ziarah wali

Ilmu dari bis lagi, hehe ……..

ziarah, mengunjungi seorang Wali baik yang masih hidup atau yang sudah meninggal, harus tetap memperhatikan adab mengunjugi wali.

Bila hendak mengunjungi pejabat atau orang lain, maka yang terpenting adalah “tata krama dhohir”, memakai pakaian sopan, tata bahasa diatur, dll, kalau perlu bawa oleh-oleh untuk membahagiakannya.

tetapi untuk mengunjungi wali, ziarah wali, selain tata krama dhohir pentng tapi yang lebih penting adalah “tata krama batin”, membawa ketulusan, keikhlasan, ketawadluaan.

ini bukan berarti tidak memperhatikan Dhohir, karena Dhohir adalah cerminan dari batin, “batin yang baik yang termanifestasikan ke tampakan luar”

Teringat ziarah kemarin ketika di makam KH Dalhar dengan guru MA SMK Tanada berseta keluarganya. Hati terhenyak, tertegun karena melihat beberapa santriwati yang dikala itu berziarah, kemudian setelah selesai, mereka keluar dengan berjalan dengan lutut mereka hngga pintu keluar kemudian baru berdiri dan berjalan. Wow menurut saya, penghormatan luar biasa kepada seorang wali (walau beliau secara jasadiyah telah meninggal). Saya masih belum segitunya, menunjukkan betapa buruk akhlak ini … hmmmm.

ketika ngetik ini juga teringat biografi dari Habib Munzir,  “beliau sering pula berziarah ke Luar Batang, makam Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus. Suatu ketika beliau datang kesana dan lupa membawa kopiah, karena datang langsung dari Cipanas. “Ya Allâh, aku datang sebagai tamu seorang wali-Mu. Tak beradab jika aku masuk ziarah tanpa berkopiah, tapi uangku pas pasan, dan aku lapar. Kalau beli kopiah, aku tak makan, dan ongkos pulangku kurang,” demikian hati beliau mengucap saat itu.

Akhirnya beliau memutuskan membeli kopiah. Pilihannya yang berwarna hijau, karena itu yang termurah saat itu di emperan penjual kopiah. Usai membelinya dan masuk berziarah, sambil membaca Ya-Sin untuk dihadiahkan kepada shahibul maqam, ia menangisi kehidupannya yang penuh dengan ketidakmenentuan, mengecewakan orangtua, sering menghindar dari lingkungan yang terkadang mencemoohnya, “Kakak kakakmu semua sukses, ayahmu lulusan Makkah dan juga New York University. Kok anaknya centeng losmen…”

Dalam tangisan itu, hati beliau kembali berucap, “Wahai wali Allah, aku tamumu, aku membeli peci untuk beradab padamu, hamba yang shalih di sisi Allâh, pastilah kau dermawan dan memuliakan tamu, aku lapar dan tak cukup ongkos pulang.”

Saat itu, tiba tiba datang serombongan kawannya di pesantren Habib Umar bin Abdurrahman Assegaf. Tampak mereka senang berjumpa dengannya. Ia pun ditraktir makan. “Saya langsung teringat, ini berkah saya beradab di makam wali Allâh,” ujar beliau.

Begitulah sepenggalnya, dan lihatlah beliau, beliau habib Munzir namanya berkibar diantara para pembela Rosululloh saw, majelis beliau ada diberbagai daerah di Indonesia, Beliau diangkat ke tempat tertinggi karena ketulusan dan penghormatan beliau kepada kekasih Allah.

Dan juga salah satu artikel mengapa makam Ir Sukarno banyak dikunjungi orang hingga sekarang, Dulu, ketika Presiden pertama Negara Republik Indonesia itu mengunjungi Arab Saudi, ia berjalan di Kota Madinah bersama Raja Saudi. Waktu itu Bung Karno bertanya: “Di mana makamnya Rasulullah Saw. wahai Raja?”

Raja Saudi menjawabnya: “Oh itu makam Rasulullah Saw. sudah terlihat dari sini.”

Maka saat itu juga Presiden Ir. Soekarno melepaskan atribut-atribut pangkat kenegaraanya. Raja Saudi pun menjadi heran, lalu bertanya: “Kenapa Anda melepaskan itu semua?”

“Yang ada di sana itu Rasulullah Saw., pangkatnya jauh lebih tinggi dari kita, aku dan dirimu,” jawab Bung Karno.

Lantas Bung Karno berjalan merangkak sampai ke makamnya Baginda Nabi Agung Muhammad Saw.

Cerita ini disampaikan oleh Sayyid Husein Muthahar yang banyak menciptaan lagu-lagu perjuangan seperti ‘Hari Kemerdekaan’ 17 Agustus tahun 45, Hymne Pramuka, Syukur, dll. Beliaulah yang saat itu ikut bersama Bung Karno. (Sumber: Ust. Jeje Nurjaman dari Ceramah al-Habib Abubakar bin Hasan Alattas az-Zabidi, salah seorang habib yang bersahabat dekat dengan Gus Dur).

Mari kita memahami dan bersama untuk belajar Adab dalam berziarah kepada kekasih Allah.

Ibn Hajar al-Haythami, didalam bukunya, Al-fatawa al-Hadithiyya, “Abu Sa’id Abdulllah ibn Abi ‘Asran, Imam sekolah Shafi’I, berkata, ‘Ketika aku mencari pengetahuan surgawi, aku menemani kawan ku, Ibn as-Saqa, siswa di sekolah Nizamiya, kami seringkali berkunjung ke orang alim. Kami dengar bahwa di Baghdad, ada seseorang bernama Yusuf al-Hamadani yang dikenal sebagai al-Ghawth, dan ia bisa hadir dan menghilang kapanpun ia suka. Sehingga aku memutuskan untuk mengunjunginya bersama Ibn as-Saqa dan Shaykh Abdul Qadir al-Jilani, yang saat itu masih muda.

Ibn as-Saqa berkata, ‘ketika kami bertemu dengan Shaykh Yusuf a;-Humadani aku bermaksud menanyakan hal yang tidak ia ketahui.’ Aku berkata, ‘Aku juga akan bertanya dan lihat nanti apa yang di katakan.’ Shaykh ‘Abdul Qadir al-Jilani berkata, ‘O Allah, lindungi aku karena akan bertanya pada seorang wali seperti Yusuf Hamadani, tetapi aku akan datang kepadanya untuk meminta do’a dan pengetahuan Ilahiyahnya.’

“Kami memasuki perkumpulan tersebut. Ia menyelubungi dirinya dari kami sehingga kami tidak melihatnya sampai lewat 1 jam lebih. Ia berpaling marah ke arah Ibn as-Saqa dan berkata, tanpa diberitahu namanya, ‘O Ibn as-Saqa, beraninya kau bertanya padahal maksudmu adalah agar aku bingung?’ Pertanyaanmu adalah ini dan jawabannya adalah ini!’ Kemudian in berkata pada Ibn as-Saqa, ‘Aku melihat api kufr (ketidakpercayaan) membara di hatimu.’ Ia melihatku dan berkata, ‘O ‘Abdallah, apa kau bertanya dan menunggu jawaban? Pertanyaanmu adalah ini dan jawabannya adalah ini.

Biarkan orang bersedih melihatmu karena mereka meruigi akibat rasa tidak hormatmu kepadaku.’ Kemudian ia menoleh kearah Shaykh ‘Abdul Qadir al-Jilani dan berkata kepadanya, ‘Mendekatlah, anakku. Aku akan memberkatimu. ‘O ‘Abdul Qadir, kau telah memuaskan Allah dan NabiNya dengan adab yang tepat kepadaku. Di masa depan, aku melihatmu duduk di tempat tinggi di Baghdad, berbicara, memandu mereka dan kakimu berada di leher setiap wali. Aku juga melihat setiap wali  di jamanmu itu menunduk kearahmu karena kehormatan dan maqammu yang tinggi.”

Ibn hajar al-Haythami melanjutkan, “’Abdul qadir telah diangkat dan semua yang dikatakan shaykh al-Hamadani tentang dirinya terjadi. Ada suatu saat ketika ia berkata, ‘Kakiku berada di leher para awliya’. Ia juga menjadi referensi dan mercusuar yang memandu semua orang kepada tujuannya.”

“Ibn as-Saqa berbeda dalam takdirnya. Ia jenius dalam pengetahuan ilmu Islam dan lebih unggul dibandingkan murid-murid lainnya. Seringkali ia mengungguli perdebatan yang terjadi antar murid sehingga khalif memintanya untuk duduk sebagai anggota peradilannya. Suatu haru, khalifnya mengutusnya menghadap Raja Byzantium, yang telah mengumpulkan semua pendeta dan akademisi Kristiani untuk berdebat dengannya. Ibn as-Saqa mengungguli mereka semua dalam perdebatan dan tidak berdaya memberikan jawaban. Ia memberikan jawaban yang membuat mereka seperti muridnya.

“Kecerdasannya membuat Raja Byzantium kagum sehingga mengundangnya ke perkumpulan keluarga. Disitulah Ibn as-Saqa’s kasmaran dengan anak perempuan Raja, jatuh cinta dan melamarnya. Anak perempuan sang raja menolak kecuali ia pindah agama. Ia bersedia meninggalkan islam tapi setelah menikah jatuh sakit hingga dibuang keluar istana. Ia menjadi pengemis ynag meminta maknan tapi tak ada yang peduli. Kegelapan datang padanya.

“Suatu hari seseorang yang mengenalnya bertanya, ‘Apa yang terjadi denganmu?’ Ia menjawab, ‘Ada godaan yang tak bisa kuhindari.’ Orang itu kembali betanya, ‘Apa kau tidak ingat apapun tentang Qur’an?’ ia menjawab, ‘Aku hanya ingat ‘rubbama yawaddu-I-ladheena kafaru law kanu muslimeen (‘lagi dan lagi siapapun yang tidak beriman akan menyesal mereka bukan muslims’ [12:2]).

“’Tubuhnya bergetar seperti akan menarik nafas terakhir. Aku menghadapkannya ke arah Kabah (Barat), tetapi ia tetap menghadap ke timur. Ku hadapkan lagi kearah Kabah dan ia memutar dirinya lagi ke arah Timur. Kemudian, sementara ruhnya mulai keluar, ia berkata, ‘O Allah ini akibat dari ketidakhormatanku kepada GhawthsMu, Yusuf al-Hamadani.’”

Imam Haythami melanjutkan: “Ibn ‘Asran  berkata, ‘Aku pergi ke Damascus bertemu Raja Nuridin ash-Shaheed, ia mengangkatku untuk memimpin department urusan agama dan aku menerimanya. Akibatnya kehidupan duniawi datang dari semua sisi: provisi,hidangan, ketenangan, uang, posisi seumur hidup. Itulah yang telah diprediksikan untukku oleh Ghawts Yusuf al-Hamadani.’”

Semoga Bermanfaat !!!

 

 

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *