Bulan Maulid, Marhaban Ya Rosululloh

Ketika Allah memerintahkan Pena untuk menulis, ia bertanya, “Apa yang harus kutulis?” dan Allah bersabda, “Tulis ‘La Ilaha III-Allah.”’ Kemudian Pena menulis “La Illaha III-Allah” selama 70.000 tahun dan kemudian berhenti. Satu hari Allah sebanding dengan 1000 tahun, hari manusia. Kemudian Allah memerintahkan untuk menulis kembali, dan Pena bertanya, “Apa yang harus kutulis?” dan Allah menjawab, “Tulislah Muhammadun Rasul-Allah.” Dan Pena berkata, “O Allah, siapakah Muhammad ini, yang Kau tulis namamu disebelahnya?” Allah berkata, “Kau harus tau bahwa kalau bukan karena Muhammad, Aku tidak akan Mencipta apapun.” Sehingga Pena menulis Muhammadun Rasul-Allah untuk 70.000 tahun berikutnya.

Kapan Allah memerintahkan Pena menulis? Kapan menulisnya ? Kapan penulisan “La ill-Allah Muhammadun Rasul-Allah” terjadi? Tidak ada yang tahu. Sebutan nama Nabi oleh Allah Yang Maha Kuasa, terjadi sebelum adanya ciptaan apapun, dan realitasnya terjadi sebelum Keabadian. Itulah alasan sebutan Nabi , “kuntu Nabiyyan wa adamu bayni-I-ma’i wa-t-tin” – “Aku adalah seorang Nabi ketika Adam berwujud antara air dan tanah.”

Ia adalah seorang Manusia Sempurna. Ia adalah Penutup bagi semua nabi dan utusan. Apa yang bisa dikatakan hamba yang lemah untuk menghormati Tuan dari para Utusan? Kalau bukan karenanya, tidak seorangpun yang mengetahui Allah, Yang Maha Kuasa. Tidak akan serat alam semesta dijalin seperti yang sudah tercipta. Karena itu, Pena tidak bisa menggambarkan kesempurnaan dari Manusia yang Paling Sempurna, Pemimpin dari semua pemimpin, Raja dari semua Raja, Sultan dari semua Sultan Kehadirat Illahi.( http://farid.zainalfuadi.net/sanad-emas-1-rasulullah-muhammad-ibn-abdullah/)

sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abdurrazzaq bin Umar bin Muslim ad-Dimasyqi Ash-Shan’ani (126-211 H/744-826 M), yang menceritakan kala sahabat Jabir bin Abdullah Al-Anshari RA bertanya kepada Rasulullah, “Demi ayah dan ibuku, ya Rasulullah, beritahukan lah kepadaku sesuatu yang pertama kali dicilptakan Allah sebelum yang lainnya.”

Maka jawab Rasulullah, “Wahai Jabir, sesungguhnya Allah telah menciptakan nur nabimu, Muhammad, dari nur-Nya, sebelum Dia menciptakan segala sesuatu.”

Sebagaimana yang dikemukakan Syaikh Yusuf bin Ismail An-Nabhani dalam kitab Al-Anwar al-Muhammadiyyah,  konsep Nur Muhammad itu memiliki dua sisi. Sisi pertama yaitu sebagai konsep makhluk yang pertama diciptakan, kemudian segala sesuatu tercipta darinya. Sisi kedua dari sisi hakikat nur Muhammad yang Allah letakkan pada diri Nabi Adam As, kemudian berpindah kepada Siti Hawa,  lalu kepada putranya, Syits AS, dan terus berpindah pindah kepada para nabi dan orang orang suci yang tak lain adalah para leluhur Nabi Muhammad Saw

Suatu saat, Allah meletakkan nur Muhammad itu pada punggung (sulbi) Adam As. “Kemudian Allah meletakkan nur Muhammad dalam punggungnya (Adam As), sehingga para malaikat bersujud dan berbaris rapi dibelakang  Adam, serta menghaturkan salam kepada nur Muhammad,” demikian As-Suyuthi mengisahkan.

Dengan demikian, sebagaimana Ibn Marzuqi mengomentari hal ini, secara lahiriyah Nabi Adam adalah perantara adanya nur Muhammad pada diri manusia. Sementara itu Imam Fakhruddin Al-Razi menjelaskan dalam kitab tafsirnya bahwa para malaikat diperintahkan bersujud kepada Adam karena didalam diri Adam terdapat nur Muhammad, dan diperintah bersujud itu adalah sebagai penghormatan kepada Nabi Muhammad, sebagaimana juga hal itu dijelaskan oleh Al-Imam Sahl bin Muhammad , yang dikutip oleh An-Nabhani dalam Al-Anwar Al-Muhammadiyah.

Syaikh Nawawi al-Bantani dalam kitab Madarijush Shu’ud  mengisahkan , para malaikat senantiasa berbaris rapi dibelakang punggung Adam, ia heran dengan prebuatan para malaikat itu dan bertanya kepada Allah, “Ya Allah, kenapa para malaikat senantiasa berbaris dibelakangku?”

Allah menjawab, “Wahai Adam, ketahuilah olehmu bahwa para malaikat Ku senantiasa berdiri dibelakangmu karena memandang kepada nur kekasih Ku, Nabi Akhir Zaman, Muhammad Saw”

Adam As pun memohon kepada Allah kiranya nur itu diletakkan didepan nya, agar ia dapat berhadapan dengan para malaikat.

Maka Allah pun meletakkan nur itu di dahinya.

Kala itu Allah memerintahkan Iblis agar sujud kepada Nabi Adam As, namun ia membangkang kerena kesombonganya, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah surat Al-Baqarah ayat 34, “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kalian kepada Adam’, maka sujudlah mereka semua kecuali Iblis. Ia enggan dan takabur, dan sesungguhnya ia termasuk golongan yang kafir.” (http://farid.zainalfuadi.net/cahaya-rosululloh-dari-nabi-adam-sampai-adnan/)

Ketika nur Muhammad sampai pada sulbi Hasyim, tersebarlah berita diseluruh penjuru dunia bahwa sudah dekat saat datangnya nabi akhir zaman, yang diutus untuk seluruh umat manusia.

Para pendeta Yahudi dan Nasrani dizamannya berlomba lomba mendapatkan silsilah mata rantai nur tersebut. Untuk tujuan itu, mereka menyodorkan putri putri mereka untuk dinikahinya, namun ia mengatakan , ‘Demi Allah, Dzat yang telah melimpahkan kemuliaan kepadaku melebihi seluruh penghuni alam ini, tidaklah aku akan menikah kecuali dengan wanita tersuci di seluruh alam,’

Putra Hasyim yang bernama ‘Abdul Muthalib dilahirkan di Yatsrib, atau Madinah. Kulitnya sawo matang. Ia dibesarkan di Makkah, disisi pamannya, Al-Muthalib bin Abdu Manaf. Al-Muthalib, pamannya ini adalah leluhur Imam Syafi’i Ra. Sebelum ayahnya wafat, ia meminta kepada saudaranya, Al-Muthalib, ‘Adrik ‘abdak bi yatsrib.’ Artinya “ambillah hambamu (keponakanmu) di Yatsrib (Madinah).

Maka setelah Hasyim wafat, ia mengambil keponakannya itu dari ibunya di kota Madinah, untuk menyenangkannya. Maka kemudian ia disebut ‘Abdul Muthalib’

Saat dilahirkan, fi ra’sihi syaibah, ada uban dikepalanya, kelahirannya seakan  udhifa lil hamd, dipersiapkan untuk dipuji. Itu karena banyaknya orang yang memujinya. Karenanya, nama sebenarnya adalah Syaibah Al-Hamd.

Ia adalah tempat mengeluh Bani Quraisy di kala mereka susah. Ia seorang yang cerdas, lisannya fasih, hatinya hadhir, dan sangat dicintai kaumnya. Berkah nur Muhammad yang bersemayam dalam dirinya, kaumnya mengenal Abdul Muthalib akan doa doanya yang selalu dikabulkan Allah swt.

Sekalipun belum masuk pada masa kenabian cucunya, ia tidak digolongkan sebagai orang kafir. Ia termasuk dalam ahlul fatrah. Dalam perang Hunain, Rasulullah mengatakan dengan penuh kebanggaan, ‘Aku seorang nabi, tidak berdusta, aku adalah putra Abdul Muthalib’

H.M.H. Al-Hamid Al-Husaini (alm.), seorang ulama dan sejarawan islam yang produktif menulis buku, mengatakan , ‘Tidak mungkin beliau membanggakan Abdul Muthalib jika ia seorang kafir, sebab hal itu tidak diperkenankan.”

Sebagai sesepuh Quraisy, yang merupakan mayoritas penduduk Makkah, ia berseru dan menganjurkan penduduk agar segera meninggalka Makkah, mengungsi ke daerah pegunungan yang aman. Sementara ia sendiri tidak pergi meninggalkan Mekkah dan hendak bertahan dengan cara apapun yang mungkin dapat ditempuh. Setiba bala tentara Abrahah di perbatasan Makkah, Abdul Muthalib berserah diri kepada Tuhan, penguasa Ka’bah. Seraya berpegang pada daun pintu Baitullah itu, ia menengadahkan tangan, ‘Ya Tuhan, hanya Engkaulah Yang Maha Kuasa dan hanya Engkaulah yang dapat mengalahkan Abrahah beserta bala tentaranya. Engkau sajalah yang akan melindungi Rumah suci ini dari kejahatan manusia durhaka dan congkak.’

Kemudian terjadilah apa yang dikehendaki Allah. Belum sempat pasukan Abrahah menyerbu ke Makkah. Allah menghancurkan bala tentara itu dengan menurunkan burung burung Ababil, yang melontari mereka dengan batu sijjil. Itulah kenyataan sejarah yang disaksikan sendiri oleh penduduk Makkah dari tempat tempat pengungsian, dan yang langsung diderita oleh bala tentara Abrahah. (http://farid.zainalfuadi.net/nur-nabi-muhammad-dari-nabi-ismail-ke-sayyid-abdullah/)

Alkisah, Abdul Muthalib dianugerahi putra yang ia namakan ‘Abdullah’, buah pernikahan nya dengan Fathimah binti Amr. Syaikh Nawawi Banten mengisahkan didalam Madarijush Shu’ud, bayi Abdullah tumbuh besar dalam perkembangan yang begitu cepat. Setiap yang memandangnya berdecak kagum melihat kemilau cahaya yang anggun berwibawa dari wajahnya dan berbagai keajaiban yang terjadi pada dirinya.

Beranjak remaja, semakin tampak lah keistimewaan pada dirinya. Dalam As-Sirah An-Nabawiyyah, Sayyid Ahmad Zaini Dahlan menceritakan, “Sesungguhnya Abdullah adalah seorang Quraisy yang terindah diri dan kepribadiannya pada saat itu. Pada wajahnya, nur Muhammad bersinar kemilau. Tidak sedikit wanita Quraisy yang terpikat hatinya kepada Abdullah.

Bukan hanya dikalangan suku Quraisy, bahkan para ulama ahli kitab di Syam, Palestina, pun mengetahuinya. Sehingga, setiap ada seorang suku Quraisy yang singgah di tempat mereka selalu diberi wasiat kepadanya bahwa nur yang ada pada diri Abdullah sesungguhnya adalah nur nabi akhir zaman.

Abu Sa’id Abdul Malik An-Naisabury di dalam kitabnya Al-Kabir mengemukakan penuturan panjang lebar yang pernah dikatakan sendiri oleh bunda Muhammad Saw, diantaranya, “Lewat enam bulan sejak kehamilanku, aku melihat dalam mimpi seorang berkata kepadaku, ‘Hai Aminah, engkau sedang mengandung manusia termulia di jagat raya. Bila ia lahir, namailah dia ‘Muhammad’, tetapi sekarang janganlah engkau beritahukan kepada siapapun.”

Ibn Hajar pun mengetengahkan sebuah hadits dari Ummu Salamah Ra atas penuturan ibu susuan Muhammad Saw, Halimah As-Sa’diyah, bahwa Aminah binti Wahb pernah mengatakan kepadanya, “Ketika ia (Muhammad) keluar dari rahimku, kulihat percikan cahaya yang menyinari semua permukaan bumi hingga aku dapat melihat gedung gedung istana Syam.” (http://farid.zainalfuadi.net/ayah-bunda-nabi-muhammad-saw/)

Nabi Muhammad SAW adalah As-Sayyid Al-Kamil (junjungan yang sempurna), Al-Fatih (sang pembebas) dan Al-Khatim (penutup para Nabi dan Rasul). Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Abdillah bin Abdul Muththalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Nadhir bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nazzar bin Ma’d bin Adnan. Adnan adalah salah seorang keturunan Nabi Ismail bin Nabi Ibrahim.

Ibu beliau adalah Aminah binti Wahhab bin Abdi Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah, dan seterusnya seperti yang terdapat pada jalur nasab ayah beliau.

Sedangkan Nama beliau banyak sekali, diantaranya Muhammad, Ahmad, Al-Mahi, Al-Hasyir, Nabi Ar-Rahmah, Nabi At-Taubah, Rasul Al-Malahim, Al-Khatim, Al-Fatih, Thaha, Yasin, dan Abdullah.

Diriwayatkan dari Ibn Abbas ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“Namaku di dalam Al-Qur’an adalah Muhammad, dalam Injil adalah Ahmad, dan dalam Taurat adalah Ahid. Aku diberi nama Ahid karena aku menyelamatkan umatku dari neraka Jahannam.”(http://farid.zainalfuadi.net/99-nama-nama-baginda-nabi-muhammad-sallallahu-alayhi-wa-sallam/)

“Pada suatu hari datanglah seorang uskup (kepala pendeta Nasrani) dari kota Najran ke Makkah dan menemui Sayyid Abdul Muthallib yang sedang duduk bersama putra-putranya. Uskup tersebut berkata: “Sesungguhnya saya datang kemari adalah untuk memberitahukan kepada Tuan, bahwa saya telah mendapatkan data yang sangat akurat dari Kitab Suci Injil, bahwa sekarang ini sudah tiba masanya datangnya Nabi Akhir Zaman yang sangat suci mulia. Yang mana beliau adalah dari keturunan Nabi Ismail As. dan lahir di kota suci Makkah ini.”

Kemudian uskup tersebut menceritakan tanda-tanda nabi tersebut. Lalu Sayyid Abdul Muthallib memanggil beliau Saw. Sesampainya beliau Saw. di hadapan Sayyid Abdul Muthallib, maka uskup tersebut melihat dan memperhatikan tanda-tanda yang ada pada beliau Saw. Dengan penuh takjub dia berkata: “Sungguh data-data yang kami dapati di kitab kami ada pada anak ini.”

Kemudian uskup tersebut bertanya: “Apa hubungan anak ini dengan Tuan?”

Sayyid Abdul Muthallib menjawab: “Dia adalah anakku.”

Kemudian uskup itu berkata: “Sesungguhnya data yang kami dapati di kitab kami, dia adalah anak yatim.”

Maka Sayyid Abdul Muthallib berkata: “Sesungguhnya dia adalah cucuku, ayah ibunya telah meninggal dunia.”

Maka uskup tersebut berkata: “Ya benar, seperti itulah data yang aku dapati di Kitab Suci kami (Injil).”

Kemudian Sayyid Abdul Muthallib berkata kepada putra-putranya: “Bukankah kalian telah mendengar sendiri apa yang telah dikatakan oleh uskup tersebut? Maka aku perintahkan kepada kalian untuk selalu menjaga dan melindunginya dengan sungguh-sungguh.”

Setiap kali kaum Quraisy mengalami kekeringan di daerahnya, maka bangsawan-bangsawan Quraisy dan kaum di sekitarnya berdatangan menghadap kepada Sayyid Abdul Muthallib dan memohon agar beliau beristisqa’ (berdoa kepada Allah Swt. agar menurunkan hujan). Dan saat itu setiap kali Sayyid Abdul Muthallib melaksanakannya maka ia mengajak masyarakat sekitarnya berbondong-bondong menuju ke atas bukit dengan membawa beliau Saw. untuk bertawassul dengannya. Dan di situlah ia berdoa kepada Allah Swt. Dan hanya berkat beliau Saw. lah maka Allah Swt. mengabulkan doanya dengan seketika. (http://farid.zainalfuadi.net/kasih-sayang-sang-kakek-kepada-rasulullah-saw/)

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *