ikhlas

pengertian ikhlas yang dulu saya pahami adalah ketika melakukan sesuatu maka kita akan merasa enteng (ringan), mudah dan senang.
contoh : di saku ada uang Rp. 1000 dan Rp. 10.000, ketika kita ingin berusaha sedekah maka fikiran kita akan menimbang, seribu atau sepuluh ribu ya? kalau yang sepuluh ribu nanti tidak ikhlas (kurang rela) west seribu saja kan kita bisa ikhlas untuk memberikannya.
mungkin hal diatas juga sering dialami para pembaca. Tetapi pengertian dan pemahaman ini berubah,
ikhlas adalah melakukan segala sesuatu KARENA ALLAH , UNTUK ALLAH –> lillahita’ala
KARENA ALLAH inilah yang menjadi pokok, karenanya coba diteliti contoh diatas (fikiran yang biasa membayangi kita, saya)
fikiran seribu atau sepuluh ribu –> ketika kita berniat untuk beribadah, siapakah yang memberikan was-was di fikiran kita? hawa (yang menghalangi untuk berbuat kebaikan) dan nafsu kita (yang selalu mengajak kepada keburukan) akan sangat tidak suka untuk beribadah kepada Allah, Setanlah yang akan tertawa ketika kita tidak mau beribadah.
lebih baik seribu tapi ikhlas dari pada sepuluh ribu tapi gak ikhlas —-> fikiran ini yang akan menentukan sikap kita, tapi coba pahami dan tanyakan kepada diri kita,
mengapa kita pilih nominal kecil ? —> karena “hati kita” akan rela melakukannya, tapi “hati” atau “hawa nafsu”?  mengapa kita merasa rela? karena itu cocok dengan keinginan kita, hawa nafsu kita.
coba qiyas dulu. kita sedang menonton acara TV kegemaran kita, kemudian tiba-tiba terdengar suara adzan sholat, enak mana? berat mana? enak nerusin nontonnya kan? tapi harus berusaha melawan agar sholat tidak sampai terlupa.
untuk beribadah DIBUTUHKAN PERJUANGAN MELAWAN HAWA NAFSU, hawa nafsu menunjukkan kepada keburukan sehingga secara dasar akan menghalangi untuk beribadah.
HAWA NAFSU TIDAK SUKA DIAJAK BERIBADAH, inilah sifat dasar dari hawa nafsu kita, sehingga ketika kita beribadah, hawa nafsu akan merasa tersiksa, tidak enak.
IBADAH ADALAH MELAWAN HAWA NAFSU
pilih nominal kecil atau nominal besar? ketika memilih nominal kecil maka kita senang (rela), kita merasa senang maka sesuai KEINGINAN KITA (hawa nafsu), kesimpulannya dengan memilih nominal kecil maka sesuai dengan keinginan kita
ketika memilih nominal besar maka kita tidak rela (tidak senang), tidak sesuai dengan keinginan kita, LIHAT! kita lebih mempertimbangkan keinginan kita –> BUKAN KEINGINAN ALLAH
padahal ikhlas itu apa? KARENA ALLAH bukan karena kita
kerelaan kita sedekah pada nominal kecil itu karena KITA bukan karena Allah
ketidakrelaan kita sedekah pada nominal besar itu karena berjuang melawan hawa nafsu untuk ibadah kepada ALLAH
pilih mana sedekah sedikit (sesuai keinginan kita) atau sedekah banyak (berjuang ibadah kepada Allah)?
kemudian kenapa kok fikiran kita bilang “lebih baik sedekah nominal kecil ikhlas dari pada sedekah nominal besar tidak ikhlas” ? siapa yang suka membolak balikkan pengertian agar kita jauh dari Allah?
sekarang definisi ikhlas anda seperti apa? rela (senang) atau berusaha untuk Allah (suka/tidak)
ikhlaskah kita? KARENA ALLAH atau karena diri kita?
 
bila digeneralisasi

“KITA PATUT CURIGA AKAN KEIKHLASAN IBADAH KITA KETIKA KITA MELAKUKAN IBADAH DENGAN MUDAH”

“KITA HARUS LEBIH WASPADA KETIKA KITA TIDAK MAU BERIBADAH DENGAN ALASAN BELUM ‘IKHLAS'”

ibadah yang lebih besar pahalanya adalah ibadah yang lebih sulit kita melaksanakannya, karena ketika kita “memaksa” diri kita untuk beribadah, ingatlah bahwa kita sedang memaksakan hawa nafsu kita untuk beribadah kepada Allah, KARENA ALLAH, DENGAN ALLAH dan UNTUK ALLAH

semoga kita dikumpulkan dengan dengan hamba-hamba Allah yang sholeh dan mendapat keberuntungan di sisi Allah, amin

Allah A’lam

Tinggalkan Balasan