkau tidak merasa senang dan puas dengan perintah syekh dan tidak merasa bahwa ia telah mendisiplinkan dirimu, jika engkau menyangkal hal itu dalam hubunganmu dengan syekhmu, maka engkau tidak akan meraih manfaat bahkan dari mengamalkan Sunnah Nabi (s).”

 

Jangan Biarkan Kalbu Kalian Mati dengan Menyakiti dan Menyangkal Awliyaullah

Jika kalian tidak memperoleh manfaat dari ajaran syekh kalian, itu artinya kalian tidak memperoleh manfaat dari Ahlu ‘s-Sunnah wa ‘l-Jama`ah, dari Sunnah Nabi (s), karena kalian menyangkal dan meremehkan perintah syekh karena tidak ada disiplin (adab) antara kalian dengannya.  Kalian harus menjaga adab tersebut, sebuah ruang di mana kalian harus menghormatinya, dengan demikian akan akan mampu melengkapi Sunnah Nabi (s).

Sayyidina `Abdul Qadir al-Jilani (q) berkata,

Siapapun yang tidak menjaga kehormatan syekhnya, atau yang merusak kehormatan syekhnya, Allah akan membalasnya dengan mematikan kalbunya.

Jika ia mengatakan sesuatu yang menentang kehormatan syekh, meskipun ia hidup di dunia, kalbunya mati.  Sekarang tidak ada satu pun syekh yang selamat dari serangan di internet, di mana orang-orang menyerang kehormatan para syuyukh, mempermalukan mereka dan merendahkan mereka, mengkritik mereka dan bahkan kadang-kadang menyebut mereka kafir.  Mengapa?  Karena mereka menyeru untuk cinta, perdamaian, toleransi, keharmonisan, sedengkan kelompok yang lain mengatakan, “Tasawwuf adalah buruk, karena ia tidak menjaga Syari`ah, ia hanya mendukung spiritualitas.”  Itu adalah keliru.

Jadi sebagaimana yang dikatakan oleh Sayyidina `Abdul Qadir al-Jilani (q), pastikan jangan membuat kalbu kalian mati, karena Allah akan menimpakan hal itu kepada kalian jika kalian melanggar prinsip dari adab ini.  Penyembuhnya adalah dengan menjaga kehormatan guru kalian, kalian menghormatinya, seperti pada akhir semester kalian memberi suatu hadiah kepada guru kalian, bukankah begitu?  Jadi bagaiamana dengan al-Warits al Muhammadi, bagaimana kalian akan menunjukkan cinta dan penghormatan kalian?  Dengan mempersembahkan hadiah.  Kalian tidak bisa mengunjungi seseorang dengan tangan kosong, kalian membawakan bunga atau coklat; jadi untuk mengunjungi syekh, bahkan untuk melihatnya sesaat, para pengikut mempersembahkan mereka dengan bunga atau sesuatu untuk menunjukkan cinta mereka.  Mereka yang mengutuk para syuyukh di internet, melupakan segala kebaikan yang telah syekh lakukan dan mengkritik mereka tanpa alasan, khususnya orang-orang yang menyimpang dari jalan yang benar dan mengatakan segala sesuatu itu bid`ah, syirik, kufur, haraam.

 

Murid harus Meningkatkan Cintanya kepada Syekhnya dengan Mencintai Murid-Murid Syekh Lainnya

Agar adab murid semakin berkembang, mereka harus menunjukkan cintanya kepada syekh mereka, dan agar cinta itu dapat diterima sepenuhnya,

  1.    Kondisi agar cinta murid kepada syekhnya dapat meningkat dan dianggap sebagai cinta sejati adalah bahwa ia harus menghormati dan mencintai semua murid syekh.

Hal itu sulit bukan?  Kalian tidak bisa dikatakan sungguh mencintai syekh jika kalian tidak mencintai seluruh muridnya, karena kalian tidak tahu yang mana di antara mereka yang akan dikirimkan oleh syekh untuk menguji kalian.  Bisa saja beliau mengirimkan salah satu di antara mereka untuk menulis sesuatu di internet yang isinya berupa fitnah dan kalian mulai membenci orang tersebut.  Dengan demikian kalian akan berada dalam masalah dengan syekh.  Kita berusaha untuk menghindari fitnah, itu adalah jalan tarekat ini, yaitu untuk menjauhi fitnah.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.

(Surat al-Hujuraat, 49:12)

 

Jika Kalian Percaya kepada Allah, Jangan Mencari-Cari Keburukan Orang dan Jangan Menggungjingkan Mereka

“Wahai Mukminiin!  Berusahalah untuk menghindari prasangka,” dan jangan mencari-cari keburukan murid syekh.  Biarkan mereka, karena jika kalian mencari-cari keburukan mereka, dan kalian terjerumus pada salah prasangka dan kalian menyebarkannya, wa laa tajassasuu wa laa yaghtab b`adukum b`adan, “Jangan menggunjingkan satu sama lain.  Apakah kalian suka memakan daging mentah saudaranya?”  Menghancurkan kehormatannya dan menghancurkan dirinya?  Terlalu banyak di seluruh dunia ini yang tidak mempunyai pekerjaan apa-apa kecuali menggunjingkan orang lain padahal Allah melarang perbuatan menggunjing ini: pada Hari Kiamat, Dia akan mengambil hasanaat kalian dan memberikannya kepada orang yang kalian gunjingkan.  Jadi, jika kalian sungguh mencintai syekh, jangan menggunjingkan syekh atau muridnya, tetpi bangunlah hubungan, dan jika kalian tidak sanggup, berilah dukungan!

الفتنة نائمة لعن الله من أيقظها

Al-fitnatu naa’imatan la`anallaha man ayqazhahaa .

Fitnah adalah dorman (tidur) dan Allah mengutuk orang yang membangungkannya. (ar-Rifa`ii di dalam Amalii)

 

Fitnah adalah dorman, dalam keadaan tidur dan barang siapa yang membangkitkannya ia akan dikutuk oleh Allah, jadi mengapa memilih Dikutuk Allah?

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

Lakum diinukum waliya diin.

Bagimu agamamu dan bagi kami agama kami. (Surat al-Kaafiruun, 109:6)

 

Jika kalian tidak setuju, katakan, “Kalian mempunyai jalan sendiri, dan saya punya jalan sendiri.,” dan orang lain akan mengatakan, “Aku mempunyai jalanku sendiri, kalian mempunyai jalan sendiri,” tetapi bila kalian setuju, alhamdulillah.  Kedua pihak tidak perlu bertengkar satu sama lain tanpa alasan.  Bertengkar untuk apa?

 

Berhati-Hatilah, Jangan Mengangkat Syekh Kalian di Atas Status Manusia

Itulah sebabnya mengapa Grandsyekh, semoga Allah memberkati ruhnya, berkata dan ini adalah sesuatu yang besar, saya tidak dapat mengatakannya, tetapi ini adalah masalah yang sungguh terjadi.  Saya lupa!  (Tertawa.)  Pada dasarnya, kita harus berhati-hati bagaimana kita memperlakukan satu sama lain, karena beliau (Grandsyekh) mencintai setiap orang di antara para pengikutnya, jadi kita harus berhati-hati agar tidak membawa fitnah dan menciptakan sesuatu yang tidak baik.  Kemudian,

Jangan berlebih-lebihan dalam cinta kalian hingga ke level di mana kalian tidak bisa lagi membedakan antara cinta terhadap syekh–sebagaimana yang diinginkan oleh Islam dan diinginkan dalam Maqaam al-Ihsaan–dengan cinta yang diinginkan oleh ego kalian.  Sudah tentu ego kalian akan mengatakan kepada kalian sesuatu yang membuat cinta itu menjadi syirik!

Saya tidak mengatakan hal ini untuk menyinggung seseorang, tetapi sebagaimana yang dikatakan di dalam buku, beliau mengatakan,

“Mencintai syekh sebagaimana mestinya, sebagaimana yang diinginkannya, tetapi pastikan untuk tidak menghilangkan cinta terhadap syuyukh lainnya.”

Kalian boleh mencintai syekh kalian setinggi-tingginya, tetapi jangan mengkritik syekh lain dengan mengatakan, “Syekhku lebih baik!”  Jangan mengkritik status syekh lain karena ada orang-orang yang mencintai mereka.  Jadi jagalah diri kalian dengan syekh kalian dan cintai syekh kalian dan itu sudah cukup.

Yang kedua,

Jangan mencoba melalui cinta kalian terhadap syekh kalian–jangan mencoba untuk mengangkatnya dengan level di luar dimensi manusia, karena itu hanyalah untuk Nabi (s).

Muhammad basyarun wa laysa ka ‘l-basyari huwa yaaquutatun wa naasu ka ‘l-hajari.

Muhammad adalah manusia, tetapi bukan manusia biasa seperti yang lain!  Beliau adalah permata, sementara yang lain adalah kerikil.

(Syekh Muhammad al-Busayri, Burdat asy-Syariif)

 

“Muhammad (s) adalah seorang manusia, tetapi tidak seperti manusia yang lain, beliau adalah permata, sementara yang lainnya adalah kerikil.”  Nabi (s) adalah manusia tetapi bukan manusia, karena beliau sangat halus, beliau adalah orang yang diciptakan Allah pertama kali, beliau adalah orang yang melakukan Israa wa’l-Mi`raaj jadi tidak ada bandingannya, kita tidak bisa membandingkan Nabi (s) dengan seseorang, jadi jangan membahas hal itu!

Untuk syuyuukh, jangan membuat syekh kalian begitu tinggi sehingga seolah-olah beliau bukan manusia, keseleo lidah seperti itu merupakan suatu kesalahan yang tidak bisa dimundurkan lagi. Banyak orang yang terjatuh ke dalam masalah ini: dalam menggambarkan syekh mereka, mereka mulai menuliskan hal-hal yang tidak islami.  Mereka memujinya setinggi-tingginya, okay kalian harus memujinya, tetapi dalam levelnya sebagai manusia. Dan kalian harus mencintai Nabi (s) sebagai Rasul Allah dan sebagai Makhluk Pertama, dan kalian harus mencintai Allah (swt) sebagai Sang Pencipta, jadi jangan melewati batasan cinta itu, ia mempunyai batas dan kalian tidak boleh melewatinya.  Jangan melanggar apa yang bukan bagian dari manusia.

 

Prinsip Terakhir: Lihatlah hanya pada Syekh Kalian

Setelah tujuh prinsip ini, kita sampai pada prinsip terakhir,

  1.  Jangan melihat pada syekh lain kecuali syekh kalian.

Ya, kalian memberi baya`at, jadi selesai; kalian tidak dapat membatalkan bay’at kalian.  Syekh dapat membatalkannya,  tetapi bukan kalian, karena kalian telah terikat kepadanya, jadi selesai, kalian tidak bisa melarikan diri.

Saya akan menceritakan sebuah kisah.  Suatu hari seorang murid pergi ke Cina dan ke mana ia pergi?  Ia pergi ke sebuah masjid di Beijing atau di suatu tempat dan ia melakukan salat Jumat dengan memakai turban di kepalanya.

Ketika selesai, imam itu mendatanginya dan berkata, “Apa ini?”

Ia berkata, “Sebuah Turban.”

Imam itu berkata, “Siapa syekhmu?”  Ketika melihat turban ia sudah tahu, tetapi ia bertanya, “Apakah engkau mempunyai seorang syekh?”

Ia berkata, “Ya, aku mempunyai seorang syekh, Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil (q).”

Kemudian imam itu membuka dompetnya, mengeluarkan sebuah foto dan menunjukan padanya, “Apakah ini syekhmu?”

Ia berkata, “Ya, itu dia.”

Imam itu berkata, “Ini adalah syekhku.  Aku mengambil bay’at online melalui Sufilive.com.”

Murid itu adalah Firdaus, kalian mengenalnya. Jadi jagalah syekh kalian, syekh yang kalian berbay’at kepadanya, jangan melompat antara dua atau tiga orang syekh, kalau begitu kekuatan kalian akan terpecah di antara syekh-syekh itu, kalbu kalian akan terpecah menjadi dua dan kekuatannya akan berkurang.  Jadi, jangan biarkan kalbu kalian berada di antara dua syekh, kalian tidak bisa, atau cinta kalian akan berkurang di antara keduanya.

Semoga Allah mengampuni kita dan memberkati kita dan menjaga kita agar tetap berada di jalur yang benar dari awliyaullah.

Wa min Allahi ‘t-tawfiiq, bi hurmati ‘l-habiib, bi hurmati ‘l-Fatihah.

 

http://www.sufilive.com/The_Principles_of_the_

Discipline_Between_the_Mureed_and_His_Shaykh_Part_3_-5591.html

© Copyright 2014 Sufilive. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.  Transkrip ini dilindungi oleh Undang-Undang Hak Cipta Internasional.  Mohon untuk menyebutkan Sufilive ketika membagi tulisan ini. JazakAllahu khayr.

[1] Seorang wali termasyhur yang menulis kitab al-Futuuhaat al-Makkiyya. Beliau menulis banyak kitab dan banyak cendikiawan, baik syuyukh maupun ulama yang tidak mengerti ajarannya.

diambil dari : http://naqsybandi.com/2014/11/06/prinsip-prinsip-adab-antara-murid-dan-syekhnya/

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *