Pendidikan Ala Kyai Bisri Mustofa

Metode pengajaran yang dikembangkan oleh KH. Bisri Mustofa di Pesantren Rauldatuth Tholibin pada awal berdirinya adalah murni salaf (ortodoks). Pengajaran dilakukan dengan cara bandongan (kuliah umum) dan sorogan (privat). Keduanya diampu langsung oleh KH. Bisri Mustofa sendiri.

Pendidikan Santri

Metode pengajaran yang dikembangkan oleh KH. Bisri Mustofa di Pesantren Rauldatuth Tholibin pada awal berdirinya adalah murni salaf (ortodoks). Pengajaran dilakukan dengan cara bandongan (kuliah umum) dan sorogan (privat). Keduanya diampu langsung oleh KH. Bisri Mustofa sendiri. Ketika jumlah santri meningkat dan kesibukan KH. Bisri Mustofa bertambah maka beberapa santri senior yang telah dirasa siap, baik secara keilmuan maupun mental, membantu menyimak sorogan. Pengajian bandongan terjadwal dalam sehari semalam pada masa KH. Bisri Mustofa meliputi pengajian kitab Alfiyyah dan Fath al-Mu’in sehabis maghrib, Tafsir Jalalain setelah jama’ah shubuh, Jam’ul Jawami’ dan …. pada waktu Dhuha, selain itu KH. Bisri Mustofa melanjutkan tradisi KH. Cholil Kasingan mengadakan pengajian umum untuk masyarakat kampung sekitar pesantren tiap hari Selasa dan Jum’at pagi.

Pondok Pesantren Raudlatut Thalibien Rembang adalah wujud kecintaan K. Bisri kepada ilmu pengetahuan. Di tempat inilah belian mengajarkan ilmu kepada santri-santri dengan istilah beliau ‘kulakan’ atau ‘grosiran’, sebab banyak materi diberikan dengan jangka waktu yang panjang dan penjelasan yang mendetail. K. Bisri tidak pernah lelah mengajar santri-santrinya. Pernah di suatu ketika menjelang subuh K. Bisri tiba di rumah dari menghadiri pengajian di suatu tempat. Perjalanan pulang ke rumah terasa melelahkan, walaupun demikian K. Bisri tetap menunggu waktu subuh untuk kemudian mengajar.

Bagi K. Bisri kewajiban seorang santri adalah belajar dan belajar agar hal ini dapat dilaksanakan oleh semua santrinya maka beliau selalu mengawasi santri-santrinya supaya lebih banyak menggunakan waktunya untuk belajar. Untuk mendapatkan ilmu menurut Kyai Bisri tidak ada cara lain kecuali belajar. Barokah dan lain sebagainya bisa mengalir ketika kita mau belajar dengan tekun. Ketika ada seorang santri mengantuk pada waktu ngaji K. Bisri yang mengatahuinya langsung marah dan berkata “Jangan mengaji kepadaku!!! Mengajilah pada K. Ma’ruf yang sudah punyak barokah, sebab aku belum punya barokah”. Kalimat ini dimaksudkan bahwa soal-soal supranatural yang irrasional dalam menuntut ilmu misalnya laduni, jadug tanpa tirakat, pinter tanpa meguru, bukanlah aliran yang diikuti Kyai Bisri.

Pernah suatu kali ada seorang santri dari pondok lain sowan ke hadapan beliau. Santri tersebut minta didoakan agar cepat kefutuh hatinya sebab pada saat itu dia sedang menjalani laku tirakat dengan cara menziarahi makam-makam walisanga yang terkenal itu dengan berjalan kaki. Oleh K. Bisri, santri tersebut justru dimarahi. Terjadilah tanya jawab yang menarik.

“Sampean sudah berapa lama berjalan?”

“Wah sudah kira-kira dua bulan Kyai. Saya sekarang hampir menyelesaikan separuh perjalanan. Saya sekarang dalam perjalanan ke Jawa Timur dan Madura.”

“Sampean sudah ijin sama Kyai sampean?”

“Sudah Kyai, malahan saya dipeseni untuk mampir, sowan sama Kyai.”

“Sekarang pondok apakah sedang liburan?”

“Tidak Kyai.”

“Kyai sampean apa sedang sakit?”

“Tidak Kyai.”

“Berarti sekarang kegiatan belajar mengajar di pondok tetap berlangsung?”

“Iya Kyai.”

“Sekarang sampean pulang saja. Naek bis. Jangan jalan kaki! Nanti tak sangoni kalau sampean ndak punya uang untuk ongkos. Pulang ke Pesantren!”

“Lo saya sekarang kan sedang menjalankan laku saya, Kyai..”

“Lo, lo, lo, gimana to sampean? Sampean saat ini sedang mondok. Meguru pada seorang Kyai. Kalau sekarang Kyai sampean mengijinkan sampean menjalani laku semacam ini bukan karena beliau menyetujui. Itu karena Kyai sampean adalah orang yang beradab sehingga sungkan sama sampean. Namanya dzolim kalau sampean meneruskan laku sampean itu. Umur dan status sampean sekarang pelajar, muta’allim. Tugasnya belajar, nderespada seorang guru. Apalagi tadi kata sampean, laku sampean itu supaya bisa kefutuh hatinya. Nanti sampaikan salam saya pada Kyai sampean.”

“Tapi Kyai…”

“Ndak ada tapi-tapinan. Orang-orang nyebut saya ini Kyai. Kyai yang ngalim malah. La kok sampean yang belum apa-apa ngeyeli saya. Saya sudah pengalaman. Teman-teman saya yang Kyai buanyak. Ngalim-ngalim semua. Kefutuh semua. Ndak ada itu yang pinter dan ngalim gara-gara laku kayasampean. Yang ada ya nderes. Nanti kalau pas liburan atau pondok sedang tidak aktif, bolehlah sampean jalan-jalan ziarah ke makam wali-wali. Kalau pondok sedang aktif ya di pondok aja. Ngaji. Nderes.”

sumber : http://ppssnh.malang.pesantren.web.id/cgi-bin/content.cgi/artikel/pendidikan_alayaibisri.single?seemore=y

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *