ngaji dan dzikir, dengan fikiran ngelantur ????

Saya gak ngerti dengan yang lain, ketika ngaji di depan guru atau ikut majelis dzikir wah fikiran malah neglantur, jalan-jalan ke sana ke mari.

Malu (hanya omongan tog) terutama di hadapan guru/orang yang dapat membaca isi hati ini, tapi ya gitu ….. saya bilang omong tog, terbukti, fikiran tetap saja melayang walau berkata malu.

Seumur-umur, sangat penasaran, apa itu khusuk? bagaimana rasanya khusuk itu?

Di dalam majelis “guru” mulia, sungguh memalukan membawa fikiran buruk dan aneh-aneh, padahal sebelum berada dalam majelis tersebut, fikiran juga tenang-tenang saja, kemudian segera dalam majelis, fikiran fikiran penuh kotoran memenuhi kepala.

Hal ini yang biasa menyebabkan, “malu” untuk datang, “buat apa” datang apa ada pahala dll, bejibun alasan-alasan itu timbul, agar tidak datang.

Tapi beberapa waktu yang lalu, ada nasehat yang luar biasa menurut saya!

beliau bercerita, ketika menghadap para ulama yang “waskita”, beliau akan bercerita lepas, semua yang ada di fikirannya, termasuk yang jelek-jelek. beliau juga mengatakan, “pak kyai, saya ini datang ke jenengan untuk memperbaiki diri, jadi saya tidak akan pergi sebelum pak memperbaiki saya” begitu kira-kira yang saya tangkap.

dari sini, saya mulai membangun “niat”, biarlah saya datang ke majelis “guru” mulia, atau majelis-majelis “surgawi” lainnya dengan hati dan fikiran yang penuh kotoran dan berlumur dosa. Toh memang saya datang itu adalah untuk memperbaiki diri.

Untuk apa saya malu? ya memang harus malu, tapi bagaimana lagi, diri ini memang manusia buruk, yang datang ke majelis-mejelis seperti itu sebagai bengkel hati. Jika datang ke sebuah bengkel, justru kebobrokan-kebobrokan jangan ditutup-tutupi agar dapat segera diperbaiki. bila ditutupi malah tukang servisnya tidak mengetahui dan tidak tertangani. bagaimana jika ternyata hal tersebut adalah vital?

biarlah banyak penceramah yang bilang, tidak berguna ibadah yang tidak khusuk. itu bukan tingkatan saya. tingkatanku adalah datang ke bengkel untuk perbaikan, entah kapan mobil ini dapat dikendarai.

ya Allah, ya Rosululloh, ya Sayyidi, saya datang kepadamu tidak membawa kebaikan sama sekali, melainkan membawa semua keburukanku. Engkau telah berkata “syafaatku adalah untuk orang pendosa”,maka aku mohon syafa’atmu ya Sayyidi, ya Rosululloh.

Apakah ini riya’? dah biarlah, toh semua ibadahku penuh dengan riya’. Bagaimanakah khusuk? dah biarlah, toh itu bukan untukku, untukku hanyalah terpaksa melakukan ibadah, dan berharap belas kasihan.

ya Allah, ya Sattar ya Ghoffar Tutuplah aib ini.

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *