Kitab Ihya’ karya Imam Ghozali banyak terdapat hadis mungkar?

ini baca-baca, eh nemu di ibrazone.com yang membahas kitab ihya’ ulumuddin. teringat juga dulu ada teman yang mengingatkan hal ini

berikut postingan di web tsb …..

———

Imam Ghazali merupakan seorang ulama yang mahsyur di tengah-tengah Islam. Namanya melekat hampir di setiap generasi. Karyanya disukai karena begitu mudah di pahami dan mampu menembus sanubari mulai dari kalangan awam hingga kalangan Ulama. Kitab-kitab karyanya yang telah di cetak berulang-ulang kedalam berbagai bahasa itu hamper menjadi koleksi ‘wajib’ bagi banyak ulama dan ma’had-ma’had mereka. Bahkan dihari ini pun kita tak sulit untuk menemukan kitabnya. Diantara kitab beliau yang paling popular dan sangat di gemari adalah kitab yang berjudul Ihya Ulumuddin, atau Ihya.

Namun akhir-akhir ini nama Imam Ghazali mulai meredup dari masyarakat Islam. Orang sudah mulai jarang menyebut nama beliau atau kitab-kitab yang ada pada saat ini sudah mulai jarang menukil ucapan Ghazali. Hal ini disebabkan karena munculnya pendapat dari segelintir kalanganan yang menganggap kitab Imam Ghazali adalah kitab yang penuh kesesatan, di penuhi hadits mungkar dan palsu.

Sepertinya ada upaya tertentu dari segelintir orang yang sengaja untuk menjatuhkan nama beliau dan mengasingkannya dari Ummat. Sehingga rujukan-rujukan didalam kitab-kitab yang ada pada saat ini telah beralih kepada nama-nama lain yang mereka anggap lebih kuat dan lebih shahih.

Siapa Imam Ghazali yang sebenarnya?

Imam Ghazali memiliki nama lengkap Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi’i, lahir di Thus tahun 1058 / 450 H dan wafat dikota kelahirannya pada 14 Jumadil Akhir 505 H dalam usia 52-53 tahun. Beliau dikenali sebagai seorang ulama sekaligus ilmuwan. Tak hanya di kagumi oleh kalangan Islam, bahkan nama beliau cukup harum dan di kagumi oleh para Ilmuwan Barat, sehingga pada abad pertengahan para Ilmuwan barat mengenal beliau dengan sebutan Al Ghazel.

Nama Abu Hamid diambil dari nama anak beliau yang salah seorangnya bernama Hamid. Sedangkan nama Al Ghazali Ath Thuusiy berhubungan dengan Sang Ayah yang bekerja sebagai pemintal bulu kambing ditempat kelahirannya, yaitu daerah yang bernama Ghazalah di Bandar Thus, Khurasan, Persia (Iran).

Dalam fiqih beliau bermadzhab Syafii, sehingga tak jarang pula di belakang nama beliau selalu diikuti dengan gelar Asy Syafii.

Beliau berasal dari keluarga yang miskin. Namun sang Ayah berkeinginan kelak putranya itu bisa menjadi seorang Ulama. Sejak kecil beliau telah diajarkan untuk menjauhkan diri dari berfoya-foya, sikap sombong, takabur, dan sifat-sifat tercela yang lainnya. Ia juga sangat tekun beribadat, bersikap wara’, zuhud, dan tidak gemar kepada kemewahan dan keduniawian.

Selain itu beliau juga sangat cerdas. Dalam masa pendidikan dasar saja beliau sudah mampu menguasai Bahasa Arab dan Persia dengan sangat fasih.

Cita-cita Sang Ayah benar-benar menjadi kenyataan. Setelah besarnya Imam Ghazali benar-benar menjadi ulama, menjadi seorang ahli pikir, ahli filsafat Islam yang sangat terkemuka yang banyak sekali memberi sumbangsih bagi perkembangan kemajuan manusia dan otoritas dakwah Islam di masa itu.

Dalam riwayat hidupnya, beliau pernah memangku jabatan sebagai Naib Kanselor di Madrasah Nizhamiyah, pusat pengajian tinggi di Baghdad, Iraq kala itu.

Imam Ghazali dianugerahi daya ingat yang kuat dan terkenal memiliki hujjah-hujjah yang mumpuni dan bijak. Di sampang itu beliau di kenali sebagai penghapal hadits dengan memiliki hapalan hadits lebih dari 300.000 hadits beserta sanad dan matannya. Sehingga dengan kemampuan itu ia digelari para ulama dengan gelar Al Hujjatul Islam. Ia begitu dihormati di dua pusat peradaban dunia Islam kala itu yaitu Saljuk dan Abbasiya.

Imam Ghazali memiliki rasa kecintaan yang dalam terhadap Ilmu Pengetahuan. Dalam menuntaskan keinginannya itu ia tinggalkan segala kemewahan hidup dan mengganti lembaran hidupnya dengan bermusafir dan mengembara demi mencari ilmu pengetahuan.

Sebelum memulai pengembaraan, beliau telah mempelajari ilmu tassawuf dari karya-karya Abu Yazid al-Bustami dan Al Junayd Sabili.

Dalam tahun ke 10 pengembaraannya, ia telah mengunjungi tempat-tempat penting Islam seperti Makkah, Madinah, Palestina, dan Mesir.

Kitab Ihya Ulumuddin


Kitab-kitab beliau khususnya kitab Ihya Ulumuddin merupakan salah satu kitab terbaik yang pernah di karang oleh ulama Islam di muka bumi ini. Kitab ini sangat digemari oleh para Ulama di Yaman, Mesir, Irak, Persia, Syam, Turki, Indonesia dan banyak lagi.

Banyak sekali dari mereka yang menulis kitab yang isinya menceritakan tentang keutamaan dan kemuliaan kitab Ihya Ulumuddin.

Al Hujjatul Islam Al-Imam Nawawi berkata :

“Seandainya kitab-kitab Islam hilang dan yang tersisa hanya Ihya’, niscaya ia akan menampung apa yang hilang.”

Al-Imam Abdullah Al-‘Idrus berkata :

“Aku duduk bertahun-tahun mengkaji kitab Ihya’, dari setiap bab dan hurufnya. Dan aku mengulangi dan menghayatinya. Maka muncullah kepadaku daripada perbuatan itu akan ilmu-ilmu, rahasia-rahasia dan kepahaman yang melimpah dalam setiap hari berbeda dengan apa yang aku dapat pada hari sebelumnya.”


Al-Imam Isma’il bin Muhammad al-Hadhrami berkata :

“Muhammad bin Abdillâh adalah sayyidul anbiyaa, Muhammad bin Idris As Syafii adalah Sayyidul-A’immah, sedangkan Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali adalah Sayyidul-Mushannifîn”

Al-Imam Imam Muhammad bin Yahya berkata :

“Al-Ghazali ialah Asy-Syafi’I Ats Tsani (Imam Syafii kedua).”

Dalam penyalinannya, kitab Al-Ihya dianggap sebagai kitab yang sangat hebat karena didalamnya mampu merangkum berbagai jenis Ilmu. Awalnya penyalinan dilakukan dengan cara tulisan tangan (makhtutoh) sebagaimana DR. Badawi, penulis kitab Muallafat Al-Ghazali, memberi keterangan, awalnya makhtutoh Al Ihya dibuat sebanyak hampir 120 makhtutoh yang kemudian di simpan di perpustakaan-perpustakaan terkenal didunia, seperti Perpustakaan Darul Kutub Al-Misriyyah, Al-Azhar, Paris, Istanbul, Algeria, Teheran dan banyak lagi yang lainnya. Setelah zaman-zaman percetakan, cetakan terus dilakukan dan di perbanyak sehingga menjadi tersebar ke berbagai Negara Muslim.

Pada masa sebelum ada mesin cetak, saat masih berbentuk makhtutoh, Imam Al-Qutb Sultonul Mala’ As-Syeikh Abdullah bin Abi Bakar Al-Idrus mengatakan; “Surga bagi siapapun yang menulis kitab Ihya Ulumuddin dengan tangannya dan membaginya menjadi 40 jilid.” Maka di zaman beliau kitab Ihya Ulumuddin menjadi tersebar ke berbagai penjuru.

Setelah di baca dan pelajari, banyak para ulama yang menjadi terkagum-kagum dengan isi kitab Ihya tersebut. Sampai mereka mengatakan bahwa perbedaan antara Ulama yang bertaqwa dengan Ulama dunia yang sesat adalah hubungan erat mereka dengan kitab-kitab Imam Al-Ghazali. Ulama yang mencintai kitab Imam Ghazali adalah ulama yang bertaqwa kepada Allah sedangkan yang membencinya adalah para pecinta dunia yang hina. Sebab, Al-Ghazali dalam kitab-kitabnya banyak mempermalukan dunia dan para pecintanya serta para ulama yang tenggelam dalam kecintaan kepada dunia.

Meski begitu, kitab ini tak sepenuhnya mendapat sanjungan. Sebaliknya, kitab ini juga di kritik oleh segelintir kalangan. Akhir-akhir ini bahkan semakin banyak terlihat yang melakukannya. bahkan lebih ekstrim mereka mengatakan kitab ini berisi banyak penyimpangan dan kesesatan besar. Benarkah demikian?

Benarkah tudingan bahwa Imam Ghazali adalah seorang pemalsu hadits?, tak memahami ilmu hadits?, Ihya Ulumuddin tak layak baca?

Pendapat tersebut rasanya terlalu tergesa-gesa. Alasannya :

1. Para ulama yang men-takhrij tidak sepakat dalam jumlah, berapa jumlah hadits palsu didalam Ihya ?

2. Kitab Ihya bukanlah kitab khusus hadits, sebagaimana kitab Sunan-sunan.

Semoga Allah Ta’ala menjaga lisan kita.

Banyak pendapat para ulama yang sering dijadikan sandaran untuk melemahkan Ihya, diantaranya pendapat Ibnu Jauzi, Al Iraqi, Assubki, dll

Imam Ibnu Jauzi berkata :

“Ketahuilah, bahwa kitab Ihya Ulumuddin di dalamnya terdapat banyak kerusakan (penyimpangan) yang tidak diketahui kecuali oleh para ulama. Penyimpangannya yang paling ringan (dibandingkan penyimpangan-penyimpangan besar lainnya) adalah hadits-hadits palsu dan batil (yang termaktub di dalamnya), juga hadits-hadits mauquf (ucapan shahabat atau tabi’in) yang dijadikan sebagai hadits marfu’ (ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam). Semua itu dinukil oleh penulisnya dari referensinya, meskipun bukan dia yang memalsukannya. Dan (sama sekali) tidak dibenarkan mendekatkan diri (kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala) dengan hadits yang palsu, serta tidak boleh tertipu dengan ucapan yang didustakan (atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).”
(Minhaajul Qaashidiin, sebagaimana yang dinukil dalam Majalah Al-Bayaan, edisi 48 hal. 81)

Jika kita ingin memandang lebih jauh, sebenarnya Imam Ibnu Jauzi sama sekali tidak menjatuhkan kitab ilya atau berniat menyingkirkannya dari umat.

Berkata Ibnul Jauzi tentang latar belakang dan metode penyusunan kitabnya:

“Kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali memiliki beberapa kekurangan yang hanya pakar/ahli ilmu (hadits) yang menyadarinya (mengenalinya), seperti pada riwayat yang disandarkan kepada Nabi S.A.W namun ternyata maudhu atau tidak shahih. Oleh karena itu, aku menyusun sebuah kitab yang terbebas dari masalah tersebut tadi, dengan tetap mempertahankan keutamaan (kebaikan) dari kitab aslinya (Al-Ihya). Dalam kitabku ini, aku bersandar hanya pada riwayat yang asli dan terkenal, dan aku hilangkan atau tambahkan dari kitab aslinya (Al-Ihya) apa yang dirasa perlu.”
(Mukhtasar Minhajul Qashidin, Ibnu Daar Al-Manarah Mesir, bab Mukadimah)

Dari keterangan ini Ibnul Jauzi hanya berfokus kepada penelitian ulang derajat hadits-hadits yang ada, kemudian melakukan eliminasi terhadap hadits-hadits yang maudhu, dhaif dan mauquf dan kemudian beliau gantikan dengan dalil yang shahih dan hasan, sehingga didapatkan sebuah kitab yang kokoh sebagai pegangan. Dan sama sekali tidak mengatakan kitab tersebut sesat, atau harus di singkirkan.

Pernyataan Ibnu Jauzi itu bisa menjadi perbincangan ketika munculnya berbagai sanggahan yang muncul dari banyak para muhadditsin dan ulama yang mendukung Ihya. Diantaranya adalah Imam Jalaluddin Assuyuthi dalam kitabnya Al Qaulul Hasan.

Selain Imam Suyuthi, pembahasan ini pun muncul dari Imam Zainuddin Al-Iraqi didalam kitab Al-Mughni fi Hamli al-Asfaar dimana beliau mengatakan :

“Hanya tiga redaksi Hadis yang diklaim maudhu (palsu)”.

Pernyataan tersebut muncul setelah Al Iraqi melakukan takhrij lebih dari 4500 hadis di dalam kitab Ihya.
Al-Imam Zainuddin Al-Iraqi menulis takhrij tentang hadits-hadits yang terdapat dalam Ihya Ulumuddin. Banyak dari hadits hadits tersebut yang sanadnya bersambung. Diantara hadits hadits tersebut ada yang shahih, hasan, dan dhaif. Juga ada hadits-hadits dimana Al-Imam Zainuddin Al-Iraqi tidak mengetahuinya sehingga beliau menyatakan dengan pernyataan yang penuh adab dan penghormatan:

لم أجد له أصل

artinya: saya belum mendapatkan asal usulnya.

Ketidaktahuan Al-Imam Zainuddin Al-Iraqi tentang asal usul hadits tersebut bukan berarti hadits tersebut langsung menjadi PALSU atau MAUDHU. Beliau mungkin belum mengetahuinya, namun ulama-ulama lain mengetahuinya.

Pernah datang suatu masa setelah zamannya Imam Al Iraqi, seorang ulama besar berasal dari Zabid, Yaman yang bernama Al-Imam Al-Muhaddits Al-Hujjah Muhammad bin Muhammad bin Murtadho Az-Zabidi bersama kitab beliau berisi sepuluh jilid yang merupakan syarah kitab Ihya Ulumuddin. Dalam kitab tersebut Al-Imam Muhammad Az-Zabidi menuliskan asal usul hadits-hadits pada Ihya Ulumuddin dengan banyak, yang mana sanad itu tidak di ketahui oleh Imam Iraqi. Az-Zabidi berkata :

“Al-Iraqi pernah menyatakan tentang hadits ini dan beliau berkata tidak mengetahui asal usulnya, tetapi saya sudah mendapatkan sumber dan asal usulnya”

Pada sisi lain, justru kedua kitab susunan Ibnu Jauzi yang berjudul Bahruddumu` dan Al-Wafa fî Ahwalil-Mushtafa dianggap malah memuat hadits palsu, dan lebih banyak jumlahnya dibanding kitab yang ia kritisi. Sampai-sampai Ibnul Atsir menyatakan keterkejutannya didalam kitab beliau Al-Kamil fî at-Tarikh.

Berdasarkan fakta-fakta ini, untuk itu perlu rasanya bagi kita untuk bersikap lebih bijak tanpa terburu-buru.

Lebih jauhnya,

Imam Sayyid Bakri Adimyathi berkata :

“Dan tidak ada yang membantah Ihya’ Ulumiddin itu melainkan orang yang sesat lagi menyesatkan, bahkan berkata sebagian arifin; “Demi Allah, jika sekiranya Allah bangkitkan orang mati niscaya tidaklah mereka berpesan terhadap mereka yang hidup, melainkan dengan apa yang ada dalam kitab Ihya’ Ulumiddin, dan di dalamnya ada manfa’at pelajar pemula, tinggi, dan tawassuth (sedang/tengah2) karna di dalamnya disebutkan perkara yang patut untuk tiga golongan tersebut” (Kifayatul Atqiyaa hal 98 )

Imam Muhammad Mahfudh At-Turmusi berkata :

“Mayoritas Hadits yang dianggap palsu oleh Ibnul Jauzi dalam beberapa karya kritisnya, semisal Al-Maudhu’at dan Al-`Ilal al-Mutanahiyah, (sebenarnya) adalah hadis shahih”

Jadi rasanya terlalu terburu-buru sekali mengatakan Imam Ghazali tidak memahami Ilmu Hadits. Beliau itu telah mencapai hafalan 300.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya.

Kita bisa temukan pada kitab-kitabnya yang lain, Imam Ghazali mampu menuliskan kajian hadits dengan lebih jauh. Diantaranya kitab fiqih Al Musthafa. Pada kitab ini Imam Ghazali menguraikan secara panjang lebar tentang kajian Hadits, terutama yang berkaiatn dengan istinbatul-ahkam. Bahkan pada kitab ini beliau juga memberikan Tarjih saat terjadi perbedaan pendapat dikalangan ulama, baik dari para ushuliyyin maupun muhadditsin.

Maka perlu dipertimbangkan jika ada orang yang mengingkari kitab beliau, apakah pengingkar itu sampai ke derajat beliau atau diatas beliau dalam ilmu hadits?, atau hanya para penukil saja?

Imam Ghazali telah sampai ke derajat Hujjatul Islam, sedangkan Hujjatul Islam berarti telah hafal 300.000 (tiga ratus ribu) hadits berikut sanad dan hukum matannya.

Beliau diakui oleh banyak sekali para Hujjatul Islam lainnya, diantaranya oleh Hujjatul Islam Imam Ibnu Hajar Al Asqalani, beliau banyak sekali menyertakan ucapan Imam Ghazali dalam kitabnya Fathul Bari, beliau banyak menjadikan fatwa Imam Ghazali dari kitabnya Al Ihya sebagai rujukan.

Banyak lagi ulama lainnya seperti Al Hujjatul Islam Imam Nawawi, Al Hafidh Imam Qurtubiy, Al Hafidh Imam As Suyuthi.

Guru tercinta kami, Syaikhunal Kariim Al Hafidh Al Musnid Al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz berkata :

“Semua bahasan dan kajian yang disampaikan oleh Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin tidak ada satupun yang didasari atas hadits dhoif apalagi yang palsu. Semua bahasan dan kajiannya berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits Shahih.”

Setelah itu Al-Imam Ghazali menyertakan beberapa hadits lain sebagai pendukung. Beberapa diantaranya ada hadits yang lemah. Namun itu hanya sebatas pandukung saja. Sekali lagi, tidak ada satu kajianpun dalam Ihya Ulumuddin melainkan ada sumbernya pada Al-Qur’an yang Mulia dan Hadits Nabi Muhammad SAW yang valid dan shahih.

Al Hafidh Al Habib Umar bin Hafidh adalah seorang Al-Hafidh zaman ini. Beliau juga adalah seorang Al-Musnid. Al Musnid adalah gelar bagi mereka yang menyimpan banyak sanad hadits. Umumnya Musnid mendapatkan hadits dengan bertalaqqi (berjumpa dan mendengar langsung) atau dengan Murasalah (saling berkirim surat), sehingga dari banyaknya hadits yang ada pada mereka, sehingga menjadi marja‘ (induk) bagi ahli hadits di zamannya.

Musnid sama dengan Muhaddits, hanya bedanya Muhaddits lebih luas dalam memahami jalur setiap rantai sanad, seperti hari lahir dan wafatnya, kebiasaannya, guru gurunya, demikian setiap rantai sanad diketahui dengan jelas oleh Muhaddits siapa mereka.

Habib Umar bin Hafidh banyak sekali menyimpan hadits musalsal dan beliau hafal sanadnya hingga Rasulullah shalallahu alayhi wasallam, namun sebagian dari hadits tersebut telah ada pada Kutubussittah, walaupun masih ada hadits-hadits yang tak ada pada kutubussittah, yaitu jalur sanadnya tak tercantum pada kitab-kitab para Muhaddits.

Ketika di tanyakan kepada beliau, beliau menjawab mereka para Muhaddits tak mampu menulis semua hadits yang mereka ketahui, karena bagaimana tidak? Imam Ahmad bin Hanbal saja contohnya adalah seorang ulama yang hafal sebanyak 1 juta hadits, namun beliau hanya mampu menuliskan sekitar 20 ribu hadits, maka sekitar 980 ribu hadits tak tertulis namun dihafal dan tersebar di benak murid muridnya. Imam Bukhari hafal 600 ribu hadits dan beliau hanya mampu menulis sekitar 7 ribu hadits dalam shahihnya, lalu sekitar 593 ribu hadits terwariskan ke benak murid muridnya.

Maka sebenarnya ilmu hadits yang paling tsiqah adalah pada para guru-guru yang memegang sanad mereka, karena hadits yang tertulis sangat terbatas.

Berdasarkan ini maka kita harus bisa untuk berpandangan lebih luas. Ikhtilaf merupakan hal yang biasa terjadi dikalangan Ulama. Kita memaklumi ikhtilaf para Muhaddits, bahkan tak jarang dalam menilai suatu hadits pun para ulama berbeda pendapat. Ada yang berpendapat shahih namun yang lainnya mengatakan dhoif, hal ini adalah biasa. Namun jika ada orang masa kini yang mengatakan Imam Ghazali sesat, hendaknya ia berfikir bagaimana orang mulia ini telah digelari Al Hujjatul Islam, hapal lebih dari 300 ribu hadits dan dirujuk oleh para hujjatul islam lainnya, maka hendaknya ia berhati hati.

Apalagi jika mereka yang menuduh itu tak memiliki sanad keguruan yang jelas. Sehingga yang terjadi mereka hanya tahu satu dua dari artikel yang ia baca.

Kesimpulan

1. Ihya Ulumuddin adalah sebuah karya yang sangat baik. Saya ingat pernah membaca sebuah kutipan dari Imam Nawawi di mana dia mengatakan bahwa “Seandainya kitab-kitab Islam hilang dan yang tersisa hanya Ihya’, niscaya ia akan menampung apa yang hilang.”

2. Kitab ini di dukung oleh banyak para Al-Hafidh dan para Imam dan mereka mengakui keilmuan Imam Ghazali dan kitabnya Ihya.

3. Saya tidak akan mengatakan bahwa Imam Ghazali hanya memiliki sedikit pengetahan dalam Ilmu Hadits. Dia adalah seorang Master Ushul Fiqih, dan beliau di akui sebagai Al Hujjatul Islam yang tidak sembarangan orang mampu mendapatkan gelar tersebut. Kitab ini dimaksudkan untuk “menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama” sebagai judulnya, sehingga jelas bahwa kitab ini seharusnya mendorong orang untuk melatih diri menjadi lebih baik. Kitab itu tak merujuk orang untuk masuk neraka, namun mengajak orang masuk ke dalam sorga.

4. Ihya Ulumuddin merupakan kitab tasawwuf, akhlak, nasehat hati, bukan kitab yg membahas masalah hadits atau sebagaimana kitab-kitab khusus hadits seperti shahih bukhari, sunan tirmidzi, sunan abu daud, dan lainnya. Maka tulisan Imam Ghazali didalam Ihya mengalir dengan hadits yang tak terlalu fokus terhadap penyebutan hukum, sanad dan seluk beluk hadits, sebagaimana yg terdapat pada kitab-kitab hadits. Berbeda jika penulis menulis kitab tentang hadits, misalnya shahih Bukhari, maka Imam Bukhari menulis sanadnya, dan kejelasannya, karena memang bukunya menulis masalah hadits, tentu ia akan dan perlu untuk memperjelasnya.

5. Jika Imam Ghazali tidak menuliskan rujukan sanad hadits-hadits yang disebutnya dalam penulisan Ihya, itu bukan kekurangan atau cela pada bukunya, dan bukan pula berarti ia tak paham ilmu Hadits. Namun justru itu menunjukkan luasnya pemahaman akan ilmu hadits pada masa itu, dimana raja raja pakar hadits masih sangat banyak. Dan hadits-hadits yang ditulisnya umum saja, tanpa menuliskan sanadnya pun orang-orang sekeliling sudah tahu sanad dan asal usul hadits tersebut, dan mungkin Imam Ghazali tidak mengira bukunya akan berkelanjutan hingga 1000 tahun, menerobos berbagai generasi dan zaman, bahkan hingga hari ini. Maka dimasanya ia merasa tak perlu menyebutkan sanadnya.

5. Pada catatan yang sama, jika kita melihat kitab Al Adzkar, kita melihat beberapa hadits disana yang kemudian dianggap ulama sebagai hadits yang sangat lemah, lalu apakah hal ini mengurangi status seorang Imam Nawawi ?

6. Bahkan dalam catatan yang lainnya, beberapa hadits Tirmidzi dan Ibnu Majah pun menurut sebagian orang dianggap sebagai hadits palsu. Seperti hadits berikut : Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bersabda : “letakkan pena tersebut di telingamu, karena aku lebih cepat mengenalimu”.(HR Tirmidzi). Ibnu Jauzi menganggap hadits ini sebagai hadits palsu dan memasukkanya kedalam kitab Al Maudhu’aat. Lantas apakah hal ini mengurangi status seorang Imam Tirmidzi? dan apakan kitab Sunan Tirmidzi tidak layak baca dan harus di singkirkan ??

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *