wahai guru agama, berhati-hatilah!

suatu yang mengusik melihat FB, di group tarekat sarkubiyah ada yang mengeshare bahwa pada buku pegangan yang dipakai anak-anak kita tercampur dengan akidah yang gak jelas jluntrungannya dengan memakai kebohongan-kebohongan atas nama para ulama salaf.

Maka Selayaknya para guru agama mewaspadai hal tersebut, buku yang berisi keterangan seperti ini sudah masuk ke buku pelajaran paket dari MI sd MA judul pelajarannya ‘AKIDAH AKHLAQ’

—————

https://www.facebook.com/thobary.syadzily/media_set?set=a.706781646033132.1073742056.100001039095629&type=1

http://www.elhooda.net/2014/02/fitnah-dan-kebohongan-wahabi-terhadap-imam-syafii-atas-pembagian-tauhid-trinitas/

————–

Aksi keji kelompok Wahabi Salafi kembali terjadi. Di dalam sebuah buku (yang belum diketahui siapa pengarang dan judulnya), kelompok Wahabi Salafi dengan begitu beraninya melakukan fitnah dan kebohongan besar terhadap salah satu ulama ahlussunnah wal jama’ah, Imam Syafi’i. Seorang ulama kenamaan pendiri Madzhab Syafi’i diftnah mengikuti aqidah mujassimah.

Disebutkan dalam buku fitnah tersebut dengan judul yang begitu jelas tertulis “Imam Syafi’i menetapkan pembagian tauhid menjadi tiga”. Yang dimaksudkan adalah tauhid rububiyyah, tauhid uluhiyyah, dan tauhid asma wa shifat. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.

Selama ini, tidak ada satu pun ulama yang membagi tauhid menjadi tiga baik ulama salaf maupun khalaf. Apalagi Imam Syafi’i, sejak kapan beliau membagi tauhid menjadi tiga? Darimana sumber yang menyatakan bahwa Imam Syafi’i membagi-bagi tauhid menjadi tiga? Yang melakukan hal itu hanyalah dari kelompok Wahabi Salafi saja. Astaghfirulloh, kami berlindung kepada Allah dari fitnah Wahabi Salafi.

Berikut kami nukilkan potongan tulisan yang berisi fitnah yang mengatasnamakan Imam Syafi’i dalam buku itu:

Imam Syafi’i menetapkan pembagian tauhid menjadi tiga

Berdasarkan penelitian yang saksama terhadap dalil-dalil al-Qur’an dan hadits Nabi SAW, para ulama menyimpulkan bahwa tauhid dibagi menjadi:

  1. Tauhid Rububiyyah,
  2. Tauhid Uluhiyyah,
  3. Tauhid Asma wa Shifat.

Pembagian tauhid ini bukanlah perkara baru (baca: bid’ah) apalagi menyerupai agama trinitas, tetapi pembagian ini berdasarkan penelitian terhadap dalil. Hal ini persis dengan pembagian para ulama ahli bahasa yang membagi kalimat menjadi tiga: isim, fi’il, dan huruf.

Berikut adalah gambar scan buku fitnah tersebut:

Astaghfirulloh. Itulah satu dari sekian banyak bukti bagaimana Wahabi Salafi menghalalkan segala cara untuk menyebarkan pahamnya sampai-sampai melakukan fitnah dan kebohongan kepada para ulama salaf ahlussunnah wal jama’ah. Padahal Imam Syafi’i dan ulama-ulama salaf lainnya tidak pernah membagi tauhid menjadi tiga seperti di atas. Karena, ketiga “Aqidah Trinitas” tersebut adalah aqidah kaum Mujassimah yang dianut oleh Wahabi Salafi dan ujung-ujugnya membid’ahkan dan memusyrikkan amaliyah ulama Ahlussunnah wal Jama’ah yang tidak sepaham dengan aqidah mereka.

Hal itu bisa dilihat dan dibuktikan di dalam kitab tauhid “AL-KAWKABUL AZHAR SYARAH AL-FIQHUL AKBAR “ karya Imam Syafi’i sebagai berikut:

قال الشافيع رحمه الله تعالى ( فان قيل : أليس قد قال الله تعالى ( الرحمن على العرش استوى ) يقال ان هذه الأية من المتشابهات و الذي نختار من الجواب عنها و عن أمثالها لمن لا يريد التبحر فى العلم أن يمر بها كما جاءت و لا يبحث عنها و لا يتكلم فيها لأنه لا يأمن من الوقوع فى ورطة التشبيه اذا لم يكن راسخا فى العلم . و يجب أن يعتقد فى صفات الباري تعالى من ذكرناه و أنه لا يحويه مكان و لا يجري عليه زمان منزه عن الحدود و النهايات مستغن عن المكان و الجهات و يتخلص من الهالك و الشبهات . و لهذا المعنى زجر مالك رحمه الله رجلا حين سأله عن هذه الأية فقال : الاستواء مذكور و الكيفية مجهولة و الايمان به واجب و السؤال عنه بدعة ثم قال : و ان عدت الى مثله أمرت بضرب رقبته . أعاذنا الله و اياكم من التشبيه

Berkata Imam Syafi’i, semoga Allah ta’ala merahmatinya: (Maka seandainya dikatakan: Tidakkah Allah ta’ala berfirman:

الرجمن على العرش استوى

Dikatakan bahwa ayat ini bagian dari ayat mustasyabbihat (ayat yang samar untuk mengetahui maksud dan tujuannya dan perlu penjelasan dari pakar tafsir Al-Qur’an). Adapun jawaban yang kami pilih dari ayat mutasyabbihat dan keasamaan-kesamaannya ini berlaku bagi orang yang tidak mau mendalami ilmunya agar melewatinya seperti apa adanya ayat dan tidak perlu membahas dan membicarakan ayat ini. Karena, hal ini tidak akan aman untuk terjatuh ke dalam lumpur “Tasybih”, yakni menyamakan Allah dengan makhluk apabila bukan dari golongan orang-orang yang dalam ilmunya.

Dengan demikian, wajib bagi setiap muslim yang mukallaf untuk mengi’tiqadkan atau meyakinkan perkara di dalam sifat-sifat Dzat Maha Pencipta (Allah) ta’ala seperti apa yang telah kami terangkan, di mana Allah ta’ala tidak diliputi oleh tempat dan tidak berlaku zaman bagi-Nya. Juga, Dia maha dibersihkan dari segala batasan, dan ujung dan tidak butuh kepada tempat dan arah. Dia selamat dari segala bentuk kerusakan dan keserupaan.

Oleh karena dengan adanya makna ayat ini, maka Imam Malik rahimahullah melarang kepada seseorang untuk menanyakan tentang ayat ini. Beliau berkata: Al-Istiwa’ sesuatu yang sudah disebut. Kaifiat (pertingkah) sesuatu yang samar. Iman dengan ayat ini wajib. Dan, bertanya tentang ayat ini bid’ah.

Kemudian, beliau berkata: Seandainya engkau kembali menanyakan kepada semitsal ayat ini, maka aku memerintahkan supaya engkau menepuk lehermu. Semoga Allah melindungi kita dan kalian untuk tidak menyamakan Allah dengan makhluk !

{Keterangan dari kitab “Al-Kawkab Al-Azhar Syarah Al-Fiqhu Al-Akbar”, karya Imam Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, halaman 68, cetakan “Darul Fikr”, Beirut – Libanon. Ditulis ulang oleh KH. Muhammad Thobary Syadzily, Pengasuh Pondok Pesantren Al Husna Tangerang).

Ketahuilah pembagian tauhid menjadi tiga (Rububiyyah, Uluhiyyah, dan Asma wa Shifat) telah terbukti secara ilmiah kebatilannya dan bukan bersumber dari ajaran Islam. Allah dan RasulNya tidak pernah mengajarkan tauhid dengan model trinitas seperti itu. Begitu juga para Sahabat Nabi tidak ada satu pun yang mengajarkan “tauhid tiga” tersebut.

Umat Islam harus paham bahwa masalah tauhid/aqidah merupakan masalah ushul, yang wajib berdasar dalil Qoth’i (pasti). Perlu dipertanyakan darimana dan apa dalil Qoth’i yang menjadi dasar pembagian tauhid tiga tersebut. Selain itu, efek samping dari ajaran “tauhid tiga” yang batil ini hanya akan menimbulkan fitnah di tengah Umat Islam. Seperti kita ketahui bersama, tauhid tiga ajaran Wahabi Salafi ujung-ujungnya hanya bermaksud untuk menuduh bahkan memvonis kaum beriman sebagai musyrik. Sebagai contoh dalam masalah tauhid asma wasifat dimana kelompok Wahabi Salafi ingin mengeluarkan faham Asy’ariah dari kelompok kaum muslimin yang benar, khususnya berkenaan dengan ayat-ayat sifat atau ayat-ayat mutasabihat yang berkaitan dengan masalah boleh tidaknya ta’wil.

Dan ternyata memang pembagian tauhid menjadi tiga (Rububiyyah, Uluhiyyah, dan Asma wa Shifat) sama sekali tidak memiliki dasar, baik dari al-Qur’an, dan hadits, serta tidak ada seorang pun dari para ulama Salaf atau seorang ulama saja yang kompeten dalam keilmuannya yang membagi tauhid kepada tiga bagian tersebut. Pembagian tauhid kepada tiga bagian ini adalah pendapat ekstrim dari kaum Musyabbihah masa sekarang, mereka mengaku datang sebagai penegak Tauhid untuk memberantas bid’ah namun sebenarnya mereka adalah orang-orang yang membawa bid’ah. Mereka adalah kelompok yang terjerumus dalam aqidah tasybih dan tajsim yang menyamakan Allah SWT dengan makhlukNya. Wallohu a’lam.

————–

hati-hati juga karena Menurut http://salafytobat.wordpress.com/category/wahabi-memalsukan-kitab-ulama-sunni-salaf/, ada 38 kitab yang telah terbukti mengalami pemalsuan. Padahal ini belum lagi yang lain yang jumlahnya banyak. Diantaranya:
1.Shahih bukhari
2.Shahih muslim
3.Shahih at-turmudzi
4.Musnad imam ahmad
5.Tarikh al-ya’qubi
6.Nahj al-balaghah
7.Syarh aqaid an-nasafi
8.Al-kasykul wal mukhallah
9.Iqtidhas shirat al-mustaqim
10.Ahwalul qubur, ibn rajab
11.Al-bahr al-muhith
13.As-shawaiqul muhriqah
14.Diwan al-mutanabbi
15.Akhbarul himaqi wal mughaffilin
16.Hayatul muhammad
17.Thabaqatul mu’tazilah
18.Al-ibanah, asy’ari
19.Majma’ al-bayan
20.Mukhtashar tarikh ad-dual
21.Al-aghani, abul faraj
22.Muqatil at-thalibin
23.At-thabaqat, ibn sa’ad
24.Syarh an-nahj, al-mu’tazili
25.Tathir al-jinan
26.Al-ma’arif, ibn qutaibah
27.Tarikh at-thabari
28.Hasiyah as-shawi ala tafsir jalalain
29.Aqidatus salaf ashabul hadits
30.Syarh al-aqidah at-thahawiyah
31.Al-adzkar, an-nawawi
32.Tafsir al-kasyaf, az-zamahsyari
33.Diwanul imam syafi’i
34.Al-fawaid al-muntakhabat
35.Tafsir ruhul ma’ani
36.Hasiyah ibnul abidin
37.Majmu’ fatawa, ibn taimiyah
38.Nihayah al-qaul al-mufid

39. Alwasiat imam Hanafi

40. Nadzom jurumiyah

dll

[lihat Mereka memalsukan kitab-kitab karya ulama klasik:82-83]

———

Ya Allah Selamatkanlah para ulama dan guru-guru kami, berikanlah kami guru-guru yang amanah lagi engkau ridloi, dan kumpulkanlah kami dengan para ulama yang menjadi kekasihMu, amin

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *