belajar

25 Februari 2012 Burton, Michigan‬

Shuhbah setelah `Isya di Masjid As-Siddiq‬
‪‬
A`uudzu billahi min asy-Syaythaani ‘r-rajiim.
Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Rahiim.
Nawaytu ‘l-arba`iin, nawaytu ‘l-`itikaaf, nawaytu ‘l-khalwah, nawaytu ‘l-`uzlah, nawaytu ‘r-riyaadhah, nawaytu ‘s-suluuk, lillahi ta`ala fii haadza ‘l-masjid.
Buku adalah cara untuk belajar; tanpa buku kita tidak tahu apa-apa. Kalian mungkin bertanya, mengapa engkau mengubah posisi, ketika sebelumnya kita biasa mengatakan ‘ilmu datang melalui kalbu’ dan kini kita mengatakan bahwa kita memerlukan buku?” Karena, dan saya bicara kepada umat Muslim secara umum, banyak Muslim yang tidak membaca. Ada empat kelompok: Muslim yang tidak membaca, Muslim yang membaca, Muslim yang berbasis di tarekat yang terhormat dan mulia (Aliran Sufi) dan membaca, dan sebagian orang di tarekat yang mengatakan mereka tidak perlu membaca. Tidak semua orang sama; sebagian orang belajar dengan membaca dan bagi sebagian Allah (swt) ingin mengungkapkan melalui kalbu mereka, sehingga mereka tidak perlu membaca. Secara umum, mereka yang tidak perlu membaca adalah awliya dan orang-orang biasa seperti kita memerlukan buku. Kalian mungkin mengatakan, “Aku mengikuti aliran Sufi yang mengajarkan tentang Ihsan.” Ketika Sayyidina Jibril (a) bertanya kepada Nabi (s), “Apa itu Ihsan?” beliau memberi penjelasan tentang Keadaan dari Kesempurnaan, tetapi bahkan ketika kalian mencapai Ihsan, kalian masih memerlukan buku, bukan? Tidak ada yang bisa hidup tanpa buku: seorang dokter tidak bisa menjadi dokter jika dia tidak membaca buku dan seorang Muslim tidak bisa menjadi Muslim jika dia tidak membaca buku. Karenanya, buku itu penting, terutama bagi mereka yang mengatakan, “Kami mendapat inspirasi ketika kami bicara.” Jika itu kasusnya, maka bagaimana dengan Buku yang Allah (swt) turunkan kepada Nabi (s)?‪
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمـَنِ الرَّحِيمِ
‪الم ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ‬
Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Rahiim.
Alif. Laam. Miim. Dzalika ‘l-kitaabu laa rayba fiihi hudan li ’l-muttaqiin.
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Alif. Laam. Miim. Inilah al-Kitab; di dalamnya terdapat petunjuk yang tidak disangsikan kebenarannya bagi orang-orang yang bertakwa. (Surat al-Baqarah, 2:1-2)
Dalam ayat itu Allah (swt) menyebut al-Qur’an sebagai al-Kitab, atau “Buku”, jadi bagaimana kalian berani mengatakan bahwa kalian tidak memerlukan buku! Lalu mereka duduk dan mulai pamer dengan bicara. Allah (swt) menurunkan satu-satunya dan Kitab yang sesungguhnya, yakni Al-Qur’an, kepada Nabi (s). Ini tidak berlaku bagi seluruh umat Muslim, tapi sebagian. Saya terutama mengacu pada kelompok kita, mengatakan kepada Ahl at-Tasawwuf, orang-orang tasawuf, bahwa buku itu penting agar kalian dapat belajar.
Saya bicara kepada mereka yang menyebut diri mereka pengikut Mawlana Syekh. Jika Mawlana tidak memerlukan buku, mengapa rumahnya penuh buku? Beliau tidak saja memiliki buku-buku berbahasa Arab, tetapi juga berbahasa Inggris, Jerman dan Spanyol.
Kuliahnya telah diterjemahkan ke ratusan bahasa. Jika buku tidak penting, mengapa ajaran-ajaran ini harus diterjemahkan? Jika buku tidak penting, mengapa rak buku dan lemarinya penuh buku-buku tua dan manuskrip, serta ratusan catatan dari semua shuhbah Grandsyekh `AbdAllah al-Fa’iz ad-Daghestani (q) yang ditulis tangan oleh Mawlana. Kalian bisa menemukan ratusan buku ajaran Grandsyekh (q) yang akan dibaca Mawlana Syekh dari waktu ke waktu. Jadi jangan mengatakan, “Mengapa kita harus punya buku?” Mengapa kita memerlukan buku? Ini adalah buku; menurut kalian mengapa kita memerlukannya?‪
اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ‬
Allaahu nazzala ahsana ‘l-hadiitsi kitaaban mutasyaabihan matsaaniya taqsya`irru minhu juluudu ’Lladziina yakhsyawna rabbahum.
Allah telah menurunkan (dari waktu ke waktu) pesan paling indah dalam bentuk kitab yang sama tinggi nilainya, (namun) mengulang (ajarannya dalam berbagai aspek), membuat gemetar hati orang-orang yang takut kepada Tuhannya. (Surat az-Zumar, 39:23)
Allaahu nazzala ahsana ‘l-hadiitsi kitaaban, “Allah telah menurunkan kepada manusia hadiits, perkataan terbaik, di dalam kitaaban, sebuah buku,” taqsya`irru minhu juluudu ’Lladziina yakhshawna rabbahum, “di mana ketika mereka membacanya, mereka merasa gemetar,” yang artinya mereka yang menghafal atau bisa menjelaskan Kitab Suci Al-Quran. Jadi kita harus mengatakan bahwa kita memerlukan buku! Buku ini adalah At-Tibyaan fii Adab Hamalat al-Qur’an, Untuk Menjelaskan Klarifikasi dan Penghargaan atas Mereka yang Membawa al-Quran, oleh Imam an-Nawawi asy-Syafi`i, penulis Riyaad ash-Shaalihiin, Taman Orang-Oang yang Saleh. Saya membawanya ke sini terutama untuk menunjukkan disiplin/adab antara murid dan guru, dan bukan hanya di dalam tarekat. Dua hari yang lalu kita dengar di internet (dan kita akan melihat videonya segera, insya Allah), Mawlana mengatakan dalam instruksinya, “Kita mengikuti Syari`ah.” Kita mengikuti Syari`ah, yang menyatakan bahwa kalian harus mengikuti arti apa pun yang Allah (swt) perintahkan kepada Nabi (s) untuk diberikan kepada umat. Inilah Syari`ah!
‪وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا‬
Wa maa ataakumu ’r-rasuulu fakhudzuuhu wa maa nahaakum `anhu fantahuu.
Tinggalkan apa yang dilarang Nabi (s) dan terimalah apa yang diperintahkan. (Surat al-Hasyr, 59:7)
Apa pun yang diberikan Nabi (s) terimalah, dan apa pun yang dilarangnya, tinggalkan. Karena itu, kita harus mengikuti apa yang beliau perintahkan. Ini artinya tidak saja orang-orang tarekat harus menghargai antara murid dan guru, tetapi juga guru-guru ilmu zahir, yakni pengetahuan fisik. Ada zahir, pengetahuan fisik yang bisa kalian bagi dengan semua orang, pengetahuan umum, dan juga ada batin, pengetahuan tersembunyi, realitas atau interpretasi ayat-ayat suci al-Quran, yang tidak dapat kalian ungkapkan kecuali ke beberapa orang. Kedua pengetahuan tersebut memerintahkan kalian untuk memiliki disiplin antara murid dan guru.
Saya membawa ilmu ini karena banyak orang berpikir bahwa hanya orang-orang tarekat yang menghargai syuyukh mereka, tetapi dalam kenyataannya ini tidak benar karena baik orang-orang tarekat maupun non-tarekat harus menghargai ajaran syuyukh mereka. Ini benar dari kedua sisi, dari ilmu zahir, pengetahuan normal dan dalam tarekat. Kalian harus menghargai Syekh Sufi sebagai guru, wa min al-adaab bayn al-muriidi wasy-syaykh, berkenaan dengan adab antara murid dan syekh. Saya akan menjelaskan apa yang Imam an-Nawawi (r) jelaskan dalam bukunya At-Tibyaan fii Adab Hamalat al-Qur’an, untuk mengajarkan kalian adab yang baik ketika berada di hadapan syekh. Itu untuk zahir dan bukan untuk awliyaullah, karena kalian harus jauh lebih hati-hati dalam setiap gerakan yang kalian lakukan di hadapan mereka.
Bahkan jika seorang guru bukan wali, ketika dia mengatakan sesuatu artinya kalian harus mengikutinya. Kalian tidak bisa mengatakan kepada guru itu di dalam kelas, “Yang engkau katakan salah,” atau kalian akan mendapat nilai buruk. Apa pun yang yang dia katakan, kalian harus menerimanya atau gagal di kelas itu; kalian tidak bisa mengatakan, “Tidak.” Dia menjelaskan pelajarannya dan hari berikutnya kalian mendapat tes dan kalian harus menjelaskan apa yang yang dia katakan, kalau tidak kalian mendapat nilai ‘F’. Tetapi karena awliyaullah berhati besar, mereka berusaha untuk menutupi kesalahan para pengikutnya. Namun, jika seseorang melewati batas pada titik tertentu, syekh itu mengatakan, “Sudah cukup! Aku tidak mau orang semacam itu hadir di area ini. Pergi!” Mereka harus menuruti perintah itu dan pergi.
Jadi apa yang Imam Nawawi (r), yang berasal dari aliran Syafi’i, katakan? Salah satu murid Imam as-Syafi’i, ar-Rabi, mengatakan, “Rahimahullah, masytardtu an asyrab al-maa wa wa asy-Syafi`ii yandzuru ilaya, aku tidak berani minum air di depan Imam Syafi’i ketika dia sedang memandangku karena aku menghargainya.” Dia bahkan tidak minum air, dan di sini mereka duduk bersama Mawlana Syekh, wali dan Sultan al-Awliya dan mereka mungkin tidak berwudu! Orang-orang minum, bicara dan bersosialisasi sementara syekhnya duduk dan mendengarkan. Berapa banyak beban yang datang padanya, sementara ar-Rabi mengatakan, “Aku tidak berani minum air di depannya.” Bagaimana kalian bisa membandingkan situasinya jika tidak mempunyai buku untuk belajar? Jika kalian tidak tahu bagaimana generasi sebelumnya bersikap kepada syuyukh mereka, bagaimana kalian akan belajar cara bersikap kepada syekh kalian? Karena itu buku penting bagi kita dan kita harus membaca dan belajar apa yang telah mereka lakukan sebelum kita, jadi kita bisa mengikutinya.‪
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ‬
Qul in kuntum tuhibbuuna ‘Llaaha fattabi`uunii yuhbibkumullaahu wa yaghfir lakum dzunuubakum w ‘Allaahu Ghafuuru ‘r-Rahiim.
Katakanlah (hai Muhammad), “Jika kamu (sungguh) mencintai Allah, maka ikutilah aku! Allah akan mengasihimu dan mengampuni dosa-dosamu, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Surat Aali-`Imraan, 3:31)
Mereka mengikuti Rasulullah (s) dan masyaikh. Berapa banyak orang yang duduk di depan syekh seakan-akan mereka keluarganya? Anggota keluarga syekh punya hak untuk melakukan apa pun di depan ayah mereka karena hal itu normal dan bisa diterima, tetapi ini tidak benar bagi murid biasa, yang diharuskan duduk dengan adab di hadapan syekhnya. Lebih jauh lagi, kalian harus memiliki disiplin dan tidak meninggikan suara kalian, baik pria ataupun wanita. Jika kita tidak menjaga prinsip-prinsip ini dan masalah-masalah kecil, bagaimana kita bisa mengatasi masalah-masalah besar? Itu diriwayatkan oleh Penghulu Kaum Beriman, “Sayyidina Ali (r ), dan saya sudah sering mendengarnya dari Grandsyekh, semoga Allah merahmatinya. Zawiya Grandsyekh kira-kira sebesar ini dan di sisi-sisinya terdapat bantalan-bantalan seperti ini tempat orang-orang duduk, tanpa percampuran antara pria dan wanita. Tidak ada wanita yang hadir karena mereka punya bagian sendiri; Syaria`ah mengatakan wanita dan pria harus terpisah. Wanita berkumpul setiap hari Senin, dan pria setiap hari Jumat. Untuk para wanita beliau memerintahkan Hajah Anne (q), istri Mawlana Syekh Nazim (q), ibu Hajah Naziha, untuk membaca zikir di rumahnya.
Bahkan Mawlana Syekh tidak diizinkan berada di rumah selama zikir; jika ada di rumah, beliau harus tetap berada di lantai atas, di area pribadinya selama tiga jam, duduk sampai para wanita selesai zikir, makan dan pergi, dan setelah itu barulah beliau diizinkan untuk turun. Di mana Syari`ah sekarang ini? Prinsip-prinsip ini adalah masalah-masalah kecil dan Mawlana membawa begitu banyak kesulitan dari mereka yang tidak mengerti hidupnya bersama Mawlana Syekh `AbdAllah (q). Mereka pikir mereka sangat dekat dengan syekh! Mereka tidak menjaga Syari`ah, dan Mawlana memberi instruksi pada hari Jumat, dua hari lalu, untuk memastikan orang-orang memahami bahwa mereka harus mengikuti Syari`ah sepenuhnya.
Saya mendengar dan menyaksikan Grandsyekh, semoga Allah memberkahinya, sering mengatakan dalam shuhbah-nya, “Ketika seseorang datang, jangan melihat ke sana karena dalam tarekat itu bertentangan dengan Syari`ah.” Kalian harus fokus hanya kepada Syekh, bukan kepada siapa yang datang dan siapa yang pergi; itu bukan urusan kita. Namun, sekarang tidak apa-apa karena kita sedang belajar. Dia mengatakan bahkan jika tidak ada shuhbah dan orang-orang hanya duduk, minum teh bersama syekh, jika syekh mengatakan sesuatu mereka mendengarkan dengan penuh penghargaan dan mereka tidak berhak melihat siapa pun yang datang karena fokus mereka adalah kepada syekh.
Jika seseorang masuk, dia mengucapkan “Assalamu’alaikum,” dalam hati agar tidak mengganggu majelis, lalu jika memungkinkan (jika ada jalan untuk dilewati) dia datang langsung kepada syekh untuk mencium tangannya, meskipun jika tidak melakukannya tidak apa-apa, dan dia mengucapkan “Assalamu’alaikum,” hanya kepada syekh, lalu dia mencari tempat duduk yang kosong dan duduk. Dia tidak datang dan mengucapkan, “Assalamu’alaikum,” kepada semua orang, hal itu mengganggu seluruh majelis! Sering terjadi bahwa orang-orang datang ketika syekh sedang duduk dan mereka bersalaman dengan semua orang, mengucapkan, “Apa kabar? Sudah lama tidak bertemu!” Syekh melihat siapa yang menjaga adab dan siapa yang tidak. Awliyaullah memiliki skala surgawi sendiri yang pernah saya lihat dan dengar. Juga, Grandsyekh (q) mengatakan, “Ketika aku memberi shuhbah, jangan turunkan tingkatnya. Bahkan jika kalian menggaruk kepala kalian, kekuatan shuhbah itu turun tujuh tingkatan.” Setan selalu datang ke dalam shuhbah untuk membuat sedikit rasa di sini dan di sana, mengganggu kalian sehingga kalian menggaruk dan bergerak. Kalian banyak melihat hal itu ketika orang sedang salat, meski saya tidak ingin menyebut siapa yang melakukannya! Terlalu sering kalian melihat mereka menggaruk, bergerak, dan menyisir janggut mereka! Kalian lihat itu? (Mawlana menyentuh janggutnya dan merapikan pakaiannya.) Mereka terlalu banyak bergerak, dan tiga harakat (gerakan) akan membatalkan salat.
Apa yang dikatakan oleh Sayyidina Ali ( r)? Min haqq al-`alim `alayk, “dari hak para alim terhadapmu,” an tusalimma `an an-naasi `amaatan wa tukhusahu duuna hum bi-t-tahiyyah, “kalian seharusnya mengatakan, ‘Assalamu’alaikum,’ kepada semua orang secara kolektif, tapi kalian memberi penghormatan khusus dan salam kepada guru atau ulama; kalian datang ke hadapannya dan memberi salam kepadanya saja, tidak kepada semua orang.” Imam an-Nawawi (r ) dalam bukunya menyebutkan bahwa hal itu didapat dari Sayyidina Ali (r ). Jadi kita memerlukan buku atau tidak? Ya! Buku ini menjelaskan cara berhubungan dengan guru kita. Ketika kalian duduk di depan Syekh, artinya kalian menghadapnya, seperti orang yang duduk paling jauh di belakang sana. Jika syekh menghadap ke arah sini, artinya bahwa di mana pun kalian menemukan tempat duduk, duduklah dan menghadapnya; jangan berikan punggung kalian kepadanya dan jangan duduk menyamping. Terlalu banyak orang duduk menyamping dan merentangkan kaki mereka yang bau ke depan wajah orang-orang! Itu semua tidak menghormati orang.
  1. Jangan menunjuk atau melambaikan tangan pada siapa pun jika ada syekh. Kadang-kadang kalian memerlukan sesuatu dari seseorang dan kalian melambai kepadanya, tetapi itu tidak diizinkan. Berapa sering kita melakukan itu? Setiap saat! Jadi apakah kita mempunyai disiplin? Kita berusaha, tetapi belum (mempunyai disiplin).
  2. Jangan mengedip kepada seseorang sebagai ucapan salam dalam majelis syekh.
  3. Laa taqulu fulaan qaala khilaafan li qawlik. Jika guru mengatakan sesuatu, jangan katakan kepadanya, karena hanya ulama yang bisa mengajarkan ulama lain, “Ulama ini mengatakan sesuatu yang berbeda dari yang engkau katakan.” Itu adalah penghinaan.
  4. wa laa taghtaab fii haadratihi abadan, “Dalam kehadirannya, jangan menggunjingkan orang lain.” Berapa banyak orang datang kepada syekh dan mengatakan, “Orang ini mengatakan ini, dan yang itu mengatakan itu.”
  5. Ketika kalian berada dalam perkumpulan semacam itu, jangan bicara kepada teman kalian tentang suatu masalah atau mendiskusikan sesuatu yang kalian butuhkan. Diamlah.
  6. Jangan memegangi jubah syekh ketika dia berdiri agar kalian bisa menciumnya untuk mendapat berkah. Jangan lakukan itu, tetapi hormati dan jagalah jarak kalian. Jika kalian melakukannya, rasa hormat semakin rendah. Jaga penghormatan kalian dengan penuh adab. Siapa yang melakukan itu sekarang?
  7. Wa laa tu`rad `anhu, dan jangan berpikir kalian sudah duduk terlalu lama dalam shuhbah-nya, bahwa itu sudah cukup; semakin lama kalian duduk, semakin baik.
Jadi inilah nasihat Sayyidina Ali (r) kepada para Sahabat (r), untuk mengajarkan mereka.
Insya Allah kita akan lanjutkan lain kali. Kita bacakan ini untuk menunjukkan betapa pentingnya menjalankan perintah syekh untuk menjaga Syari`ah. Salah satu poin Syari`ah yang diinstruksikan Mawlana untuk dijaga adalah untuk menghormati prinsip apa yang kita sebut mahram. Ketika seorang wanita ingin pergi haji, mereka menyuruhnya, “Bawa seorang mahram: ayah kalian, paman kalian, saudara laki-laki, atau saudara ipar laki-laki.” Orang-orang tersebut adalah mahram kalian, yang artinya seseorang yang tidak bisa kalian nikahi. Berkenaan dengan wilayah pribadi keluarga syekh, jangan melewatinya jika kalian bukan berasal dari keluarga asli karena itu bertentangan dengan Syari`ah. Itu disebut haram, artinya haram untuk memasuki tempat tinggal syekh di mana kalian dapat menjumpai istrinya, anak perempuannya, anak laki-laki dan istri mereka, serta seluruh keluarganya karena itu melampaui batas. Hati-hati jangan melampaui batas! Jangan bergabung dengan keluarganya karena kalian bukan keluarga! Apa yang Allah (swt) katakan tentang ini dalam al-Qur’an?
‪يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتَ النَّبِيِّ إِلَّا أَن يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَى طَعَامٍ غَيْرَ نَاظِرِينَ إِنَاهُ وَلَكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَادْخُلُوا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانتَشِرُوا وَلَا مُسْتَأْنِسِينَ لِحَدِيثٍ إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ يُؤْذِي النَّبِيَّ فَيَسْتَحْيِي مِنكُمْ وَاللَّهُ لَا يَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِن وَرَاء حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ وَمَا كَانَ لَكُمْ أَن تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا أَن تَنكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِن بَعْدِهِ أَبَدًا إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ عِندَ اللَّهِ عَظِيمًا‬
Yaa ayyuha ’Lladziina aamanuu laa tadkhuloo buyuut an-nabiyyi illa an yu’dzana lakum ilaa tha`amin ghayra nazhiriina inaahu wa laakin idzaa du`iitum fadkhuluu fa’idzaa tha`imtum fantashiruu wa laa mustaanisiina li-hadiitsin inna dzaalikum kaana yu’dzi ‘n-nabiyya fa-yastahiyy minkum wa Allahu laa yastahiy min al-haqqi wa idzaa sa’altumuuhunna mata`an fas’alzuuhunna min waraai hijaabin dzalikum ath-haru li-quluubikum wa quluubihinna wa maa kaana lakum an tu’dzuu rasuulallahi wa laa an tankihuu azwaajahu min ba`dihi abadan inna dzalikum kaana `indallahi `azhiiman.
Hai orang-orang beriman! Janganlah kamu memasuki rumah Nabi, kecuali jika kamu telah diizinkan (dijamu) untuk makan, jangan datang (terlalu awal) hingga harus menunggu masakan siap. Tapi apabila kamu diundang, masuklah (pada waktu yang sesuai), dan ketika sudah selesai makan, hendaklah kamu pergi, tanpa berlama-lama untuk berbincang-bincang, karena hal itu akan mengganggu Nabi, dan dia malu untuk memintamu pergi. Tapi Allah tidak malu mengajarkan apa yang benar. Dan jika Anda meminta sesuatu kepada istri-istri Nabi, hendaklah kamu meminta dari belakang tirai; Ini akan memperdalam kebersihan hatimu dan hati mereka. Dilarang bagimu untuk menyakiti hati Rasulullah dan dilarang pula menikahi istri-istrinya sesudah Nabi wafat. Sesungguhnya, perbuatan yang demikian besar sekali dosanya di sisi Allah! (Surat al-Ahzab, 33:53)
Sudah jelas: “Hai orang-orang beriman! Jangan memasuki rumah-rumah Nabi kecuali diizinkan.”Jangan pergi dan masuk sendiri, seperti sebagian orang, yang mengatakan, “Oh! Tidak apa-apa bercampur karena sekarang abad ke-21, tidak masalah.” Apa yang Allah katakan? “Hai orang-orang beriman! Jangan memasuki rumah-rumah Nabi sampai kamu diberi izin.” Jika kalian diberi izin tidak apa-apa; artinya Nabi memberi izin dan itu Syari`ah. Jadi itu artinya, “Kalian tidak diizinkan memasuki rumahku sampai aku mengizinkan.”Orang-orang sekarang terus datang, terutama di rumah syekh, karena mereka pikir itu tidak apa-apa, tetapi itu tidak boleh. Mungkin putrinya, atau cucu perempuannya, istrinya, saudarinya, bibinya atau neneknya sedang berbusana kurang pantas, jadi bagaimana kalian bisa masuk ke dalam? Bukan begitu? Bagaimana kalian bisa masuk tanpa diberi izin? Kalian melihat orang-orang datang dan pergi tanpa diberi izin, jadi Mawlana mengatakan, “Aku mengambil banyak dan memikul banyak beban dari kalian.
Hentikan!”Apa yang Allah (swt) katakan dalam Al-Qur’an? “Datanglah ketika diberi izin dan ketika kamu datang untuk jamuan, datanglah pada saat hidangan telah siap.” Memangnya siapa kalian untuk bersosialisasi? Bukan karena kalian tidak terhormat, tetapi Islam adalah Islam. Allah (swt) lalu mengatakan, “Dan jangan datang terlalu awal hingga harus menunggu hidangan disiapkan, tetapi ketika diundang, masuklah.” Sekarang ini setan mengatakan, “Bawa pembangkit selera, untuk memperpanjang waktu sosialisasimu.” Jika kalian perlu bersosialisasi, pergi dan lakukan dengan orang yang ingin kalian dekati, bukan di rumah syekh! “Tetapi ketika kamu diundang, masuklah, dan ketika sudah selesai makan, pergilah tanpa berbincang-bincang…” Jadi makan lalu pergi, jangan duduk dan bersosialisasi. Sekarang ini mereka duduk dan mengobrol. Sekarang ini semua mengobrol di Internet, “Aku mencintaimu dan kamu mencintaiku,” menyanyikan lagu-lagu dan saya tidak tahu apa lagi. Dalam Al-Qur’an dikatakan, “Perilaku seperti itu menggangu Nabi (s) dan beliau malu untuk menyuruhmu pergi, tetapi Allah tidak malu mengatakan kebenaran. Dan ketika kamu meminta sesuatu dari istri-istrinya, mintalah dari belakang tirai.” Ini artinya kalian harus meminta dari balik tirai, tidak berhadapan. Nabi (s) dan Allah (swt) tidak menyukai hal itu, jadi Islam tidak mengizinkan itu kecuali kalian diberi izin; maka itu dibolehkan dan kita tidak dapat ikut campur, tetapi jika izin itu tidak diberikan, jaga batasan kalian karena, “hal itu akan memperdalam kebersihan hati kalian dan hati mereka, dan tidak dibenarkan bagi kalian untuk mengganggu Rasulullah (s), atau menikahi janda-jandanya sesudah Nabi (s) wafat.
Sesungguhnya hal semacam itu besar sekali dosanya di sisi Allah. “Itulah disiplin, dan ayat Al-Qur’an ini menunjukkan kepada kita bahwa kita kurang disiplin dan kita perlu banyak belajar dari buku-buku Syari`ah, setidaknya untuk mengetahui disiplin. Dulu saya sering mengatakan mereka tidak memberi bay’at kepada siapa pun sampai mereka mempelajari Syari`ah. Grandsyekh (q) tidak memberi bay’at kepada siapa pun, kecuali dua orang, tetapi sekarang hal itu seperti menjual lobak. “Bay’at, bay’at!” Lebih baik memberi mereka lobak atau bit!
Sekarang ini, apa itu bay’at? “Letakkan tanganmu di tongkat dan berbay’at.” Apakah itu bay’at? Begitu sederhana, tetapi Mawlana memberinya secara luas di masa yang penuh kebodohan dan ketidakpedulian ini untuk menyebarkan rahmat dan berkah. Dalam setiap waktu, bay’at memiliki prinsip dan artinya sendiri, tetapi kita harus tahu bahwa kita perlu belajar. Ketika kalian sakit, mengapa kalian pergi ke dokter? Dia orang biasa seperti kalian dan saya, tetapi dia membaca buku-buku dari sini sampai ke atap untuk menjadi dokter dengan belajar! Kalian ingin menjadi syekh atau guru tetapi kalian tidak tahu apa pun dari Syari’ah, jadi didiklah diri kalian sendiri dan belajar. Sebuah ayat dalam Kitab Suci al-Qur’an mengatakan, “Iqra! Bacalah!”
‪اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ‬
Bismillahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim. Iqraa bismi rabbik alladzii khalaq.
Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. (Surat al-`Alaq, 96:1)
Allah (swt) mengatakan kepada Nabi (s), “Bacalah!” tetapi kita berkata, “Jangan membaca.” Siapa pun yang tidak membuka buku yang memberi penjelasan dari Syari`ah tidak berhak untuk masuk tarekat!
Wa min Allahi ‘t-tawfiiq, bi hurmati ‘l-habiib, bi hurmati ‘l-Fatihah.‪
Sumber : Sufilive
3 Maret 2012 Zawiyah Fenton, Michigan
‬‪
Shuhbah setelah Salaat adz-Dzuhr‬
‪(Lanjutan dari hari Sabtu, 25 Februari 2012)‬
‪‬‪‬‪
A`uudzu billahi min asy-Syaythaani ‘r-rajiim. Bismillahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim. Dastuur yaa Sayyidii, madad!
Dikatakan bahwa, ath-thariqatu kullaha aadaab, “Thariqah sepenuhnya berisi adab.” Mengapa orang-orang ingin mengikuti thariqah? Mengapa kalian ingin melakukan pekerjaan ekstra di samping kewajiban kalian? Allah (swt) memberi kalian lima salat harian, puasa di bulan Ramadan, Kalimat at-Tawhiid (Pernyataan Keimananan), zakaat dan Haji. Mengapa orang-orang ingin lebih dari itu? Mereka datang untuk menyempurnakan apa yang dibawa oleh Syari`ah, yaitu untuk mengangkat diri kalian; untuk belajar disiplin, sebagaimana dikatakan bahwa, “Orang-orang yang menginginkan perjalanan menuju Hadirat Ilahi harus mengikuti suatu jalan (thariqah).” ‬
‪‬‪
Jika kalian bepergian, kalian memerlukan petunjuk arah dan pastikan jika kalian berada di jalan yang benar, tetapi jika kalian tidak mempunyai petunjuk arah, kalian akan tersesat. Sama halnya, jika kalian tidak mempunyai seorang pemandu yang dapat memberi arahan kepada kalian di dalam perjalanan kalian, kalian akan tersesat, dan banyak sekali orang-orang yang telah tersesat! Namun demikian, ketika kita mempelajari secara mendetail bagaimana cara mendekati sesuatu dan disertai disiplin, maka kita tidak akan kehilangan atau keluar dari jalan kita, yang telah diberikan kepada kita untuk digunakan agar kita dapat mencapai tujuan kita. Jadi di sana ada jalan raya, dan kembali ke rute semula tidak dianjurkan, apa yang kita sebut di dalam Syari`ah “rukhsah,” yaitu, untuk mengikuti jalan yang ringan tetapi diperbolehkan.‬
‪‬‪
Tetapi di sana ada al-aziimah, tingkat tinggi, yang mengajarkan kalian agar mempunyai disiplin, bukan hanya terhadap kewajiban kalian, salat dan seterusnya, tetapi di dalam setiap bagian dari kehidupan kalian. Bahkan di rumah, di antara anggota keluarga, kalian harus mempunyai disiplin, bukannya berpikir bahwa kalian adalah kaisar di rumah itu dan yang lainnya adalah budak-budak kalian, itu bukan disiplin. Disiplin adalah untuk mengetahui batas-batas kalian. Itulah sebabnya mengapa para awliyaullah berkata, ath-thariqatu kullahaa adaab, “thariqah sepenuhnya berisi adab”, jadi jika kalian memilih jalannya para awliya, semuanya berisi disiplin, yang artinya kalian harus selalu menjaga batas-batas kalian dan mengetahui dari mana kalian memperoleh agama kalian.‬
‪‬‪
Setelah Nabi (s) membangun struktur Islam, kelima rukun, beliau membawa para Sahaabah (r) ke dalam perjalanan menuju kesempurnaan, ihsaan. Ketika mereka bertanya kepada Nabi (s), “Apakah ihsaan, yaa Rasuulullah?” Beliau menjawab, “Itu merupakan kesempurnaan moral tertinggi.” Ketika kalian mencapai level itu, kalian akan mengerti bahwa kalian tidak dapat melakukan sesuatu tanpa mengetahui bahwa Allah (swt) sedang melihat kalian.‬
‪‬‪Di antara para Sahaabah (r), Nabi (s) memilih orang-orang yang tepat dan memberi mereka apa yang mereka perlukan untuk mengajarkan para Sahaabah (r) lainnya, yang kemudian mengajarkannya kepada generasi berikutnya, yaitu: al-A’immat, at-Tabi`iin, dan kemudian at-Tabi`at-Tabi`iin. Para pengikut mempelajari dari orang-orang sebelum mereka, jadi kalian harus tahu dari siapa kalian mempelajari agama kalian.‬
‪‬‪
Dikatakan oleh Imam Malik (r) dan Imam Ibn Siriin (r) dan banyak lagi dari para pendahulu, hadza `ilmu diinu, “Ilmu ini adalah agama,” artinya, ketika kalian datang ke lingkaran semacam itu (majelis ilmu), ini adalah agama; itu bukanlah tempat untuk bermain-main! Kalian datang ke sini untuk mengisi kalbu kalian dengan spiritualitas. Fanzhuru mimman ta’khuudzuuna diinukum, “Jadi lihatlah darimana kalian mengambil agama kalian.” Itu artinya kalian harus tahu siapa guru yang tepat, orang yang telah menyempurnakan karakternya dan yang dapat dengan mudah kalian kenali dengan melihat penampilan luarnya; karakternya menunjukkan orang macam apa dia.‬
‪‬‪
Serupa dengan hal itu, karakter kita menunjukkan orang macam apa diri kita. Dari hubungan kalian dengan satu sama lain, kalian dapat mengerti orang macam apa kalian. Sedangkan untuk guru, kalian dapat memahaminya dengan melihatnya dalam hal kesempurnaan pengetahuannya tentang Syari`ah dan pemahaman Qur’an dan hadits. Kalian tidak boleh mengambil orang secara sembarangan, lalu mengatakan, “Aku mengikuti orang ini,” karena seberapa jauh ia dapat membawa kalian? Wa `alayhi tahaqqaq, “Dan kalian harus bersikap realistis dan yakin tentang ilmunya.” Ilmunya harus lebih tinggi daripada yang lain. Kalian juga harus selalu ingat bahwa di dalam pertemuan itu, barangkali ia adalah orang dengan ilmu tertinggi, jadi kalian ikuti instruksinya. ‬
‪‬‪
Di dalam pertemuan para syekh, perhatikanlah orang yang lebih tinggi daripada kalian dan yang lainnya, hal ini mudah untuk dilakukan. Kalian harus melihat pada ilmunya: apakah ia berbicara pada level yang sama dengan syekh-syekh lainnya, atau dalam tingkat yang lebih tinggi? Jika ia mempunyai tingkat yang lebih tinggi, maka kalian harus belajar lebih banyak darinya. Jika syekh itu tidak mengajari kalian tentang disiplin, tetapi hanya mengajari cara salat, puasa, dan seterusnya, ketahuilah bahwa kalian dapat mempelajarinya dari seseorang yang bahkan bukan seorang syekh! Syekh harus mengajari kalian tentang disiplin, yang penting di dalam Syari`ah. Ath-thariqatu kullaha aadaab, “Tarekat sepenuhnya berisi adab atau disiplin.”
‪‬‪Sebuah contoh, misalnya jika kalian berlatih untuk menjadi seorang duta besar atau perdana menteri, kalian akan pergi ke sekolah protokol di mana mereka akan mengajari kalian bagaimana cara berpakaian, berbicara, berjalan; kalau tidak, orang akan melihat kalian tidak mempunyai disiplin, dan berkata, “Orang itu tidak mengerti protokol.” Oleh sebab itu, mereka mengajari kalian etika makan, sehingga ketika kalian duduk di hadapan orang-orang penting, mungkin perdana menteri, presiden atau raja, kalian tahu kapan untuk mulai makan dan berhati-hati dengan tangan kalian, tidak meletakkan semuanya di piring, untuk menunjukkan bahwa kalian mengerti protokolnya.‬
‪‬‪Bayangkan, jika itu untuk seorang raja atau perdana menteri di dunia, bagaimana dengan Raja yang sesungguhnya, yaitu Sayyidina Muhammad (s)? Lihatlah berapa banyak kesalahan yang telah kita perbuat! Kita tidak mempunyai adab yang baik, kita ingin melompat ke atas meja, pertama untuk mengambil makanan dan kita ingin dihormati dan duduk di meja itu. Sebagian orang akan pergi bila mereka tidak ditempatkan di meja dan harus duduk di lantai! Namun Islam adalah adab, dan apakah kalian duduk di meja atau tidak, di kursi atau di sofa, atau di lantai, itu tidak penting. Nabi (s) biasa tidur di kasur yang terbuat dari jerami. Sekarang, kita bahkan tidak membeli kasur yang normal seperti dulu, tetapi kita harus membeli kasur yang tebalnya 18 inci. Mengapa, saya tidak tahu. Ketika kalian mati, kalian bahkan tidak akan tidur di kasur dari jerami, tetapi kalian akan tidur di kotoran!‬
‪‬‪
Di sini, apa yang dimaksud dengan ‘mati’? Ketika cinta dunia telah lenyap dari kalbu kalian, maka kalian menjadi mati, dan sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ghazali (r), “Ketika engkau mati, matamu terbuka!” Awliyaullah membuat ego mereka mati; mereka mencapai kepasrahan sempurna dan Allah (swt) membuka mata mereka untuk melihat yang gaib. Jika kalian menginginkan hal itu, pergilah dan belajarlah di “sekolah protokol spiritual” awliya untuk mempelajari adab yang benar di hadapan guru kalian: kapan waktunya bicara, kapan harus duduk atau berdiri, atau kapan untuk tidak bicara, di mana yang tidak boleh duduk. Sekarang kalian bahkan tidak menghormati guru kalian! Di mana kalian dapat menemukan seorang guru sekarang? Orang-orang hanya mencari guru yang hanya dapat mengajari mereka tentang alif ba ta (abjad Arab), bukannya disiplin.‬
‪‬‪Segala sesuatu dibangun atas disiplin. Itulah sebabnya kalian harus melihat pada guru kalian dengan pandangan hormat. Jika kalian berada di depan seorang perdana menteri atau presiden, kalian duduk dengan posisi sedemikian rupa agar tidak melanggar hormat. Sekarang kalian melihat murid melanggar kehormatan di hadapan guru mereka, berbicara dengannya seolah-olah mereka adalah orang biasa. Jadi, apa artinya, “Kau harus memandang gurumu dengan pandangan hormat”? Itu artinya jangan membuka mulut kalian! Kalbu kalian, tubuh, pikiran dan telinga harus fokus khususnya pada satu hal, yaitu guru kalian, yang harus kalian yakini mempunyai tingkat ilmu yang sempurna.‬
‪‬‪
Beliau berkata bahwa salah satu dari wa kaana b`ad al-mutaqadimiin, ada banyak para pendahulu atau syekh, dari kitab Imam Nawawi, 600-700 tahun yang lalu. Beliau mengatakan bahwa orang-orang yang ada sebelum Imam Nawawi, bayangkan antara 600-700 tahun. Beliau bicara mengenai waktu itu.‬
  1. ‪Beliau berkata, wa kaana b`ad al-mutaqadimiin, ketika sebagian dari para pendahulu pergi menemui syekh, bagaimana mereka mempersiapkan diri, apa yang mereka lakukan? idza dzahaba ila mu`alimihi yu`tii shadaq, sebelum melangkahkan kaki meninggalkan rumah, ia mengeluarkan sedekah. Itulah ajarannya, jangan datang dengan tangan kosong! Jika kalian ingin datang menuju Allah (swt), kalian tidak bisa pergi dengan tangan kosong, kalian harus melakukan yang sunnah sebelum fardu. Salat sunnah adalah untuk mempersiapkan kita sebelum melakukan kewajiban salat. Sunnah diperkenalkan kepada kita oleh Nabi (s), itu bukanlah wajib. Sunnah adalah jalan hidup Nabi (s), tetapi kelima salat fardu adalah kewajiban. Jadi untuk mempersiapkan diri kita untuk salat wajib, menuju maqam yang lebih tinggi, Nabi (s) melakukan salat dua atau empat raka`at sebelum dan dua atau empat setelahnya, untuk mengkonfirmasi. Jadi kalian salat dua raka`at sunnah sebelum Subuh, `Asr dan Maghrib, untuk mempersiapkan diri seolah-olah kalian memberikan hadiah sebelum menunaikan kewajiban. Jadi, sebelum kalian pergi menemui guru kalian, jangan datang dengan tangan kosong, tetapi dengan mempersembahkan hadiah.
  2. Kalian harus mengucapkan niat kalian. Guru kalian adalah seorang guru, ia adalah manusia, bukannya nabi. Ia adalah seorang ulama atau seorang salik (pencari) dalam tarekat, atau seorang syekh agung dalam tarekat, atau seorang wali. Jadi kalian harus datang kepadanya dengan adab, dan juga mengucapkan, allahuma astur ayba mu`allimii min `aynii, “Ya Allah! Tutuplah kesalahan guruku dari mataku,” agar takzim kalian terhadap guru kalian tidak berkurang dalam pandangan kalian, karena sebagaimana yang kami katakan, kita tidaklah ma`suum, bersih dari dosa; hanya para nabi yang ma`suum. Awliyaullah adalah mahfuuzh, terlindungi, meskipun mereka mungkin melakukan dosa, dan jika kalian melihat seseorang yang membuat keputusan yang salah, kalian mungkin akan mengkritik mereka. ‬‪
  3. Imam Nawawi (r) berkata, kalian tidak boleh mengkritik, karena hadits Nabi (s) menyatakan jika seorang hakim membuat keputusan yang benar mengenai suatu hal, Allah mengaruniainya dengan dua pahala, tetapi bila ia melakukan kesalahan dengan membuat keputusan yang salah, ia tetap mendapat satu pahala karena ia melakukannya dengan tanpa niat yang buruk dan karena tidak ada seorang pun yang sempurna. Jadi Imam Nawawi (r) berkata, “Ya Allah! tutuplah, ustur, hijablah atau tutupi `ayb, kesalahan dari guruku, yang artinya “Jangan sampai aku melihat suatu kesalahan pun dari guruku, perkenankanlah agar aku hanya melihat hal-hal yang baik sehingga aku senantiasa memujinya.” Ini adalah adab antara murid dan guru, tetapi siapa yang melakukan hal itu? Sekarang beberapa orang hanya melihat bahwa syekh melakukan kesalahan sehingga mereka segera mengoreksinya! Kalian banyak melihatnya di YouTube, di mana murid mengajari gurunya.
  4. Kalian harus berdoa, “Yaa Rabbii! Jangan biarkan aku kehilangan berkah dari ilmunya,” karena ada berkah di dalam ilmunya, jadi bahkan bila ia melakukan kesalahan, jangan lihat hal itu; itu bukanlah urusan kalian! Urusan kalian adalah diri kalian sendiri. Kalian mengambilnya sebagai guru kalian dan kalian mengulurkan tangan terhadapnya (bay’at), jadi janganlah lihat pada hal-hal yang ia lakukan yang tidak menyangkut diri kalian!‬
‪‬‪Grandsyekh, semoga Allah memberkati jiwanya, biasa berkata, “Jangan melihat pada hubunganku dengan keluargaku atau bagaimana aku berinteraksi dengan mereka, atau bagaimana aku berperilaku terhadap mereka, karena aku berpilaku terhadap mereka seperti orang tua kepada anaknya dan di dalam cara-cara duniawi, untuk membangun hubunganku dengan mereka. Aku tidak berhubungan dengan mereka seperti orang asing yang datang untuk belajar.”
Inilah yang secara khusus mengapa tidak seorang pun dapat memasuki rumah Syekh (tanpa izin) karena seorang murid dapat masuk dan melihat hubungan pribadi itu.‬
‪‬‪Kita adalah manusia dan Nabi (s) berperilaku terhadap istri-istri dan anak-anaknya dalam perilaku manusia, manusia kepada manusia, tetapi urusan langit adalah berbeda, seperti halnya Mi`raaj adalah berbeda. Beliau tertawa dan bercanda dengan mereka. Beliau biasa menggendong Sayyidina al-Hasan (r) dan Sayyidina al-Husayn (r) di punggungnya bahkan ketika sedang salat, dan dari adab beliau, beliau tidak pernah mendorong mereka untuk menyuruhnya pergi dan beliau tidak pernah mengangkat kepalanya dari posisi sujud sampai mereka turun; beliau tetap menunggu. Itulah hubungan antar keluarga. Jadi Grandsyekh (q) berkata, “Jangan melihat bagaimana aku berhubungan dengan keluargaku atau kalian akan berada di dalam masalah karena kalian bukan keluarga, jadi kalian harus menjaga batas-batas dan jarak antara kalian denganku. Keluargaku dapat melakukan ini itu denganku, tetapi kalian tidak.”‬
‪‬‪
Serupa dengan guru kita, Mawlana Syekh Nazim, beliau telah banyak menanggung (beban) karena tindakan beberapa penyusup–kalau kita menyebut mereka begitu, atau beberapa orang yang berpikir bahwa mereka begitu dekat. Bahkan jika kalian begitu dekat dengan Syekh di dalam tarekat, bukan sebagai keluarga, tetapi sebagai sahabat, tetap saja kalian tidak mempunyai hak untuk masuk ke dalam rumah di mana istri dan anak-anaknya berada, karena itu diperuntukkan khusus untuk mahram (sanak saudara yang tidak dapat dinikahi). Kalian tidak dapat masuk ke dalam rumah dan berkata, “Aku adalah murid yang dekat denganmu.” Allah (swt) berfirman di dalam Kitab Suci al-Qur’an:‬
‪‬‪
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya)1229, tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri-isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah! (Surat al-Ahzab, 33:53)‬
‪‬‪“Jangan masuk ke dalam rumah Nabi (s) sampai kalian diundang untuk makan, dan jangan masuk lebih awal untuk menunggu persiapannya.” Hal itu akan menyakitkan Nabi (s). Jadi bahkan untuk kalian sebagai orang biasa, jangan biarkan seseorang masuk ke dalam rumah kalian untuk bicara dengan istri dan putri kalian. Ini adalah hal besar! Di dalam Islam, Muslim percaya bahwa pernikahan adalah dari agama mereka dan Islam mengajarkan kita bahwa pernikahan mempunyai adab yang seksama jadi kita bisa berusaha untuk menjaga jarak (dan menghindari masalah). Namun demikian, kini orang-orang melanggar batas-batas ini, sekalipun dengan niat yang baik, karena pekerjaan duniawi mendukung percampuran gender, sementara sebelumnya tidak ada percampuran itu. Sekarang kalian lihat di tempat kerja di suatu perusahaan, semua orang bercampur bersama. Di masa Nabi (s) dan sebelumnya, banyak sekali percampuran itu dan orang-orang biasa tidur bersama, siapa saja. Lalu Islam datang untuk memberi kalian disiplin yang ketat, dengan mengatakan, “Jangan lakukan hal itu, atau kalian akan menyakiti diri kalian sendiri.” Kemudian orang mulai berkurang (dalam berbuat dosa).‬
‪‬‪
Imam Nawawi (r) berkata, “Jika seorang pria berada di dalam ruangan dengan seorang wanita dan berbicara selama 5 menit dan mereka tidak berhubungan, maka orang itu adalah ta`arad, telah mematahkan aturan Islam, dan ia akan mendapat pinalti, artinya istrinya akan diceraikan darinya dan ia akan diceraikan dari istrinya, karena itu (pergaulan dengan percampuran gender) adalah khalwat atau pengasingan diri yang tidak bisa diterima tanpa seorang mahram.”‬
‪‬‪
Berbicara (secara pribadi) dengan seorang wanita yang bukan mahram kalian tidak diterima di dalam Islam! Sekarang mereka menyusup ke dalam rumah Syekh tanpa alasan! Di sana ada putri-putri beliau yang mungkin sedang tidak memakai hijab. Hal ini tidak hanya berlaku bagi rumah Syekh dan keluarganya, tetapi juga berlaku bagi kalian sebagai orang biasa. Kalian tidak boleh masuk, tetapi sekarang mereka tidak keberatan. Sebagai seorang pencari yang disiplin, kita harus meletakkan batas-batas bagi diri kita sendiri. Islam mengajarkan kita batas-batas dan itulah sebabnya mengapa kita harus menjaga batas-batas itu dan tidak masuk ke rumah seseorang tanpa seizinnya!‬
‪‬‪Allah (swt) menurunkan ayat itu untuk mengajarkan para Sahabat dan kita.‬
‪‬‪Ar-Rabi`(r), yang menemani Imam Syafi`ii (r), berkata, “Aku tidak berani untuk meminum secangkir air di depan guruku, karena aku merasa takut,” karena itu bukan adab! Adab adalah untuk berdiam diri, belajar dan mencatat ketika Syekh memberi pelajaran. Ini adalah penting bagi saya, bagi kalian, dan bagi setiap orang, jadi, jangan dibuang ke belakang (mengabaikannya)! Silakan cek hadis Nabi (s) mengenai Ihsan dan lihat penjelasannya di internet, kalian akan kagum! Kita akan melanjutkan topik ini kemudian.‬
‪‬‪
Wa min Allahi ‘t-tawfiiq, bi hurmati ‘l-Fatihah. ‬
‪‬‪
Sumber: Sufilive
© Copyright 2012 Sufilive. This transcript is protected by international copyright law.‬
‪Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.‬
You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

One response to “belajar”

  1. maksih sharingnya yaa…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *