dia mempunyai kelakukan buruk

sering banget dalam kita bergaul, hal di atas yang muncul “ih dia tu jahat benget sih” bahkan kemudian kita ungkapkan kepada orang yang sepaham dengan kita, tapi mungkin layak kita kaji pemikiran seperti ini :

yang awal, timbulnya pemikiran seperti ini, karena kita merasa lebih baik daripada  dia, kita sangat sering lupa akan keburukan diri kita sendiri, sehingga yang terlihat di mata kita adalah keburukan orang lain, kalaulah saja yang teringiang di mata dan fikiran kita adalah keburukan kita, maka akan sulit sekali kita menjatuhkan vonis kepadanya, karena takut vonis terhadap diri kita.

“tapi kan aku gak seburuk dia” lah bila fikiran kita beralasan seperti itu, coba amati -> anda berusaha membandingkan, anda lebih baik dari dia atau dia lebih buruk dari anda, so itulah sombong.

“aku loh gak sombong, aku berkata sesuai fakta” lah itu bukti kesombaongan anda, tanyalah kepada orang yang sombang, apakah dia mengaku sombong?

gak diteruskan deh, (cos ora faham) kalo ngaji jlimetnya tipuan fikiran (nafsu) tu wow, mubeng gak karuan, dan tanpa guru yang irsyad sangat sulit, huft, Ya Allah anugrahkan kepadaku guru yang mulia dan kepatuhanku kepadanya sehingga dapat sampai kepadaMu ya Allah”

yang kedua, ingatlah ajaran kepada kita “ketika seseorang menyakiti orang lain, maka pahalanya akan diberikan kepada orang yang disakiti, dan apabila belum cukup juga maka dosa orang yang disakiti akan dilimpahkan kepadanya”

coba bayangkan !

ketika kita ngomongin orang, maka pahala yang telah kita kumpulkan akan diberikan kepadanya, berapa kerugian pahala yang telah kita hamburkan? hmmm mungkin karena inilah kita tidak dapat merasakan ni’matnya ibadah, ya pahala yang telah kita lakukan sebenarnya untuk orang lain yang kita sakiti.

kita punya makanan, belumlah kita sendok dan masukkan ke mulut kita untuk dicerna, makanan kita sudah diambil oleh orang lain, bagaimana? kapan kita dapat merasakan ni’matnya pahala?

“aku loh gak ngerasani, ini bukan nggosip tapi fakta” nah loh lihat ! kalo yang kita katakan tidak benar ya itu namanya BOHONG bukan lagi nggosip, itu mah dosanya lebih parah lagi.

“kan nggak napa-napa wong dia aja gak tersinggung” buktinya gimana, anda tidak berani ngomong di depan dia saja membuktikan bahwa hati anda mengetahui bahwa hal tersebut salah, dan ditambahlagi sebagai timbangan. Misalkan anda yang dibicarakan orang lain, bagaimana perasaan anda? tersakiti?

setiap kita berbuat buruk terhadap orang lain, baik dengan fikiran, perkataan, perbuatan atau apapun yang menyakiti orang lain, maka pahala kita akan diberikan kepada orang tersebut sebagai tebusan akan kesalahan kita.

bagaimana bila pahala kita habis? maka dosa-dosa dia akan diberikan kepada kita, benar-benar diatas kerugian melainkan sudah kehancuran bagi kita, dosa-dosa dia diberikan kepada kita, kita tidak punya pahala tapi kita selalu menerima dosa. Apa bukan hancur itu namanya?

bila sampai tahap ini, beranikah kita bilang bahwa dia lebih buruk dari kita ? dengan kenyataan, pahala kita diambil olehnya dan dosa dia diberikan kepada kita. Kita bahkan jauh-jauh lebih buruk dari dia, kita punya kaya akan dosa sedang dia kaya akan pahala.

Benar-benar kerugian besar!

dan mungkin juga harus diperhitungkan. Ketika kita membicarakan burukan dia kepada teman kita, hal tersebut memicu teman kita ikut menjadi membencinya dan membicarakan keburukan dia juga. ingatlah “barang siapa memulai kebaikan maka ia akan mendapat pahala dari kebiakan tersebut dan pahala dari orang-orang yang mengikutinya. dan juga sebaliknya barang siapa memulai keburukan maka baginya dosa dari perbuatannya dan dari orang-orang yang mengikutinya”

Coba Bayangkan lagi !

anda bercerita keburukan kepada 2 orang, kemudian masing-masing bercerita kepada 2 orang lagi, dan begitu seterusnya. how? 2x2x2x2x2x2x……. berapa dosa kita? berapa pahala dia?

gimana bila kita seorang tokoh masyarakat? kita dapat berbicara kepada 1000 orang, yang masing-masing dapat menyebarkan ke 1000 orang lagi? 1000 x 1000 x 1000 x 1000 …., belum lagi bila ditambah media massa, 1000.000 x 1000.000 x 1000.000, ….. apakah kita lebih baik dari dia? mari berkaca dan berfikir sejenak, tafakkur dan evaluasi diri !

bila kemudian anda mulai berfikir, “oh iya, dia bilang kejelekan orang lain, berarti dia sangat rugi dong, tu pahalanya habis dan dosanya bejibun” he3, jebakan nafsu, fikiran anda seperti itu juga apa bukan namanya nggosip dan menyakitinya? sama dong ????

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *