Perjalanan Imam Ghozali dari Ulama menjadi Ulama yang sholihin

A`uudzu billahi min asy-Syaythaani ‘r-rajiim. Bismillahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim. Nawaytu ‘l-arba`iin, nawaytu ‘l-`itikaaf, nawaytu ‘l-khalwah, nawaytu ‘l-`uzlah, nawaytu ‘r-riyaadah, nawaytu ‘s-suluuk, lillahi ta`alaa fii haadza ‘l-masjid.

 Salaamu `alaykum wa rahmatullaahi wa barakaatuh. Alhamdulillahi ‘Lladzii qaala qul Huwa Allahu Ahad Allahu ‘sh-Shamad. Huwa ‘l-Ahad al-Mutlaq al-Fardhu ‘sh-Shamadu alladzii fadalanaa bi ’l-muna wa ‘l-ata`a wa tafarada fii qidamahi wa ’l-baqaa wa ja`ala dzikruhu min asyarafi ‘th-tha`aat wa afdhalu ’l-`ibadaat, wa ja`alahu sababan li ‘wushuuli ila `alaa ‘l-maqaamaat wa ja`ala dzaakirahu wa ‘l-mutabi`a ‘r-rasuuli jaliisahu wa khasahu bi dzaalika min ghayri saa’iri ’l-makhluuqat. Wa ’sh-shalaat wa ‘s-salaam `ala Sayyidina Muhammadin sayyid al-bashar. Allahumma shalli wa sallim `alayk yaa Rasuulullah, yaa Rahmatan li ’l-`Alamiin.

 Tidak mudah untuk menjadi seorang alim, dan tidak mudah untuk menjadi seorang yang saleh.  Ada perbedaan besar antara ulama dengan shaalihiin,  seorang alim dapat mengetahui suatu ilmu, tetapi seorang yang saleh berada di atasnya karena ia saleh dan ikhlas, sementara seorang alim tidak harus menjadi saleh dan ikhlas, ia mengetahui suatu ilmu dan apa yang ia bicarakan, apa yang ia hafalkan dari buku-buku, kemudian ia sampaikan.  Mungkin saja ia masih melakukan sesuatu yang tidak diterima (di dalam Islam), tetapi ketika ia berbicara, ia bicara dengan fasih dan orang-orang menyukainya.

 Tetapi seorang yang saleh, seorang yang ikhlas, ia berusaha membangun jembatan.  Mereka adalah al-mushlihuun, mereka berusaha melakukan yang terbaik untuk membangun jembatan di antara umat agar dapat membawa mereka bersama-sama di dalam jalan yang damai.

Sejarah mencatat bahwa ada banyak ulama yang sekaligus merupakan shaalihiin, dan meskipun demikian mereka masih mempunyai berbagai masalah karena mereka belum mencapai apa yang diharapkan oleh orang-orang.

Mengapa orang datang bersama di dalam sebuah halaqah zikir, atau dalam membaca kitab suci al-Qur’an atau membaca hadits?  Mereka melakukan hal itu karena Allah (swt) berfirman,

أَنَا جَلِيْسُ مَنْ ذَكَرَنِي

Anaa jaliisu man dzakaranii.

Aku duduk bersama orang-orang yang mengingat-Ku. (Ahmad, Bayhaqi)

 فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُواْ لِي وَلاَ تَكْفُرُونِ

 Fadzkuruunii adzkurkum, w ’asykuruu lii wa laa takfuruun.

Ingatlah Aku, Aku akan mengingatmu.  Bersyukurlah kepada-Ku dan jangan kau ingkari nikmat-Ku.

(Surat al-Baqarah, 2:152)

 “Sebutkan Nama-Ku dan Aku akan menyembutkan namamu di dalam Hadirat yang lebih baik daripada hadiratmu.”  Tetapi untuk mencapai tahapan itu, apa yang harus kita lakukan?  Mengingat Allah setiap saat, dzikrullah. Hal itu tidaklah mudah.  Apa yang Dia katakan?   “Ingatlah Aku dan Aku akan mengingatmu dan bersyukurlah pada-Ku dan jangan mengingkari nikmat-Ku.”  Jadi, dengan bersyukur kepada-Nya, kita mengingat-Nya; ketika kita mempunyai kesehatan yang baik, bersyukurlah kepada-Nya, dan katakan, “Alhamdulillah yaa Rabbii,” ketika Dia memberi kita kekayaan, ucapkanlah, “Alhamdulillah yaa Rabbii, syukran lillah,” ketika Dia membuat kita mengetahui sesuatu dengan ilmu, ucapkan, “Syukran lillah, alhamdulillah yaa Rabbii.”  Mengingat-Nya adalah jalannya, itu adalah jalan tol, tiket gratis ke Surga!

 Apa yang dikatakan oleh Hujjat al-Islam Imam Ghazali (r)?  Dari sini kita memahami bahwa itu tidaklah sederhana, itu tidak mudah.  Nabi (s) tidak memerlukan seorang pemandu, tetapi ia mempunyai Sayyidina Jibriil (a) sebagai pemandu untuk menunjukkan kepada kalian bahwa kalian harus mempunyai seseorang untuk mengarahkan dan memandu kalian.  Sayyidina Imam Abu Hamid al-Ghazali (r) merupakan seorang ulama besar, sebelum beliau mampu melihat Hakikat, mencapai Maqaam al-Musyaahada, Maqam Penglihatan, di mana kalian dapat melihat apa yang tidak dapat dilihat oleh orang lain.

 Saya pernah menceritakan kisah mengenainya.  Beliau mempunyai seorang kakak, Ahmad al-Ghazali, yang juga seorang ulama besar.  Di dalam salat, kakaknya selalu menjadi imam, dan beliau, Abu Hamid, salat di belakangnya bersama jemaah lainnya.  Suatu ketika setelah bertahun-tahun seperti itu, beliau berhenti salat di belakang kakaknya dan orang-orang mulai membicarakannya, “Apa yang terjadi, mengapa beliau tidak lagi salat di belakang kakaknya?”  Kakaknya adalah ulama yang lebih besar dibandingkan Abu Hamid, tetapi sesuatu telah terjadi.

 Sebelum kita lanjutkan dengan apa yang terjadi, beliau berkata mengenai wilayah (kewalian), “Pada tahap awal mempelajari Syari`ah untuk menjadi seorang ulama, aku sering menyangkal maqam dan ilmu dari orang-orang yang saleh, aku sering menyangkal apa yang orang katakan mengenai mereka.  Orang-orang mengatakan, ‘Ini adalah wali, ini adalah wali’ tetapi aku menyangkal semua awliyaullah, itu tidak sesuai dengan pikiranku.”

 Ini adalah tipikal Salafi sekarang.  Ini adalah Abu Hamid al-Ghazali pada awal masa-masa belajarnya.  Kuntu fii mabda’i amrii munkiran li-ahwaali ’sh-shaalihiin wa maqaamaati ’l-`arifiin, “Aku menyangkal level dan maqam orang-orang yang arif.  Hattaa sahibta syaykhii Hal itu tidak masuk ke dalam pikiranku, hingga suatu hari aku bertemu dengan seseorang dan ketika aku melihatnya, hidupku berubah!  Aku mengikutinya dan menjadi salah satu muridnya, beliau adalah Yusuf an-Nassaaj, Yusuf Sang Penenun, an-Nassaj–Penenun adalah nama keluarganya.  Beliau adalah seorang pria, seorang guru, seorang mursyid, tetapi beliau juga bekerja menenun kain.  “Ketika aku melihatnya, aku melihat sesuatu yang istimewa.”  Falam yazal yasqulunii bi ’l-mujahadaat hatta hazhiitu bi ‘l-waaridaat, “Ia terus memolesku dengan membuatku berjuang di dalam kehidupanku dan menunjukkan aku jalan yang sulit.”

 Tidak mudah untuk menjadi seorang yang arif.  Itu bukanlah sesuatu yang dapat kalian beli di toko.  Untuk mencapai ilmu makrifat, ia memerlukan perjalanan yang panjang dan jika kalian tidak mempunyai pemandu, kalian tidak bisa sampai ke mana-mana.  Kalian memerlukan seorang pemandu untuk memandu kalian.  Imam Ghazali (r) berkata, “Aku menemukan seorang pemandu,” dan sekarang orang-orang mengajarkan ajaran Imam Ghazali di mana-mana, karena mereka menganggapnya sebagai seorang guru besar dalam Syari`ah dan ulama besar dalam Spiritualitas, Tazkiyyat an-Nafs, yang kita sebut ‘Tasawwuf.’  Ajarannya ada di mana-mana, bahkan di Mekah dan Madinah.

 Beliau berkata, “Aku mengambil seorang pemandu.”  Jadi, tanpa pemandu, jangan percaya bahwa kalian dapat melakukan sesuatu, dan pemandu atau mursyid yang kalian ikuti itu, kalian harus menghormati dan mencintainya; kalian tidak bisa melakukan sesuatu yang tidak disukainya.  Dan kalian harus menghormatinya dan memanggilnya dengan panggilan terbaik. Itulah sebabnya mereka memanggil Syekh mereka, ‘Sulthan al-Awliya’ dan kita menyebut Syekh kita, ‘Sulthan al-Awliya.’

 Tarekat-tarekat mempunyai nama yang berbeda-beda, Syadzili, dari nama Imam Abu ’l-Hasan asy-Syadzili, atau Boutchiyya dari nama Syekh Hamza Boutchiyya, diikuti oleh orang-orang di Maroko, atau Aljazair dan Tunisia; lalu Tijaniyya dari nama Sayyidina Ahmad at-Tijani.  Mereka mencintai mursyid mereka, karena mursyid-mursyid itu membawa mereka kepada Hakikat.  Jadi kita memanggil Syekh kita Sulthan al-Awliya tetapi kita tidak menyangkal yang lain.  Kita tidak tahu, itulah yang paling penting.  Kalian tidak perlu berselisih dengan yang lain.  Mereka memanggil syekh mereka, ‘Sulthan al-Awliya’ juga dan kita menghormati mereka.  Kita mempunyai Sulthan al-Awliya bagi kita sendiri, yaitu Mawlana Syekh Muhammad Nazim `Adil!  Orang-orang  mungkin saling berselisih satu sama lain dengan mengatakan, “Syekhku lebih baik; Oh, Syekhku adalah Sulthan al-Awliya,” sementara yang lain, “Oh Syekhku yang Sulthan al-Awliya!”

 Jadi, beliau mengikuti Yusuf an-Nasaaj, Sang Penenun, dan Syekh itu menempatkannya di dalam ujian.  Imam Ghazali berkata, fa lam yazal yasqulunii, “Beliau terus-menerus memolesku,” dan memarahinya. (Seperti murid ini), setiap kali saya melihatnya, seolah-olah saya melihat kucing kecil di hutan, kucing gunung, mereka perlu banyak pekerjaan.  Dengan izin Mawlana Syekh, saya harus… kalian tahu di masa lalu tidak ada mesin cuci, mereka mencuci dengan tangan mereka, dengan sabun dan air untuk membersihkannya.  Kalian harus melakukannya karena kalian tidak bisa memasukkannya semua ke dalam mesin cuci!

 Jadi Imam Ghazali berkata, “Beliau mulai menempatkan aku ke dalam khalwat, di mana inilah makna dari mujaahidaat, sampai aku mulai menerima waaridaat, inspirasi.  Ketika engkau mulai menerima, segala sesuatunya berubah, dan aku melihat Allah (swt) di dalam mimpiku.”

 …إن اقترب إلي شبرا تقربت إليه ذراعا إن اقترب إلي ذراعا اقتربت إليه باعا إن أتاني يمشي أتيته هرولةأ

Barang siapa yang mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta; barang siapa yang mendekati-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya satu depa; dan barang siapa yang mendekati-Ku dengan berjalan, Aku akan mendekatinya dengan berlari.

 (Hadits Qudsi, Bukhari dan Muslim)

 “Barang siapa yang mendekati-Ku sejengkal, Aku akan mendekatinya satu hasta.  Barang siapa yang mendekati-Ku dengan berjalan, Aku akan mendekatinya dengan berlari.”

 Nabi (s) juga bersabda, “Aku melihat Tuhanku di dalam mimpi dengan tersenyum.”

 قال رسول الله صلى الله عليه وسلم‏ :‏إن الله تعالى تجلى لي في أحسن صورة فسألني فيما يختصم الملأ الأعلى قال قلت ربي لا أعلم به قال فوضع يده بين كتفي حتى وجدت بردها بين ثديي أو وضعهما بين ثديي حتى وجدت بردها بين كتفي فما سألني عن شيء إلا علمته‏.‏

 Diriwayatkan dari Ibn `Abbas bahwa Nabi (s) bersabda, “Tuhanku mendatangiku dalam wujud yang paling indah dan bertanya kepadaku, ‘Tahukah engkau apa yang diperdebatkan oleh Majelis Tinggi (pada malaikat)?’ Aku berkata, ‘Aku tidak tahu.’  Kemudian Dia meletakkan Tangan-Nya di antara pundakku, dan aku merasakan dinginnya di antara dadaku… Kemudian Dia tidak bertanya apa-apa lagi kepadaku kecuali bahwa aku telah mengetahuinya.” (Tirmidzi)

 Imam Ghazali (r) berkata, “Aku melihat-Nya di dalam mimpi.”  Jika kalian melihat Allah (swt), dan ada beberapa orang di sekitar saya yang melihat Allah (swt) di dalam mimpinya, saya tahu siapa yang melihat Allah (swt) di dalam mimpinya.  Jika seseorang dapat melihat-Nya, maka ia juga dapat melihat lebih banyak lagi.  Itulah sebabnya mengapa Imam Ghazali berhenti melakukan salat di belakang kakaknya.  Ketika kakaknya mulai bertakbir, “Allahu Akbar,” beliau meninggalkan salatnya dan pulang ke rumah.  Dan ibunya berkata, “Wahai Abu Hamid, mengapa engkau tidak melakukan salat di belakang kakakmu?”  Beliau berkata, “Aku tidak  bisa.”  Kakaknya menjadi gelisah dan berkata, “Aku ingin tahu mengapa karena hal ini tidak enak dilihat oleh orang-orang.”

 Dan akhirnya, kita tidak ingin membuat ceritanya menjadi panjang, akhirnya Imam Ghazali (r) berkata kepada ibunya, “Segera setelah engkau mengucapkan ‘Allahu Akbar’ aku melihatnya jatuh ke dalam ember yang penuh dengan darah, dan darah itu membatalkan wudu.  Kau harus melakukan wudu kembali.”

Ibunya pergi dan mengatakan kepada sang kakak, “Ini yang dikatakan oleh adikmu.”

Beliau datang dan berkata, “Yaa Aba Hamid, di mana darahnya?”

Beliau berkata, “Wahai kakakku, segera setelah engkau mengucapkan, ‘Allahu Akbar,’ kau memasuki salatmu, dan fatwa yang mereka minta kepadamu masuk ke dalam pikiranmu.  Dan fatwa itu mengenai periode haid wanita, jadi aku melihatmu dari atas ke bawah bahwa kau memikirkan fatwa itu, dan kau menjadi terselubung dengan darah, jadi bagaimana aku bisa salat bersamamu?”

Sang kakak berkata, “Kau berkata benar, sadaqt.”

Jadi, beliau melihat Allah (swt) di dalam mimpinya dan Allah berfirman kepadanya, “Yaa Aba Hamid!  Tinggalkan duniamu, tinggalkan apa yang membuatmu sibuk dengan kehidupan ini dan pergilah dan bertemanlah dengan orang-orang yang Aku jadikan seperti gunung-gunung di Bumi-Ku.  J`alatum fii ardhii mahalla nazharii, Aku jadikan mereka untuk berada di Tanah-Ku, selalu dalam Pandangan-Ku.  Aku jadikan mereka di dalam Pengawasan-Ku, gunung-gunung di Bumi.”

Ini adalah seperti Sultan kita, Mawlana Syekh Muhammad Nazim `Adil, semoga Allah memanjangkan umurnya.

عِنْدَ ذِكْرِ الصَّالِحِينَ تَنْزِلُ الرَّحْمَةُ

`Inda dzikr ash-shalihiin tanzilu ’r-rahma

Ketika nama orang-orang yang saleh disebutkan, Rahmat Allah turun. (Diriwayatkan oleh Sufyan ibn `Uyayana di dalam kitab Zuhd dari Imam Ahmad)

 Sudah sangat dikenal bahwa ketika kalian menyebut nama orang-orang yang saleh, Allah menurunkan Rahmat-Nya kepada kalian sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits Nabi (s) tersebut. Bagaimana menurut kalian, jika kalian berkumpul bersamanya?  Untuk menyebutkan namanya saja, Rahmat Allah akan datang!  Allah berkata kepada Imam Ghazali, “Pergilah dan jadilah salah satu di antara mereka, ikuti mereka, karena Aku menjadikan mereka berada di Tanah-Ku dan di bawah pengawasan-Ku.”

 Imam Ghazali melanjutkan, “Wa humulladziina ba`uu ’d-daarayn bi hubbii, mereka adalah orang-orang yang menjual hidupnya di dunia dan akhirat demi Cinta-Ku; mereka hanya menginginkan Cinta-Ku. Qultu bi `izzatika illa adzaqtanii barda husni dzanni bihim, Yaa Allah!  Aku memohon dengan Kebesaran-Mu untuk membuatku merasakan manisnya mereka dan untuk menghilangkan keraguanku kepada mereka.”  Dan Allah berfirman, Qad fa`lt, ‘Aku telah melakukannya untukmu, dan antara engkau dengan mereka adalah hubb ad-dunya.  Tinggalkanlah hal itu atas pilihanmu, karena kelak kau akan diminta untuk meninggalkannya dengan perintah, karena Aku akan memanggilmu nanti.’ (Itu artinya, “Sebelum kau tinggalkan karena terpaksa, sekarang tinggalkanlah atas pilihanmu.” Ketika kau mati, kau akan meninggalkannya dengan paksaan, seperti seorang anak, seperti kalian telah dihancurkan.) Faqad afadtu `alayka anwaaran min jiwaari qudsii, Aku telah mengirimkannya kepadamu dari Cahaya Ilahiah-Ku yang Suci.’”

 Aku bangun dalam keadaan sangat gembira kemudian aku pergi mendatangi Syekhku, Yusuf an-Nasaaj, dan aku ceritakan tentang mimpiku dan beliau tersenyum dan berkata, “Ini adalah jalan kita pada awalnya, jika engkau mengikutiku lebih jauh, kau akan meletakkan kohl pada matamu dan melihat apa yang tidak bisa dilihat dan mampu mendengar apa yang tidak bisa didengar.”

 Itulah Abu Hamid al-Ghazali (q), salah satu dari ulama yang sekaligus merupakan shaalihiin, orang yang saleh dan ikhlas, di mana orang-orang belajar darinya.  Jadi bagi setiap orang, Allah telah memberikan seorang pemandu dan melalui pemandu itu, ia telah diperkenalkan kepada Silsilah Keemasan itu, kepada sebuah mata rantai.  Dan kita telah diberi pilihan untuk mengikuti seorang pemandu dan kita harus menghormati pemandu kita, bukannya dengan kata-kata saja, tetapi dengan perbuatan.  Kita harus menghormatinya sebagaimana mestinya, karena sebagaimana telah disebutkan bahwa menyebutkan nama orang-orang yang saleh akan menurunkan Rahmat Allah, jadi kita perlu menyebutkan namanya, kalian tidak dapat menyembunyikan namanya.  Beliau telah menyebarkan Islam dan Tazkiyyat an-nafs Timur dan Barat.  Beliau telah memoles kalbu para mualaf dari Timur ke Barat, dari orang-orang Arab di Timur dan Barat, dan beliau telah memoles kalbu orang-orang di Sub Kontinen di Timur dan Barat, karena ada banyak orang dari Sub Kontinen yang tinggal di Timur dan Barat, bahkan di Eropa dan bahkan di negeri-negeri Arab, di mana-mana.  Beliau menyebarkan ajaran ini hingga setiap orang mengenalnya, tetapi kita harus menghormatinya!

 oleh Syekh Hisyam Kabbani

sumber  :

http://sufilive.com/Latest_Declaration_from_Mawlana_Shaykh_Nazim

_Build_forty_mosques_and_open_Dhikr_centers_everywhere_-5489.html

© Copyright 2014 Sufilive. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.  Transkrip ini dilindungi oleh Undang-Undang Hak Cipta Internasional.  Mohon untuk menyebutkan Sufilive ketika membagi tulisan ini. JazakAllahu khayr.

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *