Derajat Iman


Iman itu ada 4 tingkatan:

1.Iman orang-orang munafik yaitu hanya membenarkan dengan lisan mereka tanpa diyakini dengan hati, akan tetapi iman mereka berguna di dunia untuk menjaga darah dan harta mereka, sedang di akhirat sebagaimana firman Allah swt.: “Sesungguhnya orang-orang munafik akan ditempatkan di neraka yang paling bawah”.

2.Iman orang-orang mukmin secara umum yaitu mereka meyakini dengan hati dan membenarkan dengan lisan, akan tetapi mereka tidak melakukan apa yang sudah ditetapkan Allah, dan buah dari keyakinannya tidak tampak. Maka, ketika mereka bertadabbur pada Allah mereka masih takut dan berharap pada selain-Nya, dan mereka berani untuk mengingkari perintah-Nya dan larangan-Nya.

3.Iman muqorrobin, yaitu mereka yang menyibukkan diri dengan menghadirkan aqidah keimanan, sehingga keimanan mereka menyatu dalam batin mereka. Mata hati mereka seolah-olah memandang segala sesuatu yang keseluruhannya itu keluar dari ketentuan pada zaman azali. Maka, tampaklah hasil dari keimanan mereka. Mereka tidak meminta tolong kepada selain Allah, mereka tidak takut dan tidak pula berharap kecuali kepada Allah swt. Mereka berkeyakinan bahwa makhluk itu tidak mempunyai kemanfaatan dan bahaya baginya. Dan juga tidak kematian, kehidupan, dan kebangkitannya, dan tidak mencintai selain Allah swt. karena selain Allah tidak bisa berbuat kebaikan.
Oleh karena itu syaikh Abu Hasan berkata: “Berilah kami hakikat iman kepada-Mu sehingga kami tidak takut kepada selain-Mu, tidak mengharap sesuatu kepada selain-Mu, tidak mencintai kepada selain-Mu, dan tidak menyembah sesuatu selain-Mu”. Dan mereka (muqarrabin) tidak berpaling dari sesuatu kehendak dan hukum-Nya. Karena sesungguhnya Allah swt. adalah Dzat Yang Maha Bijaksana, dan mereka berkeyakinan bahwa akhirat adalah tempat yang kekal, maka mereka pun berlomba-lomba.

4.Iman ahlu al-fana’ dalam ketauhidannya yang tenggelam dalam musyahadah, sebagaimana yang dijelaskan oleh Sayyid Abd as-Salam: “Tenggelamkanlah aku dalam sumber lautan keesaan-Mu sehingga kami tidak melihat, tidak mendengar, tidak menemukan dan merasakan kecuali kepada-Mu. Kumpulkanlah antara aku dan engkau dan halangi antara aku dan selain engkau”. (Tanwir al-Qulub, hlm. 83/Sabilus saliki).

copas dari : https://www.facebook.com/tarekat.khalwatiyahsamman/posts/314449085364159?stream_ref=10

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *