Ulama Digantikan oleh Pemimpin yang Bodoh

Monday, May 16, 2005

 

Syaikh Muhammad Hisyam Kabbani
The Apparoaching to Armageddon
Kiamat Mendekat

Hadis berikut ini menyebutkan bahwa selama masa-masa terakhir dunia, urusan masyarakat muslim akan jatuh ketangan orang-orang yang benar-benar bodoh dan tidak mempunyai pemahaman tentang agama Islam.
‘Abd Allâh ibn ‘Amr ibn al-‘Âsh meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda:” Allah tidak akan mencabut pengetahuan dari hati para ulama, tetapi Dia akan mewafatkan mereka (mereka meninggal). Tidak ada lagi ulama yang menggantikan tempat mereka, sehingga orang
akan mempercayakan urusannya kepada pemimpin yang sangat bodoh. Mereka akan menghadapi berbagai persoalan, dan akan memberikan fatwa tanpa pengetahuan. Mereka sesat dan menyesatkan”.

Ramalan tersebut telah terbukti, karena orang-orang Islam dewasa ini telah mengangkat pemimpin yang hanya tahu kulit luar Islam, tetapi tidak mengerti praktik dan inti Islam. Misalnya, sering kali seorang
pengusaha, dokter, atau insinyur diangkat menjadi imam masjid. Para profesional itu tidak mempunyai latar belakang pendidikan Islam tradisional. Mereka tidak mempelajari syariat, Alquran, atau hadis. Mereka tidak tahu bagaimana mengambil keputusan hukum atau bagaimana menjelaskan tema-tema tertentu dalam Islam.

Jadi, sementara bekerja sepenuh waktu dalam profesinya masing-masing, mereka meletakkan tugas kepemimpinannya terhadap masyarakat muslim pada urutan kedua, persis seperti kerja sampingan atau hobi. Mereka memang dapat bertindak sebagai imam atau memimpin salat jika tidak ada orang lain yang lebih representatif untuk melaksanakan tugas tersebut. Namun, ketika orang-orang tersebut mengklaim sebagai wâ‘izh (ulama, penceramah, atau pemberi nasihat), mereka berarti telah melampaui batas kewenangannya, dan dapat membawa kerusakan
serius pada masyarakat muslim.

Pemimpin masyarakat muslim semacam itu akan mengubah masjid menjadi arena untuk memperebutkan dominasi sosial, bukan sebagai tempat untuk meningkatkan kehidupan keagamaan dan spiritual. Hal semacam itu
juga telah diramalkan oleh Nabi saw.Anas meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda, “Sungguh, salah satu tanda akhir zaman adalah ketika orang menyombongkan diri di masjid”.

Para pemimpin yang sok berkuasa itu sebenarnya tidak memiliki kualifikasi untuk memberikan keputusan tentang persoalan keislaman secara umum, dan secara khusus mereka tidak dibekali dengan pengalaman dan pengetahuan untuk menghadapi persoalan kompleks yang
dihadapi oleh masyarakat muslim pada masa modern ini. Karena dibesarkan dalam lingkungan pendidikan sekuler dan sama sekali buta tentang ilmu-ilmu keislaman, mereka akan menyusupkan pandangan mereka sendiri atau bisikan ego mereka, dan mengeluarkan keputusan yang merugikan masyarakat muslim secara keseluruhan. Seribu empat ratus tahun yang lalu, Nabi saw. menggambarkan para pemimpin bodoh itu yang akan diminta pendapatnya tentang sesuatu dan akan memberikan keputusan yang keliru, “Mereka sesat dan menyesatkan.” Ketika pintu kesesatan telah terbuka, setan akan menyelinap, dan yang muncul berikutnya adalah kerusakan bagi masyarakat muslim secara keseluruhan.

Adalah penting untuk menyadari bahwa seseorang tidak akan mampu mengeluarkan aturan jika tidak memiliki kualifikasi yang diperlukan, sehingga tidak seorangpun dapat mengeluarkan keputusan tanpa kualifikasi tersebut. Karena peraturan yang dikeluarkan memiliki dampak yang sangat besar terhadap kehidupan masyarakat, maka orang yang mengeluarkan peraturan tersebut harus memiliki karakter moral yang unggul, dan yang paling penting adalah bahwa mereka harus benar-benar memenuhi kualifikasi. “Katakanlah, “Terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan sebagiannya halal.” Katakanlah, “Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu tentang ini, atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah.” (Q10:59)

Ayat ini menekankan bahwa tak seorangpun yang berhak memberikan keputusan bahwa sesuatu adalah salah atau benar, kecuali jika dia memiliki bukti-bukti yang lengkap dari berbagai sumber informasi yang ditemukan, dari diskusi mendalam dengan orang-orang yang memahami persoalan tersebut, dan dengan menelusuri semua bukti yang terkait. Jika tidak, maka orang tersebut hendaknya tutup mulut. Jika ia tetap mengeluarkan keputusan, maka itu merupakan kebohongan terhadap Allah dan penentangan terhadap agama.

Al-Syâfi‘î berkata:”Seseorang tidak diperkenankan memberi fatwa kecuali dia mengetahui Alquran secara lengkap, termasuk ayat-ayat yang telah dihapus, dan ayat-ayat yang menghapusnya, dan ayat yang mirip satu sama lain, dan apakah surah itu diturunkan di Mekah
atau di Madinah. Dia harus mengetahui seluruh koleksi hadis Nabi, baik yang otentik maupun yang palsu. Dia harus memahami bahasa Arab pada masa Nabi beserta gramatika dan keistimewaannya, serta mengetahui puisi-puisi Arab. Di samping itu dia harus mengetahui
kebudayaan berbagai masyarakat yang tinggal di berbagai tempat. Jika seseorang memiliki seluruh pengetahuan itu dalam dirinya, ia boleh berpendapat bahwa ini halal dan itu haram. Jika tidak, maka ia
tidak punya hak untuk mengeluarkan fatwa.

Diriwayatkan dari salah satu fakih terbesar, ‘Abd al-Rahmân ibn Abî Layla, “Saya pernah bertemu dengan seratus dua puluh sahabat Nabi. Masing-masing aku tanyai satu persoalan syariat, tetapi mereka menolak memberikan keputusan, dan malah menunjuk kepada sahabat lain yang bisa memberikan jawabannya. Mereka takut memberikan jawaban sekiranya jawaban tersebut meleset dan mereka akan dimintai pertanggung jawabannya di sisi Allah.”

Hal itu menunjukkan bahwa kita mungkin memiliki pengetahuan yang mendalam tentang Islam, seperti halnya para sahabat, namun kita tetap harus merasa tidak berwenang memberikan keputusan. Imâm al-Nawawî meriwayatkan bahwa Imâm al-Syu‘bî dan al-Hasan al-Bashrî serta tokoh-tokoh tabiin lainnya berkata: Orang-orang zaman sekarang terlalu cepat mengeluar kan aturan yang didasarkan pada analisis mereka sendiri tentang sebuah persoalan. Jika hendak mencari jawaban terhadap persoalan serupa pada masa ‘Umar ibn al-Khaththâb, ia akan mengumpulkan seluruh sahabat yang ikut dalam Perang Badar [yaitu sekitar 313 sahabat] untuk menemukan jawabannya.

Sayangnya, para pemimpin Islam dewasa ini, alih-alih menggunakan masjid sebagai tempat untuk menunjukkan kebaikan dan keselamatan jiwa manusia setelah Hari Kiamat kelak, mereka justru menggunakan masjid untuk membicarakan masalah duniawi, seperti politik,
penghimpunan dana, atau ajakan kepada mengejar kehidupan dunia. Ini juga telah diprediksi dalam hadis lain yang menyebutkan bahwa Nabi saw. bersabda: “Pada akhir zaman orang-orang akan datang ke masjid
dan duduk membentuk lingkaran untuk mendiskusikan persoalan dunia dan kenikmatannya. Janganlah duduk bersama mereka. Allah tidak membutuhkan mereka. ”

Ketika ditanya tentang maksud hadis itu, Ibn Mas‘ûd menjawab bahwa para pemimpin yang bodoh akan berasal dari kelompok ashâghir (mereka yang tidak memiliki latar belakang pendidikan Islam; secara harfiah
berarti “junior”) dan bukan dari kelompok akâbir (ulama yang mencurahkan hidup mereka untuk mempelajari Islam; secara harfiah berarti “senior”). Akâbir adalah para intelektual besar, yang terdidik dan terpelajar, sementara ashâghir adalah orang-orang yang buta huruf dan tidak terdidik yang hampir-hampir tidak tahu tentang Islam. Nabi saw. mengatakan bahwa tanda akhir zaman adalah ketika sudah tidak ada lagi ilmu dan ketika ilmu bersumber dari kelompok ashâghir. Kini para pemimpin kita tidak terpelajar soal Islam, sehingga dalam istilah keagamaan mereka disebut “junior” meski usia mereka telah lanjut.

Lebih parah lagi, ada banyak anak muda dalam kelompok-kelompok internet Islam yang mengeluarkan keputusan tentang berbagai persoalan. Di internet, seorang anak laki-laki berusia 18 tahun bertindak bagai seorang ulama besar yang mengeluarkan aturan,
dan mengatakan kepada saudara-saudara mereka seagama, “Anda salah! Anda termasuk orang kafir!” Orang-orang mengajukan pertanyaan besar, dan semua orang mengetik jawabannya sambil mengemukakan pendapat pribadi mereka yang tidak didasari tradisi keilmuan. Orang-orang membaca dan kemudian mengikuti apa yang ditulis oleh anak-anak muda itu. Seperti yang dikatakan Nabi, “Mereka sesat dan menyesatkan?”

 

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *