Dzikir dan Mbah Hasyim

Dzikir, bahasa Arabnya adz-dzikru atau dzikrun, artinya mengingat. Dulu, dzikir ‘disembunyikan’ dalam khazanah Islam Nusantara, kesannya kampung, membuang waktu, tidak keren dan tidak ilmiah.
Tapi kini, dzikir ditampilkan di muka, disiarkan langsung televisi, dihadiri orang-orang terkenal. Mereka mengenakan busana khusus dan bagus. Apakah dzikir itu? Untuk apa berdzikir? Simak dialog sufi kontributor NU Online Moh Yasir Alimi dengan Syaikh Mustafa Mas’ud al-Naqsabandi al-Haqqani.

Dalam tasawuf juga terdapat dzikir. Mohon Syaikh, jelaskan hakekat dzikir ini, pentingnya bagi ibadah dan bagi kehidupan kita.

Hakekat dzikir adalah awrod, wirid, bacaan  di shalat, kalimah thoyyibah yang diresapi oleh qalbu (hati), dzauq (rasa), sense of aesthetc jadi tawajjuh ataupun seseorang atas pengawasan Allah dan Rasulullah sehingga bergetarnya lathoif atau spiritual domains. Ini bukan hanya mencerahkan batin, namun juga memerdekakan diri dan pemikirannya dari kegelapan nafsu dan keburukan perangai.

Tumbuhnya kecintaan dan rindu ke arah keberuntungan akhirat; gairah terhadap ibadah, tidak memandang ibadah sebagai beban, melainkan kebutuhan bahkan menghanyutkan dalam keasyikan. Inilah hakekat bimbingan Rasulullah terhadap setiap zaman, tempat, komunitas, dan strata dalam kehidupan.

Apakah dzikir dan tasawuf dapat memperbaiki shalat kita menjadi lebih baik?

Syariat mengandung permukaan dan kedalaman. Permukaan adalah dataran untuk umum, ammatun nas atau awam. Yang kedalaman seperti tuma’ninah dan khusuk dalam shalat, empati dalam zakat, infaq dan sedekah; ihram untuk benar-benar mantap menghindari  menghindari rofast, fusuq dan jidal begitu juga dengan lempar jumrah, wuquf, dan masyairil haram; melibatkan hati, Al-Quran, tafakur dan tadabbur dalam puasa; syahadatu haq wal ihsan.

Semua itu item tasawuf, dan mengimplikasikan keniscayaan untuk kosongkan diri dari nafsul lawwamah wal mazdmumah, suatu takholli, pengurasan ketidakbaikan diri; supaya akhlak dapat ditata, sunnah nabi dapat diterapkan. Ibadah menjadi lebih terasa, resistensi terhadap kebejatan menjadi dapat terlaksana.

Apakah dzikir juga bias meningkatkan kreativitas dan tenaga kehidupan?

Ketika dzikir seseorang berlangsung, lataif-nya hidup, tawajjuh-nya akan membuahkan ihsan. Maka silsilah dalam thariqatnya jadi berfungsi dengan proper dengan pelayanan syaikh. Ini dapat mengantar yang bersangkutan mengendalikan dengan semakin baik gejolak dialektika kehidupan yang dijumpai agar ia istiqamah menuju hadirat Ilahi, kreativitas akan tercerahkan; kinerja semakin sehat dan penuh achievement, audauer dan appearance penuh kesukacitaan; ketemu orang serba mena’ke.

Hal ini karena dia mendapatkan hakekat jadzbah atau attraction berupa (1)  limpahan fadhail ilahi; (2) luberan fadhlun nubuwwah atau wali; (3) buah tawassulnya;  (4) esensi robithoh; (5) mendapatkan irsyad; dan (6) tasharruf wali atau mursyid.

Bagaiman menjelaskan Mbah Hasyim atau NU dan Tarekat, Syaikh?

Kebribadian seperti itu dimiliki oleh Hadratu Syaikh Hasyim Asy’ari. Suatu ketika saya ke Tebuireng dan bertemu dengan paman saya. Mengetahui kaki saya dalam kepayahan, maka paman saya memperkenalkan saya dengan seorang tua, bernama Mbok Dah. Kepada paman saya itu saya mengatakan “mesakne Lik wong tuwo kon mijeti”. Kata paman saya, walaupun tua beliau masih kuat dalam memijat. Maka akhirnya dipijatlah saya.

Mbok Dah kemudian bercerita bahwa jaman dulu Hadratu Syaikh Hasyim Asy’ari memiliki delman yang paling bagus di Jombang. Kegemaran Hadratu Syaikh adalah berkeliling dengan delman itu dan delman itu penuh dengan permen, buah-buahan dan makanan untuk dibagikan.

Mulianya, beliau…
Iya. Bahkan Hadratu Syaikh hafal nama semua anak-anak dari desa yang dikunjunginya. Inilah salah satu kewalian Hadratu Syaikh. Mbok Dah bercerita suatu saat Hadratu Syaikh tidak mendapati Dah, maka bertanya:

Endi iki Dah?”  (Di mana Dah?)
Nembe mboten sehat, Kiai”. (Baru tidak sehat, Kiai)
Kon rene,” pinta Hadratu Syaikh. Maksudnya, suruh datang.

Memang betul Mbok Dah kecil sedang mriang. Maka Hadratu Syaikh memegang mbun-mbunan Mbok Dah dan meniupnya.  Dan Mbok Dah pun sembuh.
Maka akupun  berkata pada Mbok Dah:

“Mbok Dah, jangan pijit aku dengan tanganmu, pijitlah aku dengan hatimu!”
“Kok awrat sangat permintaanya, Syaikh”.
“Bayangkan saat Mbok Dah dipegang mbun-mbunanmu oleh Hadratu Syaikh, dan  (barulah sentuh mbun-mbunanku).” Tiba-tiba saya merasakan sentuhan Hadratu Syaikh yang hadir.

Hadratu Syaikh dengan segala kebesarannya adalah orang yang berdzikir. Dzikir itulah yang menjadi sumber tenaga bagi Hadratus Syaikh untuk mewujudkan cita- cita.

sumber : http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,5-id,38966-lang,id-c,halaqoh-t,Tentang+Dzikir+dan+Mbah+Hasyim-.phpx

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *