Menggapai Lailatul Qodar di Luar Romadlon dengan Al Furqon

Al-Furqon artinya “pembeda”. Itu merupakan bentuk anugerah Allah yang disematkan di dalam hati seorang hamba pilihan sebagai balasan dari amal ibadah yang dilakukan. Anugerah utama itu berupa kemampuan jati diri seseorang untuk membedakan antara yang hakdengan yang bathil, antara mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang manfaat mana yang madlarat, mana yang cocok dan mana yang tidak. Dengan al-Furqon itu hati seorang hamba menjadi yakin kepada Tuhannya dengan keyakinan yang kuat.

Lailatul Qadr dan Idul Fitri. Hakekat Lailatul Qadr, Idul Fitri dan al-Furqon sejatinya sama, yaitu sama-sama anugerah Allah yang dikhususkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, bahkan ketiganya adalah anugerah terbesar dari anugerah-anugerah yang lain yang diturunkan kepada hambaNya yang dicintai. Anugerah tersebut diturunkan sebagai bentuk kasih sayang yang sedikitpun tidak diberikan kepada orang kafir maupun orang munafik.

Oleh karena itu, keberadaan Lailatul Qadr dan idul fitri di luar jiwa manusia, sedangkan keberadaan al-Furqon ada di dalam hatinya. Maksudnya, al-Furqon itu adalah apa yang sudah menduduki hati manusia, berbentuk apa saja yang secara ilmiah diistilahkan olehilmu pengetahuan. Seperti iman, yakin, Allah, Nurma’rifat atau apapun juga yang hakekatnya tidak berbeda, yaitu sama-sama berbentuk kekuatan yang memancar dari dalam hati manusia sehingga mampu menjadi obor penyulut semangat pengabdian dan perjuangan di jalan Allah .

Al-Furqon itu ibarat matahari yang terbit di dalamdada seorang hamba sehingga menjadikan matahati yang ada dalam rongga dada tersebut menjadi cemerlang dan tembus pandang. Dengan itu menjadikan orang tersebut mampu membaca dan mendeteksi sejak dini setiap sinyal yang didatangkan dari Tuhannya. Sinyal ketuhanan yang dipancarkan melalui realita dan fenomena serta gesekan-gesekan yang seringkali terjadi dalam romantika kehidupan dan konflik horizontalyang ada di sekelilingnya. Merupakan indikator yang dapat dibaca dan ditindaklanjuti dalam proses interaksi antara irodahnya yang haditsdengan irodah Tuhannya yang azaliah.

Ketika mata lahir seseorang “melihat” kejadian yang lahir dan mata batinnya juga melihat yang batin atau rahasia, lalu ketika mata batin itu kemudian mampu “melipat” apa yang dilihat oleh mata lahir, sehingga rahasia di balik kejadian tersebut menjadi nyata baginya, maka dengan al-Furqonitulah orang tersebut akan mampu memilih dan menindaklanjuti apa yang dilihat oleh mata batin itu, meski ia juga sadar bahwa hal tersebut akan membawa dampak dan konsekuensi yang tidak ringan.

Seperti orang melihat bibit penyakit misalnya,

Maka hakekat al-Furqon tersebut adalah semangat jihad yang berkobar-kobar di dalam hati seorang hamba pilihan, yang terfasilitasi kemudahan dan pertolongan serta perlindungan dari Sang Pemelihara Alam Semesta. Dengan al-Furqon itu, pemiliknya menjadi ditakuti dan disegani baik oleh lawan maupun oleh kawan. Al-Furqon itu bukan sekedar semangat yang membara dan membabi buta yang hanya menghasilkan kematian sia-sia di dalam penjara. Namun al-Furqon itu adalah semangat pengabdian yang tulus dari seorang hamba yang sekaligus seorang kekasih. Merupakan refleksi gelora cemburu yang membara ketika dia melihat ketidakadilan dan kemaksiatan yang sedang merajalela di mana-mana karena pada hakekatnya ketidakadilan dan kemaksiatan itu telah terang-terangan menganiaya dan mendzalimi Sang Kekasih tersebut.

Hakekat al-Furqon itu adalah Nuryang ada dalam hati orang beriman, yang bias (atsar)nya memancar melalui akal pikiran dan perilaku hidup sehingga mampu menerangi alam sekitarnya. Bahkan memancarkan daya magnit seperti lampu yang terang di kegelapan malam sehingga menarik laron-laron untuk datang dan berkumpul dengan sendirinya. Selanjutnya, mereka berkumpul dan bersama-sama dalam satu wadah untuk saling menyampaikan aspirasi dan ekspresi serta memenuhi kebutuhan hidup, yang akhirnya lahirlah suatu komunitas serta kekuatan ukhuwahsecara universal.

Ketika al-Furqon itu telah disematkan di hati seorang manusia pilihan, sang pemimpin agung akhir zaman, Junjungan kita Nabi Besar Muhammad, bahkan sejak sebelum Beliau dilahirkan di muka bumi ini, al-Furqon itu telah sanggup memancarkan kekuatan yang luar biasa sehingga mampu menarik hati orang yang mengetahuinya dalam rangka menyemangati dan menguati ibadah dan perjuangan yang mereka jalani. Bahkan sejak itu baginda Nabi saw telah mereka jadikan wasilah19 di dalam do’a-do’a yang mereka panjatkan kepada Allah .

Kemudian Al-Furqon itu juga telah mewarnai kehidupan para Walisongo dan pengikut-pengikutnya di tanah Jawa. Sejarah juga telah mengukir perjuangan dan pengorbanan mereka, kita tinggal menggalinya dari pundi-pundi dan tapak tilas sejarah yang ada.

Demikian pula para Ulama’ sejati kita, manusia pilihan itu telah meneruskan perjuangan para pendahulunya. Dengan kekuatan yang mandiri, tanpa takut kepada musuh-musuh yang siap membidik, dengan sekuat tenaga, mereka membangun dan menggalang semangat ukhuwah Islamiahdi bumi Nusantara tercinta ini, baik melalui majelis-majelis dzikir dan mujahadah, lembaga-lembaga pendidikan baik yang formal maupun non formal dan dakwah-dakwah yang mereka selenggarakan setiap saat, tidak henti-henti mereka menyeru manusia di jalan Allah.

Di antara mereka bahkan ada yang perjuangan-nya tidak menampakkan pamrih duniawi sedikitpun. Dengan pengabdian yang dibiayai hartanya sendiri, bukan mencari harta benda melalui perjuangan yang dijalani. Mereka berdagang sambil berjuang bukan berjuang sambil berdagang, dan bahkan sampai-sampai melupakan kebutuhan diri sendiri. Dimulai dari diri sendiri kemudian bersama dengan umat ketika umat merasa simpatik dengan pengabdian mereka. Mereka itu sekarang masih ada, Ulama’ yang asli itu masih dapat kita temukan, meski sekarang sedang tumbuh dan banyak berkembang juga, sebagian dari mereka yang “aspal” (asli tapi palsu), yang mengaku Ulama’ padahal perilakunyatidak mencerminkan akhlak seorang Ulama’ sejati.

Untuk dapat membedakan mereka hanyalah dengan sorot matahati yang cemerlang, yaitu keikhlasan hati dalam mencari sumber kebenaran yang hakiki, mana di antara mereka yang asli dan yang “aspal”. Namun, karena sebagian besar para awamkurang mampumembedakannya, maka banyak terjadi yang mestinya palsu dianggap asli, sehingga yang sesungguhnya asli dan sangat dibutuhkan untuk menguatkan iman, malah mereka campakkan begitu saja. Bahkan yang semestinya tontonan dijadikan tuntunan, sehingga yang seharusnya jadi tuntunan akhirnya dijadikan tontonan.

Walhasil, apa saja yang didatangkan Allah  kepada seorang hamba beriman sebagai bentuk pertolongan dari sisiNya. Meskipun itu berupa pertolongan secara lahiriah, baik dalam aspek ilmiah maupun amaliah, baik secara maknawiah maupun hissiyah, baik horizontal maupun vertikal, semua itu sesungguhnya untuk tujuan „batiniah, yaitu supaya Mental Ruhaniah seorang hamba siap dalam menghadapi segala kenyataan hidup, meski harus menghadapi kematian sekalipun. Dalam menghadapi ajal kematian tersebut orang beriman dituntut mampu menghadapinya dengan hati selamat. Kekuatan (keyakinan) hati seperti itu, apabila didapatkan dari pengamalan ilmu agama yang benar maka itulah yang disebut dengan istilah al-Furqon.

Allahu wa Rasuuluhu A‘lamu.

 

sumber : Buku AL- FURQAN – Lailatul Qadr di Luar Ramadhan oleh Muhammad Luthfi Ghozali Download

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *