Thariqah dan Tasawuf

Thoriqoh merupakan salah satu amaliyah keagamaan dalam Islam yang sebenarnya sudah ada sejak jaman Nabi Muhammad SAW. Bahkan perilaku kehidupan Beliau sehari-hari adalah praktek kehidupan rohani yang dijadikan rujukan utama oleh para pengamal Thoriqoh dari generasi ke generasi sampai kita sekarang ini. Thoriqoh adalah suatu praktek perbuatan untuk membersihkan hati dan membersihkan relung-relung dari karatnya kelalaian dan salah pahamnya kebutuhan. Relung-relung hati itu tidak bisa suci (bersih) kecuali dengan dzikir (ingat) kepada Allah dengan cara tertentu. Oleh karena itu wajib bagi setiap mu’min (orang Islam) setelah mengetahui ‘aqidatul ‘awam (50 sifat ; wajib, mustahil, dan jaiz bagi Allah dan para Rasulnya) dan pekerjaan pekerjaan harian yang disyari’atkan Allah SWT., berupa sholat yang meliputi syarat-syarat, rukun-rukun dan hal hal yang membatalkannya, zakat, puasa, dan haji untuk meningkatkan diri dan memasuki thoriqoh dzikir dengan cara khusus/tertentu.

KH. Habib Muhammad Luthfiy bin Ali bin Yahya

Sejarah

Introspeksi arti tashawuf meliputi misi, visi, pertumbuhan, faktor pendorong kemunculan, dan posisinya sebagai bagian dari epistimologi. Ada beberapa definisi tashawuf, antara lain didefinisikan sebagai bukan gerak lahir dan bukan pengetahuan, tetapi kebijakan. Al-Junaid al-Baghdadi menyatakan bahwa tashawuf adalah penyerahan diri pada Allah. Ada juga yang berpendapat bahwa tashawuf adalah makan sedikit demi mencari kedamaian dalam zat Allah dan menarik diri dari khalayak.

Kalau anda terus membaca definisi-definisi tashawuf yang ada, anda bisa terjebak dalam satu pojok: tashawuf, kalau begitu, sama dengan zuhud; tashawuf berarti lapar. Ada yang mengatakan bahwa, agar anda tidak cepat dimasuki setan, anda harus mengosongkan perut sehingga mudah mengendalikan diri. Akan tetapi, ada juga yang secara berseloroh mengatakan, justru perut harus diisi agar setan tidak bisa masuk. Ada yang menyimpulkan bahwa tashawuf pada intinya adalah zuhud. Tashawuf seolah-olah hanya terkait dengan akhirat, tidak dengan dunia; reaksinya pada dunia adalah negatif dan mengharuskan hidup miskin. Adakah tashawuf memang demikian? Tampaknya, kita harus berkunjung ke sarang para sufi. Sebab, belajar tashawuf hanya mendengar saja, sama artinya dengan tidak belajar; seperti halnya ketika anda belajar mengemudi mobil hanya melalui ceramah saja tanpa praktik.

Definisi-definisi di atas, tidak menjelaskan tashawuf yang sebenarnya. Definisi tersebut hanya petunjuk saja. Tujuan tashawuf tidak akan dapat dipahami dan dijelaskan dengan persepsi apapun, filosofis maupun yang lain. Hanya kearifan hati yang mampu memahami sebagian dari banyak seginya. Diperlukan suatu pengalaman rohani yang tidak bergantung pada metode-metode indra ataupun pemikiran.

Fazlur Rahman, seorang guru besar ilmu Keislaman di Universitas Chicago Amerika Serikat, berkata, : ”Timbulnya tashawuf dalam Islam bukan sesuatu yang aneh, bahkan menurut saya, ˜wajib”. Kurang keislamannya bila seseorang tidak mengambil tashawuf, kira-kira demikian. Nabi kita, sebelum menjadi Rasulpun, adalah seorang sufi. Beliau hidup sederhana, memikirkan kebenaran, merenungkan alam, dan bertapa (Uzlah).

Fazlur Rahman mengatakan bahwa permulaan gerakan sufi berhubungan dengan satu kelompok muslim yang senang melakukan pertapaan. Mereka senang membaca al-Quran dengan cara menangis. Mereka juga senang bercerita. Cerita-cerita mereka sangat mempengaruhi para pendengarnya. Akan tetapi, yang penting di sini adalah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebelum menjadi Rasul maupun sesudahnya adalah seorang sufi. Demikian juga halnya para sahabat beliau. Hanya saja, waktu itu belum dikenal yang namanya tashawuf. Urutan Riyadhah-nya belum dikodifikasikan dan belum dibuat rumusan-rumusan.

Sekarang, tashawuf sudah menjadi berbagai tarekat, metode-metodenya sudah begitu teratur. Di zaman Rasul dan Sahabat, tashawuf belum seperti sekarang. Namun, pada esensinya, mereka sama dengan para sufi zaman-zaman selanjutnya.

Banyak orang belum begitu paham tentang apa itu tashawuf dan apa itu tarekat. Konsekuensinya, kalau anda ingin mengambil tashallallahu ‘alaihi wa sallamuf, pasti anda mengambil tarekat. Sebab, pengamalan tashawuf ada dalam berbagai tarekat.

Bila tashawuf hanya diartikan sebagai banyak berpuasa, tidak mau diajak korupsi, atau hanya diartikan sebagai suatu sikap keilmuan, orang tidak perlu ikut tarekat. Akan tetapi, bila tashawuf sudah mencapai pengertian riyadhah (latihan dengan menempuh berbagai tingkatan tertentu), orang harus mengambil tarekat. Harus ada bentuknya, apa pun namanya, Qadiriyyah, Naqsyabandiyyah, dan sebagainya.

Hal ini penting bila anda menghadapi anggapan orang yang mengatakan bahwa tarekat atau tashawuf bukan ajaran Islam atau bid’ah. Anda dapat mengatakan bahwa, sebelum menjadi Rasul pun, Nabi Muhammad adalah seorang sufi. Para sahabat yang tinggal di shuffah pun tidak diusir oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meminta para sahabat lain untuk membantu memberi makan mereka.

Ajaran tawakal dalam al-Quran mendorong timbulnya tashawuf yang bercirikan zuhud. Tawakal adalah penyerahan diri. Pentingnya pengalaman spiritual yang ditekankan dalam al-Quran juga memberikan pengaruh bagi timbulnya tashawuf. Menurut Fazlur Rahman, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam benar-benar diperintah oleh Allah menjadi Rasul tatkala beliau menyaksikan sesuatu melalui pengalaman-pengalaman spiritual. Jadi, kesadaran kerasulan justru dimulai dari pengalaman spiritual. Fazlur Rahman melihat ayat-ayat yang berisi hal-hal spiritual umumnya sebagai ayat-ayat yang diturunkan di Mekah. jarang dijumpai ayat-ayat Madaniyah yang berisi pentingnya pengalaman-pengalaman spiritual.

Menurut Rahman, kenyataan ini mengharuskan adanya dasar-dasar keyakinan dari dorongan pengalaman spiritual terlebih dulu yang kelak menjadi landasan bagi pembangunan umat Islam di Madinah.

Berkaitan dengan hal di atas, kita bisa membuat analogi, kalau anda mau jadi presiden atau ketua RW, misalnya, anda tentu harus mempunyai landasan yang kuat untuk pekerjaan itu. Kalau tidak, anda bisa oleng , kira-kira demikian. Pengalaman spiritual termasuk sikap tawakal dan hidup sederhana , bermuara dari zuhud. Faktor paling dominan yang menyebabkan timbulnnya gerakan tashawuf adalah ajaran zuhud dalam Islam. gampangnya, zuhud berarti hidup sederhana.

Perkembangan tashawuf mempunyai makna yang khusus ketika muncul guru-guru sufi. Pada tahap pertama, berjalanlah tashawuf dalam arti zuhud dan ibadah-ibadah sunnah. Hal ini terjadi kira-kira sejak zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Tahap kedua, muncul guru-guru sufi yang sudah mencapai tingkatan tinggi. Mereka mengajarkan wirid dan tarekatnya.

Sebelum masa al-Ghazali pun, jenis-jenis tarekat sudah ada. Lalu ada perkembangan sangat berarti di zaman al-Ghazali yang berjalan cukup panjang. Pada masa itu, tashawuf sudah berbeda dari sebelumnya, karena sudah bercampur dengan filsafat.

Di kalangan Syi’ah, tradisi tashawuf kuat sekali, disertai dengan filsafat dan fikih ortodoks yang kokoh. Pikiran Syi’ah memang agak ganjil. Fikih Syi’ah kadang-kadang tampak rasional dan kadang-kadang tampak kaku sekali. Filsafat mereka juga kadang-kadang rasional sekali dan kadang justeru bercampur dengan irfan sehingga tidak tampak lagi ciri rasionalnya.

Kesimpulannya, bahwasanya tashawuf memang sudah ada sejak zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun saat itu belum dimodifikasi seperti pada saat ini. Jadi, bagi siapapun yang tidak sepaham dengan doktrin tashawuf, apalagi sampai berkata tashawuf bidah, berarti dia tidak membaca dan memetik intisari sejarah yang penuh hikmah dan arti.

Sumber : Thoriqoh-Indonesia

http://www.jatman.or.id/index.php/profil

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *