zuhud

Jadikanlah Dunia di Tangan Kami, Bukan di Hati Kami

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidaklah kamu memahaminya!” (Qs. 6:32)

“Demi Allah, bukan kemiskinan yang saya khawatirkan atas kamu, tetapi saya khawatir kalau terhampar luas bagimu dunia ini, sebagaimana telah terhampar pada orang-orang sebelummu. Lalu kamu berlomba-lomba, sehingga membinasakanmu sebagaimana membinasakan mereka.” (HR. Bukhari-Muslim)
“Zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah akan mencintaimu dan zuhudlah terhadap apa yang dimiliki orang lain, niscaya manusia mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah)

“Tidaklah dunia ini dibanding akhirat kecuali seperti sesuatu yang apabila salah seorang diantarta kamu memasukkan jarinya ke dalam sungai, maka lihatlah apa yang tersisa ketika mengeluarkannya?” (HR. Muslim)

“Zuhud itu adalah menjadikan dunia di tangan, bukan di hati.” (Ali bin Abi Thalib)

Doa Abu Bakar ra: “Jadikanlah kami kaum yang memegang dunia dengan tangan kami bukan hati kami.”

Dan do’a sahabat Umar bin Khattab: “Ya Allah, tempatkanlah dunia dalam genggaman tangan kami dan jangan kau tempatkan dia di lubuk hati kami.”

Suatu ketika Ibnu Abbas ra. ditanya: “Bagaimana dengan orang yang memiliki harta sebesar 12.000 dinar?” Beliau menjawab: “Ia masih tetap zuhud, selama tidak sibuk dengan dunia.”

Salman al-Farisi ra. pernah meminta nasihat kepada Abu Bakar ra. Maka Abu Bakar berkata: “Allah telah membukakan dunia untuk kalian, tapi janganlah kalian ambil kecuali secukupnya saja.”
Pernah ditanyakan kepada Abu Hazim az-Zahid, “Apakah yang tuan miliki saat ini?” Beliau berkata: “Dua kekayaan, yang aku tidak takut miskin selama keduanya berada di sampingku, yakni yakin kepada Allah dan putus asa dari apa yang ada pada manusia.” Lalu ditanya lagi” “Tidakkah tuan takut miskin?” Beliau menjawab: “Apakah aku takut miskin, padahal Tuhan pelindungku yang memiliki seluruh isi langit dan bumi serta segala sesuatu yang ada diantaranya?”

Fudhail berkata: “Pokok zuhud adalah ridha Allah swt. Orang yang menerima apa adanya, dialah orang yang zuhud dan dialah yang patut dikatakan orang kaya.”

Ibrahim bin Adham berkata: “Zuhud diklarifikasikan menjadi tiga macam: zuhud fardhu, zuhud sebagai keutamaan dab zuhud sebagai keselamatan. Zuhud fardhu adalah zuhud terhadap perkara haram, zuhud sebagai keutamaan ialah zuhud terhadap perkara halal dan zuhud sebagai keselamatan ialah zuhud dalam perkara syubhat.”

Hasan al-Bashri berkata: “Aku bertemu dengan banyak kaum dan bergaul dengan banyak golongan. Mereka tidak tertarik dengan kemewahan dunia yang semu dan tidak pula sedih atau kecewa atas menjauhnya kenikmatan dunia darinya. Dunia dimatanya adalah tidak lebih derajatnya dari debu. Ada diantara mereka yang bertahan hingga menjelang usia senja, tetapi tidak pernah memiliki sepotong baju utuh untuk melindungi tubuhnya, tidak juga perabot rumah tangga yang paling murah sekalipun. bahkan tempat tinggalnya beralaskan tanah beratapkan langit, bila malam menjelang. mereka berdiri di atas kakai-kaki telanjang. Air mata jatuh membasahi pipi-pipinya, dengan bermunajat kepada Tuhan agar membebaskan leher-lehernya dari jeratan api neraka. Jika mereka melakukan amal kebaikan, biasanya bersyukur dan tiada henti-hentinya memohon kepada Allah swt. agar menerima amalan itu. Andaikata mereka telah melakukan perbuatan yang salah, dengan penuh penyesalan mereka meratapi diri dari dosanya dan memohon ampunan-Nya. Demikianlah pemandangan yang sering terjadi di dalam kehidupan orang-orang yang shaleh dan mahabbatullah swt. Demi Allah, mereka tidak akan terbebas dan selamat dari perbuatan dosa melainkan dengan ampunan-Nya. Semoga rahmat dan ridha Allah meliputi mereka.”

diambil dari : https://www.facebook.com/tarekat.khalwatiyahsamman/posts/399763066832760?stream_ref=10

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *