Bakti kepada Guru

Pemahaman bisa muncul terpancing dari apapun, berkembang dan berkembang. Bisa jadi pemahaman hari ini berbeda dengan masa lalu dan bisa juga tetap, pemahaman esokpun juga, siapa yang bisa mengerti? Apalagi kejadian di masa depan. Karena itu menghakimi seseorang sungguh tak pantas. Bahkan bisa jadi di akhirat kelak sangat jauh dari pemahaman kita saat ini?

Kita lebih baik dari orang lain? itukan pemikiran kita sendiri. Alloh?

Siapa yang dapat memaksakan kehendaknya kepada Alloh?

Mungkin perkataan ini harus belajar kita implikasikan “Ya Alloh, Aku serahkan kehidupanku, kematianku, setelah kematianku, usahaku, doaku, soal-soal dan jawaban-jawaban, aku serahkan semua kepada MU, ya Alloh”

BTW

Apakah bakti kepada guru itu?

dahulu pemahaman saya bakti = taat, tapi apa benar? sering kagak, kita menuruti perintah guru kita dengan menggerutu? iya sih kita melaksanakan semua perintahnya, tapi hati ini “berlipet-lipet”, mukanya “ditekuk-tekuk”, terpaksa banget. kemudian apakah ini bakti? Misalkan kita yang jadi Guru (Ortu) trus kita memerintahkan sesuatu, dan kita ketahui ia melakukannya dengan menggerutu, apakah itu menyenangkan kita?

Apa yang kita inginkan? masa lalu, masa sekarang, masa depan?

bakti = tidak menyakiti, pemahaman dan pemikiran serta ilmu masing-masing orang berbeda. Bahkan dizaman dahulu juga begitu, Imam Syafi’i Murid Imam Maliki, Imam Hambali murid Imam Syafi’i. Beliau-beliau punya madzhab sendiri-sendiri, kemudian apakah berarti mereka orang durhaka? Mereka saling menghormati, saling menghargai. Terkadang sikap atau perbuatan kita tidak sesuai dengan guru kita, yang harus kita lakukan adalah bagaimana agar tidak menyakiti hatinya.

Guru sebagai manusia biasa, dapat juga memberikan perintah “salah”. salah menurut kita, benar menurutnya, menurut Alloh? Konflik batin seperti ini gak jarang terjadi. Bagaimana sikap kita? timbangan apa yang pantas kita gunakan? mungkin ajaran yang kita peroleh “bila perintah itu bertentangan dengan syariat agama, maka jangan ikuti. bila berkaitan dengan masalah mubah, maka ikuti” dengan catatan “lakukan dengan cara yang lembut untuk menjaga perasaannya”

kalimat dahsyat yang baru menyentil, “bakti, dedikasi untuk guru adalah bagaimana hati ini bersambung dengan hati beliau, hati kita bersatu dengan beliau, kita sangat memahami, mempercayai, mencintai beliau, All about dia. bakti bukan hanya berbicara mengenai bagaimana mentaati perintah, bahkan lebih jauh lagi, dengan tenggelamnya hati ini kedalam hati sang guru, maka kita melaksanakan perintah beliau dengan cara terbaik, dengan hasil terbaik dan itu sebelum perintah itu dilontarkan kepada kita”

Bila hal ini dipahami, maka bisa jadi dipermukaan terlihat bertentangan, tetapi di dalam, di akhir adalah sama.

pipa jalan air bisa jadi bermacam-macam di tiap-tiap bagian, tetapi tetap mengalirkan air yang sama.

Alloh A’lam.

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *