permen spiritual, nikmatnya beribadah

Kebaikan/ibadah/dzikir yang kita lakukan akan menimbulkan suatu energi. Getaran dari dzikir lisan kita akan menimbulkan gelombang yang memindahkan energi, getaran dari gerakan/perbuatan kita juga begitu, bahkan getaran hati kita juga menimbulkan gelombang energi.  Energi yang timbul dan mengalir ini akan menimbulkan sensasi-sensasi energi, dan ini dapat anda baca dipostingan sebelumnya, sensasi energi, pengalaman spiritual

Tentu saja gelombang energi tersebut (kita sebut saja energi dzikir) akan berbeda, berbeda lafadz/kalimat akan menimbulkan frekuensi yang berbeda, antara frekuensi dzkir lisan dan hati tentu saja akan memiliki frekuensi yang berbeda pula. Sehingga bisa dipahami dzikir lisan dapat kita dengar dengan telinga kita, tetapi dzikir hati ini tidak dapat terdengar karena energi dzikir jenis ini lebih halus lagi. Tetapi bagi orang yang sensitif, energi dzikir ini dapat ditrafsirkan hingga menimbulkan sensasi-sensasi energi, seperti ketenangan hati, penglihatan-penglihatan, gerakan, atau lain-lain.
(mohon maaf bila menguraikan/menganalogkan dzikir dengan energi, karena mungkin ini pendekatan yang enak, dan sedang dari sudut ruh, wah ini bagi orang khusus yang saya gak bisa membayangkannya)

Seperti postingan sebelumnya, sensasi-sensasi seperti ini ada yang menganggapnya sebagai “PERMEN SPIRITUAL”, yang ibarat anak kecil, kita akan lebih giat ibadah bila diberi reward permen. Dan seperti saya, permen saja belum mendapatkan, hehehe …. jadi sibuk bayangkan permennyaa….

Apakah “permen spiritual” “sensasi-sensasi energi” seperti itu salah? Karena saya masih tingkat mencari permen, ya tentu saja jawaban saya “hal tersebut OK, bahkan oleh banyak orang, hal ini diperlukan sebagai motivasi ibadah” (berbeda orang yang imannya sangat kuat, yang tetap istiqomah tanpa permen, bahkan tetap istiqomah dengan jamu pahit). Yang menjadi salah, apabila menafsirkannya dengan hawa nafsu kita (dapat terjebak dengan tipu daya nafsu dan setan) sehingga menimbulkan sesuatu yang salah diakhirnya. Maka sangat penting untuk merahasiakan “rasa permen” tersebut dan hanya boleh membicarakan/konsultasi hanya dengan orang yang kompeten dalam hal tersebut.
Salah konsultasi/bercerita dengan orang yang salah, dapat menimbulkan rasa sombong atau salah menafsirkannya hingga tidak mendorong kepada ridlo Allah, malah terjebak dengan was-was atau mengikuti tipudaya nafsu dan setan. Seorang mursyid “guru spiritual” yang memenuhi kualifikasi sangat diperlukan. Beberapa ciri utamanya, perbuatannya sesuai sunnah nabi, rendah hati (memandang orang lain lebih baik dari dirinya), menyayangi semua orang tanpa membedakan status, agama, perilaku dll (karena beliau hanya melihat, semuanya adalah hamba Allah, seperti halnya sifat Rohman Rohimnya Allah).

Btw……. saya pernah terpancing dengan sebuah sponsor minuman kemasan yang katanya “teh dapat mengatasi lemak” setelah beli, kemudian mengamati label komposisinya, ternyata disitu hanya tertulis teh 2%, ada juga yang teh tradisional alami, eh ….. dilihat labelnya tehnya hanya 4%, dan rasa yang lain adalah perisa identik teh dan penguat rasa.

Hehehe ….. mengapa kok cerita teh ? ini dapat dianalogkan dalam pembahasan permen spiritual ini. Sebelumnya saya mengatakan bahwa “permen seperti ini OK” tetapi yang harus diperhatikan adalah …… apakah ini permen “asli alami”? ….. permen yang yang dibuat dari sari buah dan gula asli akan memberkan manfaat, tetapi permen campuran bahan kimia berbahaya, maka akan menimbulkan masalah dibelakang hari, walau awalnya sama manisnya bahkan lebih enak dari pada yang “asli alami”
Bukan hanya permen fisik, permen spiritual dapat dipandang seperti itu juga, karena kurang sensitif kita akan “spiritual sesungguhnya” diakibatkan oleh kerak-kerak hati dan banyak tumpukan persepsi-persepsi yang telah tertanam di alam bawah sadar kita, sehingga kita tidak dapat membedakan antara “permen alami” dengan “permen sintesis”.

Dalam hal dakwah misalnya ….. dakwah adalah mengajak kepada agama (spiritual) dan kebaikan …. dapat saja seorang da’i berbicara penuh dengan Al Qur’an Hadizt, kata-kata kebaikan … dan ini menimbulkan energi di frekuensinya, energi ini yang masuk ke telinga kita kemudian disampaikan ke otak kita untuk diterima dan diolah ….. tapi jangan lupa, gerak hati juga menimbulkan suatu energi difrekuensinya, energi ini akan ditangkap oleh seluruh tubuh kita terutama oleh hati kita yang sensitif dengan energi semisal ….. bagaimana jika antara lisan dan hati tidak singkron? Lisan mengatakan kebaikan tetapi hati penuh keburukan? Maka telinga/otak kita akan menerimanya sebagai kebaikan, tetapi hati kita akan menerima “perkataan” hati si da’i …. maka sangat tepat nasehat “banyak yang hafal Al Qur’an Hadist, tetapi sukanya mengkafirkan orang lain” … banyak orang yang mengakwahkan kebaikan tetapi keburukan justru yang malah merajalela.

Energi yang masuk ke hati/jantung akan berjalan melalui nadi/jalur-jalur energi sehingga menyebar ke selurh tubuh yang akibatnya akan terefleksi kedalam orang tersebut, bahkan energi dari otak dapat terblok olehnya (pernahkan ingin berbuat kebaikan tetapi menunda-nunda atau malah gak jadi? …… alam bawah sadar inilah, energi halus inilah yang lebih mempengaruhi orang daripada alam sadarnya. ….. ungkapan dakwah adalah dari hati hati mungkin sangatlah tepat …. ilmu adalah cahaya dihati …. ilmu adanya dihati, karena dari hati inilah energi ilmu/dzikir akan menyebar  dan mempengaruhi seluruh tubuh.

Kembali kepada permen ….. indra fisik + otak dapat peka akan gelombang energi-energi pada rentang tertentu, kasar-halus, dan energi hatii ini lebih halus lagi, hingga energi yang terpancar dari hati lebih sulit untuk dirasa, sehingga sensasi-sensasi spiritual hati juga lebih sulit terasa oleh kebanyakan orang, …. sehingga adakalanya permen tersebut diberi penguat rasa, sehingga oleh otak lebih mudah merasakan, tetapi dengan ini juga sangat dimungkinkan diberikan zat adiktif-adiktif dengan cita rasa identik agar “permen sintesis” terasa enak dan terasa alami.

Di zaman akhir ini, akan banyak yang berbau islami tetapi tidak islami, bercitarasa spiritual tetapi jauh dari spiritualisme, pengalaman fikiran berlabel pengalaman ruhani …… permen sintesis (banyak zat tak bermanfaat atau bahkan berbahaya) awalnya akan terasa nikmat bahkan membuat ketagihan, tetapi setelah bertahun-tahun, zat-zat ini akan menumpuk dalam tubuh hingga memicu timbulnya penyakit-penyakit yang berbahaya bahkan dapat lebih berbahaya daripada penyakit fisik secara langsung.

Maka akan banyak metode-metode yang mempermainkan fikiran dan perasaan, otak seseorang sehingga menimbulkan sensasi-sensasi “kebenaran” yang dibalik itu semua hanyalah permen-permen sintesis. Ingatkah ceramah atau lagu yang mendayu-dayu hingga kita tertawa senang atau menangis sedih? Gelombang energi kuat oleh sang penceramah atau penyanyi mengalir pada diri kita, bila hal itu bercampur dengan energi hati (yang lebih halus) yang kotor, maka semua akan mempengaruhi kita, sensasi energi/emosi yang telah menguasai kita dapat menutupi sampah/racun energi yang masuk, sehingga kita merasakan sensasi luar biasa dan dipihak lain kita sedang menumpuk energi penyakit (penyakit hati).  Sangat sesuailah nasehat …. telitilah darimana engkau akan mengambil ilmu.
Sungguh luar biasa orang yang hati dan lisannya berdzikir, ia berirama sama, dalam frekuensi kesesuaian, interferensi saling membangun, yang dalam keterangan-keterangan, inilah dzikir yang terbaik, keduanya berdzikir. Tetapi bila tidak dapat maka, dzikir dengan hati lebih baik, dan bila masih belum sanggup, maka paksalah hati untuk berdizikir dengan dzkir lisan dengan keras, agar telinga mendengar tembus ke fikiran dan hati.

….. HOW …… kalau difikir fikir, ni saya posting begini tu karena rasa iri terhadap orang yang telah merasakan sensasi-sensasi spiritual, karena saya belum merasakannya, dan juga untuk menguatkan kesombongan diri memberi alasan untuk memandang rendah orang-orang  yang telah merasakan nikmatnya ibadah. …. astaghfirulloh …. bagaimanapun, semoga ini juga ada manfaatnya bagi yang lain.

—- By The Way ‘’’’’’’’ bolehlah bagi anak kecil seperti saya (dalam hal agama, walau usia dah besar) sesekali membeli makanan instan/permen sintesis, tetapi tidak boleh terlalu sering agar tidak terlalu banyak racun ditubuh hingga tubuh tidak dapat menghilangkannya. Dan harus berusaha mencari permen “asli alami bergisi” dengan jalan apa? Karena juga tidak dapat membedakan mana yang organik dan mana yang kimiawi, maka dengan bersama dengan teman yang dapat membedakannya atau yang mengeti tempat-tempat untuk membelinya, dan atau membeli hanya kepada penjual terpercaya yang menjual permen bergizi untuk kita. …… tombo ati iku …… kumpulono wong kang sholeh.

Note ….. untuk memberi asupan gizi pada anak kecil, maka metode mengemas makanan bergizi menjadi permen atau hal-hal menarik diperlukan agar si anak menyukainya (tapi utamanya adalah asupan gizi tersebut) …… harga permen “organik bergizi” lebih mahal daripada permen “sintesis” ….. maka sangat mungkin dalam membeli permen spiritual “sintesis” ibadah akan terasa lebih enteng dan rajin, tetapi terkadang membeli permen spiritual “bergizi” ibadah terasa berat untuk melaksanakannya dan penuh perjuangan rasanya dalam melaksanakan hal tersebut, maka tetap laksanakan ibadah tersebut dengan istiqomah, belilah permen yang bergizi walau dengan harga yang lebih mahal, karena lebih menyehatkan.

Bagi orang dewasa …. permen mungkin sudah tidak menarik untuknya, kebutuhannya adalah makan makanan sehat bergizi walau hambar rasanya, bahkan bila merasa sakit, jamu pahitpun akan dimunumnya, bahkan operasi yang menyakitkan akan dijalaninya agar sembuh dari penyakitnya. Kita? Permen saja belum kita dapat.
Salam dari fakir, pengemis, pemulung, pencari permen.

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *